
Dua minggu telah berlalu, ujian semester 6 pun telah usai. Disya merasa benar-benar sangat lega, seminggu kemarin ia sudah berusaha dengan keras belajar semaksimal mungkin, tentunya dengan bimbingan suaminya. Biar pun ujian telah usai, tetapi Disya disibukkan dengan persiapan KKN yang akan ia ikuti di sebuah Desa yang telah di tunjuk.
Sebelum UAS, Disya sudah sering mengikuti sosialisasi yang diadakan pihak kampus. Dirinya juga sudah melakukan pemilihan daerah tempat pelaksanaan KKN, dan hari ini adalah pengumuman kelompok KKN dibagi lewat berkas yang akan dikirim ke setiap grub kelas.
Disya sendiri begitu semangat menyambut pagi ini. Ia sudah menghubungi teman-temannya untuk ketemuan nanti siang di kampus.
"Pagi sayang ...!" ucap Sky yang baru saja bangun, menyusul istrinya yang tengah sibuk di dapur dan langsung memeluknya dari belakang, pria itu bergelayut manja di pundak istrinya masih bertelanjang dada hanya memakai celana pendek saja.
"Pagi Mas ... baru bangun? Mandi dulu sana!" Disya tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Mandiin," ucapnya manja masih setia dengan posisinya, di tambah sekarang mengendus-endus tengkuk Disya membuat perempuan itu geli sendiri.
"Manja banget sih yank, lagi sibuk nih, jangan usil dong Mas, geli. Yang semalem aja masih begitu kentara," keluh perempuan itu saat suaminya mulai menyesep leher istrinya.
"Jangan protes yank, bahkan sebentar lagi kamu mau ninggalin aku, jadi biarkan aku melukis kisah di setiap momen yang ada, seperti pagi ini misalnya, dua minggu lagi bakalan terpisah jarak dan waktu, sungguh ini membuat aku stress memikirkannya."
Disya membiarkan saja suaminya terus menempel sepanjang Disya memasak nasi goreng. Menu sarapan kali ini, nasi goreng hot jeletot ala Disya Anggita.
"Hmm ... aromanya menggugah iman, eh menggugah selera ding. Mas mau kopi?" tawarnya seraya bergerak pelan sebab suaminya itu tak mau lepas barang sejenak pun.
"Mandi dulu aja, ayok ... bareng Sya!" rengeknya manja ngalah-ngalahin bayi.
"Oke deh." Mereka menghabiskan waktu di kamar mandi berdua. Cukup lama ke duanya merampungkan kegiatannya, setelahnya menuju dapur untuk sarapan bersama.
Usai sarapan mereka berangkat ke kampus bersama, dan berpisah di parkiran seperti biasa.
"Turun dulu Mas," pamit Disya menyalami suaminya.
"Eh Mas, nanti pulang dari kampus, aku mau mampir ke rumah Mama, boleh ya? Jadi nanti aku langsung pulang ke rumah Mama, Mas jemput sorean aja."
"Iya sayang, boleh." Sky mengiyakan.
Sampai kampus Disya langsung menemui Sihabi cs, mereka tengah asyik ngobrol di kantin.
"Kayaknya enak nih, bagi dong ...!" Disya langsung menyicipi salad buah yang tersaji di depan meja Sinta.
"Masih ada nggak? Aku mau pesen ah ..." ujarnya ketagihan.
"Nggak bakalan nemu, orang gue bawa bekal sendiri dari rumah," ujar Sinta bangga.
"Enak nih, asyik ... bisa rekomen buat nanti pas KKN, eh btw kalian udah pada lihat pembagian kelompoknya belum?" tanyanya excited.
"Emang udah keluar, ya ampun ... gue deg degan semoga kita barengan ya? Ngarep dot com."
"Salah satu mungkin, tapi kalau salah empat mustahil. Random jurusan kan? Semoga gue dapat kelompok yang alvailable."
"Coba cek, gue belum lihat soalnya. Perasaan NIM kita jaraknya jauh, nggak berharap deh bisa satu kelompok."
__ADS_1
Mereka semua bersiap mantengin ponsel mereka masing-masing. Dengan hati berdebar, mereka mulai menggulir layar untuk mencari nama-nama yang tercantum dalam kelompoknya.
"Yes, gue satu grub sama Bila," pekik Hanum girang.
"Serius? Asyik ... kita bareng," sambut Bila senang.
"Nama gue mana sih, lo bareng sama siapa aja Sya?"
"Bentar, nama gue belum ketemu, jangan-jangan kelewat lagi," ujarnya sambil terus menggulir layar mencari satu nama dirinya di setumpukan barisan angka.
"Pasti ada lah, terkecuali lo izin khusus, itupun kan kalau urgent, kalau nggak bakalan repot."
"Ya ampun ... kelompok gue sendirian, nggak ada satu pun orang yang gue kenal dari kelas gue, ini sih membanggongkan," keluhnya kesal.
"Beneran? Siap-siap aja ketemu orang baru semua."
"Ya kalau mereka tuh asyik, kalau nggak, males banget hidup seatap sama yang nggak klop."
