
Usai mandi bersama, Disya terasa perutnya sangat lapar. ini sudah hampir pukul setengah sebelas dan tentu sudah tertinggal jauh dengan sarapan.
"Mas, aku lapar," keluhnya merasa tidak berdaya. Masih menggunakan bathrobe, duduk di atas ranjang sambil menumpuk bantal untuk tiduran.
"Iya, iya sayang." Sky langsung memesan makanan lewat layanan kamar hotel.
Sementara menunggu, Disya hanya duduk saja sementara pria itu sibuk mengeringkan rambut Disya, dan menyisirnya. Disya membiarkan saja, toh dirinya emang benar-benar terasa cape dan pinginnya tidur.
Tidak menunggu begitu lama pesanan mereka datang. Sky langsung mengambil bagian Disya dan menyuapinya.
"Mas, aku mau makan sendiri," protesnya manja.
"Nggak pa-pa, kamu duduk aja sambil senderan, biar aku suapin," jawab Sky santai.
Pria itu merasa kasihan melihat istrinya yang sepertinya sangat lelah karena ulahnya. Ia menjadi sedikit ngerasa bersalah dan juga khawatir. Takut Disya merasa tidak nyaman, atau bahkan sakit.
Sky menyuapi Disya dengan telaten, di selingi makan untuk dirinya sendiri. Disya merasa ini terlalu berlebihan, namun setelahnya ia merasakan perasaan senang, betapa suaminya itu memanjakannya. Sky sangat perhatian.
"Mas, habis ini aku mau pulang," ujar Disya menginterupsi.
"Iya," Sky mengangguk.
Usai sarapan, eh makan siang lebih tepatnya, karena hari sudah hampir setengahnya terlewat. Mereka chek out, meninggalkan hotel yang menjadi saksi bisu pertumpahan cinta mereka.
"Oh ya ampun... ini terasa sedikit sakit dan ngilu," desis Disya sambil berjalan sangat pelan.
Sky yang melihat istrinya berjalan bagai robot pun, spontan langsung menggendongnya.
"Mas, turunin aku," protes Disya merasa malu. Perempuan itu terus memberontak meminta diturunkan.
"Diem sayang, nanti jatuh. Kamu kesulitan berjalan jadi biarkan aku yang menjadi kaki untukmu."
"Ikh... aku malu, di lihatin orang nanti," keluhnya kesal.
"Sebodo dengan pandangan orang lain, aku nggak bakalan turunin kamu. Kalau malu merem aja selama di gendong," ujarnya memberi solusi.
Disya mrengut, tapi hatinya menghangat dan juga bahagia. Ia benar-benar mengikuti saran suaminya, merem dalam gendongan.
Selama perjalanan pulang Disya hanya diam, dan memejamkan matanya. Tentu saja pemandangan tersebut membuat Sky khawatir.
"Sya, maafin aku ya?" ucap pria itu seraya mengambil satu tangannya untuk di genggam. "Kamu marah, kok diem aja?' sambungnya.
Sky sesekali melirik ke arah Disya, yang terlihat hanya diam sambil memejamkan matanya. Tangan satunya menggenggam, menautkan dengan tangan Sky, sesekali menciumnya dengan sayang, sementara tangan lainya fokus mengemudi bundaran stir.
"Maaf kenapa Mas, aku nggak pa-pa kok," jawab Disya lirih, berkata tanpa menoleh ke arah Sky.
"Udah bikin kamu cape," kata Sky sambil sesekali mencium tangan Disya dan melirik nya.
Sky membawa pulang ke apartemennya, agar istrinya lekas beristirahat. Ia sengaja membawa pulang ke sana, supaya istirahat Disya tidak terganggu. Sementara Sky sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
Seharian Disya benar-benar memanfaatkan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa remuk, dan lelah. Ia sempat takut terjadi pada janinnya, tapi untung kekhawatiran itu tidak pernah terjadi. Ia hanya lelah, tidak sakit.
"Mas, kita tidak pulang ke rumah bunda?" tanya perempuan itu setelah terbangun dari tidur siangnya.
"Nanti malam, kamu pasti capek kan, makanya aku sengaja bawa ke sini, kalau langsung ke rumah yang ada kamu nggak bisa tidur di kepoin mereka," jawabnya santai.
Disya terdiam, mengiyakan perkataan suaminya. Setelah bangun hampir petang Disya langsung mandi membersihkan diri. Cukup lama Disya di kamar mandi, gadis itu sengaja berendam untuk merilekskan tubuhnya, setelah di rasa cukup, Disya membilasnya dan bangkit dari sana. Disya langsung mengganti baju dengan pakaian yang sudah di sediakan terlebih dulu.
"Sayang, mau bobok sini atau pulang?" tanya Sky ketika hari sudah berganti malam.
"Terserah kamu, aku ngikut aja, tapi aku mager," jawabnya sambil bersantai di bibir ranjang, membawa kertas fotocopyan untuk belajar.
Besok senin akan di mulai ujian tengah semester, Disya harus belajar untuk besok. Sementara Sky masih sibuk di depan layar laptop entah sedang mengerjakan apa.
"Pulang ke rumah bunda aja, biar sedikit santai," ujar Sky memberi solusi.
"Boleh, aku kemasi barang yang mau aku bawa dulu." Disya memasukan barang, serta kepentingan pribadi lainnya yang hendak di bawa ke dalam backpack hitamnya.
Tidak memerlukan waktu yang lama ke dua sejoli itu sudah sampai di rumah Bunda Yuki, saat keluarga hendak memulai makan malam.
