One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 110


__ADS_3

Bintang sampai rumah agak sore, gadis itu sudah menolak berkali-kali agar Rayyan tidak mengantarnya sampai rumah, mengingat kakaknya, Sky sangat menolak kedekatannya. Tapi, pria itu ngeyel, ia berujar ketemu Bunda Yuki perihal kepulangannya yang terlambat, supaya Bintang tidak terkena omelan Sky.


"Aku langsung masuk ya?" pamit Bintang hendak turun dari mobil.


"Aku nggak ditawarin mampir nih, pengen ketemu sama calon mertua," selorohnya sukses membuat Bintang tersipu.


"Lain kali aja ya Kak, takutnya Kak Sky marah kalau pulang lihat kamu bertamu."


"Percaya sama aku deh, aku bisa ngatasin kalau Sky marah, kan alasannya udah jelas, kenapa musti marah. Tapi, ya sudahlah aku mainnya besok saja gimana, weekend kita jalan ya?"


"Bahas nanti ya, nanti aku chat, sekarang kak Ray mending pulang, hati-hati di jalan...!" Bintang melambaikan tangan perpisahan, setelahnya mobil Rayyan melaju.


Gadis itu memasuki rumah dan ternyata sepi, padahal hari sudah petang. Suara salam gadis itu yang menggema pun tak ada sahutan.


"Pada kemana sih nih orang, Bunda...!!" teriak Bintang mengisi seluruh ruangan.


"Non Bintang sudah pulang?" Mbok Nah baru saja mengambil wudhu dari kamar mandi.


"Mama mana Mbok? Kok rumahnya sepi gini, mbak Disya sama kak Sky juga belum pulang ya?" Bintang merasa bingung sendiri.


"Ibu sama Bapak, ke rumah sakit Non, tadi siang dapat kabar kalau Non Raya mau lahiran," jelas Mbok Nah.


"Mbak Raya lahiran, asyik... aku punya keponakan." Gadis remaja itu berjingkrak senang, lalu berujar menuju kamarnya sendiri.


Sampe tiba waktu makan malam, Bintang merasa kesepian, gadis itu duduk seorang diri di meja makan, tiba-tiba pikirannya langsung tertuju pada Rayyan, gadis itupun memberanikan diri menghubungi Rayyan malam ini, padahal sore tadi mereka baru saja ketemu dan jalan berdua.


Bintang mengabari rival kakaknya itu dengan keluhan kesepian, sontak pria itu langsung menanyakan posisi keluarganya saat ini. Rayyan pun menawarkan diri untuk menjemput gadis itu, tapi Bintang beralasan tidak ingin keluar karena baru saja pulang sore tadi. Baru beberapa menit yang lalu mereka menutup telfonya, setengah jam kemudian rumah Bintang di ketuk, pertanda ada tamu yang bersinggah.


"Mbok tolong bukain, siapa yang bertamu malam-malam gini." Bintang merasa tidak berselera ia sedang menyantap makan malam sendirian.


Mbok Nah berjalan ke depan sesuai dengan intruksi majikannya. ART itu langsung menghadap Bintang kembali mengabari perihal tamu yang datang.


"Siapa Mbok? Kalau tamu Ayah atau Bunda, atau kak Sky bilang, mereka tidak ada di rumah," jelasnya seraya mengunyah nasi yang terasa hambar.


"Bukan cari mereka Non, tapi cari Non Bintang. Den Rayyan temannya den Sky?" jelas Mbok Nah.

__ADS_1


"Kak Ray, di sini?" gumamnya bertanya lebih kepada diri sendiri, cukup aneh karena mereka baru saja bertemu. Bintang pun meninggalkan ruang makan dan menuju depan, terlihat Rayyan tengah duduk di sofa tamu dengan tenang.


"Kak, ngapain ke sini?" Respon Bintang di luar jangkauan, merasa aneh dengan sikap pria itu yang terlalu dominan, mengingat ini sudah malam dan mereka baru saja bertemu.


"Ya, pengen main aja, kan kamu sendiri, nanti kalau ada apa-apa gimana?" kilahnya beralasan.


"Ada Mbok Nah kok, yang temenin. Kakak pulang aja, ini sudah malam aku mau istirahat," usir gadis itu merasa bingung.


Bintang merasa tidak enak dengan Rayyan, akan tetapi dia takut kemunculan Rayyan membuat kakaknya mengamuk.


"Aku temenin di rumah deh, sampe kakak kamu, atau orang tua kamu pulang," kukuh Rayyan ngeyel.


Bintang pun mengiyakan dan pasrah saja, gadis itu juga merasa kesepian, dengan kedatangan Rayyan berkunjung ke rumah akan sedikit menghibur.


Mbok Nah datang membawakan secangkir teh untuk teman mengobrol.


"Makasih Mbok, Mbok istirahat saja di kamar nanti biar aku yang tunggu Bunda," ujar gadis itu sopan.


"Di minum kak, mumpung masih hangat."


"Kamu kenapa Bin?" tanya Rayyan khawatir, melihat pergerakan tangan gadis itu memijit pelipisnya.


Tangan Rayyan terulur mengecek kening gadis itu. "Panas Bin, kamu demam," kata pria itu sedikit cemas.


"Kak Ray pulang aja, lagian ini sudah malam aku pusing mau istirahat," keluhnya polos.


