One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 67


__ADS_3

Tok tok tok


"Ada orang!"


Suara teriakan di luar pintu membuat aktifitas mereka terganggu, lebih tepatnya aktifitas Sky sebab Disya cukup syok dan bahkan kaku tanpa merespon, saking tidak menyangkanya. Dosen berstatus suaminya tersebut beraksi nekat.


"Iya ada," saut Disya dari dalam dengan suara dibuat setenang mungkin.


"Lo yang di dalam Sya?! Gue Bila, cepet lo mandinya udah di tungguin anak-anak!" seru gadis itu cempreng dengan suara khasnya.


"Iya, sebentar. Lima belas menit!" teriaknya tak kalah keras.


"Oke, gue tunggu di depan," ujar Bila.


Hening


Disya membuka sedikit pintu, mengintip di sekitar, setelah di rasa aman, gadis itu segera menyuruh pria itu ke luar.


"Udah sana, Bapak ke luar!" titah Disya kesal.


"Lagi, yang tadi baru sedikit," ujar pria itu nglunjak.


Disya mendelik, menatap garang pria di depannya.


"Ke luar nggak? Nanti saya siram?" Gadis itu bersiap mengambil gayung.


"Siram aja Sya, biar kita basah berdua sekalian," jawabnya kelewat santuy.


"Ihk... nyebelin banget, saya ngambek beneran nih," rengek gadis itu mrengut.


"Aku mandiin ya?" tawarnya tanpa dosa.


"What!!"


Oh ya ampun... situ waras???

__ADS_1


"Jangan ngadi-ngadi deh, saya udah ditungguin. Habis ini ada briefing panitia, saya ketinggalan jauh," ucap gadis itu frustrasi.


"Iya deh iya, aku ke luar tapi ...." Sky menunjuk pipinya sendiri, menandakan gadis itu untuk menciumnya.


Disya nampak pasrah dan menurut saja agar tidak berbuntut panjang, dan secepatnya laki-laki menyebalkan itu ke luar.


Sky sudah bersiap, sedikit membungkukkan badannya agar gadis itu mudah meraih pipinya. Disya hampir saja menyentuh pipi suaminya sebelum pria itu memutar kepalanya dan langsung menyambut bibir Disya tepat di bibirnya, benar-benar trik yang mumpuni.


Pria itu pun mengambil kesempatan itu dengan epik, Disya yang nampak terdiam, syok berusaha memberontak. Namun, pria itu meraih tengkuknya agar semakin dalam dan menahannya. Disya akhirnya pasrah, ikut bermain setelah pria itu sedikit menggigit bibir bawah Disya dengan lembut. Pria itu melakukan dengan sangat lembut, perlahan semakin dalam, dan menuntut.


Disya meremas lembut rambut belakang Sky yang membuat pria itu semakin menggila. Sekilas mereka lupa, sedang di mana mereka berpijak. Disya segera sadar ketika tangan Sky mulai bergerak nakal. Gadis itu segera melepas pagutannya.


"Mas, jangan! Please ... ke luar sekarang?" mohon Disya.


Pria itu menyorot Disya dengan kecewa, sekilas sudut matanya menangkap kabut gairah yang menyala. Sky bergeming, menatap Disya lekat.


"Maaf, aku hampir kelepasan," ucap pria itu lirih.


"Udah sana mandi, aku duluan ya." Pria itu kembali mengecup kening Disya sekilas, lalu mengacak rambut Disya dengan gemas, sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.


***


Let's share our love to another.


Tema kita kali ini, yang pasti cukup membuat orang di sekitar merasa tersentuh, dan ingin mengulurkan tangannya bagi mereka yang kurang beruntung.


Terdapat kurang lebih 40 anak yatim yang tergabung dalam serangkaian acara ini. Acara dimulai dengan khidmad, dipandu oleh komandan kita Bisma Maulana Ikhsan Kamil. Cowok berdarah indo tulen itu dengan semangat menyampaikan partisipasinya kedatangannya untuk senantiasa memberikan sedikit uluran kasih, yang mana bisa sedikit membuat senyum mereka terbit.


Setelah sambutannya, kegiatan diisi dengan berbagai perlombaan seperti tebak kisah nabi dan rosul.


