One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 102


__ADS_3

"Maaf, Sya? Aku bekerja sendiri. Aku nggak bisa tahan kalau kamu menggodaku kaya tadi, jangan marah ya..." ucap pria itu seraya menyambar bibir istrinya kembali. Lalu mengecup kening Disya lama.


Disya hanya termangu sesaat, terus nyengir tanpa dosa. "Ih... cowo emang gitu ya? Bisa langsung.... padahal kita cuma ciuman doang," kata Disya sedikit tidak percaya.


Ngeri bener...!!!


"Enggak lah, cuma sama istrinya doang, dan ini cuma berlaku kalau lagi benar-benar pengen, cowo kan butuh pelepasan sayang," jawab Sky santai.


"Kamu menakutkan Mas? Sumpah, ngambek serem, giliran nggak sewot mesum," protes Disya.


"Biarin lah, kan halal. Dapat bonus pahala juga mesumin istri, dari pada nambah dosa deket-deketan sama yang bukan muhrim," jelas Sky sambil bangkit dari kasur dan menuju kamar mandi.


Setelah mandi malam, Sky kembali merangkak ke atas kasur dan membawa istrinya kedalam pelukan.


Gadis itu menurut, ia menempel sempurna di dada suaminya. "Sya...? Kamu belum ngantuk? Masih ada yang sakit?"


"Belum, udah nggak. Kakiku masih rada sakit, tapi udah kering kok," jelas Disya sambil merem. Menikmati wangi di tubuh suaminya yang terasa mendamaikan.


"Mas... kamu udah nggak marah sama aku?"


"Masih," jawab Sky pelan.


Disya mengendurkan pelukannya, sedikit mendongak menatap wajah suaminya yang tengah menatapnya juga. Jarak mereka yang sangat dekat memberi kesempatan pria itu untuk semakin leluasa menyentuh bibirnya. Dengan gerakan perlahan, dan luwes, Sky kembali menyentuh gadis itu dengan lembut, membasahi bibir istrinya yang terasa dingin, merasakan manisnya sesuatu yang kenyal dan membuat ia ketagihan.


Disya melepas lebih dulu, sedikit kesal dan manyun. "Katanya masih marah, kok doyan banget mesum," protes gadis itu kesal. Tangannya membuat pukulan kecil pada dada bidang suaminya.


"Sekarang udah nggak, tapi kalau kamu manyun dan berulah, aku marah lagi," jawab pria itu tersenyum. Laki-laki itu kembali ingin menyentuh bibir istrinya namun kali ini Disya menghindar.


"Apa si Sya? Manis tahu, aku suka?" ucap pria itu seraya merangkum pipi Disya.


"Nggak mau, nanti kamu on lagi," kilahnya mencoba menghindar.


"Kamu sih, ngegemesin bikin aku candu, setelah resepsi kita honeymoon ya Sya?" pintanya tersenyum.


"Emang jadi?"


"Jadi lah, di undur sampai kamu pulih, sehat dan bisa siap produksi," jawab pria itu mengerling.


"Aku kira nggak jadi, harus banget gitu ya bikin resepsi, udah sah juga," ujarnya datar.


"Harus lah... biar semua orang tahu, kalau kita sudah menikah dan kamu istriku," jawab Sky bangga.


Disya terdiam sesaat, kembali tersenyum dengan perasaan yang entah. Ada apa dengan hatimu Dis??


"Kamu kenapa? Nggak suka kalau semua orang tahu kita sudah menikah?"

__ADS_1


"Nggak gitu, aku cuma ngerasa itu nggak perlu, yang penting kan kita udah menikah, hidup bahagia," jawab Disya ambigu.


Sky menangkap mimik wajah yang berbeda dari istrinya, Disya terlihat galau, terlebih seakan menutupi pernikahan mereka. Pria itu cukup mengerti, hanya saja apa yang salah kalau ia justru bahagia mempublikasikan semuanya.


"Sya... kalau kamu keberatan pesta yang meriah seperti keinginan orang tua kita, nggak usah mengadakan pesta besar-besaran. Tapi setidaknya kita undang teman-teman kita, saudara, sanak kerabat, dan sahabat saja, cukup kan yang penting udah ngadain syukuran, supaya orang tua kita tidak kecewa. Mengingat pernikahan kita kemarin kan cuma di hadiri segelintir kerabat saja, itupun dadakan dan kita tidak punya foto prewedding," jelas Sky panjang lebar.


"Siapa suruh dadakan, kamu orang paling menyebalkan dan paling aku benci waktu itu, sumpah aku kesel banget," curhatnya mengingat tempo lalu.


"Kalau nggak di gituin, kamunya nolak mulu, bikin aku gemes. Padahal orang tua kita udah jodohin dan setuju," ujar Sky membela diri.


"Kamu nyebelin Mas, sumpah! Nyebelin... banget. Nilai UTS aku gimana? Bagus nggak?" Tiba-tiba Disya kepikiran dengan hasil ujiannya.


"Lumayan, nggak malu-maluin lah jadi istri Dosen," jawab Sky cuek.


"Ish... nggak jelas banget, tapi nggak remidi kan? Awas aja kalau nilai aku jelek, aku udah belajar mati-matian."


"Nggak sayang.... udah, tidur," titahnya seraya mencupit gemas hidung Disya.


