
Disya mencebik, ada rasa kesal, sebal dan jengkel. Tapi tentu saja semua hanya bisa ia pendam, ia selalu tak bisa melawan Sky, tatapannya yang lembut dan kadang bisa langsung berubah menghunus tajam, tegas dan dingin. Selalu bisa meruntuhkan rasa yang entah, entah hanya sekedar memenuhi rasa tanggung jawab sebagai seorang istri, atau memang sebenarnya perasaan itu sudah tumbuh tetapi gadis itu belum menyadarinya.
Kalian bisa bayangin nggak sih? Sulit nya jadi Disya? Bukan masalah perkara Sky mapan dan mau tanggung jawab, oke itu memang nilai plus yang sangat luar biasa, tapi sayangnya ia punya hati dan juga perasaan, dan naasnya hati itu telah lama menyimpan satu nama, bahkan terlalu lama, jadi... kalau bisa memilih dan ada pilihan, mungkin ia akan memilih pada hari dimana ia belum pernah bertemu dengan Sky.
Disya akhirnya menghubungi Bila, kalau malam ini ia tidak bisa gabung bersama mereka karena ke dua orang tuanya sedang berkunjung ke rumahnya, dan akan sangat tidak sopan kalau ia malah pergi dari rumah dengan acaranya sendiri, Bila yang awalnya kecewa pun akhirnya bisa mengerti, apa yang di lakukan Disya memanglah sudah tepat. Acara dengan teman-temannya bisa di atur kapan-kapan lagi, ujar Bila menenangkan.
Gadis itu pun menjadi lega, dan tidak merasa tidak enak dengan sahabat-sahabatnya. Alasannya cukup masuk akal, dan tentunya bukan hanya sekedar karena dilarang suaminya.
"Sayang... kenapa melamun?" tanya pria itu heran melihat istrinya yang masih betah duduk di tepi ranjang. Sky baru saja ke luar dari kamar mandi.
"Nggak pa-pa, aku ke bawah dulu Mas, itu baju ganti kamu udah aku siapin," jawabnya datar.
Sky menangkap sesuatu yang beda pada wajah Disya, ia langsung melangkah lebar dan meraih tangan Disya yang hendak berjalan keluar kamar.
"Kamu masih marah? Kalau nanti malam mau pergi ke rumah Bila nggak pa-pa, tapi nanti tunggu suasana rumah sudah lengah, jangan pergi di saat ada acara begini, nanti malam aku antar, kamu bisa belajar di sana sesuai yang kamu inginkan, tapi... aku tungguin ya? Atau kalau nggak, belajar di apartemen aja, nanti sekalian aku ajarin," tawarnya panjang kali lebar.
Disya yang awalnya sedikit merasa senang, kembali murung begitu menyadari kalimat terakhir suaminya. Itu bukankah sama saja menyebalkan, di tungguin?
Gadis itu bergeming, menatap suaminya dengan senyum kepalsuan, lalu segera beranjak keluar.
"Aku nggak jadi kok Mas, aku mau belajar di rumah aja," kata gadis itu sebelum akhirnya menutup pintu kamar, meninggalkan Sky yang masih dengan pikirannya sendiri.
Sky segera berganti baju dan mengikuti istrinya ke bawah untuk berkumpul bersama anggota keluarga lainnya. Ia bergabung dengan Ayah, Papa, Kakek, dan Rasya di ruang tamu, sementara Disya ikut keriwehan Mama dan Bunda Yuki di dapur.
"Ada yang perlu bantuan nggak nih," seloroh gadis itu mendekat.
"Bantu makan aja, udah selesai kok sayang tinggal di bawa kemeja dan dihidangkan," jawab Mama Amy.
"Mama mau datang ke sini kok nggak ada bilang ke Disya Mah?" ujarnya merasa sedikit kesal.
"Biar surprise dong sayang..." jawab Mama Amy tersenyum.
Disya ikut menghidangkan makanan ke atas meja di ruang tengah, sementara lantai ruangan sudah di sulap menjadi lesehan yang di gelari karpet sebagai alas duduk, mereka berkumpul di sana dengan suasana kekeluargaan yang amat terasa nyata.
Setelah memanjatkan untaian doa, semua keluarga mulai acara makan bersama.
"Sya, aku dikit aja soalnya masih lumayan kenyang," kata pria itu ketika melihat pergerakan istrinya yang mengisi piringnya.
"Segini kebanyakan nggak?" Disya menunjuk isi piringnya.
__ADS_1
"Nggak, kita barengan aja ya?" pintanya lembut, Disya mengangguk saja.
Sky menerima piring di tangan Disya, mengambil sendok dan duduk di tepian karpet. Semua sibuk menyantap hidangan yang sudah tersedia.
"Cie elah... pengantin baru romantis amad sih, sepiring berdua," celetuk Raya.
Sky menarik bibirnya lebar, sementara Disya tersenyum tipis menanggapi celotehan Raya.
"Pengen? Sirik aja ih, sana sepiring sama Rasya," Sky menanggapi santai.
"Nggak mau, semenjak hamil aku nggak suka makan bareng dia," jawab Raya tenang.
Sky mengerutkan dahinya, sesekali tangannya terulur menyuapi Disya.
"Aku kenyang Mas," ujar gadis itu saat Sky mau menyuapi untuk yang sekian kalinya.
