
Satu keluarga besar Asher tengah menikmati makan malam bersama. Malam ini suasana rumah Asher terlihat harmonis. Suasana masih cukup rame, masih ada beberapa kerabat yang belum pulang dan sengaja bermalam di sana.
Sendok, garpu dan piring saling berbenturan, menyerukan dentingan khas mereka tiap kali beradu. Semua nampak khusuk menikmati hidangan yang tersaji di meja makan.
Setelah selesai acara makan malam sebenarnya Disya ingin sekali langsung ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, gadis itu merasa tak enak sebab beberapa kerabat masih asyik mengajak ngobrol bersama.
Ada Oma Rianti dan Opa Dika, ada adiknya Sky, Raya dan suaminya dan ada beberapa kerabat yang di kenalkan pada Disya. Disya akui, keluarga Sky cukup terbuka menerima dirinya dan begitu baik, tapi tetap hati Disya tidak bisa berbohong kalau gadis itu sebenarnya tak ingin di tengah-tengah mereka terlebih menjadi bagian dari keluarganya.
"Oma, istriku Sky culik dulu ya... besok ngobrol lagi," seloroh Sky mengerling.
Oma Rianti tengah mengajak Disya berbincang-bincang namun ternyata Sky cukup awas, sehingga mengerti betul kalau Disya butuh istirahat. Gadis itu masih tersenyum, mengikuti pembicaraan sanak saudara walaupun garis lelah di wajahnya teramat kentara.
"Ah! Kamu." Oma tersenyum.
"Anda jujur sekali Bang." Raya ikut menggoda.
Sky nyengir tanpa dosa. Sementara Disya merasa malu karena orang-orang di sana berfikir yang tidak-tidak tentang pengantin baru itu. Sky langsung menyeret Disya dan meninggalkan mereka yang tengah menatap dengan pandangan maklum dan menggoda.
"Dasar pengantin baru," celetuk Rasya suami Raya.
"Kamu juga dulu gitu Mas," seloroh Raya tersenyum. Membuat orang-orang di sana tertawa bersama. Sudah bukan rahasia lagi setiap pengantin baru pasti asyik diledekin.
Sesampainya di kamar, Disya langsung melepas tangannya yang di genggam Sky. Gadis itu bergeming dan langsung menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang teramat lelah. Sementara Sky memperhatikan tingkah Disya yang tengah sibuk menata guling di tengah kasur. Sky menaikan alisnya, masih setia menyorot Disya yang kelihatan sibuk sebelum akhirnya membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Posisi Disya tidur memunggungi arah Sky.
Sky berjalan mendekati kasur, pria itu sudah berbaring dan masih betah menatap punggung Disya.
"Sya! Kamu udah tidur?" tanya Sky mencoba membangun komunikasi namun tak ada sahutan. Tiba-tiba ponsel Disya bergetar, membuat Sky melirik nakas dan mencoba meraihnya.
My Love calling
__ADS_1
Sky menatap sengit layar ponsel Disya yang berkerlip, ia yakin id caller tersebut adalah Rayyan. Sky membiarkan saja ponsel itu tetap memekik, ia ingin menjelaskan pada Rayyan langsung tentunya bukan lewat ponsel atau menangkap basah saat pria yang masih berstatus kekasih istrinya itu menghubungi Disya.
Tiba-tiba ponsel di tangan Sky di rampas oleh Disya dalam sekejap. Gadis itu bangkit dari pembaringan dan langsung menuju balkon kamar untuk menjauh dari Sky. Namun pergerakan Disya diikuti Sky yang membuat gadis itu kesal seorang diri.
"Bapak ngapain ngikutin saya?" tanya Disya kesal.
"Mau dengerin kamu ngobrol, siapa tahu nanti aku bisa kenalan sama my love mu itu," jawabnya datar.
Disya menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras dan kembali masuk ke kamar. Handphone Disya juga sudah terdiam, dan kini beralih bergetar menampilkan beberapa pesan. Disya pun duduk dengan anteng di atas ranjang sambil berbalas pesan, mengabaikan Sky yang sedari tadi tengah menatapnya dengan pandangan ingin tahu, kesal dam marah.
