One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 156


__ADS_3

"Sya, Disya ... ya ampun ... tidur beneran, saking ngantuknya apa pingsan nih." Bila sedikit menggoyangkan bahu Disya.


"Eh, udah dari kantinnya, pesenan gue mana?"


"Nih ... " Bila menyodorkan satu full plastik berisi aneka cemilan. Ada martabak mini, donat, arem-arem, gorengan, onde-onde, dadar gulung, bakso goreng tusuk.


"Ya ampun ... Bila, banyak amad. Gimana gue cara makannya." Disya menatap takjub aneka jajanan yang dibawa Bila.


"Ya ... gue kan nggak tahu selera bumil kaya apa, ya gue ambil aja semua yang ada di sana," kilahnya ngeles.


"Udah, makan aja gratis lebih enak," ujarnya mengerling.


"Beneran? Tumben lo baik, dalam rangka apa?"


"Ye ... gue mah baik sepanjang masa, lo nya aja yang nggak ngeh."


Disya mulai memilih cemilan yang di sukai, mulutnya menerima suapan dengan giuran lidah yang menggoda. Bakso bakar tusuknya salah satu menu cemilan favorit Disya di kantin.


"Baik banget sih, jodohnya siapa ya?" selorohnya tersenyum.


"Jodohnya cowok ganteng bin sholeh pastinya," jawab gadis itu percaya diri.


"Noh si sholeh jomblo, anak Kedokteran keren!" Ledek Sinta menilai satu pria yang paling langka, bentuk dan karakternya.


"Karakternya yang sholeh, bukan orangnya si sholeh, itu mah beda, buat lo aja sana."


Sementara teman-temannya Disya berdebat dengan tema sholeh. Disya sendiri malah asyik mengunyah cemilan dengan banyak rasa.


"Alhamdulillah kenyang, kok gue masih ngantuk ya?" ucapnya sayu. Disya menguap beberapa kali.


"Ssshhttt ... dogan dateng, siapkan barisan, eh maksudnya kembali ke tempat."


Mereka yang tengah asyik bergerombol langsung memisahkan diri dan kembali ke kursi masing-masing.


"Siang semuanya ... " Sapa Sky kompak.


"Siang Pak!!" koor semua penghuni kelas. Terkecuali Disya yang nampak sibuk mengatur frekuensi musik di ponselnya. Ia menghubungkan dengan headset bluetooth supaya tidak mengantuk.


Perempuan itu memperhatikan depan, tapi sama sekali tidak mendengarkan Sky menerangkan. Telinganya sibuk mendengar musik yang ia putar. Tentu saja ini untuk memanipulasi, terhindar dari rasa ngantuk yang melanda. Dari pada bolos kuliah, sudah pasti Sky marah, cara ini paling ampuh untuk mengelabuhi Dosennya.

__ADS_1


Sky tengah sibuk menerangkan materi ketika menyadari gelagat satu mahasiswi yang tidak biasa dari pengamatannya. Mungkin Disya lupa, mata pria itu bahkan sangat jeli meneliti semua apa yang terjadi padanya. Diam-diam istrinya sama sekali tidak mendengarkan materi di kelas, terus gunanya masuk apa??


Sky bergeming, menyorot sekilas lalu membiarkan saja semua bersikap demikian. Tetap fokus dengan apa yang disampaikan. Istrinya benar-benar membuatnya kesal, namun kali ini ia tak sampai hati menegurnya di dalam kelas. Alih-alih memberi siraman rohani, pria tampan itu memilih diam dan pura-pura tidak tahu. Ia akan memberikan tugas tambahan alias hukuman yang banyak untuk istrinya itu.


Waktu materi kuliah Sky telah usai, Dosen baru saja mengucap salam perpisahan. Handphone Disya sontak memekik suaminya itu langsung menghubungi Disya begitu sampai ruangan.


"Apa Mas, kan baru ketemu ... udah kangen ya?" jawab Disya paling gaje. Ini adalah guyonan yang paling menjengkelkan sepanjang proses di lingkungan kampus.


"Ke ruangan Mas sekarang!"


Terdengar nada sedikit meninggi, namun tidak marah.


Hanya membuang napas berat, istrinya suka sekali membuatnya kesal. Pria tukang memerintah itu langsung mematikan ponselnya setelah mengemukakan maksud.


Sementara Disya masih menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Ada apa dengan suaminya, kenapa tidak berbicara langsung saja tadi setelah jam pelajaran usai. Disya sedang berpikir ketika Alan menawari tumpangan untuk pulang.


"Pulang bareng Disyayang, suami lo masih ngajar sampai sore 'kan?" ajak pria itu.


