
Brakk!!
Gadis itu membanting pintu kamarnya, sebagai bentuk protes yang tak mampu ia ungkapkan. Disya langsung merangkak ke atas kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Hatinya sangat dongkol, ia baru merasakan hidupnya penuh dengan penekanan yang tak berarti.
Sky mengacak rambutnya frustasi, setelah berhasil menguasai emosinya Sky langsung menyusul ke kamar. Ia tahu Disya tidak terima dengan keputusannya, tapi tentu saja itu hanya gertak semata. Pria itu kesal, lebih kepada jengkel atas sifatnya yang terlalu abai bahkan tidak peduli dengan semua nasihatnya.
Sky membuka pintu kamar dengan perlahan, ia mendekati ranjang dan menempati kasur bagiannya. Netranya menatap punggung istrinya yang berbalut selimut. Perlahan Sky menyingkirkan guling yang ada di tengah ranjang lalu ikut masuk ke dalam selimut yang dipakai Disya seraya membaringkan tubuhnya tepat di belakang tubuh gadis itu.
Disya tahu suaminya itu masuk ke kamar, apapun yang terjadi Disya malas mendengarkan omelannya yang membuat hatinya bertambah dongkol. Disya merasakan pergerakan kasurnya ketika pria itu merangkak naik, ia juga merasakan saat Sky masuk ke dalam selimut yang sama. Namun gadis itu cukup terkesiap saat tiba-tiba tangan kekar itu mendekap, melingkar sempurna di perutnya, bahkan mengelus perut rata istrinya dengan perlahan.
Mata Disya membulat, jantungnya seakan berpacu tidak normal. Belum sempat melayangkan protes ia dibuat cukup kaget ketika rasa hangat itu mulai menjalar di tengkuk gadis itu, embusan napas pria itu menyapu hangat di bagian leher Disya, begitu nyata hingga membuat tubuh gadis itu meremang seketika. Perlahan namun terasa, pria itu kini bermain dengan lidahnya di sana, menyesap leher jenjang istrinya yang mulus, memberikan tanda kepemilikannya di sana.
Tuhan... gimana ini, apa yang harus aku lakukan. Pluto berulah...
Jantung Disya berpacu dengan cepat, ingin menolak sentuhan-sentuhan itu tapi ia takut Sky bertambah murka dan benar-benar membuat dirinya cuti kuliah, Disya tidak mau mengambil cuti selama tubuhnya baik-baik saja dan sehat. Bisa di bayangkan kalau di rumah terus hanya ditemani pria itu, yang ada Disya bisa mati muda karena banyak tekanan untuk dirinya.
Sky masih asyik dengan kegiatannya, membuat beberapa bintang di kulit putih istrinya. Tidak munafik, ia begitu menggebu dan merindu, tapi tentu saja ia harus sabar menanti moment itu. Awalnya Sky hanya ingin menghirup wangi tubuh istrinya yang begitu menenangkan. Ia sengaja menenggelamkan mukanya di ceruk leher Disya untuk mengobati rasa rindu yang begitu dalam. Namun ia sedikit khilaf, tak mampu melawan kehangatan yang melanda.
__ADS_1
"Maaf, tadi udah bentak kamu?" bisik pria itu lirih tepat di belakang telinganya, yang membuat tubuh Disya merespon seketika.
Sial
Tubuh Disya meremang seketika, tak mampu menolak sentuhan-sentuhan itu bahkan menyingkirkan dari sana. Otak dan hatinya mulai tidak singkron. Ia pernah merasakan semuanya tapi kenapa tubuh ini bahkan pasrah saja ketika Sky mulai berulah. Dalam seperkian detik, Disya cukup khawatir Sky akan bertindak lebih jauh lagi pada dirinya. Sumpah demi apapun hatinya masih kesal, bisa-bisanya pria itu bermain dengan asyik di sana. Disya merasakan lehernya yang dihisap beberapa kali, berulang-ulang bahkan sesekali pria itu menggigit gemas. Ia yakin besok pagi pasti tanda merah itu akan sangat jelas menghiasi lehernya.
