One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 149


__ADS_3

"Bosen, ketemu mulu, di kampus, di rumah, di ruangan belajar, sharing, perpustakaan, bahkan di kamar mandi, sampai mau tidur ketemu lagi. Nggak ah, aku mau ganti pemandangan!" nego Disya yang cukup absurd."


Sky mendelik, menyorot istrinya tajam dengan melipat tangannya di dada. Disya yang sadar akan hal itu langsung terdiam, begitu mendapati suaminya yang menatap dirinya tak ramah.


Oh ya ampun ... gue salah apa, perasaan cuma mengutarakan isi hati gue yang sejujurnya.


Perempuan itu terdiam sesaat, mencerna kembali lontaran kata yang baru terucap, menurut dirinya bahkan sangat wajar, tapi ada kata 'bosan' itu mungkin yang membuat suaminya kesal, atau sebutan Pak Arya?


Disya sibuk sendiri bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Bukan gitu maksud aku, Mas," ralat Disya.


"Aku ... pingin suasana baru saja, gitu ... " sambungnya tersenyum tipis tanpa dosa.


Sky bergeming, tidak menanggapi tapi langsung mengabaikan istrinya yang sering menyebalkan itu.


"Ah ... kamu nggak seru, masa gitu aja ngambek," celetuk perempuan itu.


"Ya udah, kalau kamu nggak mau bimbingan sama aku nggak pa-pa, aku bisa bimbingan sama mahasiswi-mahasiswi cantik di luar sana, pasti semua senang dapat bimbingan dari saya."


Hmm ... kalau cuma berdua ngomongnya formal gitu, fiks tandanya suami gue marah.


Kali ini Disya yang mendelik sengit, perkataan suaminya benar-benar seperti nada ancaman dan balas dendam.


"Suasana baru kan Sya, boleh juga," kata pria itu tersenyum simpul. Sky hanya berkeinginan menggoda saja, pria itu bahkan tidak berminat menjadi dosen pembimbing, hanya satu mahasiswanya, yaitu istrinya tentunya melalui izin pihak departemen kampus. Tidak serta merta memutuskan sesuka hati, walaupun kampus keluarganya sendiri.


"Serah, deh!" Disya mrengut, wajahnya yang ayu ditekuk berkali-kali lipat. Ia membayangkan kalau itu terjadi, suaminya dikejar-kejar mahasiswi yang mau bimbingan, duduk berdampingan dengan dosen pembimbing, menemuinya hanya berdua di tempat suka-suka. Atau bahkan sampai menyambangi rumahnya hanya untuk bertemu dengan dosen.


Wah ... gawat!


Disya mendekati suaminya yang tengah duduk di kursi kerjanya. Sky tengah sibuk di depan laptop. Disya menempel lalu memeluk leher pria itu dari belakang.


"Mas, bimbingan sama kamu boleh juga, iya ... nggak pa-pa?" ucap Disya dengan bisikan manja.


Sky mengambil lengan istrinya yang melingkar di lehernya. Pria itu berbalik dan langsung menarik perempuan itu hingga terduduk di pangkuan pria itu.


"Yakin ... sama Pak Arya nggak jadi?" selorohnya seraya memeluk pinggang istrinya agar tetap duduk anteng di pangkuannya.

__ADS_1


"Emang mahasiswa bisa milih dosbing sendiri?" tanyanya dengan keryitan yang berlipat.


"Nggak!" jawab Sky gemas.


"Ish ... prank doang toh dari tadi," protes Disya kesal.


"Kamu iya, aku enggak. Dosen bebas menentukan mau ngebimbing mahasiswa mana aja yang sesuai dengan yang diampunya."


"Terus?"


"Jangan jealous, kalau aku banyak ngebimbing banyak mahasiswa cewek," jawabnya tenang.


"Ah ... nggak seru," sewot Disya mrengut langsung berdiri dari pangkuan Sky.


"Mau ke mana?" Sky kembali menarik istrinya dan membawa ke pangkuannya lagi, Disya melingkarkan ke dua tangannya di leher suaminya.


"Jangan ya, cukup aku yang kau bimbing sampai ke surga-Nya," ucap perempuan itu lalu mengecup bibir suaminya dengan berani.


"Jangan menggodaku Sya, ini di kampus," tegurnya tak nyaman.


"Iya, tahu ... tapi kan di ruangan, Mas," kilahnya tanpa dosa.


