
Nggak bisa ngomong, diam, dia yang nyanyi tapi berasa dia yang melempar bambu runcing di hati Sky, satu kata nyesek. Emang salah sih, karena cinta memang tidak bisa di paksakan, tapi kalau sudah begini, semua pun menjadi sakit.
Pria itu menatap dingin ke arah istrinya yang tengah duduk di antara dua sekawan. Tatapan mata elang yang begitu mencekam, membuat bulu kuduk Disya merinding seketika.
"Mmm... gue ke tenda duluan deh ya? Ngantuk," ujar Disya gugup. Disya merasakan hawa-hawa yang tak biasa lewat mata pria itu.
Apa yang salah sih, toh gue cuma nyanyiin lagu. Kenapa hobby banget lihatin gue sampe segitunya. Giliran sama Bu Mega cekikikan, dasar pria!!!.
"Eh bentar, baru pukul sebelas, nggak seru ah, lagi rame ini," jawab Bila menyayangkan. Disya pun kembali duduk dan memilih memainkan ponselnya.
[Gimana perasaan kamu setelah mencurahkan isi hatimu pada dunia, bahagia, puas, senang, selamat Sya, sekali lagi kamu berhasil membuat seseorang sakit hati atas pengakuan dirimu.]~ Pluto
Satu pesan dari Sky cukup menohok di hati Disya, semua yang ia lakukan selalu salah, tanpa mau memahami perasaan hatinya.
"Andai engkau tahu Mas, susahnya jadi diriku. Demi Allah aku sedang berusaha, untuk bisa memahami perasaan mu, mencoba mengukir namamu di hatiku agar perasaan ini tak sakit lagi mengingat dia. Tapi sayangnya kamu tak pernah mengerti, karena semua yang aku ungkapan membuat mu terluka dan tanpa sadar membuatmu sakit." Disya bermonolog.
Tap tap
Tatapan mereka kembali bertemu, tatapan mata elang yang bertemu dengan tatapan sendu milik Disya.
Tes
Tak terasa buliran bening itu menetes di pipi Disya, hingga membuat laki-laki itu menatap dengan penuh luka. Ada perasaan marah, kecewa, benci dan rindu, serta cinta yang begitu besar.
Kamu begitu mencintainya Sya, tapi aku begitu mencintaimu. Ini kah yang di namakan cinta bertepuk sebelah tangan, tak terbalas, dan sakit.
Sementara semua anak-anak nampak riuh rendah menikmati acara malam ini dengan santai dan ceria. Semakin larut acara semakin ramai. Namun tidak untuk Disya dan juga Sky, ke duanya bahkan tenggelam ke dalam pikirannya masing-masing.
"Gue duluan ya, udara malamnya dingin banget," keluh Disya seraya berdiri dari yang sebelumnya duduk di rerumputan.
Disya tengah berdiri dan bersiap beranjak ketika seseorang yang di depan sana nampak menarik atensi semua orang yang hadir, pria itu tengah memainkan petikan gitar.
"Sya, Sya? Laki lo Sya, dia lagi intro," pekik Hanum girang.
"Malam semua... lagu ini aku persembahan buat tulang rusuk ku di singgah sana, semoga dia dengar ya?" ujarnya seraya memulai memetik gitarnya.
Sontak suara tepuk tangan semakin meriah dan memenuhi area lapangan. Disya yang tadinya ingin pergi pun nampak berdiri termangu menatap pria yang juga tengah menatapnya di depan sana.
Pujaan hati apa kabarmu
Ku harap kau baik-baik saja
__ADS_1
Pujaan hati, andai kau tahu
Ku sangat mencintai dirimu
Hei pujaan hati setiap malam
Aku berdoa kepada sang Tuhan
Berharap cintaku jadi kenyataan
Agar ku tenang meniti kehidupan
Hai pujaan hati, pujaan hati.....
Mengapa kau tak membalas cintaku
Mengapa engkau abaikan rasaku
Ataukah mungkin hatimu membeku
Hingga kau tak pernah peduli kan aku
Cobalah mengerti keadaan ku
Ku ingin engkau menjadi milikku
Lengkapi jalan cerita hidupku.
...(Kangen band_Pujaan hati)...
"Dogan kece banget sih? Gue mau dong di nyanyiin kaya dia."
"Uluh... so sweet banget sih Pak, meleleh nih hati adek," Bila emang paling gaje.
***
Praktis semenjak semalam Disya maupun Sky ke duanya tidak bisa tidur dengan tenang. Tidak saling menyapa dalam bentuk pesan atau berkabar lewat udara. Semuanya seolah diam tanpa mengenal satu sama lain.
Semua anak-anak tengah berkemas pulang, satu persatu mulai masuk ke dalam bus yang akan membawa mereka pulang ke Jakarta. Seperti halnya waktu berangkat Disya memilih naik paling akhir agar tidak berdesakan.
