One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 76


__ADS_3

Esok hari, setelah melewati drama pagi hari yang panjang, Disya dan Sky tengah mengikuti sarapan di meja makan. Suasana keluarga di meja makan nampak hidup, terbukti banyaknya percakapan asyik mereka di sela-sela mengunyah sarapan.


Disya nampak terdiam, gadis itu masih setia menjadi pendengar yang baik. Ia baru mengeluarkan suaranya jika di tanya dan perlu menjawab. Sebenarnya sudah tidak begitu canggung menyikapi keluarga Sky yang begitu baik, hanya saja seringnya gadis itu bingung mau mengawali percakapan dari mana.


"Sayang, hari ini masuk kuliah nggak?" tanya Bunda Yuki memastikan.


"Masuk siang Bun, pukul sepuluh. Itu pun cuma ada satu makul untuk hari ini, kenapa Bun? Ada yang bisa Disya bantu?"


"Pingin ngajak kamu ke butik, tapi kalau sibuk ya kapan-kapan aja," ujar Bunda Yuki.


"Rencana mau cek up kandungan Bun, tapi nanti agak siangan, gimana kalau ke butik Bunda nya besok saja," tawarnya.


Sky langsung menghentikan mengunyah, ia menengok ke arah Disya. "Nanti jam berapa? Kok nggak ada bilang sama aku?" tanyanya sedikit kecewa.


"Belum sempat, baru mau nanti siang setelah pulang kuliah, aku udah buat janji sama dokternya," ujar Disya tenang.


"Harusnya kamu bilang dari tadi pagi, aku hari ini ada jadwal sampai sore ngajarnya."


Disya diam, merasa tak enak debat di tengah sarapan, dan di bawah tatapan ke dua martuanya itu.


"Tinggal kosongkan jadwal apa susahnya Ky, kamu ngajar sampai siang, sorenya nganter istri kamu, nggak usah di bikin pusing lah, moment langka nemenin istri cek up kandungan itu, emang kamu nggak mau tahu perkembangan anak kamu di dalam perut istrimu," ujar Ayah Asher pakem.


"Iya yah, nanti aku usahain," jawab Sky akhirnya.


"Oke, ke butik Bundanya kapan-kapan aja, besok atau lusa juga boleh, pas kamu senggang aja."


"Lusa gimana Bun, hari kamis?"


"Libur?" tanyanya semangat.


"Nggak libur, tapi masuk pagi aja, setelah dari kampus nanti bisa langsung mampir ke butik Bunda, gimana?"


"Ide bagus, besok Bunda tunggu ya?"


"Iya Bun, InsyaAllah siap. Semoga besok tidak ada halangan."

__ADS_1


"Kenapa nggak ajak Bintang Bun," tanya Sky.


"Dia itu nggak tertarik sama fashion, iya kan dek?"


"Belum, lebih tepatnya. Bintang suka gambar tapi sketsa komik bukan sketsa baju kaya Bunda," sergahnya seraya menghabiskan suapan terakhir ke mulutnya.


"Alhamdulillah kenyang... berangkat dulu Bun, Yah, mbak, kak," pamitnya seraya mencium tangan mereka satu persatu. Tradisi pamitan yang manis dan menghormati yang lebih tua di lestarikan keluarga Asher.


"Bin, hati-hati bawa motornya. Jangan ngebut!" seru Bunda Yuki memperingatkan anak bungsunya.


Bintang mengeluarkan motor CBR nya, setelah memakai sarung tangan, kemudian tak lupa helm ia kenakan dengan cepat. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit, itu artinya Bintang harus sampai di sekolah sebelum jam tujuh.


Gadis itu menggunakan kecepatan lebih untuk cepat lebih sampai, ia menyelinap gesit untuk menghindari kemacetan yang melanda.


"Ah, sial!" Bintang menggebrak kepala motor nya begitu mendapati lampu merah di garis depan. Niat hati mau menerobos pun tak kesampaian sebab ada banyaknya mata CCTV yang berjaga, gadis itu sudah sering kena tilang karena aksi saling serobot jalanan.


Ia berhenti tepat di belakang garis, sebelah kanan dari mobil berwarna hitam metalic. Gadis itu membuka helmnya karena harus menerima telfon yang sedari tadi bergetar di saku jaketnya.


