
Disya menatap satu persatu orang yang masih di sana dengan perasaan kacau. Belum apa-apa kak Flora sudah marah, apa lagi kalau tahu mereka pernah tidur berdua Disya yakin kak Flora lebih murka. Disya lebih memilih diam dan menuju kamarnya.
"Sya... gue belum selesai ngomong, lo dengerin gue nggak sih dari tadi bukannya jelasin malah diam aja," bentak Flora marah.
"Ra, kamu jangan keterlaluan sama adik kamu, Mama yakin Disya tidak pernah menggoda Sky tapi mungkin memang Sky memilih Disya punya alasan tersendiri."
"Mama sama Papa selalu belain Disya, aku ini anak kandung kalian bukan sih?"
"Mama nggak belain siapa- siapa Flora kamu jangan salah paham, sudah jelas Disya itu menjalin hubungan yang serius dengan Rayyan kamu tahu itu."
"Oke Ma, Flora terima tapi Flora tidak akan membiarkan Disya menikah dengan Sky. Kalau Sky tidak memilih Flora Sky juga tidak boleh melamar Disya," ujar gadis itu murka.
Disya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, bagaimana mungkin pak Sky membatalkan perjodohan ini hanya karena dia memilih dirinya. Disya semakin mumet menghadapi tingkah dosennya.
Flora dan ke dua orang tuannya masih berdiskusi sengit di ruang keluarga. Flora masih belum terima dengan putusan Amar yang membebaskan Sky untuk memilih ke duanya.
"Ini nggak adil Pah, Sky kenapa harus memilih kenapa kita nggak langsung menikah saja," ujar Flora ngeyel.
"Pernikahan itu bukan sehari dua hari Flora, harus di landasi dengan cinta dan kasih sayang. Bagaimana ceritanya nanti kalau kamu tetap menikah dengan Sky tapi Sky tidak mencintaimu jatuhnya kamu bakalan terluka dan sakit hati karena masalah hati itu tidak bisa di paksakan. Sekarang Mama tanya seandainya di balik kamu yang nggak mau di jodohkan, di paksa menikah dengan orang yang tidak kamu sukai kamu juga pasti menolak," ujar Mama Amy panjang lebar.
"Tapi Flora udah mulai suka sama Sky Ma, Flora juga sudah memutuskan hubungan Flora dengan pacar Flora," ujar gadis itu sendu.
"Kamu punya pacar?" tanya Mama Amy yang membuat gadis itu bungkam.
Amar menatap tajam mata putrinya. "Mulai sekarang kamu tinggal serumah sama kita, Papa nggak ngijinin kamu tinggal di apartemen sendirian?" ujar Amar.
"Nggak mau Flora nggak suka di kekang, Flora nggak suka di atur-atur," jawab gadis itu tanpa dosa.
__ADS_1
"Ra, kamu ini kenapa sih, keras kepala sekali. Oke terserah kamu sajalah Mama tidak sanggup ngomong lagi kamu selalu membantah. Kalau kamu punya pacar Mama mau kenalan sama pacar kamu?" tantang Mama Amy.
"Udah Flora putusin Mah semenjak Flora ketemu sama Sky Flora yakin Sky jodoh terakhir untuk Flora," jawab gadis itu percaya diri.
Disya keluar dari kamar menuju lantai satu, ia melewati tiga manusia yang sedari tadi belum beranjak.
"Ma, Pa Disya keluar sebentar ada urusan," pamit gadis itu.
"Mau kemana Sya? Sudah sore ini pulangnya jangan terlalu malam," ujar Mama memperingatkan.
"Asiap Ma." Disya mencium tangan Mama nya dan juga Papa Amar.
"Mau kemana lo?" tanya Flora kepo mengejar Disya sampe teras depan.
"Keluar sebentar ada urusan?"
"Urusan apa, jangan bilang lo mau ketemu Sky," tuduh Flora.
