
Disya berjalan gontai di Koridor kampus. Gadis itu nampak semangat hari ini tidak ada kelas dosen Sky, jadi Disya merasa aman, nyaman, dan damai. Bagaimana tidak, hidupnya jauh dari kata tenang semenjak Disya bertemu dengannya.
Indahnya kuliah kalau tidak ada pria menyebalkan yang membuat Disya susah move on dari kehidupannya. Hidup Disya sebelum kejadian itu cukup tenang, aman, tentram, dan damai. Namun, semenjak mengenal pria itu ia bagaikan senam ritmik setiap hari, darah yang mengalir selalu penuh dengan tekanan dan emosi.
Disya berpikir, lama-lama berada dalam radius yang dekat dengan pria itu bisa membuat hidupnya tekanan dan stress lebih cepat, serta timbul penyakit lainya. Ya mungkin bisa di katakan seperti itu karena setiap pertemuannya membuat gadis itu menahan sesak, rasa sakit dan juga marah.
Biar bagaimana pun Disya menganggap Sky itu brengsek, laki-laki jahat yang tega merenggut mahkotanya dengan cara ilegal. Disya berpikir demikian karena Disya waktu itu setengah sadar dan tidak seharusnya pria itu malah memanfaatkan ketidak sadaran itu untuk memenuhi nafsunya yang bejat.
Disya marah, Disya benci dengan orang yang telah merenggutnya, sesuatu yang ia jaga mati-matian. Itulah mengapa Disya sangat membenci pria itu, ingin sekali melenyapkan dari dunia agar tidak harus bertemu dengannya kembali. Satu kata yang menambah daftar kebenciannya semakin nyata pria itu adalah Dosennya dan sialnya Disya adalah mahasiswa didiknya.
Rasanya belum cukup takdir mempermainkan atas dirinya, Disya harus menerima kenyataan bahwa seseorang yang pernah menjadi partner ranjangnya adalah calon suami kakaknya sendiri. Rasanya dunia ini teramat kejam bagi Disya. Ingin sekali rasanya gadis itu membenturkan kepalanya saja di tembok kampus agar lupa ingatan, dan hanya mengingat kisah tentang Rayyan dan dirinya yang selalu manis.
Thing
Satu pesan yang masuk ke ponsel Disya menginterupsi gadis itu. Gadis itu tengah melamun di kelas seusai materi kuliah berlalu. Sementara teman-temannya seperti biasa tengah sibuk mengisi perutnya di kantin. Setengah malas Disya membuka layar ponselnya, ia melihat pop yang terpampang atas nama Pluto.
[Kamu bisa ambil KTM kamu di Setiabudi Sky Garden, saya tunggu hari ini]~ Pluto.
"What!!" Disya mendelik, rasanya baru beberapa menit yang lalu dirinya merasa hidupnya begitu damai sehari tidak bertemu dengan Pluto, sekarang malah dengan terang-terangan di suruh menemuinya, dan parahnya Sky menyuruh gadis itu datang menemuinya di ... apartemennya.
"Gila ... gila itu orang, Setiabudi Sky Garden itu kan daerah apartemen kak Flora, berarti apartemen itu juga? Nggak! Ogah banget gue datang ke sana lagi, maksudnya apa coba?" omel Disya menggerutu sendiri.
"Tapi gue butuh kartu gue, oh ya ampun ... gimana caranya gue colong tanpa Pluto tahu, ribet bener sih. Kenapa nggak di kampus aja, udah gitu ya seharusnya tinggal di kasihkan sama gue langsung di kampus pas ngajar juga oke, nggak pake ribet tinggal Sya KTM kamu? Udah beres. Lha ini apa? Bikin hidup gue SUSAH.....!!!" gadis itu ngedumel panjang pendek, kesel sama seseorang yang tidak ada di depan matanya.
Brrak
Brak
Brak...!!!
Disya memukul meja frustasi, menendang kursi di sampingnya sampe tidak beraturan untuk mengutarakan kekesalanya dan rasanya ingin ngamuk tapi ya sadar dikit ada CCTV di setiap sudut kampus.
"Allahuakbar...!!! Disya lo?!" pekik Bila kaget melihat kursi di samping Disya berjarak tidak beraturan.