Setelah menerima panggilan singkat, gadis itu merapikan rambutnya dan memakai helmnya kembali, tanpa ia sadari ada seseorang yang mengamati gerak-geriknya dari jendela kaca mobil.


"Astaga... pagi-pagi ketemu sama cewe bar-bar," batin pria itu menatapnya tanpa jeda. "Masih SMA, gayanya udah kaya pembalap gadungan saja, tidak ada aturan," gerutunya demi melihat motor yang bertengger di sampingnya tadi sempat menyalipnya dengan cekatan.


"Sialan...! Bocah nantangin gue?" gumamnya pelan.


"Awas aja kalau ketemu lagi, gue ajak ngopi juga," gerutunya sebal. Rayyan hendak pergi bekerja, hari ini ia berangkat pagi karena memang mendapatkan jam jaga pagi.


***


Di sisi lain, Sky nampak sedang mengamati istrinya yang baru saja berganti pakaian.


"Sya, bajunya ganti deh, roknya terlalu pendek?" ujar Sky meneliti penampilan Disya.


"Kenapa? Ini baru di kasih Bunda, dan bagus kok," jawabnya cuek.


"Itu terlalu girly, Sya! Kamu bisa jadi pusat perhatian orang," ujarnya.

__ADS_1


"Ish... Bapak cerewet banget sih, ini tuh udah nyaman, nggak usah bawel deh..."


Penampilan Disya pagi ini emang agak berbeda, ia memakai dress pendek seatas lutut di padukan dengan jaket denim. Terlihat begitu imut dan cantik, terlalu berbeda dari biasanya yang memakai celana kulot dan kaus casual. Tentu saja membuat Sky khawatir akan ada banyak pria yang menatap istri cantiknya.


"Matanya kondisikan Pak, jangan jelalatan," protes Disya kesal demi melihat suaminya menyorot tajam.


"Ganti nggak?" titahnya sarkas.


"Nggak mau..." Gadis itu berlalu saja tanpa dosa.


"Sya!" panggilnya menyeru. Disya sudah ke luar dari kamar dan segera turun dari lantai dua.


"Bun, Disya berangkat dulu ya?" pamitnya.


"Ini masih terlalu pagi sayang, katanya masuk jam sepuluh."


"Iya Bun, mau mampir ke rumah dulu, ambil buku yang mau di bawa ke kampus."


"Sya!" seru Sky melangkah cepat menyusul istrinya yang sudah berlalu dari rumah.


"Aku mau ke rumah dulu ambil buku, Mas berangkat duluan aja, nanti aku pakai taksi."


"Bareng aja, jam pertama kelas kamu kan aku?" ujarnya memberi solusi.


"Terserah!!"


Disya dan Sky sudah berada di dalam mobil, dan tengah menuju ke apartemennya. Sky tidak bisa berkonsentrasi menyetir, sebab tanpa gadis itu sadari belahan pahanya terekspos sempurna, membuat pria itu gugup dan susah berfikir dengan jernih.


Ah sial... kenapa istriku seksi sekali sih


Disya dan Sky langsung menuju lift untuk sampai ke lantai lima belas. Gadis itu langsung masuk ke kamar begitu sampai rumahnya, ia terlihat sibuk mengemas beberapa buku untuk kuliah hari ini.


"Bapak? Ngapain?" gugup Disya begitu mendapati tangan kekar suaminya sudah memeluk dari belakang.


"Kamu meresahkan, ganti dulu nanti aku bisa khilaf kalau gini terus, kamu jangan mancing-mancing ini masih pagi, dan hari minggu masih lama, kamu mau tanggung jawab?" Sky berbisik tepat di telinga Disya.

__ADS_1


Glek


Susah payah Disya menelan salivanya gugup, gadis itu mendadak nge-blank dengan bisikan lembut suaminya. Tubuhnya meremang seketika. Tak ingin berbuntut panjang pun Disya menurut, gadis itu mengurai pelukan Sky dan berjalan menuju lemari pakaian. Ia mengganti rocknya dengan celana kulot yang simple di kamar mandi.


__ADS_2