One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 38


__ADS_3

Disya tahu ini tak mudah, apalagi tatapan mata elang itu seakan terus mengawasinya. Gadis itu mencoba fokus mengikuti materi kuliah sampe selesai walaupun di perhatian pluto terus-menerus membuatnya benar-benar muak.


"Tolong untuk PJ makul saya habis ini langsung ke ruangan saya," ucap Dosen tersebut sebelum beranjak meninggalkan kelas.


Disya terdiam sesaat mengangguk mengerti, hampir seluruh kelas menatap ke arah Disya. Karena sudah pasti Disya lah yang di maksud Dosennya itu.


"Sya... buruan gih, di panggil Pak Sky ke ruangannya," ucap Hanum mengingatkan.


"Mau ngapain kira-kira Dosen Sky manggil elo, selama Lo nggak masuk kan cuma ada satu pertemuan dengan dia, lagi juga nggak ada tugas selain tugas yang berkelompok waktu itu," ucap Bila merasa aneh.


"Mungkin akan ada sesuatu yang di omongin, antara Dosen dan mahasiswa tentang tanggung jawab tugas kuliah," timpal Sinta.


"Bisa jadi, buruan Sya! Kok malah ngelamun sih?"


"Iya," jawab Disya kalem.


Apa yang terjadi dengan Disya, dia memang meninggalkan kelas tapi sama sekali tidak menuju ruangan Sky. Disya yakin pluto tidak akan membahas tentang materi kuliah, lagian biasanya tugas tambahan akan dia share melalui email. Disya yakin ini cuma akal-akalan dirinya untuk berbicara dengannya. Dirinya pun lantas meninggalkan gedung Fakultas Ekonomi dan berjalan keluar area kampus.


Disya harus menemui Rayyan hari ini juga yang ternyata sudah menunggu dirinya di taman hijau terbuka yang tak jauh dari kampus Disya.


Disya tengah berjalan sedikit lebih cepat untuk menuju ke parkiran, dimana mobilnya berada. Sesampainya di sana gadis itu cukup melongo melihat mobil yang terparkir tidak beraturan tepat di belakangnya. Ini tentu saja membuat mobil Disya secara otomatis tidak bisa ke luar.


Sial! mobil siapa sih yang parkir sembarangan.


Gadis itu mengumpat kesal sambil menendang ban mobil di belakang mobilnya yang entah punya siapa. Manik mata Disya nyalang menyapu area sekitar, menatap liar siapapun yang ada di sana berharap mengetahui pemiliknya agar menyingkirkan mobilnya.


Ya ampun... nggak ngerti banget orang lagi buru-buru, malah ada aja ujiannya.


Disya hendak menuju pos satpam, atau menuju pusat informasi lebih tepatnya untuk menginformasikan perihal random masalah tempat parkir yang serabutan. Tentu saja supaya si pemilik tahu dan segera menyingkirkan mobilnya.

__ADS_1


Setelah pusat informasi menyerukan informasi Disya melalui pengeras suara tentu saja menjadi atensi seluruh penghuni gedung kampus yang mendengar.


Tanpa di duga ada seseorang yang tersenyum mendengar audio perihal informasi tersebut. Lantas dirinya menyuruh seseorang untuk mengatasi hal tersebut yang tentu saja di buatnya dengan sengaja.


"Pak orang yang punya mobil mana? Suruh pindahin dong lama amad," protes Disya kesal.


"Mbak Disya orangnya sudah tahu dan meminta maaf atas ketidaknyamanannya ini, tapi berhubung beliau sedang sibuk mbak Disya datangi saja orangnya ada di gedung B," ucap Pak Bayu.


"Siapa sih yang punya mobil, mahasiswa penting mana, udah jelas banget itu parkiran khusus mahasiswa jadi nggak mungkin Dosen kan?" gerutu Disya sambil menuju gedung B.


Disya mengetuk pintu dengan perlahan, gedung B lantai satu ini cukup lengah. Kalau bukan karena ia ingin cepat keluar dan menemui kak Rayyan tentu saja Disya malas mencari orangnya dan lebih baik meninggalkan mobilnya saja di sana, akan tetapi Disya harus mengembalikan kepada kak Rayyan.


