One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 157


__ADS_3

Disya berlalu dengan cengiran tanpa dosa. Sementara Sky benar-benar kesal, tidak sampai memarahinya, namun akan memberi perhitungan setelah sampai rumah nanti. Andai siang ini tidak ada jadwal lagi, bisa dipastikan istrinya akan menanggung hukuman saat itu juga. Beruntung waktu menyelamatkannya.


"Hati-hati sayang!" ucapnya menyeru. Walau kesal, mulut manisnya tetap memberi perhatian.


Disya pulang lebih dulu dengan taksi. Perempuan itu istirahat sebentar, makan dan bersiap dengan apa yang telah di beri mandat padanya.


"Dasar pluto!" gumanya seraya menatap lembaran soal di meja dengan malas.


"Aduh rajinnya, istri pak Dosen," seloroh pria itu. Mencuri satu kecupan di pipinya yang mulus seraya menempatkan duduk di samping Disya. Sky baru saja pulang dari kampus.


"Mandi sana, nggak usah ganggu," jawab Disya ketus.


"Semangat sayang!" tangannya mengacak rambut istrinya dengan lembut. Bangkit dari sana dan menuju kamarnya.


Disya membeo dengan tiruan di bibir tanpa suara. Menatap punggung suaminya dengan muka manyun.


Seperti yang diperintahkan Pak Sky di kampus. Disya mengerjakan tugas yang begitu banyak, di tambah skripsi rasanya otak menampung bom yang siap ditumpahkan. Belum lagi satu soal yang jawabannya hampir memenuhi satu lembaran halaman buku. Disya jelas mengeluh, rasanya kepalanya hampir meledak.


"Kurangi dong soalnya?" Disya mengeluh. Perempuan itu mrengut dan kesal, menyorot suaminya dengan muka memelas.


"Itu sudah aku kurangi sembilan puluh soal sayang, kurang baik apalagi," jawab Sky datar.


Sungguh Dosen yang menyebalkan, sepuluh soal dengan jawaban yang begitu banyak sama aja kali. Benar-benar menguji kesabaran Disya Anggita.


"Kerjakan saja, Sya, itu hukuman buat kamu karena sama sekali tidak mendengarkan di kelas. Seharusnya kamu bersyukur, karena hanya menjawab sepuluh soal dan itu karena aku lagi baik."


'Benar-benar minta ditampol nih orang! Baik apanya pluto!!' batin Disya berteriak.


"Semangat, aku buatin susu ya?" lagi, mengacak rambut Disya dengan pelan.


Disya mencebik malas, kembali menatap kertas dengan banyak coretan.


Ya Tuhan ... luaskanlah sabarku ini ....


Pak Sky kembali dengan membawa segelas susu plus cemilan. Menaruhnya di samping Disya. Posisi mereka sudah di rumah sedang lesehan di ruang keluarga. Dari semenjak pulang dari kampus, Disya langsung bergelut dengan hukuman soal yang membuat kepala sedikit pening.


"Bantuin ...," rengeknya memelas. Memasang muka yang paling menyedihkan.

__ADS_1


"Gimana ceritanya sayang, soal dari aku, aku yang ngerjain," ucap pria itu santai. Ia tidak begitu peduli dengan ekspresi Disya yang sudah kusut, pria itu malah memposisikan kepalanya rebahan di pangkuan Disya. Posisi Disya yang duduk lesehan di atas karpet bulu jelas nyaman untuk berbaring.


"Dek, mommy ngambek sama daddy gegara nugas," curhatnya tepat di depan perut Disya, lalu menciumnya.


Disya memutar mata jengah, ia membiarkan saja suaminya bersikap demikian. Mengelus-elus perut Disya seraya berceloteh sendiri, sementara Disya sendiri sibuk mengerjakan tugas. Cukup lama dalam posisi ini, hingga perempuan itu merasakan kakinya mulai mati rasa. Ia menjatuhkan tatapannya, dan mendapati suaminya yang sudah terlelap damai.


"Ya ampun ... Mas, kok malah tidur, pegel nih," keluhnya seraya sedikit menggeser kaki yang terasa kesemutan.


"Mas, bangun ... capek." Disya menepuk-nepuk pipi suaminya.


