One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 104


__ADS_3

Disya baru menyadari mengapa dirinya tidak boleh keluar kamar. Tak pernah gadis itu sangka, Rayyan ada di rumah mertuanya sebagai tamunya Bintang. Sebisa mungkin Disya bersikap biasa saja, gadis itu tidak berani menatap pria itu.


Sky terus menyorot tajam ke arah Rayyan yang menatap istrinya lekat. Rasanya gondok, benar-benar ingin mencongkel mata pria itu. Sky melirik Disya yang hanya menundukkan kepalanya.


Suasana meja makan mendadak mencekam saat netra Sky dan juga Rayyan bertemu, saling melirik sengit, kemudian sok kalem dan ramah. Ke duanya sama-sama membangun sandiwara yang epik di meja makan.


"Sayang... Rayyan ini sudah lama banget kan ya nggak main kesini," ucap Bunda Yuki mencairkan suasana.


"Iya tante, dulu mah sering ya waktu SMA. Sky nya kabur ke London sih, jadi nggak bisa main lagi," seloroh Rayyan tenang.


"Ayo, silahkan nak Ray, ambil nasinya." Yuki mempersilahkan tamu dari anak nya itu yang ternyata malah tamu spesialnya Bintang.


Disya mengisi piring suaminya terlebih dahulu baru kemudian mengisi piringnya sendiri. Gadis itu bersikap sewajarnya saja, walaupun sebenarnya hatinya tidak biasa-biasa. Ia sangat paham, Sky dengan jelas menaruh rasa kesal.


Makan siang berlangsung dengan hikmad, sesekali mereka melempar obrolan, terkecuali Disya dan Sky tentunya yang hanya diam.


"Punya kamu kayaknya lebih enak, mau dong...?" pinta Sky manja, membuka mulutnya dan dengan refleks Disya menyuapi suaminya.


"Kamu juga harus coba punya aku, di suapin pasangan halal itu rasanya lebih enak, coba sayang...?" Sky balik menyuapi Disya.


"Sayang... makan yang banyak, biar cepet pulih. Katanya mau cepet program lagi," ucap Sky pamer. Pria itu sengaja memberi perhatian lebih dengan mengelap bibir Disya menggunakan tisu yang baru ia ambil.


Disya cukup canggung diperlakukan demikian, namun tentu saja ia mengabaikan rasa itu demi melihat suaminya senang, tak ingin membuat pria itu mengamuk lagi dan cemburu buta.


Bunda Yuki dan Asher saling melirik senang, anaknya terlihat harmonis dan bahagia.


"Idih... romantis banget kak," cibir Bintang.


"Eh, aku romantis sepanjang masa ya," sanggah pria itu cepat.


"Iya kan sayang?" tanyanya tersenyum manis sambil membelai pipi Disya.


"I-iya... kamu suami yang romantis Mas," jawab Disya nurut, tak ingin membuat pria itu salah paham dan ngamuk lagi.


Rayyan menatap sengit kearah Sky yang sok romantis itu. Hatinya masih begitu panas melihat adegan live mantan kekasihnya.

__ADS_1


Seharusnya aku yang duduk di sampingmu Disya, sungguh aku tak rela melihatmu bahagia bersama Sky, kalian bahagia di atas penderitaanku.


Batin Rayyan terasa sesak, melihat kemesraan Sky dan Disya. Namun ia tak boleh salah langkah, tujuannya ke rumah ini adalah untuk Bintang, si gadis bar-bar yang menggemaskan. Sayang, ia masih SMA terlalu kecil dan kurang menarik.


Makan siang selesai, Disya langsung kembali ke kamar atas intruksi suaminya. Sementara Rayyan, pamit undur diri karena harus ke rumah sakit.


"Pulang dulu tante, terimakasih atas jamuannya?" pamit Rayyan sopan, menyalami Bunda Yuki dan Asher.


"Makasih udah jenguk anak tante, sering-sering saja main kesini, kalian kan sahabatan, emang nggak pingin nostalgiaan," seloroh Yuki tersenyum.


"Dengan senang hati tante," ucap pria itu sungkan.


"Dokter itu sibuk Bun, pasti nggak bisa lah kalau sering-sering main," ucap Sky datar.


"Hati-hati kak, semangat lanjutin kerja," seloroh Bintang.


Rayyan mengangguk, sedikit terharu dengan sambutan gadis itu, sayangnya Bintang adalah adik dari seorang mantan sahabat yang sekarang menjadi musuh nomor satu. Orang yang sangat Rayyan benci.


Bintang dan Bunda Yuki mengantar Rayyan sampai teras depan, berbeda dengan Sky yang mendekat maju menuju pintu mobil Rayyan.


"Sayangnya gue suka yang masih unyu, polos, sepertinya enak di buat mainan," bisik Rayyan lirih.


"Jangan pernah berfikir untuk mendekati Bintang, atau kamu akan menyesal karena berurusan dengan gue," sarkas Sky sengit.


"Lo sendiri yang menabuh genderang perang, jangan salahkan gue kalau meladeni perseteruan ini."


