
"Sya, kenapa ekspresi kamu aneh?" ucap Sky menyelidik.
"Jadi benarkan kamu hamil?" sambungnya yakin.
Disya langsung berdiri dari duduk, lebih tepatnya seperti kursi penghakiman untuk dirinya. Di cecar pertanyaan yang sulit sekali untuk di jawab. Disya sendiri bingung untuk hal ini tapi yang jelas untuk saat ini Disya tidak ingin kehamilannya di ketahui oleh siapapun termasuk Sky, ayah kandung dari janin yang sedang di kandungnya.
"Siapa yang hamil, s-saya tidak hamil," jawab Disya gugup.
"Bisa tolong Bapak singkirkan mobilnya, saya ada urusan yang harus saya bicarakan dengan seseorang. Ini sangat penting," ujar Disya memohon.
"Urusan sepenting apa Sya? Apa ini ada hubungannya dengan Rayyan?" tanyanya memastikan.
"Kalau tentang Rayyan, biar saya yang bicara dan menjelaskan semuanya setelah kita menikah. Untuk Flora, kamu jangan khawatir saya sudah bicara dengan Om Amar dan pastinya Om Amar mengerti dengan kondisi kamu saat ini. Saya tidak mungkin menikah dengan Flora karena saya harus bertanggung jawab dengan mu Sya, dan lagi Flora punya pasangan, saya sering lihat dia membawa laki-laki ke apartemen nya sebelum saya tahu mau di jodohkan dengannya."
"Maaf tolong beri saya waktu untuk menjawab semuanya," ujarnya menunda kepastian.
"Berapa lama lagi Sya, apakah waktu tiga hari kemarin tidak cukup?!" Sky agak meninggikan suaranya. Pria itu mencondongkan tubuhnya, ke dua tangannya menyentuh bahu Disya matanya menatapnya lekat.
Disya terlihat pucat, gadis itu tidak bisa berfikir jernih. Pusing dan rasanya mendadak mual menghirup parfum di tubuh Sky.
Disya segera menghindari tatapan Sky, dan langsung menutup mulutnya yang seperti mau muntah. Perutnya mendadak bergejolak menghirup wangi farfum Sky.
"Parfum Bapak tidak enak, bikin saya eneg tolong jangan dekat-dekat," ujar Disya spontan mendorong dada Sky agar lebih menjauh.
Pria itu bergeming dengan kening mengkerut. Parfum yang ia gunakan adalah farfum mahal dan hampir semua wanita tergoda dengan aroma maskulinnya.
"Masa' sih, enak gini?" Sky mendekatkan lenganya agar Disya menghirup aroma parfum di lengan Sky.
Spontan Disya langsung berdiri dan menutup mulutnya. Kepalanya menggeleng-geleng dengan mata menyipit.
"Kamu beneran mual, oke saya ganti nanti parfumnya kalau kamu tidak suka. Wajah kamu pucet Sya, kamu sakit saya antar ke klinik kampus atau mau ke rumah sakit?"
"Enggak saya mau pulang, tolong mobil Bapak di pindah. Saya nggak pa-pa, terimakasih atas perhatiannya tolong jangan dekat-dekat. Saya permisi." Disya meninggalkan ruangan dengan Sky yang masih diam dengan wajah cemas.
__ADS_1
Pria itu langsung ke luar mengikuti langkah Disya. Berjalan ke arah parkiran mobilnya dan segera memindah ke parkir lain agar mobil Disya bisa ke luar, tapi rupanya Sky tidak lantas memarkirkan mobilnya, pria itu mengikuti mobil Disya tanpa sepengetahuan Disya tentunya.
Mobil Disya terlihat menepi di sebuah jalan dekat dengan taman. Gadis itu pun turun dan berjalan memasuki area taman mendekati seorang pria yang tengah duduk menanti dengan wajah gusar.
Dalam seperkian detik Disya mematung di tempat, dadanya bergejolak dengan hebat, menatap laki-laki yang kini juga tengah menatapnya dengan pandangan penuh rindu.
"Disya?" panggilnya lirih.
Mata mereka saling bersirobok saling menatap tanpa kata, detik berikutnya Rayyan langsung mendekat dan berhambur memeluk gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu kemana aja Sya, aku rindu," ucap pria itu sendu. Pelukannya terasa semakin erat.
