
Sejak pagi hari, mahasiswa cantik bernama Disya Anggita itu sudah sibuk persiapan. Hari ini adalah hari di mana, perempuan yang belum genap dua puluh dua tahun itu akan mengikuti sidang skripsi. Perempuan itu tidak sendirian, ia terhitung urutan ke lima dari dua belas anak yang sidang hari ini. Deg degan pastinya tetapi Disya sudah persiapan mental dan juga materi jauh hari semenjak dikabari. Perempuan itu benar-benar ektra belajar untuk mencapai tujuan yang memuaskan.
[Semangat sayang, kamu pasti bisa! ]~ My husband.
Disya menatap layar ponselnya dengan lengkungan tipis. Perempuan itu tengah menanti giliran namanya di panggil untuk masuk ke ruang sidang. Mahasiswa yang baru masuk sidang diberi kesempatan untuk masuk sepuluh menit sebelum waktu dilaksanakan dengan perlengkapan pribadinya tentunya.
Laptop, hardcopy, fotocopy power point lengkap sudah disiapkan Disya dengan teliti dan cermat. TU fakultas memeriksa kelengkapan berkas ujian terlebih dahulu baru membuka dan memimpin jalannya sidang. Di ruangan ada dua dosen penguji dan satu dosen pembimbing.
Disya menatap lurus ke depan, gugup sudah pasti apalagi wajah-wajah mereka sangat serius, termasuk Sky.
"Tegang, Sya?" celetuk bu Emil sebelum membuka sidang.
Disya yang benar-benar gugup tersenyum simpul. Mengangguk dengan sopan, tak mampu menyembunyikan rasa nervousnya di depan mereka.
"Rileks aja Sya, ini yang di depan suami kamu lho," seloroh Bu Emil basa-basi.
Disya nyengir, "Di rumah iya Bu, tapi di kampus ... " Disya tidak melanjutkan perkataannya, ia menatap suaminya takut-takut.
"Kerahkan kemampuanmu sayang, semangat!" selorohnya membuat seisi ruangan berdehem. Ternyata pak Sky yang killer bucin juga. Sky sebenarnya sudah memasang wajah serius, namun godaan dari kedua rekannya membuat ia mengeluarkan jurus pamungkasnya, dengan senyum penuh semangat.
"Oke, durasi ya, siap! Sudah masuk sidang harus siap," ucap Bu Emil menatap serius.
Disya mengucap salam terlebih dahulu, perkenalan, menyebut judul skripsi, dan mengucapkan terimakasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Perempuan itu mulai mempresentasikan skripsinya di depan dosen penguji.
Disya melirik suaminya, yang dilirik mengangguk yakin. Selama kurang lebih satu jam Disya berada di ruangan. Cukup tegang dan menjawab dengan lancar semua yang di tanyakan dosen penguji. Perempuan itu bisa bernapas lega karena dinyatakan lulus. Saking senengnya Disya sampai berkaca-kaca. Sebelum keluar dari sidang, Dosen penguji memberikan selamat untuk istri dari rekan kerjanya. Sky bahkan langsung menarik ke dalam pelukan saat istrinya menjabat tangannya sebagai ucapan terimakasih selaku Dosen pembimbing.
"Ehem!" Bu Emil menginterupsi. "Lanjut nanti Pak, di luar masih ada 7 mahasiswa yang mengantri," ucapnya sungkan. Sky hanya mengangkat jempolnya seraya mengurai pelukan sang istri.
Disya keluar dari ruang sidang dengan mata berbinar. Sahabat-sahabatnya sudah menunggu di luar untuk memberi selamat.
__ADS_1
"Selamat beb." Bila langsung menyambut dengan pelukan.
"Selamat lulus, bumilku." Hanum dan Sinta ikut bergabung saling berpelukan.
"Selamat Disyayang, akhirnya kamu berhasil melewati satu kerumitan dalam hidupmu." Alan hampir memeluk Disya tetiba si bawel Bila menyeru.
