
Ke dua pasangan halal itu baru saja menyelesaikan ritual mandi bersejarah. Perdana di kamar mandi, tentu saja itu membuat senyum dari bibir Ausky merekah sepanjang menit. Berbeda dengan Disya yang hanya diam, merasa aneh dan canggung.
Gadis itu merasa malu, suami mesumnya itu berhasil memporak-porandakan tubuhnya hingga tanda merah itu memenuhi hampir di seluruh tubuhnya. Luar biasa!
Disya merasa tubuhnya lelah, di tambah susah untuk melangkah. Seakan rasa itu masih tertinggal di bagian intinya, ngilu dan terasa masih mengganjal.
"Sayang... mau kemana?" tanya Sky demi melihat pergerakan istrinya yang hendak meninggalkan kamar.
"Aku lapar Mas, mau ke dapur, siapa tahu menemukan sesuatu yang bisa dieksekusi," jawabnya datar. Disya berjalan sangat pelan.
"Ya ampun... jalan kamu lucu banget, perlu bantuan nggak?" ledeknya dengan gaya kuat, berjalan dengan bangga di samping Disya.
Disya mendelik kesal, sementara Sky tertawa terbahak-bahak.
"Awas aja Mas, jangan harap aku bakalan kasih lagi," ancam Disya kesal.
"Eh, jangan dong! Becanda sayang... sini... aku gendong ya?" ujarnya menawarkan diri. Tak perlu menunggu persetujuan dari istrinya pria itu langsung menggendongnya, membawa tubuh mungil itu dan mendudukkannya di kursi meja makan.
"Kamu tunggu di sini aja, duduk manis biar Mas yang beraksi," ujar pria itu manis.
Disya memperhatikan gerak-gerik pria itu yang masih setia dengan wajah ceria. Ia duduk dengan anteng mengamati suaminya yang sesekali melirik istrinya genit.
"Nggak ada yang bisa di masak, mie instan doang sama telur, delivery aja gimana? Kamu mau makan apa?"
Tangan pria itu masih sibuk membuka lemari penyimpanan. Ya jelas saja tidak tersedia bahan makanan, la wong mereka sudah lama mengungsi di rumah Bunda.
Disya berjalan mendekati almari, mengambil dua bungkus mie instan dan telur. "Nggak mau, aku mau makan ini aja," ujar gadis itu seraya memposisikan panci ke dalam tungku kompor yang telah di isi air.
"Ih... nggak sehat sayang, kamu kan nggak boleh makan yang instan-instan gitu, masih tahap pemulihan," cegah Sky memberitahu.
"Ish... sekali doang Mas, pengen?" rengeknya.
Sky mencebik, tak bisa berkata apapun selain mengiyakan istrinya yang ngeyelan. Disya mulai mengupas bungkusan mienya lalu memasukannya ke dalam panci yang sudah mendidih. Sementara Sky menyiapkan mangkuk kosong besar.
"Kok cuma satu," tegur gadis itu.
"Semangkuk berdua lebih romantis," jawab pria itu tersenyum.
Disya memutar bola mata jengah. Tangan gadis itu terampil mengangkat mie dari panci dan mulai menyajikan ke dalam mangkuk. Tiba-tiba tangan Disya tersenggol panci panas yang menyebabkan jarinya memerah.
"Aww..." pekiknya merasakan tangannya seperti terbakar.
"Sayang... kamu nggak pa-pa?" Sky nampak khawatir. Pria itu langsung memeriksa tangan Disya dan menyuruhnya tenang.
Sky berlari menuju kotak obat mengambil salep.
"Sya... merah banget, jangan diapa-apain, biar aku kasih obat," ujar suaminya seraya mengipas-ngipasi tangan Disya.
__ADS_1
"Sshhh... panas Mas, perih," desisnya merengek tak karuan.
"Ya ampun... gegara mau makan mie aja sampai celaka kaya gini, makanya kalau suami suruh diem aja ya diem, tinggal delivery makanan yang mau di makan malah suka repot," keluhnya kesal.
"Ya udah nggak usah marah, orang aku juga yang kena," sela gadis itu sewot.
"Kok ngambek, aku khawatir sayang jangan salah mengartikan, ya udah dimakan sini aku suapin, jangan manyun gitu katanya lapar." Sky mengambil mangkuk berisi mie tersebut dan menyuapi istrinya.
"Aku mau makan sendiri," selanya mrengut.
Mereka makan dalam diam, satu mangkuk besar untuk berdua. Sky tengah menyuapi dirinya dengan Disya mengikuti jejaknya. Namun, panjang mie yang saling bertautan terhubung antara mulut Disya dan juga Sky. Mereka terdiam untuk beberapa saat, detik berikutnya sama-sama memasukkan mie tersebut ke dalam mulutnya sampai tak berujung, karena berakhir bibir mereka yang bertemu, terjadilah silaturahmi bibir ke duanya.
Sky tersenyum senang, mereka manis sekali. Hal-hal yang tak terduga pun membawanya pada keromantisan yang haqiqi. Selesai makan, Disya memberesksn meja makan dan dapur usai masak. Perempuan itu tengah mencuci perkakas dan mangkuk sisa pakai, ketika tiba-tiba pria itu langsung mengendus dari belakang.
