
Sepeninggalan teman-temannya Disya meminta kak Flora untuk mengurus administrasi kepulangannya. Gadis itu sudah tidak nyaman di rumah sakit, Disya juga merasa kondisinya sudah pulih dan hanya perlu di rawat dari rumah.
"Sya, kakak bilang Sky dulu ya? Biar bagaimana pun, semua keputusan mu harus melibatkan dia," ujar Flora bijak.
Flora baru saja keluar dari ruangan Disya mendapati Sky yang berjalan ke arahnya.
"Ky...!" seru Flora mendekat
"Disya ngeyel mau pulang, gimana?" ujar Flora meminta pendapat.
"Ya, lebih baik di rawat di rumah, kalau tidak pindah rumah sakit. Aku baru saja mengurus administrasi untuk Disya," jelas Pria itu tenang.
"Boleh berarti?" tanya Flora memastikan.
"Boleh, asal pasien sudah stabil. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan Disya berangsur pulih, dan bisa bedrest di rumah. Ia hanya perlu kontrol, bila terjadi sesuatu lebih lanjut harus segera cek up," kata Sky menjelaskan.
"Oke, berarti aman ya, ya sudah sebaiknya kamu kabari orang rumah," saran Flora yang di angguki Sky.
Flora dan Sky memasuki ruangan rawat, Disya nampak tengah sibuk dengan ponselnya. Disya menoleh ketika Flora masuk dan berjalan mendekat.
"Gimana kak, boleh?" tanyanya penuh harap. Flora mengangguk, seketika senyum kelegaan langsung terpancar di wajah ayunya.
Flora membantu Disya turun dari ranjang, menuju kursi roda. Ia mengantar adiknya sampai gadis itu masuk ke mobil Sky dengan nyaman.
"Baik-baik ya Sya, kakak langsung pulang, besok InsyaAllah kakak berkunjung ke rumah," pamit Flora memisahkan diri. Flora membawa mobil sendiri, ia langsung bertolak ke rumah mama Amy sekalian memberi tahu kepulangan Disya.
Di perjalanan pulang, suasana di mobil Sky nampak keheningan yang melanda. Baik Sky dan Disya memilih bungkam satu sama lain. Sebenarnya Disya merasa tidak nyaman, dan ingin pulang ke rumah Mama selama pemulihan, namun Disya tak ada keberanian untuk meminta izin suaminya yang terlihat sangat menyeramkan dengan muka datar dan dinginnya.
Tepat pukul setengah enam, mobil Sky terparkir rapih di garasi rumah Bunda Yuki. Sky membawa pulang ke kediaman Bundanya atas perintah Asher dan juga Yuki, martuanya tidak mengizinkan mereka tinggal di apartemen selama Disya belum pulih.
Begitu sampai Disya langsung membuka pintu mobil dan beranjak turun. Disya bisa berjalan walaupun pelan dan sedikit pincang, karena masih terlalu ngilu untuk di jadikan tumpuan, kaki kanan Disya masih sakit.
Sky bergeming, menatap kasihan istrinya yang sengaja menghindari tatapanya. Tentu saja pria itu tak sampai hati membiarkan Disya kesusahan, walaupun hatinya masih kesal, ia langsung turun dari mobil dan melangkah lebar. Bergerak gesit mengangkat tubuh istrinya, menggendongnya ke kamar.
__ADS_1
Tidak ada percakapan selama Disya dalam gendongan, gadis itu menatap suaminya diam. Gurat-gurat marah dan kecewa masih jelas terlihat di matanya. Entah mengapa Disya menjadi sedih ketika sampai di kamar dan Sky malah meninggalkannya, setelah membaringkan tubuh Disya ke kasur, pria itu berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.
Bintang langsung berhambur ke kamar Disya begitu gadis itu tahu kakak iparnya sudah pulang. Namun, baru saja Bintang menyapa Disya penuh kelegaan, Sky nampak menyerukan nama gadis itu untuk menemuinya.
***
"Sky langsung menemui Bintang di kamarnya, gadis itu sengaja menghindari panggilan dari kakaknya yang bersiap mengamuk. Sudah pasti uang jajan akan di stop, dan yang paling parah, ia mulai akan mendapat siraman rohani yang terdengar panjang sepanjang rel kereta api.
"Kunci motor kamu mana?!" ucap Sky dengan nada tegas.
Bintang tidak bisa protes, apalagi mengelak. Gadis itu langsung mengambil kunci motor miliknya dan menyerahkannya pada Sky.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh bawa motor, pulang sekolah harus tepat waktu, dan aku stop uang jajan kamu," tegas Sky marah.
Gadis remaja itu hanya diam, menunduk dengan perasaan kesal, ia tak mampu berbuat banyak jika kakaknya sudah marah, bahkan Bunda Yuki, maupun Ayah tidak akan membela sedikit pun dan selalu menyerahkan Bintang untuk di awasi.
"Satu lagi, jangan pernah dekat sama Dokter Rayyan, jangan kenal atau berhubungan dengan pria itu dalam bentuk apapun!" larang Sky dengan penuh nada memperingatkan.
