
"Assalamu'alaikum..." Suara salam menggema di ruangan kediaman Amar Wibisono.
"Waalaikum salam..." jawab Mama Amy dan Papa Amar yang tengah menikmati sarapan pagi
"Lho! Sayang, kok pulang?" Mama Amy merasa aneh melihat Disya yang pulang dengan mata sedikit sembab.
"Ambil barang Disya Ma," jawab gadis itu seraya mendekati Mama dan Papa lalu mencium takzim tangan mereka berdua.
Sky mengekor di belakang Disya dan melakukan hal yang sama.
"Ya udah sekalian ikut sarapan dulu sini, Sky duduk nak?" pinta Mama Amy.
"Iya Ma, makasih."
"Aku ke kamar dulu, silahkan gabung sarapan dulu," ujar gadis itu.
Sky terdiam di meja makan dengan perasaan bingung.
"Ayo nak Sky ambil nasinya," titah Mama demi melihat menantunya itu hanya diam. "Jangan sungkan anggap saja rumah sendiri, atau mau kopi seperti Papa," tawarnya kemudian.
"Iya Ma, nanti saja. Sky nungguin Disya dulu, dia juga belum sarapan biar bareng."
"Oh... so sweet banget kamu nak... seneng deh Mama lihatnya," ujar Mama Amy tersenyum yang juga di iyakan Papa. Mereka bertiga terlibat obrolan di meja makan.
Sementara Disya menyiapkan beberapa buku dan barang pribadi dirinya yang hendak di bawa ke kampus ke dalam backpack nya. Setelah semua beres, Disya lantas mengganti bajunya lalu mulai mengaplikasikan make up tipis ke wajahnya. Tak lupa liptint berwarna candy apple ia poles kan untuk menambah aksen manis di bibirnya. Matanya yang sembab ia tutup dengan concealer.
Disya masih menatap dirinya di depan cermin, merapihkan rambutnya dan menggelungnya menjadi satu, terlihat semakin cantik dan imut.
"Yap, udah nggak kentara kalau gini. Mata... oh mata. Kasihan sekali lo mpe bengkak gini akibat nangis semalam." Disya bermonolog sambil terus menata dirinya agar lebih perfect di depan cermin.
Setelah dirasa cukup, gadis itu berjalan gontai keluar kamar menuju ruang makan di mana sudah di tunggu keluarganya. Dalam seperkian detik Sky terpesona melihat Disya yang terlihat ceria dan begitu cantik dengan make up tipisnya.
"Sya, sarapan dulu cepet, udah di tungguin Sky," ujar Mama Amy menyeru.
Disya melirik Sky dengan dahi berkerut. Seakan bertanya dalam hatinya. 'Kenapa nggak makan dulu?' Namun itu hanya di ucapkan dalam hati saja, karena Mama Amy sudah menjelaskan bahwa pria itu menunggunya dengan setia.
Disya segera mengisi piring miliknya dengan nasi goreng. Sementara Sky masih diam, laki-laki itu tengah menatap Disya dengan lekat.
"Sya, ambilin punya Sky!" titah Mama Amy yang membuat Disya menatap datar. Namun gadis itu hanya diam dan menuruti keinginan Mama Amy.
"Segini cukup?" tanya Disya begitu mengisi piring Sky dengan nasi goreng.
"Iya." Pria itu mengangguk.
__ADS_1
Disya meletakkannya di hadapan Sky.
"Makasih," ucap Sky tersenyum. Ia merasa senang ternyata kalau di rumahnya Disya bisa lebih manis perlakuannya.
Mereka sarapan dengan khusuk, menikmati nasi goreng buatan Mama Amy memang enak rasanya. Disya pasti akan kangen masakan-masakan Mama Amy pastinya mengingat dirinya sekarang tidak tinggal di rumah ini lagi.
"Non Disya? Ada paket." Bi Tini menyeru ke ruang makan.
"Oiya... dari siapa Bik? Sini coba lihat." Mata Disya langsung berbinar begitu mendapati hadiah dari seseorang yang tersimpan spesial di hatinya.
"Dari siapa Sya?" Pertanyaan yang sama ingin di ajukan juga oleh Sky tapi sudah di wakili Mama Amy.
"Ish... Mama Kepo," jawab Disya lalu memasukkan paket tersebut ke dalam tasnya.
Setelah sarapan mereka langsung berangkat ke kampus bersama. Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk Disya mengingat sekarang baru pukul delapan, sedangkan ia ada kelas pukul sembilan. Disya tidak mempermasalahkan hal itu, ia bisa bercengkrama dulu dengan sahabatnya sebelum kelas di mulai, atau ngehedon di manapun asal asyik baginya.
"Pak, nanti saya turun di halte dekat kampus aja ya?" ujar Disya membuka obrolan ketika mobil Sky sudah berbaur di jalan raya dengan kendaraan lainya.