"Kayaknya iya, tapi ini malah gue di suruh ke ruangannya, kalian duluan deh, makasih Al, tawarannya loper Bila aja."


"Sorry Alan tanpa Walker gue bawa motor, tumpangan lo loper ke yang lain aja."


Sementara Disya menghampiri ruangan suaminya. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebagai sopan santun. Saat Disya masuk terlihat Sky sudah menunggu dengan muka masam.


"Bapak manggil saya, eh ... ralat, maksud aku Bapaknya anak-anak kita, hehehe." Baru masuk Disya sudah membuat lelucon. Tapi jangankan tersenyum, ataupun marah Sky tetap bergeming dengan muka datar.


"Kamu tahu kenapa dipanggil ke ruangan Dosen?"


"Mau diajak pulang bareng, mau pamitan dulu sebelum pulang, perbaikan nilai, skripsisweet, tanya jawab materi, atau ... kalau nggak, lagi pengen ya?" tuduhnya cengengesan.


Sky melangkah maju beberapa kali, kontras Disya mundur teratur.


"Stop, ini apaan sih, kaya adegan belum cinta aja, kalau minta cium tuh bilang, sini aku kasih." Disya menekan dada suaminya lantas pria itu berhenti, perempuan berstatus istrinya itu langsung menyambar bibir suaminya tanpa ragu, dengan ekspresi menantang.


Sky tidak merespon, menatap tajam ke arah Disya. Membuat perempuan itu berhenti dan menyorot aneh.


Mampus gue, sepertinya Sky marah beneran. Gue salah apa??


"Ihk ... Mas, nggak lucu ah, diem aja, aku salah apa?" Disya mulai tidak nyaman dengan tatapan Sky yang menghunus tajam.

__ADS_1


"Kerjakan lembaran soal ini, dan harus selesai besok pagi." Sky menimpuk kepala istrinya lirih dengan kertas soal yang telah di buat.


Disya menerimanya dengan muka bingung. Membuka lembaran kertas dan langsung ternganga.


"100 soal? Ya ampun ... Mas yang benar saja, nggak mau," protes perempuan itu dengan nada manja.


Sky bergeming kembali duduk di kursi kebesarannya dengan tenang.


"Mas, aku salah apa, jangan kejam-kejam jadi Dosen, aku kan juga harus mengerjakan buat skripsi, ya ampun ... berat sekali ujianmu ya Tuhan." Disya mulai mendrama.


"Kalau protes nanti bakalan aku tambah 100 soal lagi," ucap pria itu tenang.


"Dasar, pluto!" Disya mencebik kesal.


"Ngomong apa Sya? Kamu tuh emang bandel, dari semenjak hari pertama aku ngajar kamu mahasiswi yang paling nakal, berani tidur dengan Dosennya, dan sekarang malah menjadi nyonya Daharyadika."


"Eh! Ngajak ribut ya Mas siang-siang. Aku nggak terima." Disya kembali ke mode bar-bar.


Sky berdiri kembali mengikis jarak, dan membawa istrinya ke sofa.


"Iya, mau ribut di sofa biar aman, ayo mulai." Sky bersiap membuka kancing kemejanya.


"Kamu bener-bener nggak lagi demam 'kan? Gara-gara mimpi semalam. Sepertinya otak kamu lengser, jadi rada eror."


Sky tidak menanggapi, menatap lekat mata Disya dengan gerakan tangan nakalnya yang mulai aktif.


"Jangan coba-coba menggodaku Mas, aku bukan Disya yang dulu, kalem, dan penurut. Sekarang bahkan aku lagi pingin." Tanpa ba bi bu Disya bangkit dan mengungkung Sky yang terduduk di sofa. Suasana menjadi kebalikannya, yang tadinya Sky yang mengungkung sekarang Disya yang mendominasi. Perempuan itu tersenyum miring, melancarkan aksi nakalnya hingga suaminya itu terlena.


Disya segera bangkit dan melarikan diri setelah membuat perasaan dan hasrat Sky tidak baik-baik saja. Perempuan itu ngakak sendirian tanpa dosa.


"Sya, nanggung! Ya ampun ... kamu ngerjain aku?" sewotnya dengan muka memelas.


"Ini di kampus sayang, tahan ya sampai nanti kamu pulang, bye ...!" perempuan itu melangkah gontai.


"Berani keluar aku tambah 100 soal lagi!" ancam Sky.


"Berani nambahin, puasa aja 100 hari," jawab Disya menantang.


"Disya, ya ampun ... kepalaku pening, tanggung jawab sayang ... " rengek Sky merasa gusar. Disya mau tertawa takut dosa, nggak tertawa tapi kesal.

__ADS_1


__ADS_2