"Waduh ... kesetrum ya Mas?" tanyanya nyengir. "Aku pulang duluan aja deh," ujar perempuan itu hendak bangkit dari duduknya.


"Kenapa?" Disya bingung sendiri ketika Sky menahanya dengan ekspresi yang beda.


"Kamu membangunkan sesuatu yang di bawah sana sayang, oh ... Disky ... kamu nakal sekali," keluh pria itu mulai gusar.


"Ish ... dasar pria!" Disya menabok pundak suaminya.


"Beneran, gimana nih ...!" Sky menenggelamkan dirinya di cerukan leher istrinya.


"Nanti aja di rumah, di kantor nggak seru, nanti lagi asyik ada yang ketuk pintu."


"Tapi ... aku bener-bener pingin," jawabnya semakin mengeratkan pelukannya. Tangan pria itu bahkan sudah bergerak menembus kulit.


"Cium aja ya?" gumamnya dengan nada tertahan menahan geli, tangan suaminya sudah lolos bergerak nakal. Disya menahannya.

__ADS_1


"Jangan! Aku nggak nyaman," protes perempuan itu jujur.


"Aku sedikit pusing dan lelah." Perempuan itu memijit keningnya sendiri.


"Beneran?" tanyanya mendadak khawatir, punggung tangannya terulur mengecek suhu tubuh di keningnya.


"Anget, kamu demam?"


"Pening sedikit, aku pulang aja ya."


"Nggak boleh, aku antar ke pusat kesehatan kampus. Mungkin saja kamu kecapean?"


"Sepertinya aku harus cek up besok, aku merasa kehamilan ku kali ini lebih rewel, mudah sekali lelah dan punggungku sedikit nyeri," keluhnya tak nyaman.


"Aku cancel aja mengajar sore ini, bagaimana kalau ke Dokter sekarang."


"Besok nggak pa-pa, aku buat janji dulu."


"Beneran nggak pa-pa?"


"Iya ... "


Ini adalah salah satu mengapa Sky memilih Disya bimbingan sama dirinya, mengingat istrinya itu tengah hamil muda, dan cukup repot, semua akan sedikit mudah jika pria itu yang mengampunya saja, toh juga setiap hari kalau ada tugas kampus, yang sudah-sudah Disya selalu melibatkan dirinya, bertanya banyak hal, tanpa istrinya sadari, bahkan dia sudah mendapatkan bimbingan pribadi setiap hari.


"Mas ... aku rebahan sebentar ya, punggungku nyeri," ujar Disya memposisikan diri. Berjalan mendekati sofa yang ada di sana. Sepertinya kantor suaminya akan menjadi rumah ke dua bagi Disya. Perempuan itu mulai berbaring di sana dengan Sky yang membantu memposisikan dirinya lebih nyaman.


"Makasih," ucap perempuan itu begitu Sky selesai menumpuk bantal sofa pas di belakang punggungnya.


"Istirahat lah, selagi aku mengajar," ucapnya lembut. Sedikit menjauh dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


Sky kembali sibuk di depan layar laptopnya, matanya melirik istrinya yang sudah terlelap, pria itu tersenyum, lalu kembali lagi sibuk. Pria itu masih ada jadwal satu lagi sampai jam tiga sore nanti.


Disya baru terjaga setelah terlelap hampir satu jam, perempuan itu langsung meneliti ruangan dan tidak menemukan suaminya di sana. Ia terduduk dari pembaringan, melihat jam di ponselnya yang ternyata hampir pukul 03.00. Disya mencuci mukanya supaya terlihat segar, sedikit merapikan tata riasannya yang sudah berantakan. Perempuan itu bersolek, setelahnya memutuskan ke luar ruangan karena terasa lapar. Sore itu Disya menyambangi kafe di dekat kampus.


Sky yang baru selesai mengajar, kembali ke ruangan dan tidak menemukan istrinya di sana. Ia lantas menghubunginya, namun nada getaran itu langsung tertangkap rungu Sky begitu dekat, rupanya Disya lupa membawa ponselnya.


"Ke mana sih?" gumamnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Pria itu berkemas dan mulai mencari istrinya di sekitar area kampus. Berdasarkan pengakuan orang yang melihat Disya tengah berada di kafe yang tak jauh dari sana. Betapa Sky terkejut saat mendapati istrinya tengah mengobrol cantik dengan seseorang, yang baru menjadi perdebatan beberapa jam yang lalu. Istrinya itu terlihat akrab, dan tersenyum ramah.


__ADS_2