One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 160


__ADS_3

"Sya, minum dulu susunya," ujar Sky menyodorkan segelas susu. Laki-laki itu selalu perhatian. Kandungan Disya memasuki bulan ke enam alhamdulillah semakin sehat, mereka juga sudah sangat siap menjadi orang tua baru.


Disya menaruh gelas kosong di nakas, ia masih duduk bersender headboard berganjal bantal di punggungnya. Memainkan ponsel, melihat-lihat pernak pernik perlengkapan bayi. Tanpa sadar, perempuan itu senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa Sya? Lihat apa sih?" Sky mengintip, sedikit mendekat.


"Ini Mas, unyu banget buat baby twins kita," ujar Disya menunjuk gambar sepatu kecil berwana putih biru.


Sky merangkak ke atas kasur, dirinya merebahkan tubuhnya di samping Disya seraya mengelus perut istrinya yang semakin membuncit. Sesekali pria itu menciuminya dengan gemas.


"Sya, rebahan sini, jangan main ponsel terus. Kamu nggak ajak ngobrol anak kita?" ucapnya dengan tangan masih stay di atas perut Disya.


"Udah lah, tadi. Dedek emesh lagi sibuk ngobrol sama daddynya," katanya tersenyum. Disya menjatuhkan bobot tubuhnya di kasur, ia miring menghadap Sky, satu tangan pria itu di buat bantalan, sedang tangan lainnya sibuk membelai istrinya.


"Sya," panggilnya. Disya menoleh sedikit mendongak untuk menjangkau wajahnya.


"Kenapa?"


Tak ada sautan, pria itu hanya menatap lekat sembari mengelus garis wajahnya.


"Minggu depan kamu sidang, persiapkan diri kamu buat belajar," ucap pria itu menatap lekat. Disya menatap takjub, senyumnya langsung terbit dengan mata berbinar.


"Beneran?" Disya hampir tidak percaya, mengingat skripsi itu sangat memusingkan.


"Iya, belajar yang semangat, jaga kesehatan dan pastikan kamu lulus dengan predikat terbaik," ucap Sky yakin.


Kok gue deg degan ya ... ah, seneng banget.


"Siap Mas, makasih dah bantuin aku?" jawab Disya mantap.


"Berarti mulai besok, aku harus ektra fokus nih, berarti kamu nggak boleh ngrecokin aku dulu ya Mas, aku mau fokus belajar," ucap Disya yang membuat Sky bingung.


"Ngrecoki apa Sya, kapan aku kaya gitu?" Sky semakin tidak mengerti.


"Sering kamu mah, suka rese' kalau aku lagi belajar, satu minggu ini aja ya, biar aku fokus." Disya mengerling.


"Nggak ada hubungannya, kamu malah semakin semangat, emang betah satu minggu, nggak kangen gitu?" selorohnya.


"Ish ... pol betahe lah, nanti aku capek jadi mudah ngantuk, aku harus siapin semuanya dengan baik, ini hidup dan matiku Mas." Disya mendrama.


"Lebay sekali kamu sayang, besok ujian skripsi ada aku juga di ruangan, kira-kira kamu gugup nggak?"


"Nggak tahu, kan belum. Ah, iya kamu selalu ada di mana-mana."


"Kalau udah lulus, kamu ada rencana jalan-jalan nggak?"


"Pengen, tapi kayaknya musti ditunda, mengingat perutku semakin besar dan lebar. Aku melar banget sekarang," keluhnya merasa gusar.

__ADS_1


"Kan hamil sayang, kembar lagi."


"Mama Amy sama Papa Amar seneng banget waktu pertama aku kasih tahu mereka anak kita kembar. Katanya nanti biar adil, satu di rumah Ayah Asher, satu di rumah Papa Amar. Mereka lucu ya Mas?"


"Terus kamu jawab apa?"


"Aku cuma senyum aja, bingung menyikapi calon kakek. Ayah sama Papa lucu kalau lagi bareng. Eh iya, sampai lupa. Besok di suruh datang ke rumah, kak Flora mau lamaran."


"Beneran? Sama siapa? Kok mendadak gitu kasih tahunya, besok padahal ada urusan sedikit di kampus."


"Ish ... kan hari libur, kok kerja sih."


"Bukan kerja, hanya cek management aja. Bisa lah, kita harus datang. Calonnya kak Flora siapa Sya, orang mana?"


"Pengusaha sukses, siapa sih lupa namanya lagi."


"Orang mana?"


"Jakarta aja, Syailendra Bara Nugroho, kalau tidak salah, Papa kenal baik malah, pernah menjadi partner bisnis Papa."


