One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 69


__ADS_3

Jarak menuju curug dari loket pintu masuk sekitar 500 meter dengan kondisi jalan yang masih berupa tanah dan bebatuan. Untuk menuju curugnya rombongan harus melakukan sedikit trekking dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang sudah di sediakan, di sini juga menemukan banyak tanjakan dan kelokan curam khas jalan pegunungan.


Lokasi curug putri kencana berada di kawasan wisata Gunung pacar. Tepatnya berada di Desa karang tengah, kecamatan Babagan Madang, Bogor Jawa Barat. Air di dalam kolam alaminya berupa hijau toska dan sangat jernih. Alam di sekitarnya juga nampak asri, di tunjukan dengan masih rindangnya pepohonan yang berderet dari sekitar area curug.


Sebelum tiba di curug Putri Kencana, Mereka di suguhkan dengan beberapa curug dengan ketinggian yang sangat landai. Disya dan beberapa temannya begitu menikmati perjalanan pagi ini yang sangat menyenangkan.


Beberapa dari mereka memilih langsung berenang, ada yang di pinggiran saja bermain air.


"Sya, kuy lah nyemplung, airnya jernih banget...!!"


"Bentar, gue mau ambil foto di sini dulu," ujarnya seraya mencari angel yang tepat.


Di sebelah kanan nampak cowo-cowo tengah berenang di curug bahkan ada yang nekat naik ke atas jembatan bambu dan terjun dari atas untuk kemudian sampai terjun seperti air nya. Benar-benar memicu adrenalin bagi siapa saja yang mencobanya.


"Woi.... gue di sini... my tripe my adventure...!!!"


Byurr...!!!


Air di sekitar memencar akibat ada tekanan dari anak yang terjun. Mereka tertawa dalam keceriaan.


"Sya! Tolong ambilin gambar gue Sya," teriak Faro yang sudah bersiap terjun dari ketinggian tujuh meter tersebut.


"Oke, siap!!" seru Disya mencari posisi yang tepat.


"Wuhu....!!"


Byurrr...!!!


"Air nya seger banget, seru woi...!!" Kegiatan Faro diikuti teman-teman yang lainnya.


"Berani nggak Sya, gue tantangin deh kalau lo berani, gue kasih cinta dan hidup gue buat lo!" canda Raven. Cowok seangkatannya yang terkenal kalem itu bisa keluar modusnya di tengah curam. Wkwkw


"Jhahhh... Raven... pelanggaran, terdeteksi bucin," ejek beberapa cowok di sekitarnya.


Sky terus mengawasi gadis itu yang sedang berswa foto dengan asyiknya. Ada rasa kesal ketika teman-temannya yang seangkatan Disya menggoda istrinya, walaupun itu becanda tetapi tetap membuat Dosen itu sedikit kesal.


"Sya, tolong ambilin foto saya dong, kita foto bareng yuk Pak?" ajak Bu Mega pada Sky, mereka tengah berada tak jauh dari tempat Disya berpijak.


Sky tersenyum canggung. "Wah... saya anti kamera Bu," kilahnya merasa sungkan.

__ADS_1


"Ah, masa' sih... ini tempatnya bagus banget lho...?"


What! Emangnya gue tukang foto kalian apa, nyeselin banget sih nih orang.


"Ehem... jadi nggak nih foto barengnya, kalau nggak jadi ya udah foto bareng saya aja, saya bisa buat orang yang anti kamera jadi demen kamera," ujarnya percaya diri.


Disya menarik tangan Sky untuk segera mendekat, kemudian gadis itu mulai berpose.


Cekrek cekrek


"Ish... Bapak Dosen yang budiman, kita itu lagi rekreasi, jadi tolong di kondisikan hati dan pikirannya supaya tetap happy dan ceria, nggak enak banget itu muka di tekuk, yang ada cewe itu pada malas lihatnya," celoteh Disya panjang lebar.


"Termasuk kamu Sya, kok kamu sewot emang aku salah apa?"


"Udah deh diem... wajib senyum, awas kalau fotonya jelek," ancam Disya yang bersiap mengambil gambar mereka berdua menggunakan tongsis.


Pria itu menautkan ke dua alisnya, ia hanya sedikit kesal terhadap teman-teman Disya yang terang-terangan menggoda istrinya, tak pernah menyangka mendapat perhatian khusus dari Disya apalagi sampe berfoto bersama. Pria itu sungguh senang, bahkan sempat mencuri kesempatan dalam kesempitan, posisi Sky sengaja menempel pada gadis itu tanpa jarak, keduanya tenggelam dalam barometer keceriaan tanpa celah.


"Cukup kayaknya deh Pak, udah banyak. Minggir jaga jarak, saya mau lewat," ujar Disya kembali ke mode awal, jutek dan menyebalkan.


"Eh, tadi Bapak bisa berpose, malah terlihat suka kamera, kenapa tadi bilang anti kamera?" tanya Disya.


Jleb


Hati gadis itu seperti terketuk, ada rasa yang entah mendengar pernyataannya.