"Kakak suudzon mulu, setiap hari juga ketemu di kampus kok. Kaka jangan gitu dong gue nggak suka sama Sky jadi nggak mungkin gue sama dia," ujar gadis itu tenang.
"Kalau dia lamar lo, apa yang ingin lo jawab."
"Ya aku mau bilang kalau aku udah punya calon suami dan kami saling mencintai," jawab Disya cuek.
"Kalau Sky tidak terima, apa kamu tetap akan tetap dengan pendirian kamu?"
"Kakak ini kenapa sih, aku mencintai Rayyan kak dan insya Allah akan menikah dengan nya hanya keajaiban dari Tuhan kalau aku sampai nikah sama Sky karena kami tidak saling mencintai jadi kemungkinan 0,001 % itupun sepertinya mustahil karena kami punya sisi yang berbeda."
__ADS_1
"Oke gue percaya, lo nggak boleh terima dia jadi suami lo kalaupun gue nggak jadi nikah dengannya."
"Iya, tentu saja. Aku berangkat dulu... kakak istirahat lah di kamar. Papa dan Mama benar mending kak Flora mulai tinggal di rumah ini saja, biar ada yang jagain juga kalau sendiri kan nggak enak kak," ujar Disya menasehati.
"Nggak mau nggak bebas, nggak asyik," jawab gadis itu kelewat santai.
Tak ingin membuang waktu karena hari sudah sore Disya segera mengendarai motornya menuju Setiabudi. Gadis itu sebenarnya ragu untuk datang kesana tapi Disya merasa tidak ada waktu menghindari lagi di tambah masalah Sky yang mengutarakan maksud hatinya ingin membatalkan perjodohan dan menikah dengan dirinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit lancar jaya menggunakan roda dua. Disya turun dari motornya setelah memparkirkan di basement apartement.
Gugup, deg degan dan tidak karuhan. Disya pernah masuk ke apartemen ini sebelumnya kemarin-kemarin sebelum kejadian naas itu bahkan Disya cukup sering bermain di Setiabudi menghabiskan waktunya di apartemen kakaknya.
Disya baru saja sampai di depan pintu, gadis itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menekan tombol bel rumah tersebut. Pintu apartemen terbuka, munculah sosok pria dewasa dengan baju khas rumahan. Sangat berbeda penampilannya dengan keadaan waktu di kampus yang terlihat rapi. Sekarang terlihat lebih santai, hanya menggunakan kaus oblong putih dan celana pendek tapi kenapa terlihat sangat berbeda.
Sial kenapa Dosen Sky terlihat sangat tampan dengan rambut yang berantakan. Oh... ayolah Sya... berfikir jernih lo niatnya kesini untuk kartu lo.
Disya termangu di tempatnya cukup lama, antara mau masuk tetapi ragu.
"Masuk Sya!" pinta Sky dan langsung menutup pintunya rapat-rapat begitu Disya masuk ke dalam.
Disya masuk dengan perasaan tak menentu, mata gadis itu liar menyapu seluruh ruangan. Semua tatanan ruangan bahkan masih sama rapih dan terlihat seperti pertama Disya meninggalkan.
"Duduk Sya, mau minum apa?" tawar Sky yang sedari tadi terus menatapnya.
"Makasih Pak, tapi saya buru-buru. Sesuai intruksi Bapak saya harus mengambil kartu saya di sini."
Disya tak ingin lama-lama di ruangan yang hanya berdua, apalagi di apartement ini mereka punya kenangan. Ini sungguh tidak baik bagi jantung Disya.
__ADS_1
Sky bergeming ia pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk Disya. Ini adalah kesempatan untuk dirinya berkata banyak tentang semua yang telah terjadi. Sky harus menuntaskan semuanya agar menjadi jelas. Sky ingin bertanggung jawab dengan apa yang telah di perbuatnya.
Disya semakin gusar, duduk dengan perasaan tak tenang. Ia ingin sekali mengambil kartu tersebut dan langsung pulang, namun sepertinya tidak mudah. Bahkan laki-laki itu malah dengan sengaja menahannya.