Disya bergeming sesaat, membalas pelukan Rayyan yang tidak bisa di pungkiri juga ia rindukan. Setelah beberapa menit hanya dalam pelukan, Disya mengendurkan pelukan itu kemudian Rayyan mengusap buliran bening yang membasahi sudut mata Disya.
"Kenapa menangis, katakan apa yang terjadi. Pesan kemarin tidak benar kan?" ucapnya khawatir.
Disya memejamkan mata sejenak, kemudian mengangguk dengan yakin. "Benar kak, maafin aku," ucap Disya pilu.
"Tapi aku tidak mau putus Sya, kita bahkan akan menikah. Tolong jelaskan padaku apa salahku biar aku perbaiki semuanya." Disya tak mampu menahan tangisnya lagi. Sulit sekali rasanya untuk mengatakan kejujuran yang menyayat hati.
"Aku tidak mau, aku hanya ingin menikah denganmu," kata pria itu menatap sendu.
"Ada apa denganmu Sya? Bahkan kamu tahu aku sangat mencintaimu."
"Sya, jawab Sya? Jangan buat aku khawatir dan bingung."
"A-aku... telah berbuat kesalahan yang fatal dan teramat besar, tapi sungguh aku tidak berniat mengkhianati kakak, aku bahkan tidak sadar."
"Kamu ngomong apa Sya, kesalahan apa?"
"Kakak pasti akan sangat kecewa dan merasa dicurangi, aku perempuan tidak tahu diri, karena kesalahan aku ini membuat kita harus mengakhirinya hubungan yang selama ini kita jaga."
"Kenapa Sya, aku tidak mau putus," kukuh pria itu.
__ADS_1
Disya bergeming, menatap nanar pria di depannya itu dengan perasaan campur aduk. Sakit sekalinya rasanya melepaskan seseorang yang masih sangat ia cintai. Gadis itu lalu melepaskan cincin di jari manisnya, mengambil tangan Rayyan dan meletakkan cincin itu di atas telapak tangannya. Rayyan menggeleng lemah.
"Sya, kenapa cincinnya kamu lepas?" Pria itu menggeleng dengan tatapan sayu.
"Karena hubungan kita telah berakhir," ucap Disya sendu dengan mata yang basah.
"Aku minta maaf kalau aku ada salah, aku tidak mau putus. Tolong beri aku alasan yang jelas, mengapa hubungan kita harus berakhir semenyakitkan ini."
"Karena... aku... ada kehidupan lain di rahimku," ucap Disya lirih begitu sendu.
"Apa maksud kamu Sya?!" Pria itu mengguncang bahu Disya yang tengah menangis.
"K-kamu... menghianati cinta kita?" Rayyan menggeleng tak percaya.
Sakit, sakit sekali rasanya...
Dadanya sesak menahan gejolak yang ada, pernyataan itu sungguh telah merontokkan jiwa dan raga. Hancur berkeping tak berkesudahan.
"Aku minta maaf kak, aku mencintai kakak semua terjadi di luar kesadaran ku waktu itu," jelas Disya.
Sakit
Jelas!
Marah
Tentu saja, tapi ia berusaha untuk menahan, bahkan dalam situasi seperti ini pun Rayyan masih tidak bisa marah. Walaupun dadanya rasanya teramat sesak, bagai tertusuk belati tajam.
Kecewa
Sudah pasti, Disya yang begitu ia sayangi dan ia jaga tapi kini tengah berbadan dua. Bagai tersambar petir di siang bolong, terdampar dalam nestapa sembilu. Sakiiiit sekali rasanya.
Rayyan terdiam mematung, syok lebih tepatnya. Sulit sekali menerima pernyataan yang ada.
__ADS_1
"Aku kembalikan semuanya kak, aku minta maaf." Disya menaruh kontak mobil di tangan Rayyan. Iya, mobil yang sering di pake Disya adalah pemberian Rayyan, jangankan mobil nyawa pun mungkin akan pria itu berikan untuk gadisnya.
"Maaf kak, aku harus pergi. Satu hal yang harus kakak tahu, aku tidak pernah ada niatan untuk menghianati cinta kita, bahkan perasaan itu masih sama. I love you Rayyan Akfarezel Wirawan. Semoga kita bisa ikhlas dengan takdir kita," ucap Disya sendu dengan berurai air mata. Lalu Disya beranjak pergi meninggalkan pria itu yang masih terdiam dengan wajah pilu.