One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 43


__ADS_3

"Ayo Sya, kita sudah di tunggu!" Flora bergegas tak sabaran.


"Jangan cepet-cepet kak jalan aku susah, heels ini terlalu tinggi," keluh Disya. Gadis itu tetap berjalan anggun memasuki rumah resepsi yang entah pernikahan siapa.


"Itu dia pengantinya sudah datang," celetuk seseorang yang tak di hiraukan Disya. Semua mata tertuju padanya namun gadis itu belum menyadarinya.


Tap


Tap


Tap


Langkah Disya berhenti tatkala mata Disya bertemu dengan mata Mama Amy dan Papa Amar.


"Lho kak, ada Mama sama Papa juga? Mereka juga diundang ya?Ini pernikahan teman bisnis Papa kah?" tanya Disya.


"Hmm." Flora hanya menjawab dengan gumamam.


Langkah Disya berhenti, ketika tiba-tiba Mama mendekati dirinya dengan tante Yuki di sebelah Mama Amy. Mereka mengambil alih kak Flora dan berganti menggamit tangan Disya.


Disya hanya bisa tersenyum kikuk. "MasyaAllah kamu cantik banget nak," ucap tante Yuki.


"Makasih Tante," jawab Disya malu-malu sambil mengulum senyum.


"Iya, anak Mama ini memang sangat manis, kaya Mamanya ya jeng," seloroh Mama Amy.


Disya masih senyum-senyum menanggapi dua wanita paruh baya tersebut. Dirinya tetap berjalan elegan diantara dua ibu itu.


Deg


Disya menghentikan langkahnya, ia baru menyadari kalau Mama dan Tante Yuki membawa Disya mendekat ke meja yang di sana sudah ada Papa, Om Asher dan... Sky. Yang membuat Disya cukup terkejut adalah baju yang Disya kenakan senada dengan yang Sky pakai. Mereka terlihat seperti seorang pasangan.


"Ma, ini... pernikahan siapa?" bisik Disya pucat. Raut muka Disya cukup khawatir.


Disya memberanikan dirinya menatap laki-laki yang sedari tadi menatapnya tanpa henti. Mata Disya bertemu dengan manik mata hitam Sky. Pria itu tersenyum sangat manis, terpancar aura bahagia di wajahnya. Sama seperti Papa, Mama, Tante Yuki dan Om Asher, semua tersenyum ke arah Disya membuat gadis itu gugup dan bertambah tegang saja dengan hati bertanya-tanya.

__ADS_1


"Berhubung calon mempelai wanitanya sudah datang, mari kita mulai acaranya," ucap seorang Bapak yang Disya yakini seorang penghulu.


Jangan bilang mereka mau nikahin gue sama Pluto, mam pus Sya... lo kali ini tak bisa mengelak lagi.


"Sayang... ayo duduk sebelah Sky," titah Mama Amy yang seketika membuat tubuh Disya kaku.


Disya menatap tak percaya, dirinya benar-benar akan dinikahkan dengan Dosennya, laki-laki yang sama sekali tidak Disya cintai, dan lagi seakan semua orang telah menjeratnya, menatap dengan penuh senyum bahagia.


Tubuh Disya bergetar gugup, ia seperti orang bingung yang teramat. Bukan ini pernikahan yang dia harapkan, terlebih dengan seseorang yang Disya sama sekali tidak cintai, walaupun sudah ada janin di rahimnya. Tapi, itu sebuah kesalahan. Ia rasanya ingin marah saat itu juga, tapi tidak mungkin. Apa kata dunia kalau Disya Anggita menghancurkan pernikahannya sendiri. Tak ada waktu untuk menyela apalagi protes untuk sekedar memberi penjelasan, hari ini detik ini benar-benar membuat Disya pasrah.


"Oh ya Tuhan... aku berharap ini hanya mimpi, mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi," batin Disya terisak.


Tes


Satu buliran bening tak mampu Disya tahan, rasanya dadanya bergemuruh hebat tatkala Sky menjabat tangan Papa dan mulai mengumandangkan kalimat sakral tersebut. Dalam sekejap kata sakti itu telah mengubah status mereka menjadi ikatan suci pernikahan.


"Sah!"


"SAH."


"Sah!"


Disya masih syok, ia terdiam dalam sekejap. Rasanya ini tak mungkin tapi terlihat begitu nyata.


"Silahkan calon mempelai untuk memasangkan cincinnya," seseorang menginterupsi. "Sudah sah lho, boleh di sentuh istrinya," selorohnya yang membuat senyum Sky semakin lebar.


