
Disya menyerah dan kembali tidur, sudah berkali-kali mencoba menghubungi suaminya namun selalu berakhir dengan panggilan terputus.
Sinyal oh sinyal ... please ... mengertilah keadaan untuk mereka yang tengah di landa rindu. Begitulah kira-kira jeritan hati Disya. Perempuan itu akan biasa saja jika pagi hingga sore hari, namun akan menjadi merasa tidak enak jika malam hari, Disya merasa belakangan ini merasakan rindu dan kangen pelukan suami. Ups ... jujur sekali Disya ini.
Mungkin penyebabnya karena kendala komunikasi yang tersendat, membuat perempuan itu merasa semakin jauh tak terhubung dengan suaminya. Entahlah ... biasanya dirinya bahkan bisa secuek ini, tapi untuk malam ini berasa pingin pulang dan memeluk suaminya.
"Sya, tidur lo gelisah amat?" tanya Tiwi demi melihat pergerakan Disya yang beberapa kali memindah posisinya.
"Gue nggak bisa merem, sorry ya kalau jadi ganggu lo dan ngerasa nggak nyaman," ujarnya merasa tidak enak.
Satu kamar di isi empat anak, dua diantaranya sama sekali tidak terusik, tapi Tiwi tidur pas di sebelah Disya otomatis kena imbasnya.
"Lo sepertinya rindu berat, kaya pengantin baru aja yang terpisah jauh."
"Kentara banget emang ya? Enggak tahu kenapa, gue kepikiran laki gue terus, kangen di pelukannya?"
"Idih ... mesum! Jangan berhalu, tidur, siapa tahu mimpi, eh tapi ... jadi beneran lo udah nikah?"
"Beneran lah, lo bisa lihat dong di jari manis gue tersemat cincin pernikahan."
"Percaya sih, tidur siapa tahu mimpiin suami orang, eh ... doi maksudnya," seloroh Tiwi sembari melelapkan matanya kembali.
Disya yang belum bisa tidur memilih ke luar kamar, sembari mengeratkan pelukannya pada diri sendiri karena suhu di desa pada malam hari lumayan dingin. Perempuan itu duduk seorang diri di depan ruang TV. Berharap dengan menonton TV, perempuan itu akan merasa ngantuk. Malam semakin larut, Disya merasa insomnia, ia pergi ke dapur untuk membuat kopi sebagai teman melek.
"Astaghfirullah ... orang bukan sih, ngagetin aja." Disya terjingkat kaget melihat Emon yang sama halnya dengan dirinya, berada di dapur tengah membuat teh hangat.
"Setan," jawab pria itu singkat, padat dan menyebalkan.
"Dasar frezeer!" celetuk Disya mendekati rak, mengambil gelas dan bersiap menuang air panas dari tremos.
Ternyata Emon sama sekali tidak beranjak, ia bergeming menatap Disya yang tengah sibuk dengan membuat minuman untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Heh, ngapain lihatin gue mulu. Sana minggat, gangguin konsen gue aja," protesnya kesal, ngerasa aneh aja di lihatin manusia es.
"Ada hubungan apa lo sama DPL (Dosen pembimbing Lapangan) kita?" tanya Emon penuh selidik.
Disya melirik sekilas, lalu kembali fokus menyeduh kopi. Tidak berminat menjawab kekepoan pria itu.
"Lo kenapa belum tidur? Ini sudah malam dan nggak baik buat cewe begadang, sebaiknya jangan minum kopi juga, nanti malah nggak bisa tidur dan bikin sakit." Emon tiba-tiba mengambil gelas kopi di tangan Disya dan menukar dengan teh miliknya. Jadilah Emon yang tadinya membuat teh, sekarang menggenggam secangkir kopi, ia menyesapnya tanpa dosa.
Sumpah demi apapun, Disya melongo mendengar penuturan perdana pria itu. Pertama ngobrol dan ngomong panjang.
"Eh, kopi gue!" sergahnya tak percaya sudah diminum langsung tanpa izin.
"Buat gue aja," jawabnya sante berlalu tanpa dosa.
Ya ampun ... cowok model apa kaya gitu, pantes aja Hanum nggak betah.
***
"Sya, lo pucet banget sih istirahat saja," ujar Lia memapah perempuan itu dari kamar mandi.
"Mbak Disya kenapa? Sakit?" tanya Bu kades.
