
"Aku kangen sayang ..." pria itu merangkul Disya dari samping, menciumi puncak kepalanya.
Disya bergeming menikmati sentuhan sayang suaminya, hatinya menghangat mendengar penuturannya, tangan perempuan itu mengusap lembut kepala suaminya.
"Mas ... udah nggak marah?"
"Masih, tapi dipending dulu, aku benar-benar rindu?" jawab pria itu.
Rasa sayangnya mengalahkan segalanya, bahkan rasa kesal itu menguap begitu saja setelah memeluknya. Sky langsung menciumi pipi Disya dengan gemas.
"Ih ... Mas, geli ..." protesnya seraya menikmati sentuhan kangen itu.
Sky bergeming, sibuk melukis tanda bintang di leher jenjang istrinya. Disya begitu menikmati, ia tidak lagi protes, malah terkesan membuka lebar akses untuk suaminya.
"Mas, ada yang mau aku omongin," ujar perempuan itu menjeda aktifitas suaminya yang semakin liar.
"Hmm, ngomong aja, aku denger kok," ujar pria itu tetap fokus pada kegiatannya.
"Ikh ... berhenti dulu Mas ..." rengek Disya sedikit mrengut.
"Apa sayang ... mau ngomong apa?" Sky terpaksa menjeda keasyikannya sejenak.
"Jangan bilang kalau kamu sedang berhalangan dan aku gagal berkunjung?" ucapnya was-was.
"Iya," jawab Disya tersenyum. Sengaja meledek suaminya yang sepertinya sudah di ubun-ubun.
"Beneran? Yah ... mana aku udah kangen berat juga, kamu bohong kan?" Sky mendadak lemas mendengar pernyataan yang belum pasti kebenarannya itu.
Disya tersenyum gemas melihat suaminya yang tiba-tiba mrengut,.
"Coba sini, aku mau lihat, respon tubuh kamu nggak gini ya kalau lagi palang merah, aku paham."
"Ih ... masa' dilihat, nggak boleh lah."
"Kamu bohong kan? Sya, buka ... aku pingin mastiin."
"Mastiin apa?" Disya geli sendiri melihat tingkah suaminya.
"Cium aja ya? Sini deh, kangen kan?"
"Nggak mau, sumpah ini ngeselin. Aku udah puasa hampir seminggu nungguin ini, tapi malah apa, nggak bisa di kunjungi," keluhnya semakin lemas.
"Kok ngambek? Kan dari sananya. Ya ampun ... kita bahas apa sih nggak jelas banget."
"Tauk, ah ... bantuin ya, aku harus melepaskan penatku selama seminggu ini. Please ...!" rengeknya manja, pria itu bergelayut di ceruk lehernya.
"Baru seminggu, jatahnya kan tiga puluh hari."
__ADS_1
"Jatah apa? Mana ada omongan kaya gitu? Nggak kuat, ini aja aku udah mau stress." Sky lebay sekali.
Disya terkekeh mendengar jeritan hati suaminya.
"Jahat kamu yank, seneng banget kayaknya kalau lihat aku menderita." Sky galau berat.
"Idih ... pak suami, pak Dosenku ... sabar ... Mas." Disya puas sekali mengerjai suaminya, lihatlah muka suaminya yang tadinya berbinar mendadak mendung.
"Jalan-jalan aja malam minggu, kulineran terus main di sekitar alun-alun kota," saran Disya.
"Dingin, aku lagi butuh kehangatan, haus kasih sayang dan kurang belaian. Tuhan ... cobaanmu berat sekali," ucapnya mendramatisir.
Disya mencubit gemas pipi kanan dan kiri suaminya. Posisi mereka di atas ranjang, duduk saling berhadapan. Disya malah dengan santainya menciumi bibir suaminya yang masih cranky.
"Jangan mancing-mancing sayang, nanti aku khilaf. Sumpah ... aku gemes." Sky malah menarik tubuh Disya agar menempel dan memeluknya begitu erat.
"Sya ... kamu bikin aku gila," ucapnya semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepas Mas, ada sesuatu yang mau aku tunjukin." Mereka mengurai pelukan panas mereka.
Disya bangkit dari ranjang, dan menuju sling bag yang teronggok begitu saja di atas meja. Sky menyorot bingung, ada apa dengan istrinya?
"Sayang ... merem dulu, aku punya kejutan," instruksi perempuan itu.
