
"Omegot... bau-bau perselingkuhan nih!" sindir Grace begitu masuk ke kantin menemukan pemandangan dua manusia yang tengah berakrab ria.
"Nyinyirnya kebangeten, dasar gribik cabe," sarkas Alan lantang.
"Allahumma... gue sakit hati." Grace mendrama.
Disya hanya diam tanpa menyela perkataan Grace, pada kenyataannya dirinya memang melakukan hal yang lebih parah.
"Al, gue kelas dulu deh di sini panas," ujar Disya melirik Grace sengit.
"Hmm, tunggu. Gue ikut."
"Nggak dihabisin sarapannya?"
"Kenyang dengerin bacotannya Grace."
"Heh! Gue cuma ngingetin lo pada ya, biasanya karena sering barengan jadi nyaman."
"Adududu... Sya, hati-hati sama Alan. Diam-diam perhatian," sambung Grace mengompori.
"Sialan lo ya, pagi-pagi ngajak ribut."
"Apa nggak terima!?! Wek... cowok tukang ngegas."
"Gribik sialan!"
"Jangan ngatain, nanti jatuh cinta repot jadinya."
"Najis mugholadhoh!" Alan begidik ngeri.
"Udah Al, nggak usah di ladeni deh, cabut ayo ah."
"Gue kesel!"
"Al, gue pusing... anter ke unit kesehatan aja bisa."
"Bisa, kamu pucet Sya. Kalau sakit nggak usah masuk dulu kan bisa."
"Gue udah banyak bolos dari kemarin, bahaya kalau nggak tuntas semester ini gue bisa terancam di block dari daftar mahasiswa mengikuti UAS. Ujung-ujungnya bisa ngulang di mata kuliah, nggak mau gue, ngeri."
"Beda cerita dong Sya, itu kalau bolos. Lo kan sakit."
"Al, gue..." Disya tiba-tiba pandanganya kabur dan terasa semakin pening.
__ADS_1
Brukk
Disya pingsan tak sadarkan diri di Koridor kampus. Semua mahasiswa yang kebetulan sedang melintas langsung berhambur mendekat dan mencoba menolong.
"Sya! Disya bangun!" pekik Alan histeris.
"Eh, tolongin dong!" teriaknya panik.
"Disya kenapa?" Bila yang baru saja datang ikut panik.
"Lo bawa mobil nggak? Tolong cepet setirin kita ke rumah sakit."
"Mobil gue di bengkel, Bisma bawa bentar gue panggilin."
Bila berlari-lari menuju kelas, padahal ia bisa telfon tapi karena panik gadis itu sampe lupa.
"Bis, kunci mobil lo mana? Cepet Disya pingsan pinjem buat antar ke rumah sakit," pinta Bila gugup.
"Serius? Kuy gue antar aja. Lagian ini juga Dosennya belum datang."
"Ayo ah, cepet."
Mereka berlari menuju parkiran, sementara Disya sudah di gendong Alan sampai ke parkiran lebih dulu. Mereka langsung membawa Disya ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Disya langsung mendapat pertolongan medis. Rayyan yang mengetahui hal itu dari Alan langsung ke ruangan Disya.
"Biar saya saja, Sus. Ini calon istri saya yang pingsan." Pria itu langsung memeriksa Disya dibantu beberapa perawat. Selang setengah jam Disya sudah di pindahkan ke ruang rawat. Namun gadis itu masih tertidur karena pengaruh suntikan obat.
Disya mengalami tekanan ringan atau stress pada awal kehamilannya. Bisa jadi disebabkan karena kelelahan dan banyaknya pikiran. Rayyan menatap prihatin gadis cantik yang tengah terlelap itu. Baru saja ia akan menemuinya nanti sore setelah pulang kerja, dirinya malah di kejutkan dengan kedatangan pasien pingsan yang tak lain adalah Disya.
Alan, Bisma dan Bila yang ikut mengantar Disya ke rumah sakit sudah kembali ke kampus. Rayyan yang bertanggung jawab menunggu Disya.
Perlahan gadis cantik itu membuka matanya, pemandangan yang pertama ia lihat adalah Rayyan. Disya tersenyum samar.
"Sayang... kamu udah sadar? Gimana perasaan kamu, ada yang bisa aku bantu?"
Disya menggeleng.
