
Usai sarapan, Disya tak lantas kembali ke kamarnya. Gadis itu bersantai sejenak ditemani Bintang di ruang keluarga. Sementara Ayah berangkat ke kantor bersama Bunda. Sky sendiri tengah bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Sayang, aku berangkat dulu ya," pamit Sky pada istrinya.
Disya menyambut uluran tangan suaminya, seketika Sky membalas mengecup kening Disya.
"Ingat! Jangan kemana-mana, istirahat saja di kamar, aku usahain pulang cepet," ucap Sky sebelum akhirnya beranjak, Disya hanya mengangguk saja.
Sepeninggalan Sky, tinggalah Bintang dan Disya berdua bersama asisten nya. Bintang juga masih izin, gadis itu sudah sembuh, perban di bagian pelipisnya juga sudah di lepas, hanya sedikit luka lebam yang masih membiru di bagian kakinya.
"Mbak, sepi ya... nggak enak banget kena skors sama kak Sky," ujar Bintang membuka sesi curhat.
"Kamu dimarahi mas mu? Di hukum apa?" tanya Disya merasa kasihan.
"Nggak boleh main lagi, motor aku disita, terus tidak di kasih uang tambahan jajan dari kakak selama waktu yang belum di pastikan," jawabnya lesu.
"Sabar ya dek, Mas mu emang gitu, manusia super," seloroh Disya membela adiknya, ikutan kesal karena terlalu berlebihan. Disya sangat paham, di usia adiknya yang masih remaja jika di batasi pergerakannya sangat membosankan dan menjengkelkan.
"Mbak, kak Sky kan sayang banget sama mbak Disya, apa kakak bisa marah kalau mbak Disya punya salah?" kepo Bintang.
Seketika gadis itu terngiang, akan kecemburuan Sky yang terlampaui sering dan menyebabkan pria itu marah.
"Dia menyeramkan dek, kalau lagi marah," seloroh Disya menerawang.
"Mukanya datar ya mbak, ambegan. Aku kira sama mbak Disya nggak bisa marah," ujar Bintang.
"Emang seringnya marah dalam hal apa?" sambungnya penasaran.
"Cemburu, itu yang paling mengerikan," jawab Disya begidik ngeri, membayangkan wajah suaminya yang tampan berubah dingin, mrengut sepanjang masa.
Waktu sudah menunjuk di angka sebelas siang mereka berdua menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga, Bintang dan Disya merasa sedikit terhibur karena mereka berbicara cukup dekat.
"Kak, teman aku mau datang, dia mau jengukin aku," ujar gadis remaja itu memberi tahu.
"Oh ya... temen apa temen nih....?" selorohnya mengerling.
"Temen sih... tapi perhatian banget, bikin aku serasa hidup di dunia mimpi," jawab Bintang tersenyum.
"Ya udah siap-siap sana, dandan yang cantik, biar nanti kalau ketemu tambah kesemsem," ujar Disya menyarankan.
"Iya, aku ke kamar dulu ya?" pamit Bintang berjalan menjauh dari tempat Disya duduk.
Disya juga kembali ke kamarnya, gadis itu tengah asyik berbalas chat dengan suaminya.
Pluto
Sayang, lagi apa?
^^^Disya^^^
^^^Mikirin kamu^^^
Nggak percaya, coba foto
^^^Ish... nggak mau^^^
__ADS_1
Kangen...
^^^Pulang, kalau kangen^^^
Sebentar lagi, nanti makan siang di rumah,
Mbok Nah masak apa?
^^^Nggak tahu, tapi Bintang request banyak. Karena mau ada temennya.^^^
Mau dibawain apa?
^^^Brownies, coklat sama es krim^^^
Banyak banget, emang mau dimakan?
^^^Kalau nggak boleh, nggak usah sok nawarin^^^
Bolehhhh..
Sayang, kok di read doang, ngambek ya?
^^^Emangnya kamu, yang hobby pundungan^^^
Kamu yang bikin aku gitu
^^^Ngeselin^^^
I Love U
^^^I Love U too^^^
Balasan dari Disya membuat Dosen itu menarik sudut bibirnya, Kata-kata yang teramat sederhana, tapi mampu membuat laki-laki itu bahagia sepanjang harinya.
Sky terus mengembangkan senyum selama perjalanan pulang. Pria itu mampir ke kedai es krim, memborong beberapa rasa es krim, membeli beberapa batang coklat yang sudah di kemas cantik dan tak lupa kue brownis kesukaan Disya.
Sementara di kediaman Asher, rumah nampak rame. Bunda Yuki sudah pulang dari butik semenjak waktu dhuhur. Perempuan itu selalu menyempatkan makan siang bersama di rumah. Ayah Asher juga menyempatkan pulang siang ini, semua keluarga berkumpul untuk makan siang bersama.
"Assalamu'alaikum....!!" sapa salam menggema dari balik pintu.
"Waalaikumsalam...." jawab semua orang yang mendengar
Pemuda tampan itu masuk dan duduk dengan mengulas senyum ramah setelah Bunda Yuki mempersilahkan. Yuki pun segera memanggil anak bungsunya untuk menemuinya.
Perempuan paruh baya itu sedikit heran, teman dari kakaknya sengaja datang untuk menjenguk Bintang. Namun, perempuan itu senang melihat kedekatan mereka, Bunda Yuki senang karena merasa orang yang dekat dengan Bintang adalah orang yang baik, dan sopan. Terlebih perempuan itu sudah mengenal laki-laki itu dengan baik.
"Hay... kak," sapa Bintang malu-malu. Mengambil duduk si sebrang pria itu dengan tatapan canggung.