Tok tok tok


"Permisi...!" salam Disya dan segera masuk ke dalam setelah terdengar seseorang mempersilahkan masuk ke dalam.


"Permisi Pak, saya Disya yang menyuruh pusat informasi untuk menyerukan perihal parkir mobil Bapak yang melintang menghalangi mobil saya," ucap Disya to the point. Orang tersebut duduk memunggungi Disya dari semenjak gadis itu masuk ke ruangan.


"Ya segera saya pindahkan," ucapnya seraya memutar kursinya.


Disya melongo di tempat, dalam seperkian detik ingin sekali memaki atau bahkan meninju orang yang duduk manis di depannya dengan menampilkan deretan giginya yang putih, tersenyum sangat manis.


What the ****!!!


Ia benar-benar kesal dan langsung mendelik tajam.


"Jadi itu mobil punya Bapak? Mohon maaf Pak, tolong bisa singkirkan mobilnya, mobil saya tidak bisa keluar?" ucapnya sesopan mungkin berusaha untuk sabar, tenang dan tidak marah


Eh eh... lho... ini kenapa jadi gue yang minta maaf sih, harusnya kan dia dong yang parkir sembarangan. Gue tahu ini pasti akal-akalan si pluto. Dasar breng sek!!!

__ADS_1


"Ya setelah pembicaraan kita selesai, kamu mau kabur? Kenapa di panggil tidak ke ruangan saya?" ucapnya dingin. Aura-aura mencekam langsung menyelimuti sekitar ruangan.


Disya terdiam sesaat sejurus kemudian berusaha tenang untuk menjawab kata demi kata. Ia tengah berfikir untuk merangkai kata yang manis tapi tentu saja tepat dan bijak. Mengingat lawan bicaranya adalah Dosennya yang walaupun Disya benci tapi Disya bergantung padanya perihal kuliah. Nilai tentunya, satu makul tidak tuntas itu tandanya akan mempersulit dirinya sendiri, tentu saja terancam menjadi mahasiswa abadi atau tidak kelar-kelar.


"Ee... tadi... saya ada kepentingan mendadak dan saya lupa kalau Bapak manggil saya," kilah Disya gugup.


"Kenapa kamu blokir nomor saya Sya? Kemana kamu pergi selama tiga hari ini dan kenapa kamu terus menghindari saya?" tanya Sky lugas.


Pria itu duduk menyender meja kerja tepat di depan Disya yang terduduk seperti sedang mendapat interogasi yang memburu berita. Mata elangnya menatap Disya tajam.


"S-saya..." Disya menelan salivanya gugup.


"Hmmm, jawab Sya!" tegas Sky seraya menatap nya lebih dekat membuat gadis itu secara refleks memundurkan kursinya agar lebih berjarak.


"Tolong jangan bahas apapun tentang kita," jawab Disya menunduk.


"Nanti malam aku akan datang ke rumah dan segera meresmikan hubungan kita," ujar Sky tegas.


"Jangan pernah datang, saya tidak akan menemuinya."


Pria itu menatap lekat manik mata Disya. "Tatap aku Sya, kenapa kamu terus menolak ku padahal aku hanya ingin bertanggung jawab," ucapnya lembut.


"Tidak perlu, akan ada banyak hati yang terluka jika Bapak terus memaksa. Hubungan Bapak dengan sahabat Bapak hancur, hubungan saya dengan kakak saya berantakan?" jawab Disya mencoba tenang.


"Lantas aku harus bagaimana?" Sky berjongkok meraih tangan Disya untuk di genggam tapi gadis itu langsung melepasnya.


"Maaf saya tidak bisa," ucap Disya bingung.


"Bagaimana kalau di rahim ini ada anakku," ucap Sky yakin. Tangannya refleks menyentuh perut Disya, membuat gadis itu klimpungan dan bertambah gusar, mematung di tempat seperti orang bodoh.

__ADS_1


__ADS_2