
Cup
"Jangan ngambek, ayo berangkat!" Sky menatap Disya malas. Saat perempuan itu hendak memutar tubuhnya, Sky langsung menarik hingga istrinya terjatuh ke pangkuan suaminya.
"Dikit doang Sya, kelas aku udah aku pindah jadwal siang, kamu juga nggak ada kelas pagi 'kan?" Percaya nggak percaya, kalau Sky udah bilang A ya A nggak bakalan jadi B, bakalan susah buat bujuknya.
Disya mendesah pasrah. Mau tidak mau harus menuruti suaminya yang sudah kepalang di ubun-ubun. Cukup lama mereka menghabiskan paginya. Mengacak sprey yang nampak tidak beraturan. Dandanan yang sudah dibentuk hilang sudah di ranjang panas. Disya nampak acak-acakan, ia bahkan masih tiduran berselimut tebal, rasanya malas untuk bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karena takut terlambat Disya sampai mengirim pesan ke Billa untuk menitip absen. Rupanya dewi Fortuna sedang menaunginya, dosennya bahkan tidak hadir dan kelas kosong. Disya bernapas lega, ia bisa melanjutkan tidur hingga perempuan itu puas. Waktu senggang sisanya lebih baik iya gunakan untuk menyelesaikan skripsi yang masih berlanjut.
"Hai ... bangun sayang, kamu nggak jadi kuliah?" tanya Sky seraya mengelus rambutnya lembut. Pria itu sudah selesai mandi, menghampiri ranjang dan gemas sendiri melihat istrinya masih membungkus tubuh polosnya dengan selimut putih.
"Ngantuk, aku mau tidur," jawabnya setengah malas, netranya tertutup rapat. Sky memberi jejak sayang di pipinya, mengelus dengan lembut bahu putihnya dan menciumnya.
"Maaf, buat kamu lelah di pagi hari, aku tidak bisa menundanya, tubuhku terlalu menginginkan dan rasanya pening," curhatnya merasa iba.
Disya tidak menanggapi, mungkin perempuan itu benar-benar sudah mampir ke alam mimpi. Menyinggahi dunia nirwana alam damai. Embusan napasnya menandakan, betapa Disya terlelap karena kelelahan, Sky merasa sedikit bersalah, pria itu kembali mengecup pelipisnya, kali ini lebih lama.
Disya terbangun saat matahari benar-benar sudah meninggi. Ia melirik jam di dinding pukul setengah 11 siang. Itu artinya ia tidur hampir dua jam. Ia menyibak selimut, mendapati dirinya yang masih polos, dengan malas berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Disya pikir suaminya pasti sudah berangkat ke kampus, tapi nyatanya pria itu masih di temukan di kamarnya saat Disya keluar dari kamar mandi.
"Lho, Mas, belum berangkat?"
"Habis dhuhur nanti siang, kamu bolos?"
Disya menggeleng, "Dosennya nggak datang, nanti habis ngajar aku mau bimbingan Mas," pintanya sedikit memaksa.
"Di kampus saja, gampang nanti," ujar Sky santai. "Kamu mandi dulu, habis itu makan siang, pasti udah lapar lagi 'kan? Apalagi tenaga kamu baru aja terkuras," ucapnya yakin.
"Iya, aku mau nyemil aja, tolong bilangin mbak Tia, Mas, suruh buatin aku cemilan."
"Mau makan apa?"
"Bola-bola kentang isi coklat atau keju gitu, kayanya enak. Di kulkas kayaknya masih ada bahan," ujar Disya memesan. Sky langsung mengiyakan, memanggil ARTnya untuk membuat sesuai pesanan istrinya. Usai mandi ia masih sibuk mematut di depan cermin. Sky membantu mengeringkan rambut Disya.
"Makasih untuk pagi ini," ucapnya lembut, kembali mengecup pipinya dengan sayang.
__ADS_1
"Cie ... yang baru dapat vitamin pagi, cerah banget mukanya," ledek Disya. Sky hanya nyengir tanpa menanggapi.
"Habisin sampo berapa botol wangi banget, bikin aku kesetrum." Sky mengendus-endus kepala istrinya. Pria itu membantu mengeringkan, menyisir dan merapikan tatanan rambut Disya.