"Kejutan, apa?" tanyanya tak sabaran.
Sky membuka kotak persegi panjang yang terbungkus kertas alakadarnya. Dahi pria itu berkerut indah kala menemukan bungkusan pasta gigi di sana.
"Sayang ... ini apa? Pasta gigi?" Sky semakin bingung, menerawang isinya yang tanpa dilihat sudah tahu jawabannya.
"Jangan dilihat bungkusnya, tapi isinya." Disya tersenyum tipis, dirinya juga sebenarnya merasa lucu mengingat tak menemukan bungkus kecil, ia menggunakan bekas kardus kecil pasta gigi.
"Kotak apa ini? Kamu lagi nyogok aku kan? Biar apa coba?"
"Buka aja Mas, itu lebih dari sekedar menyogok," ujar Disya.
Sky yang begitu penasaran langsung membukanya, ia ternganga sendiri melihat isinya.
Speechless
Tak mampu berkata apapun, pria itu menatap dalam netra istrinya dan langsung membawa istrinya dalam pelukan. Sky menciumi wajah Disya dengan haru, matanya berkaca-kaca, pria itu menangis bahagia.
"Ini beneran kan? Kamu nggak bohong," tanyanya memastikan. Disya mengangguk yakin, tadi pagi sudah diperiksa dan cukup akurat. Dirinya juga mengalami gejalanya.
"Jadi, kamu pusing dan mual karena hamil? Ya Allah ... aku seneng banget sayang." Sky beberapa kali mengucap syukur, laki-laki itu benar-benar bahagia.
"Kamu izin aja ya? Boleh meninggalkan KKN dengan alasan logis, apalagi kamu lagi hamil, aku nggak mau jauh," ujarnya seraya mengelus perut istrinya yang masih rata.
__ADS_1
Sky terus menciumi perut Disya dengan senang.
"Iya Mas, boleh. Aku juga belakangan ini merasa rindu," ucapnya jujur.
"Kangen ya ...!" Ini jelas ngeledek, padahal dirinya sudah benar-benar berhasrat.
"Terus aku gimana, boleh?" tanyanya ambigu. Netranya menatap lekat istrinya, ada rindu yang siap disalurkan.
"Boleh, tapi pelan-pelan saja," jawab Disya malu-malu.
Tak usah menunggu lama, Sky langsung menyambut bibir istrinya yang hampir seminggu ini absen. Pria itu begitu menggebu, menyalurkan hasrat rindu yang tertahan. Dengan penuh semangat menyambangi ladangnya yang begitu ia rindukan.
"Ini menggelikan Mas, tapi nik---mat!" kata perempuan itu diambang dejavu.
"Kamu suka sayang, aku kangen suara desahanmu," ucapnya nakal.
"Hmm, cuma itu?"
Sky sibuk sendiri, ia mengabsen seluruh tubuh istrinya. Memberikan sentuhan nakal yang mampu membuat perempuan itu terlena bagai kapas yang melayang di udara.
"Semuanya, aku rindu. Kamu semakin manis," ujar pria itu yang tengah mengungkungnya.
Disya tersenyum nakal, ia yang biasanya sedikit pasrah lebih mendominasi, jelas Sky menyambut lebih semangat.
"Pelan-pelan Mas ...!" ucap perempuan itu di tengah napas yang memburu.
"Maaf, apa ini membuatmu tidak nyaman?" pria itu menatap netranya.
"Cukup nyaman, kamu tidak lupa kan? Ada baby di sini, jadi jang---!"
"Iya, tahu ... aku inget kok, kamu bisa protes kalau posisi ini membuatmu kurang nyaman?"
Mereka membuat peluh bersama, cukup lama hingga berhasil mengacak sprey di sana menjadi tidak beraturan.
"Kamu beda, makin nikmat," gumam pria itu setelah merampungkan misi masa depannya.
Disya bergeming, tidak menanggapi, sibuk mengatur napas yang masih belum stabil.
"Makasih, love you more," ucapnya seraya menciumi pipi dan bahu istrinya yang masih terbuka.
"Hmm, capek Mas," rengek perempuan itu sambil memejamkan matanya sejenak.
"Nanti aku pijetin, aman lah ... "
"Nggak aman, aku pegel, linu, perih, ngilu, ahk ... tapi bikin susah move on."
"Itu tandanya, kamu juga begitu menikmatinya."
__ADS_1
"Mau lagi ...?" tawarnya semangat