
Empat minggu kemudian.
"Mas ... ngikut!" rengek Disya tidak mau ditinggal.
"Ya ampun ... sayang, cuma sehari doang, nanti aku langsung pulang." Saat ini Sky tengah bersiap-siap hendak berkunjung ke lokasi KKN, mengingat waktu tempuh yang lumayan memakan waktu berjam-jam membuat istrinya merasa kesepian dan terasa sehari itu lama.
"Nggak mau, ikut pokoknya." Perempuan itu bergelayut manja di lengan suaminya. Semenjak hamil yang ke dua ini, Disya lebih rewel, manja, dan banyak keluhan.
"Jauh ... nanti capek, jangan gini dong ... kan kerja," ucapnya lirih mencoba memberi pengertian.
Mungkin di sana tidak lama, tetapi mengingat perjalanan lumayan jauh sudah barang tentu menjadi terasa lama. Sky bahkan berencana langsung pulang, ia sengaja menggandeng seseorang untuk menemani dan sebagai sopir untuknya.
"Kamu mah gini ... nanti kalau aku kangen gimana?" kali ini Disya lebay sekali, padahal cuma sehari itupun tidak menginap. Hormon kehamilan benar-benar merubah segalanya, Sky kadang di buat pusing karena dirinya bahkan tidak bisa leluasa beraktifitas, istrinya itu akan menempel sepanjang hari. Amazing sekali ya ... hamil benar-benar bisa merubah karakter seseorang dalam sekali waktu.
Disya yang tidak mau di tinggal malah menangis, perempuan itu benar-benar merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa ia juga bersikap demikian, dan ingin selalu berada di dekat suami.
Sky pusing sendiri, dulu ia sangat berharap Disya nempel sepanjang masa, tapi kalau urusan kerja juga sampai sebegitu bucinnya untuk kali ini, Sky kadang gedek-gedek kepala, bagaimana solusinya???
Dengan keputusan yang berat, akhirnya pria itu mengiyakan, dengan syarat berdiam diri di penginapan ketika sampai di tempat lokasi KKN, sementara dirinya berkunjung melakukan sidak ke kelompoknya.
Sepanjang perjalanan perempuan itu tiduran dengan paha Sky sebagai bantalan, ke dua calon orang tua itu menempati di kursi belakang, dengan canda dan guyonan.
"Mas, kalau kemarin aku ikut pasti seneng banget ya, sebentar lagi selesai, terus kayaknya aku sudah jadi idola warga kampung sana deh," celoteh Disya mengisi ruang mobil.
"Iya, dan pastinya ceritanya nggak bakalan kaya sekarang, ngintilin mulu kerjaanya," seloroh pria itu seraya mencupit hidung Disya dengan gemas.
"Kangen ... sama sahabat aku yang di sana, teman-teman satu kelompok nya apa kabar ya?"
"Baik lah," jawab pria itu yakin.
__ADS_1
"Sok tahu?"
"Tahu sayang ... bukannya sok, kan kalau sakit atau ada apa-apa pasti laporannya ke aku," ucap Sky percaya diri.
"Iya deh iya, Mas ... setelah KKN usai, kita gelar resepsi nikahan terus sahabat-sahabat aku jadi bridesmaidnya ya?"
"Ya ... terserah kamu saja," jawab pria itu menimpali.
Disya terlelap dalam pangkuan pria itu, Sky tersenyum sendiri memperhatikan dari atasnya muka istrinya yang terlihat semakin cubby dan tubuhnya yang mulai berisi. Semakin seksi gaes ...
Disya tiba-tiba merasa pusing dan mual di tengah-tengah perjalanan. Ia bangkit dari pembaringan dan merasa ingin segera mengeluarkan isi perutnya.
"Mas ... aku mual," keluh perempuan itu.
Sky langsung menyuruh sopirnya menepikan laju kendaraan mereka. Perempuan itu turun ke jalan raya yang lapang dan memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan. Jalanan sepi sudah hampir sampai ke tempat kota lokasi, hari juga sudah lumayan sore.
"Gimana? Masih mual?" Sky menatap prihatin istrinya yang kelihatan lemas.