Sky mengambil tangan Disya dengan jantung berdebar, ia terus menatap wajah ayu di depannya walaupun gadis itu enggan membalas tatapannya. Sky paham, mungkin Disya masih malu atau malah marah dan kesal karena terpaksa menjalani pernikahan ini.


Maafkan aku yang menjadi egois Sya, tapi aku tidak bisa membiarkan laki-laki lain menikahimu sedang ada calon anak kita di rahimmu. Semoga kamu bisa ikhlas menjalani semua ini nantinya.


Sky telah berhasil memasukkan cincin ke jari manis Disya dengan cukup lancar, sekarang giliran Disya. Tapi... sepertinya gadis itu melamun hingga beberapa detik masih terdiam.


"Sya!" seru Mama Amy menginterupsi.


Panggilan Mama langsung membuat gadis itu tersadar dari lamunan. Tangan Disya terlihat sedikit bergetar kala memakaikan cincin ke jari manis Sky, walau akhirnya berhasil juga.

__ADS_1


Embusan napas hangat begitu terasa dekat waktu Sky mencium kening Disya dengan durasi yang cukup lama. Gadis itu masih menunduk dengan segenap perasaannya. Setelah Sky melepas kecupan halalnya tibalah Disya mencium punggung tangan suaminya sebagai tanda bakti bahwa seseorang di depannya telah sah, resmi menjadi suaminya.


Perasaan Sky cukup lega, haru bercampur bahagia, sama seperti ke dua orang tua mereka. Senyum itu tak pernah luntur semenjak dari kedatangan Disya memasuki rumah itu. Sangat berbanding terbalik dengan perasaan Disya yang entah. Rasanya tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan hidupnya di depan nanti. Separuh jiwanya bagai pergi, kosong di ruang yang sempit. Kesempatan dipersunting kekasih hati telah sirna di telan kenyataan teramat pahit.


Ini salahku, kalau saja aku tidak salah masuk ke rumah Sky dan tidak mengandung anaknya pasti ini semua tidak terjadi. Disya hanya mampu menerima berusaha dengan ikhlas takdir yang terasa kejam untuk dirinya.


Tibalah saatnya sungkeman, bakti kepada orang tua mereka. Memohon restu untuk kelangsungan rumah tangganya ke depannya. Di sini Disya benar-benar menangis di pelukan Mama, hanya kata maaf yang bisa ia lontarkan. Gadis itu merasa bersalah dengan keadaan dirinya yang telah diam-diam mencoreng nama baik keluarga. Suasana menjadi haru biru di hujani tangis dan bahagia.


"Selamat sayang atas pernikahan kalian, semoga sakinah, mawwadah, warrohmah. Mama yakin kamu perempuan yang baik, dan Sky adalah jodoh yang tepat untukmu. Berbahagialah dengan apapun yang ada." Nasihat Mama Amy seraya mengelus punggung putrinya dalam pelukan.


Disya nggak tahu entah ke depannya akan menjalani rumah tangganya seperti apa, ia hanya berharap suatu hari nanti bahagia akan menaunginya.


"Selamat dek, atas pernikahan kalian." Ke dua saudara itu langsung berhambur saling memeluk, tangis Disya pecah. Ia tak pernah menyangka bahwa ini termasuk bagian dari strateginya.


"Kakak tahu ini berat, tapi ini yang terbaik untukmu. Sky mencintamu, kakak tahu itu, dan kakak sudah ikhlas dengan semua ini tolong belajar melupakan Rayyan, dan belajar mencintai suamimu," bisik Flora yang membuat hati Disya terasa semakin pilu.


"Kakak, jahat. Kenapa kakak nggak ada bilang apapun." Disya masih menangis.


"Maafkan kakak, Sya. Hanya doa yang bisa kakak panjatkan. Jangan menangis lagi nanti make up nya jadi jelek." Flora terkekeh sambil mengusap air mata adiknya.


Setelah selesai acara sungkeman di lanjutkan acara sesi foto-foto . Mau tidak mau Disya mengikutinya dengan patuh, walaupun serasa hati dongkol ingin meledak tapi ia harus tetap stay cool untuk memahami keadaan yang ada. Tentu saja agar semua keluarga, kerabat yang hadir tidak kecewa dengan tingkah polah dirinya.


Disya baru menyadari bahwa pernikahan ini di lakukan cukup tertutup dan hanya mengundang kerabat dekat saja. Bahkan tidak ada sahabat dirinya atau sahabat Sky yang datang, resepsi mereka rencananya akan di rayakan di sebuah hotel.


.


Bersambung


Hallo all... siapa yang tadi minta double up, udah author kabulin nih... jangan lupa dukungannya ya...


Like


Comment


Vote

__ADS_1


Ayo merapat kita kondangan jangan lupa bawa kado ya gaes...


__ADS_2