"Sya!" panggil Sky menginterupsi, namun gadis itu tak menggubris dan tetap asyik berselancar di dunia maya.
"Disya Anggita!" seru Sky lantang membuat gadis itu melirik sekilas namun tetap cuek dan acuh. Seakan menganggap di kamar itu tidak ada orang lain selain dirinya.
Dalam sekejap ponsel Disya sudah berpindah ke tangan Sky, laki-laki itu merampasnya dari tangan Disya.
"Pak, Bapak nggak berhak ya ikut campur privasi saya," ujar Disya marah.
"Kata siapa? Saya berhak atas apapun yang kamu punya, termasuk privasi kamu dengan Rayyan sekali pun saya berhak tahu." Sky menatap tajam gadis itu.
"Putuskan Rayyan Sya!" bentak Sky kemudian.
"Gampang banget ngomongnya, tanpa sedikitpun peduli tentang sakitnya perasaanku," Disya nampak murka. Lelehan bening itu tak mampu lagi di bendung dan tumpah seiring dengan uneg-uneg Disya.
"Bapak bisa nggak sih, prihatin sedikit saja sama perasaan saya?"
"Bisa saja, tapi bukan untuk memberi celah orang lain masuk ke dalam rumah tangga kita."
"Bapak sadar nggak sih, di sini yang orang ke tiga siapa?"
__ADS_1
"Aku, iya aku yang salah. Kenapa kamu tidak bisa menerima takdir diantara kita Sya. Bahkan kamu sendiri yang datang menghampiri ke apartemen ku waktu itu, apa namanya kalau bukan takdir Tuhan untuk kita berdua. Jangan melulu kamu menyalahkan aku?" Sky mencoba berbicara sepelan mungkin takut ada orang yang mendengar tentang pembicaraan mereka berdua.
Pada kenyataannya memang semua berawal dari dirinya, membuat perasaan dan rasa bersalah Disya semakin besar terhadap Rayyan. Dia pria yang teramat baik dan pengertian namun karena kesalahan satu malam Disya membuat harapan mereka yang tersusun indah di depan mata hancur berantakan.
Disya masih menangis dengan sesenggukan, sakit sekali rasanya menerima kenyataan yang ada di hidupnya. Hari ini ia baru sadar, bahwa dirinya tak boleh lagi berhubungan dengan Rayyan. Tapi kenapa sesakit ini rasanya, sakit terasa menyayat hati Disya yang pilu.
"Kamu selalu punya pilihan, ingin mencintai bayangan tapi terluka, atau mencintai kenyataan yang ada di depan mata walau harus mengalahkan ego yang ada dan mungkin akan mengandung air mata, kecuali kamu sudah benar-benar ikhlas menjalaninya. Semua akan terasa mudah." Sky nampak menghela napas berat.
"Pada akhirnya kita harus menyadari, ada banyak bayangan dan khayalan yang sering kali bertolak belakang dengan kenyataan yang di temui. Tapi percayalah di antara sisi gelap dan terang itu ada sisi biru yang akan membuat hidupmu lebih berwarna," jelas Sky panjang lebar.
"Mari kita mulai dari awal Sya! Menikah sudah, lalu berusaha menerima takdir kebersamaan kita."
"Maaf, saya masih belum bisa. Pada kenyataannya hati saya masih di penuhi orang lain."
"Rayyan?"
Disya mengangguk.
"Tapi kamu mengandung anakku, tidak masalah belum ada cinta. Pelan-pelan saja."
"Bagaimana mau pelan-pelan bahkan saya sendiri tidak tahu persis cara mengawalinya."
"Kamu hanya butuh berusaha dan niat, ikhlaskanlah... aku tahu ini berat bagimu. Aku juga tanpa sadar telah membuat persahabatan kita hancur. Tapi tolong berdamailah dengan keadaan, demi calon anak kita yang tumbuh di rahimmu."
Sky mengusap air mata Disya yang seakan enggan berhenti. Gadis itu masih terisak. Mencoba menyelami hatinya yang teramat terluka.
"Kenapa saya harus mengandung anak kamu?"
"Maafin aku Sya, tolong jangan menangis lagi. Kasihan calon anak kita. Pada kenyataannya takdir yang telah membawa kita menjadi seperti sekarang."
__ADS_1