Sky cukup paham istrinya belum siap menerima dirinya. Walaupun Disya terdiam, Sky yakin gadis itu ingin menolak terbukti dari diamnya Disya tanpa merespon. Laki-laki mana pun tak akan sanggup bertahan lama jika setiap malam disuguhi kemolekan istrinya yang begitu nyata di depan mata. Sayangnya Sky harus cukup sabar, sebab belum bisa mengambil hatinya Disya. Ia bahkan ingin melakukannya tanpa paksaan, benar-benar atas dasar saling membutuhkan dan saling menerima, Sky sangat menanti moment itu.
Sky mengakhiri sikap posesifnya dengan menghujani beberapa ciuman di pipi kiri Disya dan mengecup kepala istrinya, sebelum akhirnya kembali menenggelamkan wajahnya di cerukan leher belakang Disya. Namun kali ini anteng dan hanya mendekapnya.
Pria itu semakin mengeratkan pelukan di tubuh istrinya.
Disya cukup lega, dan akhirnya bisa bernapas sedikit lebih tenang walaupun hatinya masih tidak karu-karuan. Deg degan masih mendominasi tapi sudah cukup lengah sebab pria itu tidak melancarkan aksinya lebih jauh. Disya bahkan sudah menyiapkan rencana paling natural apabila Sky tetap meminta haknya malam ini, menolak tentu saja dosa tidak menolak ia tak ingin melakukannya, memang repot dan rumit hubungan tanpa cinta itu.
Disisi lain ia harus patuh, manut dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi, tapi disisi lain ada seonggok daging bernama hati itu yang belum bisa menerima dan masih belum lapang untuk kemudian melaksanakan apa yang menjadi Kewajibannya. Beruntungnya Sky cukup sabar dan ia tidak harus melakukannya untuk jeda waktu sampai kapan Disya pun tidak tahu.
Mata Disya benar-benar bisa terpejam saat ia merasakan dengkuran halus suaminya tepat di belakang kepalanya. Itu artinya pria itu benar-benar sudah terlelap, Disya bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1
Keesokan paginya Disya terjaga dan merasakan ada tangan kekar yang masih setia memeluknya. Disya menghempaskan tangan itu dengan cepat sebab ia merasa perutnya bergejolak dan ingin muntah. Gadis itu langsung berlari menuju kamar mandi.
Hoek hoek
Sky yang merasakan pergerakan kasurnya begitu kentara langsung membuka matanya. Kesadarannya langsung pulih sempurna begitu telinganya menangkap suara Disya yang tengah mual-mual. Pria itu langsung menyusul istrinya ke kamar mandi, dan mengusap-usap punggung Disya dengan perlahan. Berharap sentuhan itu bisa membuat gadis itu merasa lebih nyaman.
Sky mengelap mulut Disya yang basah dengan tangannya, menyeka dengan telaten.
"Udah enakan? Atau masih mual?" tanya pria itu khawatir.
Disya hanya diam, gadis itu menggeleng sebagai jawaban. Tubuhnya yang lemas langsung di gendong Sky menuju kamar. Pria itu membaringkan tubuh istrinya secara perlahan, lalu berjalan ke luar kamar menuju dapur. Ia membuatkan susu jahe untuk Disya.
Selang lima belas menit Sky kembali ke kamar dengan membawa satu gelas susu hangat dengan aroma khas jahe.
"Di minum dulu biar nggak mual," titahnya lalu membantu Disya untuk bangkit dari tidur.
"Makasih," jawab Disya lirih. Gadis itu kembali berbaring setelah menghabiskan beberapa tegukan minuman hangat itu.
__ADS_1
Sky kembali merangkak ke atas kasur, tangannya yang kekar terulur membawa kepala Disya ke dalam dekapannya. Pria itu menopang kepala Disya agar bersandar di atas tangannya dan berbaring menyandar pada dada pria itu, tempat ternyaman untuk pasangan pada umumnya. Disya juga menurut, entahlah hatinya berkata enggan tapi tubuhnya bahkan merasa mulai nyaman dalam dekapan pria itu.