"Sya, jangan jauh-jauh. Di situ agak dalem." Pria itu memperingati istrinya yang masih asyik dengan kegiatan dadakannya.


Disya naik ke atas bebatuan dan mengambil beberapa spot foto di sana, pemandangan itu jelas membuat Sky khawatir, takut istrinya tergelincir ke dalam air, sudah pasti beresiko karena banyak bebatuan. Disya juga meminta temannya untuk mengambil gambar dirinya. Tanpa Disya sadari Sky mengambil gambar Disya beberapa kali, perempuan itu ternyata sangat menyukai foto-foto.


"Sya, tunggu-tunggu. Jangan turun dulu, tenang di situ kita foto bareng ini tempatnya instragamable banget," ujar Bisma mengikuti jejak Disya.


"Eh! Ngapain?" Disya terkesiap melihat Bisma ikut naik ke bebatuan yang sedikit sempit sehingga memaksa mereka sangat berdekatan. Pemandangan itu tentu tak luput dari Sky dan membuat seketika dada pria itu memanas.


Pria itu menatap tajam ke arah Disya, Disya yang sudah khawatir sejak awal pun langsung berangsur turun demi melihat netra suaminya yang berkilat marah.


"Yah, Sya, kok turun sih, belum juga ambil gambarnya kita berdua."


"Gue udah puas foto di situ, kamu sama Bila, cepetan berdua gue fotoin," kilah Disya merasa tak enak hati. Setahu Disya Bisma itu naksir Bila tetapi tidak pernah di respon.

__ADS_1


"Kok, jadi gue sih. Nggak mau ah... enakan berenang!" seru Bila seraya memercikkan air ke tubuh Disya.


"Bilaaa... jangan!! Gue nggak mau berenang!" teriaknya kesal.


"Bodoamat, lo harus nyemplung."


"Airnya dingin banget tapi seger sih, gue pemanasan dulu," ujar Disya seraya menaruh handphone nya di tepian agar tidak terkena air.


Melihat jernihnya air yang di alirkan Curug Putri Kencana membuat Disya ingin merasakan segarnya air menyentuh tubuhnya. Disya mulai duduk di atas bebatuan yang ada untuk kemudian memasukkan kakinya ke air sebagai permulaan.


Tangan gadis itu mulai memainkan air dengan mengambil dan menumpahkan menggunakan tangan, lalu mencuci mukanya dengan perlahan.


Byurrr....!!!


Tiba-tiba Hanum mendorong Disya hingga perempuan itu terjebur ke dalam curam sedikit dalam. Disya pun kaget dan kesulitan mengambil napas dalam kolam. Sky yang melihat kejadian itu langsung nyemplung dan menolong gadis itu yang kesulitan berenang.


Dalam seperkian detik, suasana riuh ceria itu menjadi mencekam sebab tiba-tiba ada yang hampir tenggelam. Sky dengan sigap langsung membawa tubuh Disya ke tepian.


"Sya, bangun Sya? Tolong dong, minyak atau handuk?"


"Tolong-tolong ada yang hampir tenggelam." Suasana di curug menjadi riuh kepanikan.


Hanum sama sekali tidak bermaksud mencelakai Disya, gadis itu bersifat becanda dan tahu persis kalau Disya jago berenang. Ia melakukan hal itu untuk seru-seruan saja, tanpa dinyana berakhir petaka.


"Sya, bangun Sya, maafin gue, gue nggak niat nyelakain elo." Hanum nangis sesenggukan di sebelah gadis itu yang masih dalam pangkuan Sky.


"Sya, Sya?!" Sky menepuk-nepuk pipi Disya namun gadis itu belum juga sadar.


Pria itu berusaha tenang walaupun hatinya begitu cemas luar biasa. Ia segera membaringkan tubuh Disya dan memposisikan dirinya di samping, lalu kemudian menekan-nekan dada Disya, supaya gadis itu memuntahkan sir yang mungkin saja tertelan, pertolongan pertama pada orang yang hampir tenggelam.


Dalam seperkian detik tetap belum menunjukkan tanda-tanda mulai sadar. Tanpa aba-aba Sky langsung membungkukan badannya lalu membuka mulut dan menutup hidung Disya, lalu ia memberikan tiupan pada mulut dua kali dalam satu detik. Sky mengulangi menyatukan bibir Disya, pria itu membuat napas buatan pada istrinya.


Ulangi, pria itu kembali memberi napas buatan setelah mengambil oksigen banyak-banyak, hingga gadis itu pun terbatuk dan sadar.


"Sya, Disya?"


pandangan gadis itu memincing, mencoba bangun dari rasa pusing yang melanda. Disya segera di bawa ke tepian, sebuah gazebo yang sering di jadikan spot foto di pinjam sementara untuk membaringkan gadis itu.


"Mas, Mas, ini ada seorang Dokter, dia kebetulan sedang camping di sini, barang kali bisa bantu?" ucap seorang ibu penjaga warung.

__ADS_1


__ADS_2