Gadis itu bergeming, sama-sama terbaring miring saling berhadapan. Netra mereka bertemu, menatap intens dengan sedikit senyuman mengulas di sudut bibirnya. Perlahan mata lentik itu berkedip pelan, lalu menutup sempurna. Gadis itu terlelap di bawah pandangan suaminya. Benar-benar imut.


"Selamat beristirahat sayang...," gumam pria itu sambil mengelus pipi Disya.


Kamu ngegemesin banget sih... makin cinta deh aku kalau hobby kamu seagresif itu. Sky tersenyum sendiri mengingat kejadian itu.


Keesokan paginya, Disya terjaga dan menemukan suaminya sudah tidak berada di sisi kasur. Pria itu sepertinya tengah mandi sebab bilik kamar mandi terdengar gemericik air yang mengalir, Disya bangun merasakan sedikit pening dan terasa berat kepalanya. Entahlah, gadis itu kembali duduk di bibir ranjang sambil menunggu Sky selesai dari kamar mandi.


"Sya, kenapa? Ada yang sakit?" tanya pria itu khawatir.


Sky langsung menghampiri istrinya, begitu keluar kamar mandi menemukan istrinya memegangi kepalanya. Sky duduk berjongkok di depan Disya.


"Pusing Mas," keluh Disya seraya memijit pelipisnya.


"Udah, istirahat saja," ujar Sky kembali membimbing istrinya untuk rebahan kembali.


"Aku pingin mandi, gerah, becek, nggak nyaman," jawab Disya masih setia memijit pelipisnya, berat pening di kepalanya berangsur menghilang.


"Nggak usah mandi dulu nggak pa-pa kalau masih sakit," ujar pria itu perhatian.


"Sya... kamu...?" Sky meneliti sprei yang baru saja Disya duduki.


"Apa Mas?" tanya gadis itu menyipitkan matanya.


"Darah? Masih keluar banyak ya?"


Disya ikut meneliti, lalu menggeser piyamannya sendiri.

__ADS_1


"Enggak kok, biasa aja. Sorry Mas tembus," jawabnya malu dengan pipi merona.


"Nggak pa-pa, masih sakit atau nyeri lagi?" tanyanya khawatir.


"Nggak Mas, aku kamar mandi dulu deh?" ucap Disya berlalu begitu saja.


Sementara Disya ke kamar mandi, Sky ganti baju, lalu mengganti bad cover di kamarnya dengan yang baru. Setelahnya membawa keluar dan menaruh di tempat laundry.


Disya yang baru saja keluar kamar mandi pun, merasakan suasana kamar yang telah rapi kembali dengan aroma apple green yang menentramkan.


Gadis itu duduk di depan meja rias, mengamati pantulan dirinya yang sedikit tak terurus, lama tidak memperhatikan wajahnya menyebabkan timbul jerawat di bagian dagunya.


Sky kembali ke kamar dan mendapati istrinya yang sudah cantik dengan make up tipis di wajahnya, perempuan itu tersenyum, terlihat lebih segar setelah dua hari cuti mandi.


Sky mendekat, merangkum bahu istrinya dari belakang. Mengendus tengkuk Disya yang terasa wangi.


"Cantik banget sih sayang... bikin aku malas buat keluar rumah," puji suaminya seraya menciumi tengkuk Disya.


"Cantik dari lahir, baru tahu ya Pak?" jawabnya sombong.


"Iya, baru tahu, ada bidadari secantik ini di rumah Bunda," jawab pria itu terkekeh.


"Mas, jangan di hisap dong... ich... nakal banget, bekas nih..." gerutunya kesal, sebab Sky masih bergelayut manja di pundaknya dan sengaja membuat leher jenjang itu memerah.


"Dikitttt doang, buat moodbooster pagi ku," kilahnya nyengir.


"Mas, nanti Mama kan Mau kesini, terus kalau misal nanti aku ikut, untuk sementara aku tinggal di rumah mama dulu boleh nggak? Aku kalau di rumah nggak ngapa-ngapain gini, berasa gimana ya?" ujar Disya berbicara sehati-hati mungkin.


"Nggak enak sama Bunda? Orang malah Bunda yang nyuruh kita tinggal di sini dulu kok, jadi nggak usah sungkan, kalau butuh apa-apa aku nggak di rumah, bisa minta tolong mbok Nah," jelas Sky memberi pengertian.


Disya tersenyum menanggapi jawaban Sky, ia tahu mertuanya itu sangat baik, tapi Disya kadang merasa tidak enak saja.


"Sayang, nanti agak siangan aku mau ke kampus, nggak pa-pa kan, aku tinggal sebentar? Mau aku bawain apa pulangnya?"


"Lagi nggak pengen makan apapun, Mas," jawab Disya jujur.


"Mas, boleh nggak, kalau semi...."


Cup


Sky langsung membungkam mulut Disya dengan kecupan singkat di bibirnya. Tak ingin berdebat untuk paginya yang manis.


Sky hanya menanggapi datar, tanpa sepatah katapun. Pria itu bangkit dari duduknya, tangannya mengacak rambut istrinya lembut.


"Ayo turun ke bawah, udah di tungguin Bunda sarapan!" ajak pria itu mencoba mengalihkan suasana.

__ADS_1


__ADS_2