One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 148


__ADS_3

Indahnya merajut asmara di pulau yang penuh cinta. Disya dan Sky begitu menikmati liburan mereka. Mereka menghabiskan sisa waktunya bermain snorkeling, dan Dolphin cruise. Makan malam romantis di lounge. Benar-benar impian Disya yang dulu hanya terbayang di angan semua terwujud berkat suaminya yang begitu mencintainya itu. Bulan madu di tempat impian, dan setelah kurang lebih satu minggu saatnya mereka say good bye. Hal yang paling berkesan sebelum ia beranjak, ialah saat ini bahkan menyayangkan kepulangannya, dan berniat kembali ke sana lagi merencanakan honeymoon yang ke dua. Hehehe


"Mas ... kita pulang ke mana?" tanya Disya bingung, begitu mendapati jalanan yang ia lewati bukan jalan yang biasanya.


"Rumah impian kita sayang, mulai sekarang kita akan tinggal di sana," ucapnya tersenyum.


"Udah jadi? Aku pasti akan sangat kesepian karena rumahnya terlalu besar," keluh Disya mrengut.


"Nggak sayang, rumah itu akan sangat ramai karena ada anak-anak kita yang bermain di sana," jelas pria itu menerawang.


Disya tersenyum, mengeratkan gelayutan manjanya. Perempuan itu sedikit lelah tapi lebih banyak bahagianya. Seminggu di sana benar-benar membuat ke duanya begitu menikmati tanpa gangguan melanda. Indah dan romantis.


Sesampainya di rumah yang katanya besar itu, Disya langsung di gendong suaminya menuju kamar mereka berdua. Kamar yang telah di setting dengan taburan bunga untuk menyambut kepulangan pasangan yang tengah berbahagia itu.


"Wah ... kamarnya sweet banget, Mas ... berasa di kamar hotel bintang lima," ujar Disya sumringah.


"Suka? Istirahat nyonya Ausky, katanya capek? Atau mau makan dulu, biar aku minta tolong mbak Tia, buat siapin." Tia adalah art di rumah mereka.


"Mau istirahat saja, pingin minum nanti aku ambil sendiri aja."


Setelah membersihkan diri Disya langsung menuju ranjangnya, sementara Sky ke luar kamar dan kembali lagi dengan membawa cemilan dan susu hamil kesukaan Disya. Rasa vanila, sudah tersaji di gelas yang telah tersedia. Pria itu tidak pernah lupa, tambahan kegiatannya setiap pagi dan malam hari adalah membuat susu untuk istri tercintanya.


Selang sehari kepulangan mereka, Baik Sky dan Disya sudah mulai aktif kembali dengan urusan pekerjaan, dan kuliah untuk Disya, bersiap dengan seabrek tugas yang siap menyapa. Disyasudah berencana mengambil skripsi di semester 7 ini, jadi praktis akan mengalami kesibukan di semester tua ini. Perempuan itu menyikapi dengan tenang, yang sudah-sudah suaminya itu banyak membantu belajar untuk tugas istrinya.

__ADS_1


Ini adalah hari pertama masuk kampus setelah hubungan mereka diketahui hal layak ramai. Serasa, ada yang beda, hampir semua orang yang berpapasan dengannya, lebih tepatnya dengan Sky mereka mengangguk sopan dan hormat, Sky banyak mendapatkan fans fanatik, apalagi setelah mengetahui bahwa kampus itu adalah milik Dosen muda tersebut, banyak sekali mahasiswi yang ngefans terhadap suaminya.


"Tuh, Mas udah ditungguin fans kamu?" seloroh Disya demi melihat banyaknya mahasiswi yang menyorot mobil mereka.


"Kamu kali, aku nggak berasa gitu ... biasa aja," ucapnya cuek.


Hal yang cukup membuat Disya sedikit tenang itu, sejauh ini Sky selalu bersikap cuek, dingin, dan datar saja. Bahkan mungkin julukan manusia kulkas itu sudah tersemat di sana. Selain dirinya yang menyebut 'Pluto'.