"Kamu membuatku khawatir, aku kan sudah bilang jangan banyak pikiran, kita akan melewati ini sama-sama. Aku bahkan sudah bilang sama orang tuaku akhir minggu ini akan melamarmu," ujar pria itu panjang lebar.
Disya hanya diam sebagai pendengar yang baik, hatinya begitu sakit mendengar penuturan kekasihnya itu. Ia bahkan berencana menjelaskan semuanya hari ini, namun dirinya seakan tak ada nyali. Pria itu pasti akan sangat terluka kalau Disya jujur untuk saat ini, padahal Rayyan begitu tulus mau menerima dirinya.
Disya berusaha duduk, sebenarnya ia tidak merasa sakit. Hanya saja, ia belakangan ini sering pusing dan labil.
__ADS_1
"Kak, kakak kenapa tetap pertahanin aku? Bahkan aku sendiri ngerasa kakak berhak mendapatkan gadis yang lebih dari pada aku."
"Pertanyaan kamu konyol sekali Sya, perasaan aku masih sama mencintai semua yang ada pada dirimu, hatimu dan ragamu semua kekuranganmu dan kelebihanmu," ucap pria itu tanpa ragu.
"Kak?"
"Udah, jangan ngomong lagi. Lebih baik kamu istirahat." Rayyan mengecup kening Disya seraya tersenyum.
"Kakak tinggal sebentar ya, ada pasien lain yang harus kakak priksa, aku juga sudah menghubungi orang tuamu." Rayyan meninggalkan ruangan Disya sebentar karena harus memeriksa pasien.
Sepeninggalan Rayyan dari ruangan itu, Disya langsung menangis. Ia tak tahan rasanya di perlakukan begitu manis oleh Rayyan dalam kebohongan dirinya.
Brakk
Pintu kamar inap di buka sedikit kasar dari luar, Sky menyembul dengan wajah panik. Pria itu terlihat masih mengatur napasnya karena berlarian untuk sampai ke ruangan Disya.
Sky baru saja mengetahui Disya pingsan lewat obrolan para mahasiswa ketika tak sengaja Sky sedang melintas di Koridor kampus. Begitu mengetahuinya Sky langsung bergegas menuju rumah sakit.
"Sya?! Apa yang terjadi?" Sky mendekati Disya dengan raut cemas.
"Pingsan," jawab Disya datar.
"Kenapa menangis, apa ada yang sakit?" Pria itu meneliti Disya dan langsung memeluknya.
"Aku khawatir banget sama kamu, jangan gini lagi," ujar pria itu.
"Apa kata dokter Sya?"
"Nggak tahu, mungkin sebentar lagi bakalan mati karena sakit hati," ucap Disya ngasal atau mungkin saking frustasinya.
"Jangan ngomong gitu dong Sya, aku tahu ini berat. Tolong beri tahu aku cara membuatmu tidak lagi marah dan membenciku?"
Disya terdiam, gadis itu lebih memilih membuang muka dari pada harus bertemu dengan tatapan Sky yang menatapnya sayu. Disya lebih memilih membaringkan tubuhnya yang terasa lemas. Perlahan Disya memejamkan matanya dan berangsur tidur. Ia benar-benar butuh mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Belakangan ini moodnya sangat buruk, di tambah mual muntah kehamilan dan juga masalah hatinya membuat gadis itu benar-benar stress.
Sky bergeming menatap Disya dengan perasaan campur aduk. Kasihan, kesal, sayang dan bingung. Lebih bingung bagaimana cara menghadapi Disya yang terus bersikap cuek dan tidak peduli. Ia paham Disya tidak boleh banyak pikiran tapi ia seperti tidak menemukan jalan.
"Istirahat yang cukup sayang, maafkan aku." Sky duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Disya erat dan sesekali membawa tangan istrinya untuk di cium.
"Kapan kamu bisa paham tentang perasaan ini Sya?" batin Sky sendu.
Ceklek
Pintu kamar rawat Disya di buka, seorang pria menatap terkejut mendapati kekasihnya di tunggu sahabatnya sendiri dengan tangan menggenggam begitu mesra.
__ADS_1
"Sky!!?" Pria itu menatap bingung, cemburu dan marah. Sorot matanya memindai Disya dan tangan Sky yang menggenggam erat tangan Disya secara bergantian.
"Rayyan?"