"Apa!? Nggak usah komen, gue lagi pingin makan orang?" sarkas Disya galak.
__ADS_1
"Lo kenapa? PMS?" tanya Bila kepo. Tidak biasanya Disya seagresif ini dalam mengolah emosinya.
"Oke, lo boleh cerita dari sekarang, tapi please ... lo jangan buat onar, lo bisa di giring ke ruang kemahasiswaan kalau lo berisik dan bar bar kaya gini," ujar Bila lembut.
Bila, untung hanya Bila yang melihat Disya memukul meja dengan keras, gadis itu balik dari kantin lebih awal karena sudah selesai makan dan tidak ingin banyak mengobrol.
Huaaaa
Disya akting menangis, gadis itu sungguh bar bar.
"Lo stress, ya ampun ... Disya cantik-cantik stress!" ucap Bila dengan ledekannya.
"Kasihan banget kak Rayyan, punya cewe stress. Hahaha!"
"Bila...!!!"
"Apa beb?"
"Nggak usah sok kalem."
"Setan, gue bunuh lo!" ujar Disya tersenyum devil.
"Ngeri-ngeri sedap, beneran stress."
"Ngomong lagi gue bakalan bikin hidup lo susah!"
"Ya ngomong lah, kan gue masih waras. Lo kenapa sih, bisa cerita kalau ada masalah, lo putus sama Rayyan?"
"Rencana!" ujar Disya santai.
"What!! Fiks ... lo beneran stress, cuma cewe nggak waras yang mutusin dogan."
"Gue ... mau balik, tolong titip absen di jam terakhir."
"Ogah! Bu Emil galak. Ke TU sana minta surat keterangan sendiri, terserah! Bu Emil itu kan suka nggak percaya kalau cuma ngomong."
__ADS_1
"Titip absen, ngomong aja sama PJ makulnya bu Emil gue beneran nggak konsen, please ... kali ini aja."
"Asiap ... 86, pulang gih sana istirahat, tidur terus jangan lupa minum obat," ujar Bila panjang lebar.
"Thanks Bil, pulang dulu. Assalamu'alaikum...!"
"Waalaikum salam..."
Disya pulang ke rumah dengan wajah yang di tekuk. Gadis itu tetap mengucap salam tapi sedikit membanting pintu.
"Allahuakbar...!! kak Flora ngagetin aja," pekik Disya kaget melihat keluarganya ngumpul di ruang keluarga.
"Ini kenapa ya? Kok mukanya pada tegang dan serius?" Disya masih santai.
"Lo pake pelet apa? Lo ganjen, godain calon suami orang di kampus, hah!" marah Flora menyerang Disya tiba-tiba.
"Ra, tahan emosi kamu. Mama nggak suka biar bagaimana pun kita harus denger penjelasan Disya!" ujar Mama Amy melerai. Amar masih stay di kursi dengan santai.
"Kakak ini apa-apaan sih, gue baru pulang langsung di suguhin gini."
"Lo yang apa-apaan!" sarkas Flora emosi.
"Ma, Pa, tolong jelasin kenapa kak Flora marah?"
"Sky membatalkan perjodohannya dengan Flora," ujar Mama Amy hati-hati.
"Terus, hubungannya sama Disya apa?"
"Sky akan melanjutkan perjodohan ini asal menikah denganmu," jelas Pak Amar.
"What!!!" pekik Disya kaget.
"Kenapa lo, nggak usah kaget gitu deh. Lo pasti udah mempengaruhi otak Sky kan? Lo godain dia kan? Kenapa harus Sky Sya ... lo udah punya Rayyan? Pokoknya gue nggak mau tahu lo harus secepatnya nikah sama Rayyan?"
Disya syok untuk yang ke dua kalinya, menikah itu tidak masalah apalagi menikahnya dengan Rayyan, tapi Disya belum sempat mengatakan kejujuran itu dengan Rayyan, please ... Disya perlu waktu.
__ADS_1
"Kakak nggak mau tahu, lo harus nolak lamaran Sky. Lo harus segera menikah dengan Rayyan. Sekalipun lo ngelangkahin gue nggak pa-pa?" ujar Flora berapi-api.