"Aku turun dulu Mas," pamit Disya. Saat ini mereka masih ada di dalam mobil yang sama baru saja sampai di halaman kampus.


Disya mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, sementara pria itu meninggalkan jejak sayang kepalanya lalu menyambar bibirnya sekilas.


"Hati-hati, nanti pulangnya sama aku ya?" ujar pria itu menginterupsi.


"Aduh indahnya pengantin baru ... lalalalala, yang baru saja pulang bulan madu ... lalalalala." Bila langsung menggoda Disya dengan menyanyikan lagu versi sendiri begitu bertemu dengan sahabatnya itu.


Bahkan perempuan yang tengah berbadan dua itu, sampai di cie cie in anak-anak yang sengaja jail. Tak luput dari Grace si kompor mbeleduk, yang doyan nyinyir pun ikut menyerbu.


"Bagi ilmunya dong Sya, biar habis kecengin Dokter ganteng gaet Dosen ganteng, Anda luar biasa, pakai gaya apa? 360 kah?" seloroh Grace nyengir.


Disya menanggapi dengan santai saja, sudah siap jauh-jauh hari menyiapkan ini semua. Hatinya sudah tidak baperan menyikapi setelah semua yang terlewati.


"Yuhu ... kepo lo Grace, mau tahu aja, atau mau tahu banget," balas Disya dengan cibiran manjah.

__ADS_1


"Songong lo!" kesal anak itu ketus.


Disya menanggapi datar saja. Ia hanya merasa orang-orang lebih menyorot dirinya jika ia tak sengaja melintas di lorong-lorong kampus. Entah di manapun berada, dirinya menjadi pusat perhatian orang sekitar, sungguh sedikit merasa tidak nyaman, tapi resiko menikah sama orang ganteng kali ya, terlebih yang punya kampus jadi responnya gitu.


Perempuan itu menyusul suaminya ke ruangan setelah urusannya selesai.


"Sya, kamu bimbingan sama aku aja ya?" ujar Sky. Laki-laki itu mengambil simplenya saja mengingat istrinya akan banyak tugas yang di kerjakan.


"Bonus nggak yank," tawarnya penuh percaya diri.


"Nggak lah, harus bisa sendiri. Kan cuma bantuin bimbingan, aku bukan dosen pengujinya." Sky paham betul kemampuan istrinya, dirinya bahkan sempat kagum karena Disya termasuk mahasiswa yang cerdas.


"Kamu udah siapin judul? Ikut sempro dulu, nanti ajuin ke aku baru aku acc, kalau nggak sesuai harus ganti judul yang menarik."


"Hmm, bantuin nyariin tapi ya ... aku udah siapin beberapa judul jauh-jauh hari, nanti aku kirim lewat email deh."


Tentu saja Sky bersedia menjadi Dosen pembimbing untuk istrinya, walaupun awalnya sempet ragu, tapi pria itu bisa memantau Disya dengan leluasa, juga lebih gampang tentunya saat melakukan bimbingan, baik di kampus, di rumah, bahkan di manapun mereka berada. Semua terasa lebih mudah, karena mereka tinggal di zona yang sama, bahkan ranjang yang sama, ya iyalah kan suami istri!


"Mas, tapi ... kenapa harus bimbingan sama kamu, kenapa nggak pak Arya saja, kalau boleh milih sih."


Sky mengergit mendengar protes istrinya. "Kenapa emang, nggak suka bimbingan sama suami sendiri?" tanyanya penuh selidik.


"Bosen, ketemu mulu, di kampus, di rumah, di ruangan belajar, sharing, perpustakaan, bahkan di kamar mandi, sampai mau tidur ketemu lagi. Nggak ah, aku mau ganti pemandangan!" nego Disya yang cukup absurd.

__ADS_1


__ADS_2