One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 111


__ADS_3

Disya dan Sky berjalan gontai masuk ke rumah. Namun, ke dua couple tersebut tidak menemukan siapapun di ruang tamu. Pria itu mencari Mbok Nah sang asisten ingin menanyakan perihal mobil di depan, namun, Mbok Nah mendadak tidak ada di mana-mana. Mungkin perempuan itu tengah membeli sayur di kompleks depan, seperti biasanya kegiatan pagi mbok Nah.


Pria itu sedikit menghiraukan dan tidak mengambil pusing, atau lebih tepatnya Sky brsikap santai saja, pria yang tengah di selimut bahagia itu berjalan menaiki anak tangga dengan Disya berjalan di depannya. Disya langsung menuju kamarnya, tentu saja Sky mengikutinya. Pria itu lengket bak perangko yang selalu menempel kemanapun Disya pergi.


"Sayang... kita langsung ke rumah sakit saja gimana? Kamu kasih tahu Bintang dulu sana, perempuan kan suka lama kalau siap-siap," ujar Sky memerintah.


"Bentar Mas, masih pagi juga. Kita sarapan dulu aja, aku lapar. Aku ke bawah dulu deh, lihat Mbok Nah, mau bantuin masak juga?" ujar Disya berjalan ke luar kamar.


Disya turun ke lantai dasar, sementara Sky ikut keluar dari kamar tetapi berinisiatif menuju kamar Bintang untuk memberi tahu adiknya tersebut. Belum juga sampai menuju pintu kamar adiknya, pria itu cukup kaget melihat seorang pria yang menyembul dari dalam kamar Bintang dengan tampilan yang berantakan khas bangun tidur.


Ke dua pria itu sama-sama berdiri dan diam di tempat, dalam seperkian detik antara tidak percaya dan syok pastinya. Tanpa babibu bebo Sky langsung maju dan menghajar pria itu.


Sky merasa hawa panas keluar dari kepalanya, pria itu akan membunuh pria yang sedang ia tinju. Rayyan yang kaget dan tidak siap, terhuyung ke lantai. Rayyan melakukan pembelaan dengan bangkit berdiri dan melawan Sky. Terjadilah pertumpahan perang season empat. Eh tahu lah, pokoknya seasons banyak.


"Breng sek! Apa yang lo lakuin di kamar adek gue!" murka Sky histeris kesetanan. Terus memukuli Rayyan.


Disya yang mendengarkan keributan pun tak jadi menuju dapur dan langsung berbalik badan, berlari kecil menaiki anak tangga. Gadis itu menjerit histeris melihat dua orang yang sedang saling jotos.


"Mas! Stop, berhenti!" teriak Disya menggema.


Gadis itu cukup kaget melihat Rayyan adalah pria yang tengah di pukuli Sky. Kehebohan itu juga langsung mendapat sorotan Bintang yang berjalan perlahan keluar kamar. Gadis itu baru saja terjaga dan masih sedikit pusing. Ia tidak tahu menahu bahwa di depan kamarnya terjadi pergulatan sengit.


Bintang melongo melihat kakak dan juga Rayyan sama-sama babak belur, sudut ke dua bibir pria itu sama-sama berdarah.


Sky di peluk Disya agar pria itu tidak maju lagi untuk menyerang Rayyan. "Apa sih yank, minggir! Aku mau bunuh pria breng sek itu!" Sky terlihat begitu marah, apalagi saat melihat Bintang sama halnya penampilannya acak-acakan khas bangun tidur.


"Bintang! Kamu masuk kamar! Dan lo, urusan kita belum selesai! Gue pasti buat perhitungan sama lo!" sarkasnya menunjuk-nunjuk Rayyan.


"Ini ada apa? Kenapa kalian ribut di sini? Kamu?! Rayyan kan?" Ayah Asher yang baru saja datang bersama Bunda Yuki di hebohkan dengan adegan live kekerasan anaknya.


Tidak ada yang menyaut, Disya terdiam, Sky yang masih bergejolak marah, Bintang yang sudah nangis sesenggukan serta Rayyan yang cukup syok kena grebek pagi hari.


"Maaf Om, ini tidak seperti yang Sky kira, aku sama Bintang nggak nglakuin apapun seperti yang di tuduhkan," sanggah Rayyan cepat.


