One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 123


__ADS_3

Sudah berhari-hari Bintang mengabaikan pesan dan panggilan dari Rayyan, gadis itu masih kesal dan sakit hati atas ketidak jujurannya. Bintang tidak tahu kenapa ia merasa begitu sakit, apa karena ada perasaan yang tertinggal? Gadis itu merutuki dirinya yang mudah saja terpesona oleh pesona pria itu. Rayyan memang terlalu sempurna untuk dirinya, ia pria dewasa yang mapan, tentu saja menganggap dirinya sebagai mainan.


Bintang begitu terpukul mendapati fakta bahwa Rayyan mendekatinya karena untuk pelampiasan semata, bahkan kak Sky menasihati begitu panjang agar menjauh darinya. Ia bersyukur sejauh ini masih bisa menjaga dirinya, ia kesal mengingat kemarin pria itu sempat menjamah dari separuh tubuhnya.


Bintang akui, ia mulai tertarik tapi juga tidak untuk menikah terlalu cepat. Gadis itu sadar, bahkan dirinya masih sekolah dan terlalu muda, makanya ketika terjadi kesalahan pahaman di pagi buta, jelas Bintang menolak pernikahan itu. Sekalipun ada pernikahan, Bintang tidak mau karena sebuah insiden, ia tentu mau pernikahan itu terjadi karena ke duanya saling mencintai dan siap membina rumah tangga.


Walaupun ia ingin nikah muda, tapi juga tidak semuda masa sekolah. Ingin seperti mbak Raya yang merampungkan wisuda dulu baru menikah. Begitulah kira-kira. Sekarang Bintang bingung sendiri menyikapi pria itu, Rayyan terus menghubunginya, tapi kenapa Bintang malah takut kecewa, mengetahui fakta bahwa Rayyan dulu masih sangat mencintai kakak iparnya.


Ujian semakin dekat, gadis itu malah di selimuti banyak pikiran di kehidupan nyata. Stress belajar dan stress urusan lainya, benar-benar memusingkan. Sudah beberapa hari ini juga kak Sky dan mbak Disya tidak tinggal di rumah Bunda, Bintang sebenarnya merasa kehilangan kakak iparnya yang biasa ia jadikan tempat curhat dan teman belajar. Tapi, tentu saja ia merasa masih kesal, membayangkan kakak iparnya pernah menjalin hubungan yang cukup serius dengan seseorang yang telah berhasil mengobrak-abrik hatinya dalam waktu dekat ini.


Karena faktor capek dan stress membuat pola makan Bintang berantakan. Gadis belia itu limbung dan terjatuh pingsan.


"Non Bintang!!" pekik mbok Nah histeris melihat anak majikannya terkapar di lantai kamar. Setahu mbok Nah, Bintang baru saja pulang sekolah setengah jam yang lalu.


Mbok Nah yang panik langsung menghubungi Nyonya dan Tuan rumah, namun telfon mereka tidak di respon. Pagi tadi majikannya itu baru bertolak untuk mengikuti Event Fashion Indonesia. Kontras di rumah tidak ada orang selain dirinya dan Prapto, pegawai di rumah Yuki yang bertugas merawat kebun dan membantu mbok Nah.


"Prapto!" seru mbok Nah panik.


"Apa mbok teriak-teriak, cepetan hubungi den Sky, Bintang pingsan."


"Waduh, siap mbok laksanakan," ujar Prapto sembari mencari nomor majikannya.


"Nggak di jawab, gimana ini?" tanyanya ikut panik.


"Pasti lagi ngajar, coba Non Disya?" ujar mbok Nah.


"Aku nggak punya nomornya, eh simbok ada bentar tak ambil HP set." Wanita paruh baya itu sedikit tergesa menuju kamarnya, ia mengambil ponselnya di kamar, dan segera menghubungi istri dari anak majikannya tersebut.


***


Disya yang sedang asyik di kantin bersama teman-teman pun terjeda karena adanya panggilan masuk dari ART rumah suaminya. Gadis itu langsung mengangkat tanpa ragu, Disya cukup terkejut setelah menerima panggilan itu. Setelahnya ia langsung bergegas menghubungi suaminya. Namun, sepertinya suaminya itu masih di kelas sehingga tidak menjawab telphon darinya.

__ADS_1


Disya langsung bertolak ke rumah dengan Alan yang suka rela mengantarnya. Disya tadi berangkat bersama suami jadi praktis untuk menghemat waktu, Disya mengiyakan tawaran Alan untuk mengantar gadis itu ke rumah mertuanya.


