One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 70


__ADS_3

Dokter yang di maksud segera mendekat, dan tak pernah di sangka atau pun di duga, pria itu adalah seseorang yang menyimpan sejuta kenangan bersama Disya. Baik Rayyan, Sky dan Disya, mereka sama-sama terkesiap. Tidak pernah menyangka akan di pertemukan dalam pelarian pria itu.


Rayyan, niat hati minggir dari aktifitas nya yang padat, di samping Kestressan nya di tinggal Disya, ia mencoba suasana baru untuk beristirahat sejenak, agar pikiranya kembali tenang. Ia memilih wahana air alam di curug Putri kencana, berharap air nya yang jernih mampu mendaur ulang tubuh dan pikiranya yang sudah lelah menjadi baru kembali, terancam gagal total, dan semakin ambyar.


Alih-alih bisa lupa baik Disya maupun Rayyan terancam gagal move on. Ke duanya saling menatap dalam diam, tak mampu mampu berucap walau sebenarnya banyak hal yang ingin di sampaikan. Netranya menatap sendu penuh kerinduan yang teramat. Ke duanya masih saling menatap di bawah pandangan Sky yang tajam.


"Disya?" panggil Rayyan tercekat di atas pijakan. Seakan tubuhnya bagai raga tak bernyawa, menumpu perasaan rindu yang teramat, hingga tanpa sadar tubuhnya bergerak semakin dekat, namun segera ia sadar dirinya tak bisa lagi membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mengingat dirinya sudah berada di zona mantan.


"Jangan menyentuh untuk hal yang bukan dalam pemeriksaan sebagai tenaga medis," suara berat Sky menginterupsi. Pria itu hendak mengusap lembut pipi Disya namun urung, tangannya menggantung di udara begitu saja.


"Kak Ray?!" lirih Disya bagai khayalan. Gadis itu sama sekali tidak menyangka akan di pertemukan dengan mantan kekasih nya dalam suasana yang cukup mencekam.


Sky terdiam di tempat, rasa khawatir yang menyelimuti hati berganti dengan rasa panas dan cemburu luar biasa. Tangan pria itu mengepal erat tatkala Rayyan membelai pipi Disya dengan lembut dengan tatapan penuh cinta. Bahkan mengabaikan peringatan dari nya.


"Khem!!" Sky berdehem keras untuk menginterupsi mereka berdua.


Disya tersadar, dirinya tak lagi boleh bersentuhan dengan Rayyan dalam bentuk cinta. Tak boleh lagi menatap pria itu berlama-lama apalagi sampai berfikiran untuk kembali padanya. Disya sadar, dirinya bukanlah wanita bebas, saat ini sudah jelas statusnya istri orang dan tentu akan menyebabkan peperangan bertambah besar di antara dua insan yang pernah saling akrab itu.


Disya meraih lengan Sky, berusaha mentransfer rasa kepercayaan untuk dirinya, bahwa gadis itu baik-baik saja. Mata mereka saling bersirobok, menatap penuh permohonan agar ia bisa mengerti untuk dua minggu ini yang tersisa 10 hari sebelum ia semakin yakin menerima Sky secara suka rela, tanpa peduli perasaan nya yang entah seperti apa untuk sepuluh hari ke depan.


Sky tak bisa banyak berulah, salah sedikit trik terancam gagal sudah semua rencana dan kesabaran yang sudah ia buat. come sepuluh hari lagi, pria itu menanti dengan tidak sabar.


"Kak Ray, cepetan dong Disyanya di periksa, tadi ia sempat minum airnya banyak, takutnya kenapa-napa? Kangen-kangenannya nanti di pending dulu," ujar Bila dan Hanum gusar. Ke dua gadis itu bahkan masih basah kuyup sehabis berenang, belum sempat berganti baju dan langsung menunggu Disya.


Rayyan langsung memeriksa Disya, menilai jalan napas, pernapasan, serta kemampuan jantung pasien sebagai tindakan awal.


"Kenapa bisa terjadi Sya, setahu kakak kamu cukup pandai berenang," ujar Rayyan seraya bergerak memeriksa Disya. Untung pria itu selalu membawa alat pemeriksaan di dalam mobilnya, jadi bisa di gunakan dalam keadaan darurat.


"Lagi naas," jawab gadis itu jujur.

__ADS_1


"Itu... karena kecerobohan aku kak," timpal Hanum takut.


Rayyan melirik Sky sengit, pria itu seakan menahan amarah untuk kemudian akan ia luapkan suatu saat nanti.


"Gue udah nggak pa-pa kok, tadi cuma kaget aja, tiba-tiba kaki gue susah di gerakkan jadi nggak bisa muncul ke permukaan dengan cepat, lo nggak usah khawatir Han, gue udah sehat."