Bus nampak sudah penuh dan tersisa paling depan, namun kali ini Sky terlihat sudah duduk di samping Bu Mega dengan anteng. Pria itu bersender di jok sambil memejamkan matanya. Disya duduk di sebelahnya tapi dengan jok yang berbeda. Tepat segaris dengan Sky.
__ADS_1
Bus mulai melaju dengan kecepatan sedang, Disya lebih memilih menatap ke arah luar jendela kaca sambil mendengarkan musik. Gadis itu duduk seorang diri, bahkan Sky terlihat diam dan cuek duduk si sebelah Disya. Laki-laki itu sebenarnya nge tag kursi untuk Disya, namun keduluan Bu Mega yang masuk ke dalam.
Setengah perjalanan nampak terjadi kemacetan di jalan, suasana weekend yang membuat arus lalu lintas padat merayap di jalan kota Bogor menuju Jakarta atau sebaliknya.
Sky melirik gadis yang duduk di sebelahnya, gadis itu sama sekali tidak terusik dengan hawa panas dan jalanan yang macet, ia bahkan tertidur dengan nyenyak dengan earphones terpasang di dua telinganya. Pria itu lantas tak tahan untuk tidak mendekat, Sky berpindah tempat duduk. Tentu saja itu membuat Bu Mega curiga, ada apa dengan rekannya yang nampak memperlakukan spesial terhadap mahasiswinya itu, terlebih ketika tangan Sky membenarkan posisi tidur Disya agar bersandar di bahunya, jelas itu sangat tak biasa.
Selama perjalanan pulang Disya benar-benar tertidur pulas, semalam gadis itu nyaris tidak bisa tidur dan mobil pun menjadi ajang balas dendam. Gadis itu baru terbangun ketika Bus yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman kampus.
Disya menyipitkan mata, ia terkesiap begitu mendapati dirinya bersandar di pundak Sky. Dengan segera gadis itu menormalkan tubuhnya.
"Kamu tunggu di parkiran, mobil saya tinggal di sana, saya ke ruangan saya sebentar," ujar Sky.
"Ikut aja, entar Bapak lama," jawabnya lesu.
"Cuma ambil kontak mobil doang," kata pria itu datar dan berjalan cepat meninggalkan Disya.
Cukup kilat pria itu kembali, mereka sekarang sudah berada di mobil Sky dan sedang perjalanan menuju rumah.
"Kok pulang kesini?" tanyanya memastikan.
"Bunda yang nyuruh," jawab Sky dingin.
Semenjak semalam pria itu irit bicara dan seolah enggan mengobrol kecuali yang penting saja. Cukup sepuluh menit perjalanan dari kampus ke rumah Bunda Yuki. Disya sama sekali tidak masalah pulang ke rumah martuanya, cuma ia hanya sedang lelah dan butuh istirahat, akan sangat canggung untuk dirinya apabila di rumah itu.
Setelah sampai kamar, Disya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Disya mandi Sky bersantai sejenak untuk menunggu giliran kamar mandi. Disya menyelesaikan mandi dengan cepat, ingin segera merebahkan tubuhnya ke tempat ternyaman yaitu kasur. Gadis itu kembali terlelap benar-benar cape dan mengantuk.
Sky ke luar dari kamar mandi dan mendapati istrinya sudah terlelap di ranjangnya yang besar, gadis itu masih menggunakan bathrobe dan belum menyisir rambutnya.
Sky terdiam, memperhatikan muka istrinya yang terlelap damai, tangannya terulur merapikan anak rambut yang menghalangi mata, pria itu mengendus pipi Disya dengan perlahan. Kangen tapi tidak bisa menyampaikan, rindu tapi tidak bisa menyalurkan.
Sky menyelimuti Disya, perlahan pria itu ikut berbaring di dekatnya dan memeluk gadis itu dengan erat. Entah berapa jam ke duanya tertidur, begitu Disya bangun mendapati suaminya yang masih terlelap memeluk dirinya. Pria itu masih bertelanjang dada, sontak membuat mata Disya membulat sempurna dan langsung menjerit kaget.
Sky yang kaget dengan pekikan Disya, langsung terbangun. Bukanya menyingkir atau marah pria itu malah menyumpal mulut Disya dengan bibirnya, sontak membuat respon Disya loading dan bertambah ambyar.
Brak!!!
Pintu terbuka tanpa di ketuk, nampak Bunda Yuki dan Bintang masuk ke dalam panik karena mendengar jeritan Disya. Yuki khawatir terjadi sesuatu sama menantunya itu.
Disya langsung mendorong tubuh Sky agar menjauh, gadis itu begitu syok dan malu.
"Upsss... sorry, Bunda nggak tahu kalau kalian lagi asyik," ucapnya kikuk seraya tersenyum dan berjalan mundur. Sementara Bintang menatap geli dan penasaran dengan kakaknya tersebut.
__ADS_1
"Bapak apaan sih!" kesal Disya mrengut.
Sky terdiam, menautkan ke dua alisnya, menyugar rambutnya yang nampak berantakan dan berlalu saja tanpa kata.