Tangan Sky tertuju pada keran untuk mencuci tangannya, ia sengaja menghimpit Disya yang tengah sibuk dengan busa sabun. Dadanya yang keras menekan punggung istrinya, langsung aura mint begitu terasa di sekitar wajahnya. Sapuan hangat itu mengendus di pipi Disya, hingga membuat empunya merona.
"Mas... jauhan ah, lihat nih bulu kudukku berdiri semua," protes Disya memperlihatkan lengannya.
"Tegang ya? Main lagi yuk..." bisiknya tanpa dosa.
Disya menatap dari samping dengan wajah di tekuk.
"Apa? Nggak boleh protes! Habis ini aku mau lagi," ujar pria itu terkekeh tanpa dosa.
Sky berkedip beberapa kali saat tangan Disya yang basah ia raupkan ke muka suaminya, "Yang benar saja Mas, masih sakit!" protes Disya kesal.
"Nakal banget kamu," ujar pria itu berusaha mencium-cium Disya dengan gemas.
"Ih... nggak mau, Mas nggak mau," kilahnya terus menghindari wajah Sky yang maju-maju.
Mereka terkekeh bersama, detik berikutnya pria itu langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar.
"Weekend enaknya kemana Sya?" Sky tengah menyusun agenda.
"Belum ada planing, temen-temen sih pada jalan ke puncak, emang aku boleh ikut?"
"Nggak boleh, terkecuali sama aku," jawab pria itu tegas.
"Jawabannya sudah bisa aku tebak, cukup di rumah aja," pasrah gadis itu terdiam.
"Setelah resepsi pernikahan, kita honeymoon ya? Terserah kamu mau kemana, kita ambil cuti. Aku pingin di rahim kamu cepat tumbuh benih cinta kita," kata pria itu seraya mengelus perut istrinya.
"Kamu pingin banget punya anak ya Mas, bisa nggak kalau punya anaknya di tunda dulu sampai aku lulus," ujar gadis itu berharap.
"Jangan menunda sesuatu yang baik, sedikasihnya sama yang di Atas saja," jelas Sky lembut.
"Bahagia itu kan nggak melulu soal anak kan Mas, kita nikmati dulu masa-masa berdua, kita bahkan tidak pacaran lho Mas."
__ADS_1
"Ini kan lagi pacaran, lebih syahdu pacaran setelah menikah. Bisa bebas ngapain aja tanpa takut dosa, malah menjadi pahala. Makanya di sarankan kita mulai lagi, yuk..." Sky menaik turunkan alisnya.
"Ish... mesum terus, masih panas, ngilu juga, besok ya... please...!" mohonnya meminta pengertian.
"Aku bakalan pelan-pelan, janji! Aku udah puasa lama, saatnya berbuka dengan yang memuaskan," ujar pria itu mencari alasan.
"Kan tadi udah, capek Mas...!"
"Aku pijetin deh... sekali lagi ya, please... aku masih haus, pingin nyusu," rengeknya manja mulai memposisikan diri sejengkal lebih dekat.
"Ih... mulut mu Mas!" tegurnya kikuk.
"Emang bener kok, pengen lagi. Coba pegang punya aku udah tegang," ujar pria itu mengambil tangan Disya.
"Nggak mau, ikh..." Disya menarik tangannya yang Sky arahkan.
"Pegang aja, kaya tadi. Biar makin akrab."
"Ngomong apa sih Mas, diem!"
"Mau lagi baru diem, janji!" nego pria itu.
Tiba-tiba ponsel Disya berdering, nampak id caller dengan nomor yang tidak di kenal.
Disya melihat sekilas, namun karena tidak ada nama di kontaknya gadis itu pun membiarkan saja.
"Siapa Sya?" kepo Sky.
"Nggak tahu, nomor baru." Disya membiarkan saja, namun detik berikutnya kembali berdering.
"Angkat Sya, siapa tahu penting," titah suaminya yang merasa sumpek mendengar pekikan ponsel istrinya.
Disya hendak mengangkat panggilan tersebut namun keburu mati. "Mati Mas, lagian siapa sih malam-malam gini telfon orang," dumel Disya sambil meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.
Baru saja ponsel itu tergeletak, ponsel Disya kembali berkerlip, kali ini notifikasi sebuah pesan masuk. Disya langsung membukanya di bawah pandangan suaminya yang tengah menatapnya dengan rasa ingin tahu.
[Ky, angkat dong telfon gue. Ini Mona]~Mona
Speechless...! Muka Disya langsung berubah menjadi muram. "Dasar, calon pelakor!" gumamnya kesal.
Sky yang mendengar gerutuan istrinya pun mengeryit bingung.
"Kesal sama siapa sih, siapa yang kirim pesan?" tanyanya bertambah bingung melihat istrinya yang berbalas pesan dengan mimik wajah yang aneh. Kadang tersenyum, kadang mengomel membuat Sky yang melihatnya pun tidak tahan untuk tidak mendekat.
"Siapa Sya?" Sky mencoba mengintip
"Ish... kepo banget, orang salah sambung, lagi aku jelasin biar nggak salah kamar, eh salah kirim maksud aku," jelas Disya tertawa kecil merasa puas mengerjai Mona.
__ADS_1
Syukurin, salah siapa genit sama laki orang!