"Maafin gue beb, maafin gue, gue nggak tahu kalau kejadiannya bakalan kaya gini," ujar Hanum menyesal. Gadis itu berhambur memeluk Disya


"Kalian mending ganti pakaian kalian deh, sekalian bawain gantinya Disya," ujar pria itu.


Bila dan Hanum langsung mengiyakan, ke dua gadis itu meninggalkan tempat tersebut dan tinggalan mereka bertiga.


Suasana dingin mencekam semakin kentara di antara ke duannya.


"Sya, sepertinya kamu hanya kaget saja, tapi kakak takut terjadi sesuatu yang lain sama...." Pria itu menatap perut rata Disya. "Jadi kakak sarankan kamu cek up ke rumah sakit lebih lanjut. Lagian kamu kan tadi sampai minum airnya, walaupun cuma sedikit takut sampai masuk ke paru-paru, jadi di sarankan untuk melakukan pemeriksaan," ucap Rayyan lembut. Pria itu bisa setegar itu di depan Disya. Bahkan ia tak bisa membencinya walau seujung kuku.


"Iya kak, makasih. Besok aku pulang langsung cek up."


Gadis itu mengangguk, tanpa berani menatap mata Rayyan, karena ia yakin, setiap kali mata mereka bertemu, ia selalu melihat luka di sorot matanya. Hati Disya kembali sakit, dan rasa dan rasa bersalah itu semakin menggerogoti jiwa.


Suasana di sekitar menjadi semakin mencekam, tatkala tangan Rayyan terulur mengusap puncak kepala Disya dengan sayang. Sky membuang muka jengah, menatap ke duanya dengan tatapan marah yang tertahan.


"Sya, tolong percaya sama takdir kita yang indah, apapun keputusan Allah, itu pasti yang terbaik untuk kita, walaupun terasa sulit dan sakit, jangan menangis kasihan baby kamu. Perasaan ini masih sama, tolong simpan cinta kita untuk selamanya, terserah kamu mau menempatkan di sisi mana, aku sungguh tidak peduli, yang jelas hubungi aku, panggil aku saat kamu siap melepas apa yang membelenggu sekarang, dan mari kita mulai dari awal."


Tangan Sky meraih tangan Disya, menunjukkan sisi agresifnya lewat bahasa tubuhnya. Pria itu mencoba menggali banyak kesabaran walaupun begitu terasa sesak di dada. Andai ini bukan di area publik dan dalam acara kampusnya, sudah pasti tangannya yang kekar maju meringsek manusia yang di depannya.


"Sya, ayo ganti dulu." Suara Bila dan Hanum menginterupsi, memecah ketegangan yang melanda. Ke dua gadis itu memapah Disya dan membawa gadis itu menuju toilet untuk berganti pakaian.


Sepeninggal mereka, tinggalah mereka berdua. Rayyan langsung menatap Sky marah.

__ADS_1


"Lo benar-benar suami yang tidak bisa di andalkan, bagaimana mungkin lalai sampe Disya hampir celaka."


Bugh!


Satu pukulan dari Rayyan melayang di bagian wajahnya. Sky menatap marah balik, sedari tadi ia mencoba sabar dan menahan emosinya, tapi kali ini ia benar-benar tidak bisa mendiamkan Rayyan begitu saja.


Bugh!


Sky membalas pukulan Rayyan tak kalah telak, bahkan tubuh Rayyan sampai terhuyung ke belakang.


"Gue udah nahan sedari tadi, gue nggak mungkin membiarkan istri sendiri celaka bego!! Jangan sok nyalahin gue. Satu lagi jangan pernah berharap apapun dari Disya, karena sampai kapanpun gue adalah suaminya."


Rayyan terkekeh sinis, "Kita lihat saja nanti, gue semakin tertantang untuk mendapatkan kembali apa yang sudah lo curi, ingat!! Gue pasti akan dapatin Disya kembali!"


"Breng sek lo!!" Sky hendak maju satu langkah untuk meringsek pria di depannya kembali. Namun suara Disya menghentikan aksi nya.


"Stop!! Kalian apa-apaan sih?!" teriak Disya kesal. Sementara Hanum dan Bila cukup Syok melihat Dokter Rayyan dan Dosen Sky berantem saling jotos.


.


Bersambung


Gaes... jangan lupa ya dukung karya ini dengan meninggalkan jejak.


LIKE


COMMENT


VOTE

__ADS_1


Thanks all...


Author bakalan double up kalau hari ini banyak yang like, comment dan vote vote!!


__ADS_2