"Al, thanks ya." Disya langsung bergegas turun dari mobil.


"Gue ikut ke dalam Sya, siapa tahu butuh bantuan." Alan mengikuti Disya yang setengah berlari menuju rumah.


"Non, cepet Non, itu Non Bintang masih belum sadarkan diri," adu mbok Nah panik.


Disya dan Alan langsung berlari ke lantai atas, memasuki kamar Bintang dan mendapati adiknya itu belum sadarkan diri.


"Kita bawa ke rumah sakit," seru Disya bergegas.


Alan membantu menggendong Bintang untuk dipindah ke mobil, untung pria itu tidak langsung pulang, benar saja tenaganya di butuhkan. Alan meletakkan tubuh Bintang di jok belakang dengan Disya menemaninya, gadis itu cemas, sepanjang perjalanan mencoba menghubungi suaminya namun belum ada jawaban juga.


Sesampainya di rumah sakit Bintang langsung di tangani oleh petugas medis. Disya melakukan pendaftaran dan menunggu pemeriksaan adiknya. Cukup lama Disya menunggu dengan gelisah, dokter pun menyarankan pasien untuk di rawat inap.


Bintang sudah sadar dan sudah dipindahkan ke kamar rawat, anak itu terbaring lemah di ranjang dengan tangan berhias infus.


"Makasih kak," kata gadis itu lirih. Melihat kakak iparnya yang menunggui dirinya di rumah sakit.


"Belum pulang, Bunda lagi event sudah sempet dihubungi tapi belum tersambung."


"Mbak kenapa nolongin aku, Mbak Disya nggak benci sama aku?" tanya Bintang merasa bersalah.


Disya tersenyum, "Nggak mungkin aku marah, kamu kan adiknya suami mbak," jawab Disya tenang.


"Maafin aku ya Mbak, aku hanya sedikit syok atas fakta yang sebenarnya, tapi aku udah nggak ambil pusing kok," ujar gadis itu lirih. Tubuhnya terlihat masih lemah, tetapi sudah banyak bicara.


"Kamu istirahat saja dek, aku coba hubungi Mas mu dulu," ujar Disya seraya ke luar ruangan.


Setelah melakukan panggilan yang ke dua belas kalinya akhirnya Sky mengangkat telfon istrinya. Pria itu baru saja selesai mengajar di sore hari, dan praktis meninggalkan ponselnya di ruangan, jadi ia sama sekali tidak mendengar deringan telfon di ponselnya.

__ADS_1


"Hallo, ada apa sayang, kenapa menelfon beberapa kali?"


"Mas, Bintang pingsan dan sekarang di rumah sakit," cerocos Disya tanpa jeda.


"Kok bisa? Rumah sakit mana?"


"Medika!" jawabnya cepat.


Tut ... panggilan diakhiri.


***


"Disya? Kok di sini? Siapa yang sakit?" tanya Rayyan yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Pria itu mendapati mantan kekasihnya sedang berdiri dengan raut cemas.


"Eh, kak Ray, Bintang yang sakit, dia tadi di temukan pingsan," jawab Disya.


"Bintang sakit?" kejut Ray. "Di mana? Apa sudah di tangani?"


"Sudah, di ruangan VIP," jawab Disya yang langsung diangguki Rayyan. Pria itu berjalan cepat menuju ruangan Bintang, sementara Disya sendiri memilih menunggu di luar ruangan sembari menunggu suaminya datang.


Sky terlihat cemas, dari kampus langsung ke rumah sakit. Lelah, tetapi sudah tidak sabar menemui adik bandelnya itu. Ia melangkah lebar di sepanjang koridor rumah sakit.


"Sya, kok nunggu di luar?" tanya Sky mendapati istrinya di luar ruangan.


"Lagi ada tamu nggak boleh di ganggu," jawab gadis itu.


"Siapa? Jangan bilang dia yang di dalam." Sky hendak masuk tapi langsung di tahan Disya.


"Biarin aja, mereka lagi ngobrol, jangan di ganggu," ujar Disya menyeret suaminya menjauh.


"Tapi, Sya ... aku mau lihat keadaan adikku?"

__ADS_1


"Nanti Mas ... jangan saling serobot." Disya menatap tajam ke arah suaminya.


"Iya, iya. Nggak tahu orang lagi panik apa? Lagian itu orang kenapa lama banget sih," gerutunya kesal, namun ia tetap menuruti istrinya.


__ADS_2