
"Gimana pertemuannya, Sya?" Sky membuka suara setelah mobil melaju.
"Cukup berkesan, semua terlihat baik dan menyenangkan," jawabnya seadanya.
"Aku bakalan jadi Dosen pembimbing lapangan, jadi nanti bisa sekalian pantau kamu di sana," jelas pria itu.
"Beneran? Ya nggak pa-pa terserah Mas saja."
"Hmm, hujannya deras banget, enak kali ya makan yang anget-anget."
"Boleh, ngebakso dulu Mas, enak kayaknya."
"Kamu pingin, oke kita mampir dulu deh."
"Bungkus saja Mas, makan di rumah. Aku udah nggak nyaman pingin cepet mandi juga."
"Oke, sayang." Sky menepikan mobilnya dan turun mendekati kedai bakso. Pria itu menerjang hujan, hujan sudah mulai reda. Setelah hampir lima belas menit mengantri, Sky sudah mendapatkan dua bungkus plastik, dan segera kembali ke mobil.
"Ada payung kok malah mainan hujan sih Mas," protesnya menilik suaminya yang menerjang hujan.
"Dikit doang, dekat juga," kilahnya mencari pembelaan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mereka kini sudah sampai di apartemennya. Disya langsung menuju kamar dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Perempuan itu sudah merasa tidak nyaman sedari tadi.
"Mas, kamu langsung mandi dong nanti masuk angin, mana tadi kena air hujan."
"Iya, sebentar."
Sky baru saja membuat minuman hangat untuk dirinya. Sementara Disya sendiri langsung menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi.
"Udah aku siapin, mandi dulu terus makan," ujarnya runtun.
"Hmm, makasih sayang."
Usai mandi mereka makan bersama, setelahnya Disya mengemas piring kotor sementara Sky lebih dulu izin ke kamar. Udara cukup dingin untuk malam ini. Disya juga sudah mengatur suhu AC nya. Perempuan itu menyusul suaminya merangkak ke atas kasur.
"Kamu udah tidur Mas? Tumben jam segini KO." perempuan itu agak mengintip, suaminya sudah terlelap namun terlihat tidak nyaman.
"Kasihan, kamu pasti kecapean ya Mas," gumam Disya lirih. Merapikan selimutnya, dan mengecup pipi itu dengan perlahan.
"Lho ... badan kamu kok panas, Mas kamu demam?" Disya mengecek kening suaminya. Laki-laki itu terlihat tidak tenang.
"Sedikit pusing, hanya butuh istirahat saja."
__ADS_1
"Harus minum obat Mas, ini badan kamu panas," cemas Disya.
"Perlu istirahat doang, bisa minta tolong kerokin nggak?"
"Hah! Dikerok punggungnya maksudnya?"
"Iya, aku dingin banget Sya," keluhnya sedikit lebih manja dari biasanya.
"Belum pernah sih, tapi boleh deh aku coba."
Disya mengambil minyak kayu putih, dan uang koin, perempuan itu sudah bersiap sedang Sky pun sudah telungkup dengan melepas bajunya.
"Kaya gini sakit nggak Mas," ujar Disya mulai menggosok punggung suaminya dengan uang koin.
"Nggak, enak kok, pinter kamu," pujinya merasa puas.
Hampir semua punggung putih itu bergaris merah kehitaman, suaminya benar-benar masuk angin berat.
"Udah Mas." Disya mengemas minyak kayu putih dan menaruhnya, di atas nakas.
"Pakai bajunya Mas, biar hangat. Kalau panasnya nggak turun juga, doping obat ya?" tawarnya.
"Makasih, peluk yank, sini dingin banget," tidak menanggapi saran istrinya, laki-laki itu malah meminta dipeluk sepanjang malam. Malam ini Sky terlihat lebih manja dari biasanya, ia terlelap dalam dekapan istrinya.
Pagi harinya, Disya terjaga lebih dulu dan mendapati suaminya masih terlelap. Disya merasa lega karena Sky tak lagi sepanas semalam.
"Hmmm," gumamnya lirih kembali menarik selimutnya.