"Kaya nama teman aku, jangan-jangan beneran Bara sahabat aku Sya, kok tuh bocah nggak ngabarin nggak asyik banget."


"Masa' sih, mau ngasih surprise kali, ih ... kak Bara yang itu 'kan?"


"Iya, Bara siapa lagi, asem diem-diem bae."


"Nggak boleh, kesepian aku, pulang aja malamnya, nggak bisa tidur di rumah Mama."


"Ish ... nggak asyik. Sekali dibolehin yank, mumpung lagi ngumpul ada eyang juga dari Bandung. Aku kangen banget."


"Iya, iya boleh deh, tapi ... " Sky menaik turunkan alisnya.


"No no no no, nggak boleh, ribet di rumah Mama. Shht ... "


"Bobok Mas, ngantuk."


"Hmm." Sky mencium kening Disya sebelum netranya benar-benar terlelap.


***


Pagi hari nyonya Ausky sudah sibuk sendiri. Ia sudah mandi dan bersiap pergi tapi lihatlah, Sky bahkan masih tidur di bawah gelungan selimut hangatnya. Hari libur memang selalu membuat pria dua puluh enam tahun itu kembali tidur setelah bangun di awal subuh.


"Mas, bangun ... aku udah siap, cantik, wangi kaya gini, kamu mau ikut nggak sih?" Disya mengguncang bahu suaminya pelan.


Sky bergeming, kembali menutup selimut ke tubuhnya. "Lima menit lagi Sya, aku ngantuk."


Lima menit, sepuluh, dua puluh lima menit. Laki-laki itu masih belum juga bangun. Karena kesal, Disya kembali membangunkan dengan sedikit lebih keras.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau tidak mau bangun aku berangkat duluan, aku mau nginep seminggu, kita ketemu di ruang sidang skripsi saja Mas," ucap Disya kesal. Mendengar omelan Disya, Sky langsung bangkit dari pembaringan.


"Iya, iya aku bangun." Pria itu masih sayup-sayup, dengan malas turun dari ranjang.


"Sini Sya!" panggil Sky melambaikan tangan.


"Apa?"


"Sini dong, deketan, sini sayang." Sky masih duduk di bibir ranjang.


"Apa sih Mas, tinggal ngomong, aku lagi siapin baju buat di rumah Mama."


"Ish ... kaya mau nginep berhari-hari aja, bawa satu aja kita cuma nginep semalam 'kan?" Sky mengalah mendekati istrinya dan bergelayut manja di pundaknya.


"Ya ampun ... Mas, mandi sana. Jangan gini."


"Ngantuk yank, cium dulu. Itu kenapa bawa baju banyak-banyak." Sky menunjuk tas yang teronggok di lantai.


"Nginep satu minggu," jawab Disya cuek.


"Siapa yang ngijinin, semalam Sya, semalam. Nggak, nggak!" Sky mengomel seraya masuk ke kamar mandi.


"Ish pelit," gumamnya lirih. "Tiga hari ya, Mas!" teriak Disya dari luar kamar.


"Satu!" saut Sky dari dalam.


"Dua, deh dua, pokoknya dua malam."


"Satu ya satu, Sya, apa nggak usah nginep aja sekalian, nanti malam pulangnya."


"Eh, itu orang kebiasaan banget, belum berangkat udah debat." Sky tidak bisa dibantah, titahnya mutlak bagi Disya, dari pada ribut sudah pasti Disya mengalah.


Sky dan Disya tiba di kediaman Mama Amy agak siang. Mereka datang di saat rumah sudah lumayan ramai. Acara lamaran kak Flora di lakukan di rumah, dan cukup mewah. Halaman rumah Mama di setting menjadi sangat cantik.


"Mas, aku gabung sama mereka ya?" ujar Disya memisahkan diri. Sky mengangguk, ia malah sibuk mengobrol dengan kerabat Disya laki-laki.


"Cantik banget kak Flora," puji Disya jujur.


"Bumil juga cantik, gimana bajunya? Pas?"


"Aman, masih muat. Punya Sky malah yang rada ngepres, tapi muat sih, aman."


"Gimana kuliah kamu Sya?" tanya Flora di sela-sela make up.


"Minggu depan sidang, deg degan sebenarnya tapi seneng, bentar lagi lulus sesuai harapan. Sebelum lahiran harus udah lulus biar nggak repot-repot amat, walaupun sekarang repot sih. Tapi Sky cukup sabar bantuin aku."


"Udah kelihatan, dia sabar banget ngadepin kamu dari awal."

__ADS_1


"Iya sih, aku masih ingat tempo dulu." Mereka tertawa bersama.


__ADS_2