Bintang masih gagal paham dengan maksud yang terakhir, ia bahkan tidak tahu menahu apapun, kenapa gadis itu harus menjauhi Rayyan? Apa pria itu sejenis pria brengsek yang patut di hindari. Sejauh ini Bintang mengenal cukup baik dan ramah, walaupun awalnya sangat menyebalkan, belakangan malah terlihat semakin akrab dan perhatian.
Pria itu melirik Disya sesaat, kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengguyur badanya yang terasa panas. Menghadapi dua wanita yang susah di atur membuat emosi jiwa pria itu tidak stabil. Di tambah penatnya pekerjaan dan sikap istrinya yang hanya diam, membuat Sky bertambah uring-uringan.
Disya mendadak melow, di acuhkan untuk yang ke sekian kalinya. Hingga larut malam Sky masih bersikap dingin dan datar.
"Mas?" panggil Disya lirih
"Hmmm," gumam Sky cuek. Sok sibuk dengan gawainya mengabaikan Disya begitu saja.
Sky masih kesal, di tambah rasa rindu tak bisa menyentuhnya membuat laki-laki berusia dua puluh enam tahun itu semakin uring-uringan nggak jelas.
"Mas..." rengek gadis itu manja, menahan lengan Sky yang hendak beranjak pergi meninggalkan ranjang.
"Apa?" tanyanya datar, merasa abai dengan panggilan Disya.
__ADS_1
"Kamu masih marah?" tanya gadis itu bingung dan juga takut.
"Menurut kamu?" masih dengan muka dingin yang menyebalkan.
"Ish... di tanya juga, kok balik nanya sih," gerutunya manyun
"Ya sudah, terserah kamu saja kalau belum bisa memahami perasaan ku?" jawab Sky kesal.
"Iya, aku minta maaf. Jangan ngambek lagi, kalau diemin aku kaya gini percuma juga aku pulang ke sini," ujar Disya kesal. Kali ini gantian Disya yang menampakan muka cemberutnya.
"Terus, kamu mau pulang ke mana? Biar bisa bebas gitu. Atau emang sengaja ya buat ngejauh dari aku? Biar bisa deketan sama mantan kamu, sama sahabat kamu yang tidak ada batasan itu? Dah lah, kamu emang nggak peka sama perasaan aku," sewot Sky ngedumel.
Disya yang kesal langsung bangkit dari duduknya dan menyambar bibir pria itu yang mengoceh. Disya kesal, ia tidak suka melihat Sky terus bersikap cuek dan di tambah terus salah paham terhadap dirinya.
Sky terkesiap, tidak menyangka istrinya bisa seagresif ini. Gadis itu ******* bibir Sky dengan lembut, membungkam mulutnya yang cerewet.
Sky yang awalnya masih tak percaya, langsung merespon dengan gestur suka rela, pria itu memainkan perannya, membalas ciuman istrinya dengan penuh gejolak yang membuncah di dada. Perlahan, rasa dongkol itu mengikis, berganti dengan debaran aneh yang terasa meleleh, memupuk rasa percaya diri kembali setelah sempat frustasi dan hilang.
Pria itu memainkan perannya begitu dalam, mengabsen setiap inci rongga mulut istrinya yang terasa manis dan candu, perlahan, semakin kuat, saling menyesap satu sama lain, memainkan lidahnya yang bergerak lincah.
Sapuan hangat nan basah itu perlahan mulai turun ke leher gadis itu, Sky lebih mendominasi, menyalurkan dahaga yang lama terpendam sejak seminggu ini. Sesuatu di bawah sana menuntut lebih, membuat pria itu semakin menggila.
"Mas, aku masih belum boleh?" ucap Disya lirih di tengah napas yang memburu.
Sky bergeming, menatap lekat netra istrinya dengan tatapan haus dan ingin.
"Iya, tahu... kamunya mancing-mancing sih, aku nggak kuat kalau kaya gini, gimana nih..." ucap pria itu jujur. Terasa menggelikan di telinga Disya.
"Ish... nggak tahanan banget, ya... salah siapa cemburu terus," ujar Disya mrengut.
"Tanggung jawab Sya? Sumpah aku nggak kuat," keluh pria itu memeluk Disya begitu erat. Sesaat kemudian ia merasa tubuh Sky bergetar seraya meremas benda kenyal Disya yang menantang untuk di sentuh.
Dalam seperkian detik, Sky masih pada posisi yang sama, memeluknya diam, dengan tubuh yang menegang, baru kemudian kembali menyambar bibir ranum istrinya dengan penuh gairah. Tangannya bergerak lincah memainkan aset berharga istrinya. Detik itu juga laki-laki itu mengerang dengan nikmat seraya menenggelamkan wajahnya di cerukan leher Disya.
__ADS_1
Sesaat kabut gairah itu padam, berganti kelegaan setelah sesuatu yang di bawah sana terasa basah. Napas pria itu masih memburu, naik turun mengungkung tubuh Disya yang masih berbalut baju.
"Maaf, Sya? Aku bekerja sendiri. Aku nggak bisa tahan kalau kamu menggodaku kaya tadi, jangan marah ya..." ucap pria itu seraya menyambar bibir istrinya kembali. Lalu mengecup kening Disya lama.