"Diam lo, breng sek!! Sky menunjuk-nunjuk Rayyan dalam pelukan Disya yang menahannya, supaya pria itu tidak maju dan menghajar pria itu lagi.


Pak Asher dan Bunda Yuki langsung down mendengar tuduhan Sky. Ayah dan Ibu mana yang tidak kecewa dan marah melihat putri kecilnya bersama laki-laki tidur bersama.


"Rayyan! Panggil orang tuamu ke sini, Om mau bicara serius!" perintahnya dingin. Terlihat lebih menakutkan dalam diam. Namun, tidak dengan kekerasan.

__ADS_1


Sementara Sky masih marah-marah di kamarnya yang sedang di jinakkan Disya.


"Kamu tuh seharusnya jangan tahan aku, biar kuhabisi pria breng sek itu. Dia dendam sama aku!" Sky masih marah-marah.


"Mas, aku tahu kamu marah, tapi tolong jangn berbuat di luar kendali, membunuh orang bukan suatu penyelesaian, kamu bisa di pidana dan aku nggak mau itu terjadi," jelas Disya sendu. Gadis itu menangis takut, baru sekali ini melihat Sky begitu marah dan murka.


"Kamu kenapa nangis, aku cuma mau buat pelajaran sama mantan kamu yang breng sek itu, tidak sampai membunuh juga, aku juga tidak mau berpisah dari kamu," ujar Sky akhirnya menurunkan emosinya.


"Kamu membuat aku takut Mas," kata Disya sendu.


"Maaf, tapi aku pasti akan ngelakuin hal apapun kalau itu menyangkut orang-orang terdekat aku, aku minta maaf sudah membuatmu takut," Sky mengusap buliran bening di pipi Disya.


"Ya sudah jangan marah-marah lagi, nanti kita pikirkan jalan keluarnya bersama, sekarang biar aku obati dulu luka kamu," ujar Disya perhatian.


Disya keluar kamar sebentar untuk mengambil obat. Ia berpapasan dengan Bintang yang terlihat gusar. Sementara Rayyan masih di ruang tamu, duduk diam menanti ke dua orang tuannya datang, dengan tatapan ke dua orang tua Bintang yang begitu marah, namun, berusaha tenang.


"Mbak, Kak Sky masih marah? Dia salah paham, semalam aku sakit dan Rayyan yang merawat aku," curhat Bintang tiba-tiba. Berusaha memberi fakta agar tersampaikan kepada kakaknya yang sudah kadung emosi.


Disya juga berpikir demikian, mengingat ia pernah dekat dengan Rayyan, dan setahu Disya, Rayyan orang yang sangat menghargai wanitannya.


"Iya, mbak percaya sama kamu dek, ya sudah kamu tenangin diri kamu dulu, biar kakakmu aku yang urus."


"Tolong ya mba, bantu aku buat ngejelasin ini semua, kak Ray orang baik, aku tidak mau Kak Sky beranggapan buruk dan malah menuduh berbuat yang melampaui batas. Tolong bantu juga buat ngejelasin ke orang tua aku, kalau aku dan kak Ray nggak nglakuin itu," pintanya dengan kecemasan yang haqiqi.


"Enggak, dekat aja, kak Sky salah paham, dengan tuduhan itu membuat Bunda dan Ayah juga salah paham," jelasnya masih dengan muka cemas.


Disya ingin mengobrol lebih banyak lagi, namun gadis itu segera sadar ingin segera mengobati luka suaminya.


"Nanti kita ngobrol lagi, aku obati luka kakak kamu dulu," ujar Disya sambil lalu.


Gadis itu menuju kamarnya dan masih menemukan muka suaminya yang masam.


"Lama banget sih, ikut nganterin si breng sek itu juga!" protesnya kesal, dongkol dan masih bergemuruh amarah.


"Ya Allah... Mas, kamu suudzon terus, aku ambil obat, terus ketemu Bintang, aku jawab sedikit saat ia bertanya. Kamu jangan marah-marah terus dong."


"Gimana aku nggak marah-marah, dia ngerusak Bintang, kakak mana yang nggak marah."


"Dia nggak nglakuin itu, kamu salah paham," jelasnya pelan.

__ADS_1


"Tahu dari mana, udah jelas-jelas tidur dari kamar Bintang, mungkin sama kamu enggak, tapi dengan Bintang ingin merusaknya tanpa adanya cinta," jelas Sky geram, merasa sudah kecolongan.