***
Anak-anak baru saja selesai mengikuti kelas. Mereka menyempatkan diri nongkrong sebentar untuk menghilangkan rasa penat. Masih di halaman kampus, duduk saling bergerombol.
"Besok gue sidang," celetuk Bisma antusias. Sumpah demi apa tuh anak encer banget otaknya. Disya yang masih berjuang untuk cepet kelar saja revisi lagi dan lagi.
"Serius? Keren amad lo." Disya menyorot kagum.
"Hua ... pengen!" celetuk yang lainnya.
"Gue santai dulu lah, mungkin wisuda tahun depan." Sinta yang paling tidak ngoyo.
"Baper banget sih lihat kalian pada mau sidang skripsi, apa kabar gue yang masih revisi." Disya lagi-lagi mendrama.
"Di syukuri aja dong beb, gue aja belum apa-apa."
"Iya udah bersyukur banget malah, dasar gue mah, manusia biasa ada yang lebih pasti pingin."
"Kalau dalam pengamatan orang lain sih pasti gitu, tapi faktanya Pak Sky orang yang sangat profesional, dia ngebantuin gue sebagai Dosen, bukan sebagai suami, cuma mungkin kesannya lebih santai, eh! Tapi nggak ding, suka horor juga, akunya yang akhirnya ngambek," curhatnya menerawang.
"Cabut dulu gaes ... selamat berjuang, besok kita wisuda bareng, bagi yang nggak keburu tahun ini moga cepet nyusul."
"Aamiin ...!" koor mereka serempak.
"Lo nggak ngikutin jejak Bisma, Al?" tanyanya antusias.
"Masih nyantai tapi tetep mikir, biar gimanapun, mahasiswa tingkat akhir tuh pasti pikirannya kaya gini, baru pengajuan judul ke dosbing sih, moga aja acc cepet. Pengen cepet kelar kuliah, terus kerja."
"Iya, itu sih impian semua orang, ngobrolnya sambil makan yok, lapar gue," ujar Alan menginterupsi.
"Kalian duluan deh, gue mau bimbingan, suami gue kayaknya udah nunggu di ruangan."
__ADS_1
"Serius, nggak mau kantin? Gue traktir malah nggak mau."
"Gue mentahnya aja, jangan lupa transfer," candanya mengerling.
"His, matre nyonya Dos. Sana gih minggat," usirnya jengah.
"Duluan ya!" Disya melambaikan tangan perpisahan, menuju ruangan suaminya dan menemukan Sky tengah menghubungi dirinya lewat ponsel.
"Mas," Disya langsung masuk setelah mengintip di ambang pintu.
"Di telfon nggak di angkat Sya, aku hubungi kamu dari tadi," keluhnya seraya mematikan panggilan handphonenya.
"Eh, masih aku silent Mas, lupa tadi habis kelas," ucapnya seraya merogoh ponsel di dalam tas.
"Iya bener, banyak banget panggilan telfonnya."
"Jadi bimbingan?"
"Jadi, sekarang gimana Mas?"
"Sepertinya kamu semangat sekali, Mas seneng lihatnya."
"Iya dong, biar cepet lulus juga."
"Ayo!" serunya seraya bangkit dari kursi.
"Ayo? Kemana?" tanyanya bingung.
"Di luar aja, sambil makan. Mas belum makan siang lapar, kamu mau makan apa?"
"Kantin universitas aja Mas, mager akoh kalau jauh-jauh."
"Duh ... bumil, bawaannya mager mulu."
Mereka menuju kantin universitas, duduk dengan manis memesan makanan. Disya juga ikut makan, tapi sedikit, ia berdalih masih kenyang, karena sebelum berangkat banyak menghabis bola-bola kentang coklat. Ia hanya memesan siomay khas bandung dan minuman saja. Setelah makan dan kenyang, Disya mulai melanjutkan bimbingan skripsi. Cukup lama mereka berada di sana. Sky menjelaskan point apa saja yang masih kurang pas.
__ADS_1
"Cukup sayang, kamu terlihat lelah," ucap pria itu lembut. Disya mengangguk patuh, jika siang hari menjelang sore ia merasa energinya terkuras habis.
"Mas, besok Bisma sidang skripsi," celetuk Disya tiba-tiba. Tidak ada sahutan, padahal Disya sengaja ingin mengetahui tanggapan suaminya. Mereka barengan tapi Bisma lebih cepat dari perkiraannya.