"Iya sih, dari kelas gue, gue bareng sama Amel dan juga Bisma. Lumayan lah, udah banyak yang kenal."
"Protes bisa nggak sih? Masa gue sendirian?" Disya mendrama dengan tangisan.
"Bilang ke suami lo aja Sya, siapa tahu bisa? Secara apa sih yang nggak bisa di kampusnya sendiri."
"Gue bareng Emon, mantan lo Han?"
"Cowok freezer itu?" sinis Sinta. Hanum malah ngakak.
"Aman, gue nggak bareng."
"Tapi masih satu kabupaten, walaupun kita nggak satu kelompok bisa lah ketemuan setiap satu minggu sekali."
"Yes, di usahain lah, pasti bakalan seru banget di Desa singgah sana."
"Ah gue juga kalau boleh tuker pingin tukeran, males banget satu kelompok sama Amel."
"Kalian enak banget bareng ada yang akrab, lah kita, ya ampun ... kelompok gue nggak ada yang gue kenal."
"Eh, tapi anak hukum keren-keren lho ...!" Hanum mengerling.
"Nggak ngaruh, buat gue mah sama aja, keren banget juga tetep gue udah nikah," ujarnya.
"Iya sih, dosbing lapangan kita siapa?"
"Belum tahu, ah ... gue juga kesel kalo ada Amel, lo tahu sendiri kan tuh cewek manjanya nggak ketulungan, dan sok kuasa, males banget satu kelompok ma dia."
"Woles beb, lo asyik masih ada yang kenal juga, ada Bisma, tuh anak kan koordinator kabupaten."
__ADS_1
"Serius? Keren sih emang Bisma, nggak di ragukan lagi, yang dipilih buat korkab kan pasti bukan orang sembarangan, udah pasti yang track record-nya baik.
Mereka masih asyik membahas kelompok masing-masing. Hingga sibuk mengumpulkan data dan nomor anak-anak untuk membuat grub dalam satu kelompok. Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu bersantai ria. Disya memutuskan untuk pulang lebih dulu.
"Disya tidak langsung ke rumah Mama, melainkan menyempatkan mampir ke ruang suaminya dulu."
Ketukan pintu terdengar dari luar, namun ia biarkan. Disya baru 'ngeh' ternyata suaminya sedang ada tamu, mahasiswa lainnya yang sedang perbaikan nilai. Disya pun urung bertemu dan memilih membiarkan protes nanti saja.
Setelah dari kampus Disya langsung ke tempat Mama Amy. Sudah lama Disya tidak singgah ke sana.
"Ma, masak apa nih Ma, Disya kangen masakan Mama."
Mama Amy menyambut anak bungsunya dengan senang hati. "Kamu nggak bilang kalau mau datang, Mama nggak siapin makanan kesukaan kamu?"
"Dari kampus langsung ke sini Mah, Disya sibuk banget habis UAS, sebentar lagi juga KKN, jadi bakalan lama lagi nggak pulang ke rumah."
"Kapan Sya? Jauh tempatnya? Sky udah tahu?"
"Mama ini aneh deh, ya pasti tahu lah Ma, semua agenda kegiatan udah pasti tuh orang tahu."
"Wah ... LDR dong," goda Mama Amy.
"Iya, kenapa emang? Cuma empat puluh hari, itupun kan cuma sekali dalam masa kuliah, jadi nikmati saja momennya."
"Iya sih."
"Eh, Non Disya? Kapan sampe Non, lama ya nggak pernah pulang."
"Udah betah dia tinggal sama suami, makannya jarang main."
"Sibuk Mah, bik Tini masak apa bik, buatin cemilan boleh kali bik."
"Siap, Non. Request aja, nanti bibi eksekusi."
"Aku mau salad dong bik, tolong bikinin ya? Aku tinggal dulu ke kamar, kangen sama kasurku," ujar Disya berjalan menaiki undakan tangga.
Sampai di kamar, Disya langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Suasana kamar yang masih tetap sama, bersih, wangi, dan terawat. Bik Tini emang paling pinter merawat. Rasa nyaman membuat perempuan itu terlelap dengan cepat.
Sementara Sky sendiri baru saja selesai dengan setumpuk kertas. Pria itu pasti super sibuk mengoreksi hasil UAS dan merekap nilai. Ia memutuskan untuk pulang, namun sebelumnya mau menjemput istrinya terlebih dahulu di rumah mertuanya.
"Assalamu'alaikum Mah," sapa Sky begitu masuk ke rumah mertuanya.
"Waalaikum salam, baru pulang Ky?"
"Iya Ma, Disyanya mana Mah?"
"Di kamar dari tadi, nggak keluar lagi, sepertinya ketiduran."
__ADS_1
Sky izin menemui istrinya, menyusul ke kamarnya. Begitu membuka pintu kamar langsung menemukan Disya yang masih terlelap. Sky mendekati ranjang secara perlahan, mencium pipinya dengan gemas dan sengaja menoel pipinya.
"Disky ... bangun, ayo pulang sayang ...!"