"Brengsek! Mau lo apa?!" umpat Sky menekankan suaranya, tak ingin obrolan mereka terdengar oleh Bunda yang masih menatapnya dari kejauhan.


Rayyan terkekeh, ia menatap Sky serius lalu berkata dengan mantap, "Disya! Kembalikan cewe gue, cerain dia, atau kamu akan gue buat menyesal. Asal lo tahu, kita berdua masih saling mencintai," ucap Rayyan serius.


"Pada kenyataannya cinta itu tetap akan kalah sama yang sah dan selalu ada, jadi jangan pernah bermimpi!" ucap Sky tak kalah tegas.


Sky berlalu meninggalkan Rayyan yang terlihat menahan amarah setengah mati. Seandainya itu tidak di halaman rumah pria itu dan di bawah pandangan tante Yuki dan Bintang sudah pasti mereka adu duel seasons yang ke sekian.


Sepeninggalan Rayyan, Sky langsung menghadap Bintang. Sementara Bunda sendiri langsung masuk ke rumah dan beristirahat di kamarnya. Asher kembali lagi ke kantor, sementara Sky menemui adiknya di kamar. Ia merasa khawatir tentang perkataan Rayyan beberapa menit lalu. Sudah jelas ia masih mencintai Disya, tapi mendekati Bintang, apa namannya kalau tidak mempermainkan perasaan orang.

__ADS_1


"Kamu benar-benar mengabaikan nasihat aku dek, udah kakak bilang, jangan berhubungan sama Rayyan, kenapa kamu malah mengundangnya ke rumah?" nasihat Sky tegas.


"Kakak ini apaan sih, orang Bunda dan Ayah saja tidak keberatan, kak Ray udah minta izin sama Ayah untuk berteman dengan baik sama aku," ujar gadis itu tenang.


Sky kenal Rayyan itu pria yang baik, tapi sayangnya itu dulu sebelum mereka berseteru. Sekarang Sky merasa, mantan sahabatnya itu sedang menyusun sesuatu, sedang ia tidak bisa membuktikan itu sama keluarganya, apalagi Rayyan cukup di kenal baik sama Bunda dan Ayah.


"Kamu masih kecil untuk dekat dengan seorang pria dewasa, fokus aja sekolah, jangan mikir yang macem-macem. Rayyan sama sekali tidak cocok untuk mu?"


Sky tahu betul walaupun adiknya hobby main dan kluyuran, tapi soal pacaran masih nol besar, Bintang masih polos. Tentu saja Sky khawatir Rayyan memanfaatkan hal itu.


"Kakak ini apaan sih, orang kita cuma berteman, nggak usah cerewet deh, aku tahu batasan dalam pergaulan," jawab gadis itu cuek, merasa kakaknya terlalu posesif dan berlebihan.


"Kakak nggak mau tahu, pokoknya jangan berhubungan lagi dengan Rayyan dalam bentuk apapun, dia sudah mempunyai calon istri," ucap Sky tegas. Sedikit berbohong agar Bintang tidak berfikir untuk lebih dekat, atau bahkan menghindarinya kalau pria itu mencoba mendekat.


Seketika mimik wajah Bintang berubah, antara kecewa dan juga sedih. Sangat terlihat bahwa adiknya itu menaruh hati pada Rivalnya itu.


"Kakak tahu dari mana?" tanya Bintang ragu.


"Tahu lah, kan aku sahabatnya, jadi kakak sangat tahu mana yang terbaik untuk mu."


"Tenang aja kak, aku hanya berteman karena dia baik," jawab Bintang pada akhirnya. Hatinya sedikit keccewa mendengarkan perkataan Sky tentang Rayyan.


Sky keluar dari kamar Bintang sedikit lega, setidaknya jangan sampai mereka terlalu dekat apalagi menjalin sebuah hubungan, Sky tidak akan rela adik kesayangannya terluka.


Selepas dari kamar Bintang, Sky langsung menuju kamarnya sendiri. Menemukan istrinya yang sedang berbaring santai, tengkurep di ranjang empuknya dengan ponsel menyala di genggaman. Gadis itu tengah menonton drakor untuk mengisi rasa bosannya.


Sky langsung mendekat, ikut merangkak ke atas kasur dan menindihnya. Perut kerasnya menindih punggung Disya, dengan ke dua siku sebagai tumpuan. Pria itu sengaja mengendus pipi Disya dari samping, kemudian mengecupinya dengan gemas.


"Mas... berat ih... minggir," omel Disya merasa terganggu.


Pria itu bergeming, menatap dari samping wajah ayu istrinya yang terlihat merona. Ia semakin gemas saja, berdua mengurungnya di kamar benar-benar membuat pria itu gerah.


Disya juga tidak membahas apapun tentang kedatangan Rayyan, otomatis pria itu tak harus mengungkit apalagi mencoba mengingatkan perihal tadi di meja makan.


"Kamu kenapa lihatin aku kaya gitu Mas?" tanya Disya melirik suaminya yang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Pengen...!"


__ADS_2