"Bukannya baru makan di kantin saja ya, tadi siang? Ya sudah, biar aku habiskan," ucap Sky menyuap sendok ke mulutnya.
Disya mendadak eneg, rasa penuh di dalam perutnya mendadak bergejolak, gadis itu segera bangkit dari duduk dan melangkah cepat ke kamar mandi.
Sky tanggap, pria itu langsung mengekori istrinya dengan wajah cemas.
Disya bergeming, ia mendadak pusing dan mual, perutnya benar-benar bergejolak hebat, gadis itu memuntahkan semua isi perutnya. Disya keluar dengan wajah lemas.
"Sayang... kamu muntah? Ada yang sakit? Kita ke dokter sekarang ya?" cemas Sky langsung membrondong pertanyaan istrinya.
"Aku nggak pa-pa Mas, hanya mual," jawab Disya yang merasa lemas dan lega setelah mengeluarkan isi perutnya.
"Ya sudah, mau aku antar ke kamar saja atau gimana?"
"Nggak usah, Mas? Mau gabung lagi sama mereka," jawab Disya seraya berjalan ke arah ruang tengah.
"Kamu pucet, seharusnya kalau nggak suka makanannya nggak usah di makan," ujar pria itu cerewet.
"Suka kok, tapi ini sepertinya aku masuk angin juga, makannya jadi gini, kemarin juga sudah jarang banget mual." Makanan bersantan ternyata membuat Disya eneg dan mual hebat.
"Mbok Inah, tolong ambilin minyak kayu putih Mbok di kamar." Sky meminta tolong art rumahnya.
"Siap Den," jawab Inah langsung melesat mengambil pesanan majikannya.
__ADS_1
Disya dan Sky kembali ke ruang tengah. Ia duduk di sofa agak menjauh dari orang-orang yang tengah mengobrol lesehan di lantai karpet. Ke dua keluarga itu nampak antusias berunding untuk resepsi pernikahan mereka berdua.
"Ini Den, minyaknya?" Mbok nah menyodorkan minyak kayu putih yang telah di ambil dari kamar Sky.
"Mbok sekalian minta tolong, buatin wedang jahe ya? Istri aku nggak enak badan," ujarnya sekali lagi.
"Siap, Den. Ditunggu sepuluh menit," jawabnya seraya undur diri ke belakang.
"Jadi setuju nya kapan Ky?" Ayah Asher menyeru. Semua keluarga menyorot Disya dan Sky yang tengah duduk di sofa sambil tangan Sky memijit tengkuk Disya.
"Kita ngikut Ayah saja, yang penting sudah lewat minggu ini," jawab Sky yang di angguki Disya.
Disya masih UTS, dan tentunya Sky repot merekap nilai, jadi praktis dua minggu ini Sky akan sangat sibuk.
Semua keluarga sepakat merayakan resepsi pernikahan mereka akhir bulan ini, dan itu artinya dua minggu dari sekarang, Untuk urusan yang lainya ke dua sejoli itu menerima beres saja, semua akan di handle keluarga dengan baik
"Sayang... kamu pucet banget, istirahat saja di kamar," ujar Mama Amy dan Bunda Yuki menghampiri Disya.
"Nggak pa-pa kok, Bun, Mah, cuma agak capek aja sama kayaknya masuk angin ini," ujar Disya santai.
"Ky, kamu jangan buat Disya capek dulu, ingat loh, dia hamil muda?" tegur Bunda yang terdengar ambigu. Namun, anak cerdas itu cepat tanggap dengan perkataan Bundanya.
"Iya, Bun. Sky tahu kok," jawabnya patuh bertolak dengan hatinya yang ada rasa aneh. Tidak rela tidak menyentuh istrinya yang telah membuat pria itu candu.
Puasa lagi???
Setelah ke dua orang tua Disya pamit, Disya langsung kembali ke kamar. Gadis itu sudah tidak pusing dan mual, ia hanya lemas saja, dan butuh istirahat sebentar.
Sky ikut mengekori istrinya yang berjalan pelan menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar, Disya langsung menuju ranjang, menumpuk bantal di pojok papan ranjang dan bersiap menjatuhkan punggungnya.
"Sya, istirahat dulu aja sayang, aku pijitin ya?" ujar Sky perhatian.
"Mas?" Disya menatap lekat suaminya, ada rasa bersalah di hati kecilnya, ia selalu merasa begitu setiap kali Sky memperlakukan dirinya dengan sangat sabar dan lembut.
"Maaf, buat yang tadi," ucap Disya lirih.
Sky tersenyum, tangannya terulur mengusap pipi istrinya yang ayu. "Udah aku maafin, maaf juga udah bikin kamu nggak nyaman," ujar pria itu lega.
Istrinya sangat manis, rasanya ia ingin sesuatu yang lebih untuk malam ini, dekat dengan Disya selalu membuat pria itu gemas dan merasa ingin Mengurungnya. Melakukan hal yang manis dan pastinya nikmat, Sky laki-laki normal, tentu ia tidak bisa melewati semuanya begitu saja. Namun, rasa sayang dan cinta tentunya akan patuh bersabar. Apalagi kalimat Bunda yang memperingatkan, dan permintaan Disya untuk menunggu sampai ujian selesai, pria itu tentu saja sanggup bersabar.
__ADS_1