"Mau mengomel terus, atau mau di obatin?" tanyanya kesal.


Sky terdiam, dadanya masih bergemuruh menahan kesal. Ia masih tidak habis pikir, bisa-bisanya rivalnya itu dengan sangat lancang tidur di kamar adiknya.


Disya mulai mengompres luka lebam di pipi suaminya, lalu mengolesi obat dengan cotton bud pada bagian sudut bibir Sky yang robek. Pria itu sedikit mringis demi menahan rasa perih.


"Sakit ya?"


"Enggak, sakitnya tuh di sini." Sky menunjukkan dadanya sendiri. "Apa yang harus aku jelasin sama Ayah dan Bunda, aku gagal jagain Bintang," curhatnya sendu.


"Kata Bintang, semalam dia sakit, terus Rayyan ngerawatnya, mereka nggak nglakuin itu Mas, kamu yang tenang ya?"


"Kamu percaya? Sedang penampilan mereka jelas sangat meragukan, Rayyan itu dendam sama aku Sya, dia yang bilang sendiri sama aku, kalau dia cuma mau mainin Bintang," jelasnya ngegas.


Disya bergeming, tak ingin membuat Sky marah lagi, gadis itu lebih baik tidak menanggapi lagi.


"Kenapa diam? Atau kamu jangan-jangan juga masih suka sama dia, berharap kembali terus mau ninggalin aku?"


"Kok mrembet ke mana-mana sih Mas, omongan kamu tuh sama aja berasumsi menuduhku, itu sama saja kalau Mas nggak menghargai seberapa kerasnya aku berjuang untuk menempatkan posisi kamu di hati aku, aku kecewa sama kamu," jelas Disya kesal.


"Lho, kok jadi kamu yang marah, aku nggak ada maksud, aku cuma merasa gitu setiap kamu bicara seakan penuh pembelaan terhadap dia, apa yang salah sebagai suami tentu khawatir," jelas Sky.


"Kamu terlalu berlebihan memonopoli hidupku Mas, aku tahu aku istri kamu, tapi kecurigaan Mas yang selalu berprasangka begitu jelas membuat aku kecewa." Disya langsung keluar kamar meninggalkan Sky dengan kesal.


"Sya! Aku percaya sama kamu, ya ampun... salah ngomong, kacau! Kacau!" Sky mengusap kasar rambutnya frustasi.


Masalah adiknya belum kelar ditambah masalah istrinya yang ngambek, semakin membuat pria itu mumet, dan bertambah jengkel saja. Ia berjalan keluar menyusul Disya yang tengah membantu Mbok Nah di dapur.


"Sya!" serunya memanggil.


Gadis itu terdiam, sibuk membereskan sayur. Mbok Nah yang berada di lokasi itupun menjadi canggung sendiri melihat majikannya saling terdiam dengan muka keruh.


"Biar selesain Simbok aja Non, itu dipanggil Den Sky," kata Mbok Nah bingung sendiri. Di dapur Perang Dingin, di ruang tamu suasana tak kalah dingin.


Disya nampak membuang napas kasar, gadis itu mengunci mulutnya berjalan melewati Sky begitu saja, masih kesal dengan tuduhannya. Ya walaupun belum seratus persen Disya bisa melupakan Rayyan, tapi gadis itu sudah benar-benar ingin move on dan serius mencintai suaminya, respon Sky yang menuduhnya masih cinta jelas membuat Disya kesal.


"Sya! Sayang... maafin aku..." rengek pria itu mengekori Disya. Gadis itu berlari kecil menaiki anak tangga dan menuju kamarnya. Suasana rumah menjadi semakin tidak kondusif, Pria itu semakin mumet dan strees. Tak mendapat respon apapun dari Disya, laki-laki itu langsung menarik tangan Disya dan membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Please... jangan ngambek, hatiku sedang sangat kacau, aku butuh kamu. Aku percaya sama kamu, tolong tunjukan kalau kamu juga mencintaiku. Buat aku selalu percaya, jangan pernah ninggalin aku, jangan acuhkan aku."


"JANGAN banyak ngomong, kalau bibir kamu masih sakit," selanya masih dengan nada kesal.


__ADS_2