"Istirahat dulu saja kalau masih pusing," ujar pria itu menyarankan.
Sky dan Disya masih di luar mobil, dan cukup menikmati keindahan jalanan di sekitar mereka berhenti. Bahkan pria itu sempat mengabadikan kebersamaan mereka di layar ponselnya.
"Ihk ... jangan di foto, aku kan lagi jelek, nggak dandan terus nih muka aku kusut habis bobok," protes Disya manyun. Suaminya tidak mendengarkan keluhan Disya yang ada ia terus menjepret gambar mereka berdua dengan gembira.
"Cantik kok, cantik banget malah, natural banget," pujinya yang membuat Disya menampilkan sederatan gigi putihnya.
"Ish ... gombal, jalan lagi Pak, ntar kesorean!" seru Disya sambil memasuki mobil lebih dulu.
"Beneran ... kapan sih aku bohongnya," ucap pria itu menyusul istrinya dan duduk di sebelahnya, menatap Disya lekat.
__ADS_1
"Ngapain sih lihatin mulu," protes Disya demi melihat suaminya yang memperhatikan dirinya tanpa jeda.
"Gemesh ..." jawab pria itu, mencuri satu kecupan di pipi kiri istrinya.
"Ish ... ada orang Mas, jangan nakal," interupsi Disya.
"Nggak pa-pa ya Pak, maklum lagi kasmaran bumilnya," kilah Sky.
Sopir di depan mengiyakan dengan senyuman simpul.
"Kok aku? Kamu kok yang nyosor duluan," protes perempuan itu tak terima.
"Hmm, tadi iya ... tapi dari semalam siapa yang ngerengek minta di peluk terus sepanjang malam, sampe ke kamar mandi di kintilin mulu."
Disya tertawa geli, ia suka mikir ini aneh dan tidak mungkin tapi kenyataanya begini, bahkan ia merasa sangat nelangsa dan tidak bisa tidur tanpa pelukan suami.
Sesampainya di kota kabupaten lokasi KKN, mereka memilih menginap di hotel. Sky baru akan mengadakan sidak besok pagi karena mereka sampai sudah terlalu sore. Pria itu menghabiskan malam di sana dengan kulineran dan jalan-jalan sekitar alun-alun kota.
Paginya Sky langsung bertolak ke Desa di mana kelompok KKN yang diampu berada. Pria itu melakukan sidak yang ke dua, sekaligus mengontrol kelompoknya apakah berhasil melaksanakan proker yang telah di buat. Tentunya dengan misi membantu masyarakat di desa sekitar KKN.
Sementara Sky sibuk dengan pekerjaannya, Disya sok sibuk sendiri. Keluyuran tanpa suaminya jelas dilarang, tetapi berdiam diri di hotel sangat menjenuhkan. Untuk mengisi waktu luang perempuan itu memilih tenggelam dengan membuat catatan istimewa, atau bisa disebut buku diary.
Perempuan itu mulai hobby menceritakan kesehariannya, dengan menuangkan ke dalam tulisan. Semua kejadian penting, bahkan yang lumayan penting, sampai tidak penting pun kadang di catet. Perempuan itu tersenyum sendiri, setelah menulis hobby barunya yaitu nelfonin suami di manapun berada, sehari sampai berkali-kali bahkan tak terhitung. Entahlah bucinnya Disya itu merupakan suatu ujian atau anugerah bagi Sky.
"Mas ... aku mau ke pasar malam, kemarin waktu kita lewat ada di dekat alun-alun," rengek Disya ngeyel.
Sky baru saja pulang, menuju hotel dengan cepat setelah sidak selesai dan ingin segera beristirahat karena begitu melelahkan. Mengontrol dua kelompok sekaligus, dua yang di amanahkan untuk mengampu KKN di dua desa.
"Sekarang banget ya sayang." Pria itu menghembuskan napas panjang.
__ADS_1
"Tahun depan, ya sekarang lah ... ayo dong ... aku udah nggak sabar pingin naik biang lala."
Sky bahkan belum mandi, baru saja sampai tetapi istrinya sudah merengek minta di turuti, benar-benar membuat pria itu harus menambah stok sabar yang banyak.