"Gimana kabar kamu Bin, kenapa nggak kontrol? Perban kamu udah di lepas?"
"Baik kok kak, baik banget malah. Udah sembuh tinggal dikittt, udah nggak sakit kok?"
"Alhamdulillah...., Sky belum pulang? Gimana kabar kakak ipar kamu? Apakah dia juga sudah sembuh?"
Bintang agak tidak suka ketika Rayyan menanyakan perihal kakaknya, tapi ia baru teringat bahwa mereka saling mengenal.
__ADS_1
"Kak Sky masih di kampus. Sudah kok, tinggal pemulihan doang," jawab Bintang santai
Sementara disisi lain, Sky baru saja melakukan pembayaran di toko kue. Pria itu langsung pulang, melajukan mobilnya dengan cepat. Sky sangat bersemangat untuk pulang, tentu saja bertemu dengan Disya adalah sesuatu yang saat ini membuat pria itu bahagia sepanjang langkahnya.
Tiba-tiba pandangannya menyorot mobil yang terparkir di depan halaman rumahnya. Bukan mobil Ayah, atau mobil keluarga Disya. Laki-laki itu terus melangkah masuk, baru menginjakkan kaki di undakan teras sayup-sayup terdengar seseorang yang tengah tertawa renyah.
Suara itu tidak asing bagi Sky, jelas si perempuan suara Bintang, Sky pikir yang satu lagi sudah pasti suara temannya Bintang yang seperti Disya katakan, bahwa teman Bintang mau berkunjung ke rumah. Namun, semakin Sky mendekati pintu yang memang separo terbuka, suara itu semakin ia kenali.
Senyum Sky yang ia bawa sepanjang perjalanan pulang mendadak sirna, berganti dengan wajah keruh dan kesal menemukan mantan sahabatnya itu tengah asyik mengobrol bersama adiknya. Pria itu langsung menatap tajam seseorang yang menyambutnya sok kalem.
"Hai... bro... baru pulang?" sapa Rayyan sok akrab.
"Ngapain kamu kesini?" jawab pria itu ketus.
"Ih... kakak apaan sih, dia tamu aku tahu? Sedikit ramah kenapa?"
"Udah pulang?" tanya Bunda yang tiba-tiba datang dari arah belakang nimbyung obrolan mereka.
"Iya Bun, baru aja sampai," jawab Sky menepiskan rasa kesalnya. Sky harus sedikit mengalah, dan legowo membiarkan mantan pacar istrinya itu bertamu di rumahnya. Ia tentu tidak ingin keluarga tahu mengenai hal masalah pribadi mereka yang tersembunyi.
Detik itu juga Sky langsung teringat dengan Disya. Mata elangnya menyapu keseluruh ruangan dan tidak menemukan istrinya di sana. Itu berarti aman, hati pria itu sedikit lega. Disya tidak boleh melihat Rayyan sedang berada di rumahnya.
Sky berlalu begitu saja dari ruang tamu, menaruh es krim ke lemari pendingin terlebih dahulu baru kemudian langsung melesat ke lantai dua. Pria itu berlari kecil menaiki anak tangga. Disya yang baru saja keluar dari kamar pun langsung di suruh berbalik lagi.
"Mas, sudah pulang? Kok lari-lari sih?" tanya Disya merasa aneh pada diri Sky.
"Iya, baru aja sampai." Ke dua tangannya merangkum bahu Disya dan membimbing gadis itu memasuki kamarnya kembali.
"Mas, disuruh Bunda suruh ke bawah, di tungguin makan siang bersama," ujar Disya santai.
"Makan di kamar saja, aku lagi pingin berdua. Jangan keluar dari kamar, ini perintah!" ucap pria itu tegas.
Disya terdiam, mengamati raut muka Sky yang terlihat aneh. Namun ia menurut, tidak banyak bertanya dan memilih duduk di sofa dengan penuh tanda tanya?
Pluto kenapa sih, ngeselin banget. Masa keluar kamar aja nggak boleh, semakin posesif dan nggak jelas. Bahkan di jam makan siang kaya gini, dan cuma sekedar makan siang di meja makan aja nggak boleh, ngebosenin banget hidup gue kalau di kamar mulu. Ini sih namanya seperti burung dalam sangkar emas. Terpenjara.
Disya mrengut, ia kesal melihat Sky yang tiba-tiba melarangnya untuk keluar kamar. Seketika menjadi sedih dan khawatir terhadap keposesifan suaminya yang menurutnya sangat berlebihan.
"Lho lho lho... kok cemberut gini sih sayang," seloroh pria itu setelah mengganti pakaiannya dengan baju rumahan. Kaus dan celana selutut.
"Tauklah, keluar aja nggak boleh nyeselin," jawab Disya mrengut, memalingkan wajahnya agar tidak bersitatap dengan pria itu.
Cup
Sky mencuri satu kecupan di wajah betenya. "Makan di kamar aja ya? Nanti aku ambilin, Mas janji deh nanti sore kita keluar buat jalan-jalan," ujar pria itu membangun rayuan.
"Bohong!" jawab Disya manyun
"Beneran, janji."
Tiba-tiba Bunda menyerukan namanya sambil membuka pintu kamar putranya.
"Ayo sayang... makan bareng, udah di tungguin Ayah juga di bawah."
Seketika pandangan Disya menuju suaminya, pria itu sedikit kesal karena titah Bunda tak bisa di bantah. Sky pasrah saja ketika Bunda menuntun istrinya turun ke bawah. Pria itu berdoa semoga seseorang yang menjadi rivalnya itu sudah pulang.
__ADS_1