One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 52


__ADS_3

Bumi tidak akan berhenti berputar hanya karena kita sudah tak sejalan. Matahari akan tetap terang memberi kehidupan walau hatinya redup. Semua belahan bumi akan tetap sama, bekerja sesuai alamnya. Tidak ada yang berubah, yang berubah hanyalah waktu yang sudah tidak mengizinkan kita bersama. Walau hati kita menginginkan tapi kenyataannya takdir berkata lain. Sekeras apapun kita berusaha menggenggam, apabila tidak ditakdirkan bersama, ada saja celah untuk berpisah.


Hubungan kita memang sudah berakhir, lebih tepatnya terpaksa berakhir, namun cinta kita, kenangan kita akan tetap terukir.


Sudah tiga hari ini Dokter tampan itu berdiam diri di kamarnya. Ia menjadi pendiam dan penyendiri. Perlahan berubah menjadi sangat dingin. Sudah tidak ada lagi tangis, namun wajahnya masih terlihat mendung.


Makan tidak enak, tidur tidak nyaman, semangat menghilang. Itu yang sedang Rayyan rasakan. Ia tidak begitu peduli dengan sekitar, yang ia tahu masa ini begitu sulit untuk di jalani.


Ia ingin waktu cepat berlalu, agar bisa menggerus, membuyarkan kenangan indah di antara mereka yang pernah ada.


"Disya... pernahkah kamu menyadari, kamu membuat aku terjatuh, melepaskanmu bukan mudah bagiku. Kamu memberiku luka yang begitu dalam, hingga aku lupa bagaimana caranya untuk bangkit dari rasa sakit yang begitu menyayat ini," batin Rayyan menjerit. Seonggok daging yang bernama hati itu terasa begitu nyeri sampai ke relung terdalam.


Rayyan sesekali menyeka air matanya yang masih mampir walau sudah di peringatkan untuk tidak keluar. Waktu terus berlalu tapi tidak dengan hatinya yang masih beku. Sialnya Rayyan tidak bisa membencinya, namanya masih tersimpan rapih di hatinya, masih begitu merindu.


Hari ini ia ingin ke luar rumah, mengunjungi tempat-tempat di mana favorite mereka berdua, mengenang kenangan masa indah itu sebelum akhirnya benar-benar bisa menghapus kenyataan yang ada bahwa mereka sudah mengakhiri semuanya.


"Mah, Rayyan izin keluar sebentar ya?" pamitnya pada sang Mama.


"Kemana sayang, butuh teman untuk mengantar? Biar Mama panggil Alan ya untuk menemani kamu," ujar Bu Wira khawatir.


Putra kesayangan nya itu sedang tidak baik-baik saja tentu seorang ibu menjadi was-was. Tapi memang ada baiknya juga Rayyan pergi menenangkan pikiran, bisa jadi di rumah terus ia bosan dan semakin terpuruk.


"Nggak usah Ma, Rayyan ingin sendiri. Mama jangan khawatir Rayyan baik-baik saja."


Raga pria itu kuat, hanya hatinya yang rapuh. Ia tidak bisa berdiam diri terus di kamar. Yang pertama Rayyan kunjungi adalah cafe favorit mereka.


Kaki pria itu terus melangkah, ia berhenti di sebuah pelataran kafe. "Di sini kita sering hang out bareng Sya, tapi mulai sekarang tempat ini adalah tempat yang paling tidak ingin aku kunjungi." Rayyan bermonolog, lalu kembali melajukan langkahnya.

__ADS_1


Mereka punya banyak kenangan yang indah bersama. Banyak tempat-tempat yang sudah mereka kunjungi menemani masa kebersamaan mereka selama hampir tiga tahun ini bersama.


Pria itu mampir di sebuah mini market, membeli rokok dan beberapa minuman kaleng, setelah melakukan pembayaran, Rayyan kembali melangkah kan kakinya. Hari ini ia akan berpetualang, menutup semua kenangan itu sendirian.


"Kamu paling benci melihat aku merokok Sya, makanya aku berhenti tapi hari ini aku bahkan ingin mencoba lagi, agar engkau datang dan melarangku." Rayyan terus membatin dalam hatinya.


Ia berhenti di sebuah taman, taman ini dekat dengan kampus. Taman ini adalah saksi bisu kenangan mereka, mereka sering menghabiskan waktu berdua, duduk-duduk di bangku taman.