"Beneran nggak pa-pa kalau di tinggal, tapi kamu sakit lho, ya udah aku antar ke kamar deh kalau gitu, habis itu kamu istirahat terus aku pulang."


Bintang mengiyakan tawaran Rayyan perihal mengantarnya, gadis itu emang sedikit kliyengan dan merasa perlu bantuan untuk menaiki tangga, mengingat kamar Bintang ada di lantai dua. Sesampainya di kamar, Rayyan membantu Bintang berbaring.


"Ya sudah istirahat ya, aku pulang dulu," pamit pria itu merasa gusar, langkahnya berhenti di ambang pintu dan memastikan lagi mengecek kening Bintang.


"Ya ampun... Bin, ini terlalu panas," gumam Rayyan lirih. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi, ia langsung ke luar dan mencari kotak obat. Namun, berhubung ini bukan rumahnya tentu saja pria itu tidak tahu letaknya di mana, pria itu ingin meminta tolong art di rumah Bintang, tapi merasa tidak enak karena sudah larut malam.


Rayyan pun berinisiatif untuk mengompres saja, pria itu mulai mengambil panci kecil untuk di isi air hangat kemudian kembali lagi ke kamar Bintang.

__ADS_1


"Lho, kak Ray belum pulang?" tanyanya lemah karena terlalu pening.


"Aku bantu kompres kamu dulu ya, nanti baru pulang?" tawarnya lembut.


Bintang menurut, gadis itu seperti di rawat oleh Dokter saat dia sakit. Faktanya memang benar, Dokter Rayyan. Perlahan mata lentik Bintang mulai menyipit, panas di badannya juga sudah menurun, gadis itu terlelap damai dalam perawatan Rayyan.


Rayyan yang melihat Bintang sudah terlelap pun lantas tidak langsung pulang, atau segera keluar dari kamar, pria itu malah menatap gadis itu begitu lekat.


"Cantik, imut... manis banget, biarpun lagi tidur," gumam Rayyan tak sadar memuji gadis itu.


Entah dorongan setan dari mana Rayyan memberanikan diri mencium gadis itu. Perlahan namun pasti, Rayyan mengecup bibir Bintang yang sudah terlelap, sedikit terasa manis dan cukup membuat pria itu merasakan desiran aneh. Sudah lama sekali pria itu tidak menyentuh bibir seorang wanita, terakhir saat ia masih berhubungan dengan Disya.


Ngomong-ngomong soal Disya, Rayyan sedikit kesal dan bertambah panas saja. Kemudian, ia kembali menatap Bintang lekat, gejolak hasratnya tiba-tiba muncul dan memerintah untuk berbuat hal yang lebih. Hati dan pikirannya terus berperang melawan pertahanan pada diri pria itu.


Rayyan mengumpat kesal, karena kali ini setan lebih mendominasi. Entah dia sadar atau tidak, pria itu malah mengikuti jejak Bintang dan merangkak ke atas kasur. Pria itu mulai mencumbu Bintang yang sudah terlelap, namun ia segera menghentikannya ketika gadis itu sedikit terusik dan mulai terjaga dari tidurnya.


Stop Ray, ini gila! Kamu bisa di bunuh Sky kalau berbuat hal yang tidak seharusnya bersama Bintang.


Hati pria itu terus berperang, hingga ia lelah dan tetap menjaga kewarasannya, mengingat Bintang masih terlalu belia, ia tidak ingin menjadi perusak remaja tanggung itu.


Pikirannya sudah sedikit waras dan hendak turun dari ranjang, entah di sengaja atau tidak, tangan Bintang tiba-tiba menarik tangan Rayyan hingga pria itu terjerembab dan hampir terjatuh di atas tubuh Bintang yang terlelap.


"Bun, sini aja, aku pusing," gumam gadis itu mengigau. Tak sadar Bintang menarik pria itu dan membawa ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang begitu nyaman, yang Bintang kira adalah Bundanya.


Rayyan mati kutu, di dekap dalam jarak yang teramat dekat membuat pria itu gelisah, takut tidak bisa menahan diri atau semacamnya. Namun, untung saja kewarasannya masih tetap terjaga, pria itu hanya terlelap dalam buaian Bintang tanpa melakukan apapun. Tanpa sadar mereka tertidur di ranjang yang sama dalam pelukan.


***


Keesokan paginya Sky dan Disya pulang ke rumah Bunda Yuki. Mereka berdua pulang sekaligus ingin mengajak Bintang ke rumah sakit menjenguk keponakan mereka. Bunda Yuki juga mengabari bahwa dirinya dan Ayah tidur di rumah sakit menemani Raya yang baru saja melakukan operasi cesar.


Pasangan yang tengah berseri itu sedikit kaget melihat pagi hari sudah ada tamu, mengingat ada mobil asing di depan rumahnya.


"Mobil siapa yank?" tanya Sky mengernyit bingung. Ia pun segera masuk dengan menggandeng istrinya dan akan bertanya pada ARTnya saja.


"Nggak tahu, tapi kok aku kaya nggak asing ya?" jawab Disya mengamati mobil tersebut. Ia seperti menduga sesuatu tapi tentu saja langsung di tepis. Tidak mungkin sekali pria itu ada di rumah mertuanya sepagi ini.

__ADS_1


__ADS_2