"Malam all... enak nih, kebetulan belum makan malam," ucap Sky langsung menggeret kursi dan mempersilahkan Disya duduk baru dirinya menarik kursi di dekatnya dan mengambil duduk tepat di sebelah Disya.
"Aku kira nggak mau pulang, udah betah di hotel," sindir Bintang melirik kaka nya.
"Uluh yang iri hati, rencana besok liburan panjang mau family trip kamu nggak usah di ajak, biar tambah seneng."
"Ish... jahat. Aku liburan sama someone dong...!" ujarnya tersenyum.
"Bun... itu kak Sky, nyebelin," adunya manja.
"Kakakmu benar sayang, kamu nggak boleh liburan hanya berdua dengan seseorang terlebih itu lawan jenis, tapi kalau anak tante Gea sih Bunda izinin," ujarnya tersenyum.
"Ogah, kenal juga nggak," jawabnya sewot. Bunda Yuki hanya mengangkat alisnya cuek, kemudian melanjutkan menyuapi sendok berisi nasi ke mulutnya.
Asher memberi kode untuk tidak menyinggung hal tersebut, ia tidak ingin anak-anaknya merasa tidak nyaman dengan kemauan orang tuanya. Terlebih Bintang tipikal gadis yang tidak mau di kekang.
"Kak, habis ini main ke kamar Bintang ya?" Bintang mendekat lalu membisikan sesuatu ke telinga Disya. "Mau konseling kak," setelahnya pergi meninggalkan meja makan. Bintang sudah selesai makan malam.
Bunda, Sky dan Ayah menatap Disya dengan dahi berkerut. Sejak kapan si Bintang yang cuek terlihat sangat akrab dengan seseorang. Mungkin karena umur mereka yang tidak begitu jauh membuat gadis itu terasa nyaman.
Sepeninggalan Bintang, Bunda langsung kepo.
"Apa Sya?" Bunda bertanya tanpa suara.
"Curhat," kata Disya lirih.
Usai makan malam, Disya dan Sky langsung menuju kamarnya.
"Mas, bagi soal buat besok dong..." pinta gadis itu manja. Disya bergelayut di pundak Sky.
__ADS_1
"Hmm, bau-bau nepotisme nih."
Sky tengah duduk di kursi kamar sedang sibuk menganalisa data di laptopnya. Sky berbalik memutar tubuhnya dan menatap lekat istrinya. Kemudian menarik tangan yang menggodanya nakal sehingga gadis itu langsung terjerembab ke dalam pangkuan Sky.
"Jangan mancing-mancing, Sya." Mencubit hidungnya dengan gemas lalu mengacak rambut istrinya.
"Belajar sendiri, nggak boleh curang," jawabnya santai. Lalu pria itu kembali serius menatap layar laptopnya.
Disya mrengut, bangkit dari pangkuan Sky dengan wajah di tekuk.
"Ish... pluto pelit," gumam Disya lirih, namun cukup jelas tertangkap rungu Sky.
"Ngomong apa sayang?" tanya Sky heran.
Pluto???
Pria itu nampak berfikir serius. Kata itu sering di dengar Sky dari mulut istrinya, terlebih sering mendapati nama di ponsel Disya sering menghubunginya. Sky benar-benar penasaran sebenarnya itu nomor siapa.
Tok tok tok
"Mbak Disya!" seru Bintang dari luar pintu kamar.
"Bentar dek, otw," sahutnya dan segera bergegas.
Gadis itu menyiapkan buku untuk di pelajari di kamar Bintang, setelah mendengar sesi curhatnya gadis itu akan lanjut belajar.
"Udahlah nggak usah di ladenin, biarin aja," protes Sky dingin.
"Kok gitu sih, urusan cewe nggak usah kepo," jawabnya sengit.
Disya segera meninggalkan kamar nya dan menuju kamar Bintang.
"Dek, mau konsul apa?" tanya Disya setelah memasuki kamar adiknya dan menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang.
"Mbak mau belajar?" Bukannya menjawab Bintang justru balik bertanya melihat Disya menenteng buku.
"Nanti kok, ngobrol dulu nggak pa-pa? Mau konsul apa?"
"Kakak sebelum sama kak Sky pernah pacaran nggak?"
"Emang kenapa dek? Kamu sedang dekat seseorang?" Disya balik nanya.
"Ada, eh nggak sih, tapi dari kemarin bunda nyinggung masalah perjodohan terus, aku kok takut ya? Mbak Disya perasaannya gimana waktu tahu di jodohkan sama orang tuannya?"
"Kenapa nggak coba kenal dulu? Siapa tahu dia pria yang baik."
"Kalau orangnya kaya kak Sky pasti aku langsung mau, sama seperti kakak yang langsung yes kan?" tanya gadis itu percaya diri. Disya hanya tersenyum tipis menanggapi.
Setelah gadis itu berkeluh kesah hampir satu jam dengan celotehnya. Bintang mulai tertidur, sedang Disya masih membaca buku dengan seksama. Gadis itu hanya mengulas kembali, untuk persiapan besok.
__ADS_1
"Sky menunggu di kamar dengan tidak sabar, sudah hampir pukul sepuluh istrinya belum kembali ke kamar. Pria itu niat menyusul ke kamar Bintang.
"Ya ampun... ini kenapa kamar bocil di kunci, buka woi... Bintang! istri aku tertinggal di dalam!" Sky mengetuk-ngetuk pintu kamar adiknya.