"Cut cut cut, bukan mahram dilarang saling bersentuhan!" peringatnya seraya nyengir. Gadis itu menunjuk pesan dari Dosen Sky yang menyuruh Bila untuk mengawasi uforia kelulusan istrinya. Terutama barisan para pengagum istrinya itu, mengingat dirinya masih di ruang sidang tidak bisa memantau secara langsung.
Disya tersenyum tipis melihat isi pesan dari suaminya lewat Bila. Ia paham sekali suaminya yang super protektif dan pecemburu.
Ia hanya mengambil buket beng-beng dan coklat dari tangan Alan.
"Hais ... apaan sih Bil, lebay banget." Alan menyorot sengit. Bisma dan Faro yang juga mau memberi selamat sampai geleng-geleng kepala.
"Benar-benar suami lo, Sya, emejing ... " kata Bisma takjub. Menyodorkan satu buket bunga yang begitu cantik.
"Makasih gaes ... love you all." Disya tersenyum lebar.
"Baru pulang sayang?" sapanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dibaca.
"Eh, Mas udah di rumah, aku kira bakalan seharian di kampus." Disya langsung menghampiri suaminya, duduk di lengan sofa seraya bergelayut manja.
"Tumben kamu nggak marah Mas, biasanya kamu cemberut kalau aku habis ngumpul sama temen-temen." Sky menutup bukunya, netranya menatap lekat mata indah Disya, satu tangannya terulur mengusap garis wajahnya.
"Ini 'kan hari kamu, mana mungkin aku marah," ucap pria itu lembut. "Sudah sana masuk kamar, mandi terus makan. Nanti aku buatin susu."
"Sweet banget sih kamu Mas, gini aja terus."
"Kerjain Sya, mumpung aku belum berubah pikiran, khusus hari ini aku mau nurutin semua permintaan kamu, asal aku mampu dan kamu tidak melanggar aturan sebagai istri."
__ADS_1
"Beneran, mau ngabulin permintaan aku?" Seketika mata Disya berbinar.
"Iya, kamu mau apa sayang, tas, sepatu, perhiasan, barang mungkin yang kamu pengen banget beli, atau ke tempat yang mungkin mau kamu kunjungi."
"Aku mikir dulu ya Mas, jawabnya nanti habis mandi," jawab Disya lalu.
Sky geleng-geleng kepala, ia gemas sendiri melihat tingkah istrinya. Disya hampir tidak pernah meminta barang apapun, perempuan itu bergaya cukup sederhana, tapi itulah yang membuat Sky semakin cinta. Ia mampu melengkapi dirinya yang kadang tidak pernah perhitungan.
***
Tiga purnama telah terlewati dengan begitu banyak cerita. Disya dan Sky tidak pernah melewatkan satu momen indah pun tanpa drama. Perempuan berbobot tubuh hampir 70 kg itu selalu menjaga pola sehat untuk kelangsungan proses melahirkan yang sudah memasuki bulannya.
"Mas, aku mau protes," ucap Disya tiba-tiba. Sky yang tengah duduk di kasur bersender headboar langsung mengalihkan tatapan matanya dari layar laptop.
"Kenapa sayang, protes apa?" tanyanya bingung.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu berubah, aku mau buat penilaian untuk kamu."
"Penilaian, tentang?"
"Tentang aku lah, kamu hanya perlu menjawab jujur, dan tidak boleh bohong padaku."
"Iya, apa?"
"Yang pertama, beri aku alasan kenapa kamu berubah Mas, kamu lebih sering menatap dan berlama-lama dengan laptopmu dari pada menatapku," jelasnya mrengut. Sky melongo mendengar penuturan Disya.
"Yang kedua, apa karena aku gendut terus Mas menganggap aku tidak menarik lagi?" Sky semakin melongo mendengar celotehan istrinya yang semakin ngawur.
"Satu lagi, ini yang ketiga yang bikin aku kesal tapi nampaknya kamu sangat menikmati, kenapa Mas lebih suka bimbingan skripsi sama mahasiswi? Katanya cuma mau bimbingan sama aku?" Kali ini pria itu sampai turun dari ranjang, dan menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sayang, kamu baik-baik aja, 'kan? Apa mendekati melahirkan pikiran kamu separno Ini?"