"Ayo adik-adik...! Barang siapa yang bisa menjawab dengan benar maka kakak kasih hadiah," ujar panitia pemandu acara.


Antusiasme juga terlihat ketika anak-anak sangat bersemangat dalam menyanyi disertai gerakan bersama.


Mereka ikut dalam uforia kebahagiaan bersama. Senyum itu terlihat tulus dan kita menjadi merasa sangat bersyukur ketika masih bisa sedikit lebih beruntung berkumpul dengan keluarga di rumah.

__ADS_1


Tak terasa pipi Disya basah, terharu melihat keceriaan anak-anak di sana begitu senang dengan kedatangan rombongan semua. Hingga tanpa sadar, refleks tangan Disya mengelus perutnya sendiri yang masih rata.


Ampuni aku Tuhan... pernah sangat membenci kehadirannya, baik-baik dalam perut bunda nak, sehat sampai akhirnya kita di pertemukan ke dunia nyata, engkau hadir di antara kita.


Hatinya menghangat seketika, terharu dan juga sedih, jadi teringat Mama dan Papa di rumah.


"Beb, kok mewek sih, nih tisu," bila menyodorkan sebuah tisu kotak kecil.


"Makasih, baper gue lihat mereka tetap semangat. Masih kecil-kecil udah tinggal di panti, nggak kebayang banget pasti mereka rindu sama orang tuanya."


"Iya sih sama, kegiatan ini emang top banget deh, jadi menyadarkan kita pentingnya peduli terhadap sesama. Biar kita-kita yang berjiwa alay pada sadar dan menjadi lebih peka."


Kegiatan di tutup dengan rasa syukur dan ucapan terimakasih pengurus panti kepada seluruh mahasiswa. Sebagai bentuk berbagi kebahagiaan ini, acara di tutup dengan pemberian sembako secara simbolis, tak lupa santunan untuk acara ini diberikan langsung lewat pengurus.


Hari sudah petang menjelang maghrib ketika mereka sampai di tenda masing-masing. Seharian aktifitas cukup menyita tenaga dan juga pikiran.


"Jangan tidur dulu," tegur Rara menginterupsi. "Besok kan acaranya udah lumayan santai, tinggal refresing iya 'kan? Jadi malam ini kita santuy, nikmati keakraban bersama mahasiswa yang ikut kegiatan dengan bersantai di bawah rembulan."


"Ngomong apa sih Ra, belibet tahu nggak?" seloroh Bila jengah. Gadis itu sudah bersiap tidur dan ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa penat.


"Keluar ayo ah, nikmati kota malam bogor yang syahdu, dingin tapi mengasikkan," ujar Rara semangat.


Bila seketika berbinar mendengar pernyataan tersebut. Rasa ngantuk yang sempat melanda kembali pulang dengan sayang.


"Ayo Sya, keluar. Ngapain di tenda sendirian."


"Lo duluan deh, gue tak rebahan bentar."


Disya merasa perutnya sedikit rewel, mungkin karena capek membuat perut Disya agak kencang dan tiba-tiba kram. Gadis itu langsung merebahkan diri di tikar begitu teman-temannya ke luar, Disya meringis sambil terus mengusap perutnya yang sedikit tegang. Di saat seperti ini, Disya kembali teringat akan kelembutan suaminya waktu itu rasanya begitu nyaman, tapi untuk saat ini tidak mungkin Disya menghubungi Sky, yang ada bakalan heboh kalau tahu pria itu ada di tenda yang sama.


"Sshhh... duh... ini kenapa sih, adek... jangan rewel dong..." Disya mendesis, sambil memegang perutnya yang belum juga reda. Gadis itu mencoba merebahkan tubuhnya lagi agar lebih rileks.


Sementara di luar, anak-anak nampak rame berkumpul dalam hangatnya keakraban bersama. Sky mengedarkan pandangan, netranya menyapu ke seluruh arah tetapi tidak menemukan istrinya di salah satu kerumunan yang ada di sana.


"Pak mau kemana? Temenin saya duduk, boleh dong?" seloroh Bu Mega.

__ADS_1


"Maaf Bu, bentar. Saya ada urusan sebentar," kilah pria itu gusar.


Sky mulai cemas ketika panggilan telfonnya diabaikan begitu saja.


__ADS_2