"Ngantuk yank, tidur dulu." Sky malah mencari kenyamanan di sana.


Perempuan itu mendesah pelan, mengangkat kepala suaminya dan menempatkan ke bantal sofa. Berdiri dengan perlahan, mengambil selimut untuk suaminya. Kembali ke ruang tengah menyelimuti suaminya yang sepertinya kelelahan. perempuan itu mengelus rambutnya pelan lalu menempelkan bibirnya di pipi suaminya.


"Mau kemana, Sya?" tangan Sky mencekal tangan Disya yang hendak beranjak.


"Mengerjakan tugas, belum selesai Mas," katanya seraya kembali duduk di samping pria itu.


Sky kembali ke pangkuan Disya dengan berselimut manja.


"Tidurnya di kasur Mas, di sini tidak nyaman."


"Aku selesaikan tugasnya dulu, nanti nyusul," ujar perempuan itu.


"Nggak mau, di pangkuan kamu lebih nyaman," jawabnya tenang.


Disya membuang napas pelan. Suaminya sedang mode manja kalau rebahan di pangkuannya. Disya merampungkan soal dengan tenang, tangan kanannya sibuk menulis sementara tangan kiri sesekali mengelus kepala suaminya dengan sayang.


Selesai mengerjakan lima soal setelah mendapatkan potongan dari sepuluh soal. Perempuan itu menghembus napas lega. Dilihatnya suaminya masih betah di singgah sana. Tidur Sky benar-benar terlelap damai. Lebih lama dari yang pertama, jelas Disya merasa kakinya semakin pegal. Karena tidak tega membangunkan suaminya, Lagi-lagi Disya menempatkan kepala suaminya dengan hati-hati.


Hari sudah sore Sky masih terlelap di tempatnya. Karena Disya tidak ada kegiatan, perempuan itu memilih membantu mbak Tia di dapur.


"Masak apa Mbak?"


"Ayam krispi sama sayur lodeh Buk, ada yang mau di tambah lagi?"


Disya membuka lemari pendingin, ia menemukan banyak bahan makanan terdampar di sana.

__ADS_1


"Bikin sambal cabe ijo, Mbak, enak kayaknya," ujar perempuan itu mengeluarkan cabai hijau dari wadahnya. Setelah berkutat lumayan lama akhirnya acara masak pun selesai. Mbak Tia membereskan dapur sementara Disya menghampiri suaminya yang masih terlelap.


"Bangun, Mas." Disya menggoyang perlahan bahunya. Sky membuka matanya pelan, menatap sayu istrinya.


"Bangun, makan dulu Mas, aku yang masak lho," ujarnya tersenyum.


"Benarkah, mana makanannya." Sky langsung duduk dengan antusias.


"Aku ambilin dulu bentar." Disya menuju ruang makan dan mengambil satu porsi untuk suaminya.


"Ini makan dulu Mas." Disya menyodorkan pring yang sudah berisi nasi dan temannya.


"Suapin," rengeknya manja.


"Hah! Tumben, manja banget."


"Biarin aja, lagi pingin dimanja sama istri," jawabnya jujur.


Disya mengambil kembali piring di tangan Sky dan menyuapinya.


"Tugas aku udah selesai, Mas," kata Disya seraya menyuapi yang kedua kalinya.


"Semuanya?" Disya mengangguk.


"Pinter banget sih, istri Dosen," selorohnya seraya mengunyah. "Besok jangan nakal lagi, jangan malah dengerin musik," kata Sky tersenyum. Disya mengangguk patuh.


"Skripsi kamu gimana?"


"Nggak tahulah capek," keluhnya manyun.


"Nanti bimbingan ya?"


"Pusing, susah juga."


"Nggak ada yang susah kalau mau belajar, nanti dibenerin yang kurang pas, atau salah."


"Nanti malam aja, habisin dulu maemnya," ujar perempuan itu masih menyuapi suaminya dengan telaten.

__ADS_1


"Udah kenyang, sekarang giliran kamu yang makan." Sky mengambil piring di tangan Disya dan berganti yang menyuapi istrinya. Mereka makan sepiring berdua.


__ADS_2