"Sya... dulu... pundak ini sangat favorit untuk sandaran dirimu, kamu begitu nyaman menopang kepalamu di dadaku, tapi sekarang yang tersisa hanyalah kenangan yang terasa memilukan untukku. Aku kuat Sya... aku masih berharap suatu saat nanti kita masih bisa bersama dalam takdir kebaikan, seperti keinginan kita berdua. Menyaksikan anak-anak kita kelak bermain di sana, dan kita duduk di sini berdua mengamatinya penuh cinta dan kasih sayang."


Tes


Detik itu juga Rayyan kembali menangis, tidak bisa menghapus sedikit pun namanya dari hatinya. Malah rindu itu semakin nyata.


"Aku kuat Sya... aku akan mencoba untuk ikhlas walaupun berat," batin Rayyan meneriaki kesakitan pada dirinya.


Pria itu menghisap beberapa rokok, lalu sesekali meneguk minuman kalengnya. Tangannya menyugar rambutnya yang terasa berantakan. Yang membuat pria itu begitu sangat terluka kenapa laki-laki itu adalah Sky, Sahabat nya sendiri. Dirinya bagai di permainkan, terombang-ambing dalam nestapa kehancuran. Marah, kecewa, sakit hati menjadi satu.


"Kamu pengkhianat kawan, seharusnya kita berakhir di ring tinju, atau area boxing, lalu kita sportif memperebutkan cinta kita seperti dulu waktu kita SMA, kenapa kamu selalu menjadi pemenangnya dan aku yang selalu mengalah. Bahkan sekarang kamu bermain curang Ky... kamu jahat, mulai hari ini persahabatan kita sudah berakhir. Kenapa harus kamu Sky... kamu tak lebih dari pria pengkhianat yang memuakan."


Rayyan membuang bekas minum kaleng ke sembarang arah. Ia tidak begitu perhatian dengan sekitar, yang ia tahu suasana taman cukup sepi dan sangat cocok untuk mengutarakan uneg-uneg hati.


Jeduk


Tanpa sengaja kaleng bekas itu mengenai jidat seseorang hingga menimbulkan perih si korban.


"Awww....!!" ringis gadis itu memekik. Memegang pelipisnya yang baru saja bersilaturahmi dengan kaleng bekas.

__ADS_1


"Sialan!" umpat gadis berseragam putih abu-abu itu. Matanya nyalang menyapu di sekitar taman, dan... yap! Matanya menemukan sosok manusia berahklak sembarangan sedang duduk di bangku taman tak jauh dari tempatnya duduk sedang meminum kemasan kaleng yang sama.


Duk


Gadis imut itu kembali melempar kaleng bekas ke si pembuat onar. Beruntung nya tepat mengenai sasaran, betis pria itu kena dan gadis itu sangat yakin itu lumayan keras.


"Awww....!!" pria itu mengaduh lalu mengusap tulang betisnya yang terasa nyeri. Ia berdiri dari duduk dan menemukan gadis berseragam khas SMA itu sedang berdiri di depannya bersilang dada.


"Heh! Bocah. Apa-apaan main lempar ke badan orang, lo nggak punya mata?! Nggak lihat di sini ada orang yang sedang duduk?!" raung Rayyan mengamuk, moodnya sedang hancur di tambah nostalgia nya terusik.


"Om... nggak salah marahin saya, lihat nih..." Gadis itu menunjuk luka pada pelipisnya sendiri.


"Kalau buang sampah jangan sembarangan, saya korban di sini!" ujar gadis itu marah.


"Salah siapa duduk di bebatuan, ya mana gue tahu kalau ada orang," kilahnya tak mau disalahkan.


"Ini taman, buang sampah pada tempatnya, sudah tua tapi tidak tahu aturan," cerocos gadis itu kesal.


"Eh, bocah. Lo ngatain gue? Siapa yang tua?!" Rayyan menyorot tajam gadis di depannya.


Gadis itu tak bergeming, ikut memelototi pria di depannya tanpa gentar sedikit pun.


"Terserah! Emang kenyataannya situ lebih tua kan dari pada saya, seharusnya bisa dong kasih contoh yang baik buat adik-adik, ini apaan, merokok, minuman absurd..." Gadis itu meneliti penampilan Rayyan seketika dahinya berkerut-kerut.


"Menyedihkan..." ejeknya lalu pergi.


"Ya! Aku menyedihkan, kenapa? Pergi sana! Hush hush!!" usir pria itu kesal, namun yang di usir sudah melangkah lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2