Sementara Sky kembali istirahat, Disya bersibuk ria di dapur. Perempuan itu akan membuat soup untuk suaminya. Baru kali ini Disya merawat orang sakit, jadi ia mesti berguru dengan Mama, hal apa yang dilakukannya atau masakan apa yang sering Mama siapkan untuk orang sakit demam.
Disya merawat Sky dengan penuh kasih sayang. Sky merasa belakangan ini cintanya semakin bertambah, walaupun masih sering ribut, namun hal itu hanya masalah kecil, bumbu rumah tangga.
Seminggu setelah kejadian itu, baik Disya dan juga Sky sama-sama memahami sebagai peran dan tanggung jawabnya. Ternyata tinggal berdua membuat mereka berdua saling ketergantungan dan pikirannya semakin dewasa.
Di tengah padatnya aktifitas yang melanda, mereka berdua selalu menyempatkan untuk quality time bersama. Apalagi mereka berdua sadar betul sebentar lagi akan hidup terpisah kurang lebih empat puluh hari, dan itu terasa amat berat bagi Sky, tetapi mau apalagi, sebagai suami yang baik harus mampu mensupport istrinya.
Besok adalah hari di mana Disya akan berangkat KKN, perempuan itu sudah mengemas barang apa saja yang akan dibawa. Ia sengaja mempacking di tas ransel yang agak besar, mengingat barang keperluan perempuan sedikit lebih rempong dan banyak.
"Mas, belum tidur?"
"Belum ngantuk, malam ini malah terakhir kita loh Sya?"
"Hmmm, jangan kangen ya, besok 'kan juga ikut nganterin." Suasana mendadak menjadi melow.
__ADS_1
"Kamu mau apa, kok lihatin aku kaya gitu?"
"Menurut kamu mau apa?"
"Nggak tahu, kamu 'kan suka nggak jelas."
"Sya, seandainya aku cari tempat kost di sekitar kamu KKN, gimana?"
"Lebay," jawabnya cuek.
"Kok lebay sih, nggak lah. Untuk membunuh rasa rinduku padamu."
"Kita bisa ketemu seminggu sekali, jangan rewel dong." Disya menepuk-nepuk pipi Sky seraya memposisikan dirinya duduk di pangkuan pria itu.
"Rewel aja." Sky menggenggam tangan Disya yang masih stay di pipi kemudian menciumnya.
"Yang ada nanti grub KKN aku pada jantungan, Dosen pembimbingnya sidak setiap hari."
Sky tertawa mendengar penuturan istrinya.
"Apartemen ini bakalan sepi, aku nggak bisa bayangin besok seperti apa? Kalau aku nggak bisa tidur gimana?"
"Bisa, bisa, nanti aku telfon setiap malam sebelum Mas tidur kita vidio call dulu, ada internet bisa komunikasi setiap hari."
"Nggak mau ditinggal," rengeknya bergelayut manja di pundak Disya. Pria itu mendusel posesif.
"Ya ampun ... gini amat bayi gede aku," selorohnya sambil membelai rambut pria itu.
"Mas tinggal di rumah Bunda aja sebulan ini, di sana rame ada Bintang dan juga kadang mbak Raya, jadi nggak bakalan sepi," ujarnya memberi solusi.
"Hmmm," jawab pria itu semakin mengeratkan himpitannya.
"Mas, jangan kenceng-kenceng dong, susah gerak."
"Aku mau buat bintang yang banyak, aku bakalan puasa lama," ujar pria itu sibuk mencumbu istrinya.
Disya membiarkan saja suaminya menguasai atas dirinya. Malam ini ia akan memberikan yang terbaik, berkesan, dan pastinya sedikit lebih menantang. Karena Disya ingin membuat suaminya benar-benar puas.
..................
Peluh basah membasahi keduanya. Pasangan halal itu telah merampungkan malam yang begitu intim.
"Kamu mengandung zat adiktif yang membuat aku candu," ucapnya seraya menciumi seluruh wajah istrinya.
__ADS_1
"Ini banyak banget pasti bekasnya, kamu nakal sekali Mas," keluh perempuan itu meneliti dirinya.
"Nggak pa-pa, kenang-kenangan biar semua orang tahu kamu sudah bersuami," jawabnya cuek.