"Kenapa Sya? Kamu malu punya suami kaya aku?" jawabnya datar.
"Bukan gitu, tapi aneh aja nanti kalau ada orang lihat kita satu mobil berdua. Padahal kan sebelumnya kita tidak saling kenal akrab. Saya tidak ingin menjadi pusat perhatian dan bahan gosip orang lain yang mungkin tak sengaja melihat kita."
"Itu cuma alasan kamu aja kan Sya?"
Oh ya ampun... kenapa Pluto ini tidak ngerti-ngerti sih, kalau gue itu nggak mau orang tahu kita sudah menikah.
"Owh..." Sky hanya ber oh ria dengan rasa kecewa.
Sabarnya harus di banyakin.
"Nanti pulangnya bareng." Pria itu sudah menepikan mobilnya tak jauh dari halte.
"Lihat nanti, Bapak sebaiknya jangan ngikutin jadwal saya. Soalnya habis kelas suka random."
"Saya mau ketemu Rayyan habis dari kampus, kita harus jelasin sama-sama," ucap pria itu tenang.
Sky tak ingin Rayyan terus berharap hubungan dengan istrinya. Sehingga Sky merasa harus segera menjelaskan pada Rayyan secepatnya, sebelum perasaan itu tumbuh semakin dalam dan semakin susah untuk di pisahkan. Mungkin memisahkan dua insan yang saling mencintai itu kejam, tapi Sky tidak ingin sesuatu yang sudah menjadi milik nya di usik orang lain.
Hari ini Sky sebenarnya masih izin cuti, ia tidak sedang ingin mengajar namun karena sudah di kampus mungkin ia akan mengerjakan hal lain.
"Sya!" panggilnya menghentikan Disya yang hendak menarik handle pintu. Gadis itu berbalik dengan muka tanda tanya.
"Apa lagi?" tanya Disya.
__ADS_1
"Kamu nggak ngerasa ada yang kurang?" tanya Sky memastikan.
"Kurang? Apa sih, nggak ada yang tertinggal juga."
"Kamu belum pamit sama aku lho?" ujar pria itu berharap Disya bisa seperti istri pada umumnya yang berpamitan ketika melangkah lebih dulu.
Ribet bener nih hidup.
Disya nampak menghela napas panjang.
"Saya duluan Pak?" pamitnya kemudian.
Sky lantas tak membuka kunci mobilnya sehingga gadis itu masih terkurung di dalam sana.
"Pak buka kuncinya, saya mau keluar!"
"Ada yang kurang, Sya?"
"Apa? Kan tadi udah ngomong."
Sky mendekat dan mencondongkan tubuhnya membuat jarak mereka semakin intens.
cup
Sky menyambar bibir Disya sekilas. "Jangan protes, just a kiss Sya, please..." Sky menatap Disya dengan lekat sebelum akhirnya kembali menyentuh bibir Disya yang ke dua kalinya dengan lebih lama. Disya melotot tak percaya, suaminya itu benar-benar tak mengerti keadaan hatinya yang tidak menginginkannya tapi malah semakin mendekat.
"Ini yang terakhir, saya tidak ingin ada kontak fisik di antara kita," ucap Disya dongkol setelah Sky melepas pagutannya yang sama sekali tidak di respon Disya.
Tidak janji, karena kamu halal bagiku.
Pria itu bergeming, menatap punggung istrinya yang sudah keluar dari mobil dan sedang berjalan menjauh. Kemudian ia mengelus bibirnya sendiri tanpa sadar ia tersenyum. Sampai kapan istrinya akan bersikap jutek dan tidak mau menerimanya entahlah, Sky tidak tahu.
Disya berjalan gontai menuju gerbang utama kampus. Jarak dengan berjalan kaki untuk sampai ke gedung Fakultas Ekonomi masih lumayan jauh tapi ia tetap enjoy dengan hati semangat.
Thin thin
"Sya! Tumben jalan kaki? Ayo naik!" seru Alan yang berhenti tepat di samping Disya.
"Lagi pengen aja," jawab Disya cuek.
Gadis itu langsung mengiyakan, membonceng Alan tanpa penolakan. Hingga tanpa sadar mobil Sky berjalan tepat di belakang motor Alan. Setelah memarkirkan motornya di tempat parkir Disya dan Alan lantas tak langsung memasuki kelas mereka. Mereka berdua berjalan ke arah lain. Kantin yang mereka tuju. Rupanya Alan belum sarapan dan meminta Disya untuk menemani sarapan sebelum masuk kelas.
"Sya! Lo lagi ada masalah sama Rayyan?" tanya Alan kepo.
__ADS_1
"Nggak, eh ada. Ada yang musti gue jelasin sih... tapi gue belum siap sekarang," ujar Disya sendu.
Alan sedang menunggu pesanannya dan lebih memilih obrolan seputar asmara pacar sahabat dari sepupunya.