"Nggak enak badan Bu, sepertinya saya masuk angin," jawabnya seadanya.
"Ya sudah, istirahat saja di kamar," saran Bu kades, merasa prihatin melihat Disya yang lemas.
"Atau mau dipriksa ke Dokter desa bagaimana, sepertinya mbak Disya perlu periksa."
"Nggak usah Bu, istirahat saja, mungkin hanya capek dan masuk angin."
Disya hari ini tidak ikut berkegiatan apapun, perempuan itu hanya tidur-tiduran di kamar. Namun, karena jenuh ia ingin keluar, bukannya malah semakin membaik ia malah merasa semakin pusing. Karena tidak tahan kliyengan, perempuan itu pun tumbang dan ambruk tak sadarkan diri.
__ADS_1
Tiwi yang baru saja masuk rumah dikejutkan dengan keadaan Disya yang sudah terkapar di lantai. Semua orang berhambur panik langsung masuk ke rumah mendengar pekikan Tiwi.
"Ada apa Wi, ngagetin aja?" Aldo setengah berlari menghampiri gadis tersebut.
"Eh, tolongin dong. Disya pingsan, sumpah badannya panas banget." Mereka semua malah panik, pertolongan pertama langsung memindahkan tubuh Disya ke tempat tidur. Langkah selanjutnya teman-teman mulai sibuk memberi minyak kayu putih, dan berusaha mencari solusi yang terbaik.
"Kita bawa ke rumah sakit saja." Emon langsung menyarankan hal tersebut.
"Setuju," timpal Aldo.
"Tapi jauh Mas, gimana kalau ke Dokter Desa dulu, biar diperiksa," ujar Bu kades.
"Boleh Bu, setuju."
Tiwi, Aldo dan Emon, di temani Bu kades akhirnya membawa Disya ke Dokter Desa untuk dilakukan pemeriksaan. Sementara teman yang lainnya melanjutkan kegiatan. Disya langsung diperiksa sementara pengantar yang lainnya tunggu di luar.
"Maaf dek, kapan terakhir kali adek haid?" tanya Dokter tiba-tiba.
Disya nampak berpikir, mengingat-ingat terakhir kapan dirinya mendapat tamu bulanan.
"Lupa Dok, tapi memang bulan ini saya sudah telat," jawab Disya gamang.
"Dugaan sementara sepertinya adek hamil, tapi untuk lebih pastinya adek silahkan cek urin dulu."
Disya menurut, ia pergi ke kamar kecil dan menaruh urin tersebut ke wadah yang telah disediakan. Disya menunggu beberapa saat. Setelah sekitar beberapa menit kemudian benda kecil berbentuk pipih itu diangkat dan menunjukan hasilnya. Dua garis merah di sana, gadis itu langsung tersenyum haru, bahagia sekaligus sedih, ia langsung teringat suaminya yang belakangan ini susah dihubungi.
__
Sementara Sky tengah mengomel seorang diri di tempatnya, pria itu sangat nelangsa, hampir seminggu hidup tanpa Disya bagai krupuk kena angin, mlempem tak berbentuk, sayu dan tak bergairah. Sabtu pagi pria itu langsung bertolak ke Desa di mana tempat istrinya tengah KKN. Sky sudah benar-benar kangen padahal belum genap seminggu pria itu di tinggalkan, rasanya bagai bertahun. Oh lebay sekali ya Ausky ini?
Sesampainya di kota tersebut, pria itu langsung menyewa sebuah penginapan di kabupaten kota. Ia mengirimkan pesan agar istrinya izin dan menemuinya. Mengingat besok hari minggu kegiatan sore ini santai. Bahkan bagi sebagian mereka ada yang mengagendakan bertemu, berkencan, atau sekedar jalan untuk mengisi waktu luang mereka.
__ADS_1
Sky sengaja mengajak bertemu di Kabupaten kota, mengingat dia juga dosbing lapangan KKNnya, tidak ingin tiba-tiba muncul dihadapan mereka, baru kemarin di tinggal masak sudah harus sidak, sangat tidak masuk akal. Pria itu berkali-kali mengirim pesan namun tidak mendapat respon. Berkali-kali melakukan panggilan baru di panggilan ke sembilan pria itu terhubung dengan Disya, namun betapa ia dibuat kaget, karena yang menerima panggilan tersebut bukan Disya melainkan seorang pria.