
Warning 21+
"Nakal kamu ya?" kata pria itu setelah berhasil menangkap istrinya. Sky menciumi Disya dengan gemas tanpa peduli di bawah tatapan dan kekehan keluarganya. Setelah mengadakan kejutan yang epik dan berjalan cukup lancar, semua berkemas meninggalkan kamar dan menuju kamar masing-masing. Alhasil semua keluarga malam ini bermalam di hotel yang sama.
Mereka meninggalkan dua sejoli yang tengah berbahagia. Sengaja dengan cepat memberikan kesempatan anaknya untuk saling menyuarakan isi hatinya.
"Sya, ini semua ide kamu?" tanya Sky yang masih setia memangku Disya. Tangan pria itu megelus-elus lembut rambut belakang Disya.
"Bukan sih, lebih tepatnya aku sama Bunda, gimana surprisenya? Keren kan?"
"Nggak seru, kamu hampir buat aku gila. Aku udah mikir yang macam-macam tentang kamu, aku beneran bakalan ngebunuh orang mana pun yang berani sentuh kamu," jelas Sky yang seketika membuat ngeri di telinga Disya.
"Serem!" gumam Disya lirih.
"Beneran lho Sya, aku nggak peduli di penjara. Kamu milikku, punya aku, jadi... hanya aku yang boleh menyentuhmu." Sky menatap lekat mata Disya. Pria itu berujar menciumnya tapi langsung di tolak Disya.
"Kenapa sih Sya, aku kangen sayang..." rengek Sky menahan kesal.
"Bersih-bersih dulu, kamu sangat berantakan," ucap Disya lalu berdiri dari pangkuan Sky.
"Oke deh." Dengan malas Sky berjalan ke arah kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.
Sementara Disya di kamarnya menjadi sangat gugup. Gadis itu sudah berganti baju, terus menatap dirinya di pantulan cermin yang terlihat sangat sexy. Bunda Yuki benar-benar memberikan pakaian kurang bahan, lingerie dengan warna pink yang sangat cantik dan tipis.
Disya tengah berfikir untuk tetap memakainya atau menggantinya saja, ketika pintu kamar mandi terbuka. Sky keluar dengan muka segar dan rambut yang setengah basah menetes dari kepalanya, membuat Disya menatap dengan perasaan dag dig dug.
Pria itu belum menyadari penampilan Disya dan berjalan santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Sini Mas, aku bantuin," ucapnya gugup.
Sky mendongak dan seketika membulatkan matanya melihat penampilan Disya, namun seketika ia tersenyum sangat lebar.
__ADS_1
"Sya? Kamu...?" Sky susah payah menelan salivanya. Ia tak mampu berkata apapun dan langsung membuang handuk di tangannya ke sembarang arah.
Sky langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa ke ranjang. Membaringkan dengan perlahan tanpa mengalihkan pandangan mereka yang saling bertautan.
"Mas..." panggilnya lembut, jujur Disya sangat gugup.
"Hmm, apa sayang...?" Sky membelai pipi Disya, menatapnya semakin dalam.
"Kamu cantik sekali sayang, aku suka kejutan ini," bisik Sky nakal di telinga istrinya dan seketika membuat tubuh gadis itu meremang.
"Apa kamu sudah ikhlas memberikan malam ini untukku," kata pria itu menyakinkan istrinya.
Disya mengangguk sebagai jawaban, dan detik itu juga Sky langsung merapatkan diri, membelai pipi Disya dengan lembut dan menciumnya.
"Makasih Sya, ini adalah kado ulang tahun terindah untukku," jawab Sky senang.
Sky mengikis jarak, merapalkan doa kebaikan untuk keduanya lalu mencium kening, pipi dan beralih di bibir Disya yang ranum. Bibir istrinya yang manis, begitu membuat pria itu semakin candu.
Sesuatu yang kasar itu bermain di dalam mulutnya, mengabsen setiap sudut dan sisi, mengeksplor dengan lincah dan nakal. Sesekali ia juga menghisap kuat dan mengigit dengan lembut. Mencecapi bibir istrinya yang terasa manis selalu membuatnya candu.
Pria itu memagut, melu mat dan menyesap bagai permen. Mereka saling bertukar saliva, mendalami setiap inci rongga mulut keduanya dengan perasaan yang membuncah.
Sky menjeda sebentar untuk memberikan ruang istrinya mengambil napas, sebelum akhirnya menyerang kembali dengan lebih menuntut dan semakin dalam. Petualangan dilanjutkan memberikan beberapa tanda bintang di leher jenjang Disya yang putih.
Pria itu begitu mendamba, mengekspresikan tubuhnya dengan sempurna. Terus meneliti dan memberikan kecupan-kecupan nakal di seluruh tubuh Disya dari ujung kepala, sampai ujung kaki. Pria itu ingin memberikan kesan malam ini dengan begitu nikmat dan sempurna.
Sky bermain sangat lembut dan liar, bibirnya sibuk membuat tanda kepemilikan di setiap titik yang diinginkan, sementara tangannya berjalan sangat nakal menjamah apapun yang membuat Disya tertahan nikmat, mengeluarkan suara desa han dari mulut mungilnya, membuat Sky semakin menggebu dengan semangat membara.
"Sayang... I love you Sya," ucapnya lirih dengan mata berkabut. Pria itu memberikan kode lewat matanya yang berkabut gairah dan mengangguk.
Disya mengangguk, dan sudah sangat siap Sky mengambil haknya malam ini. Tanpa menunggu, detik berikutnya Sky langsung merapatkan diri, ia melakukan dengan sangat hati-hati, pelan, namun pasti. Ini pengalaman keduanya untuk mereka, setidaknya ini tidak akan sesakit yang pertama.
__ADS_1
Sky langsung menyatukan dirinya, merapatkan tubuh dan hatinya dengan kedua tangan mereka saling bertautan. Untuk memberikan Disya kekuatan menggenggam. Setelah tubuh gadisnya merspon rileks barulah pria itu mendorong pelan, mengguncangnya dengan perlahan, membuat ruangan yang sunyi itu terdengar berisik dengan suara mereka yang saling mendayu dengan desa han nikmat, yang ia suarakan bersama.
Pria itu kembali meraup bibirnya. Rasa semanis madu yang selalu memabukan walaupun sudah berkali-kali ia lakukan tapi baginya Disya itu candu. Yang selalu ingin lagi dan lagi.
Ia memberikan gigitan-gigitan kecil di setiap titik, memberi sensasi yang sedikit lebih berani tapi tetap elegan dan menomor satukan kenyamanan istrinya mengingat ia tengah berbadan dua.
"Mas...." Suara parau Disya dengan napas yang sudah pendek-pendek.
"Hhmm... sebentar lagi sayang..."
Sky terus memainkan peranya, mendominasi dengan gerakan yang semakin kuat. Menciptakan peluh di tubuhnya.
Disya melenguh nikmat, suara desa han yang lolos dari mulut mungil itu, menandai puncak pusara gelombang cinta mereka berdua. Setelah Disya mereguk nikmat, barulah Sky menuntaskan keindahan yang tak terdefinisikan, memuaskan hasrat yang lama tertahan. Merasakan kegembiraan yang meluap, yang menghentak, mengalir di seluruh pembuluh nadinya.
Mereka melebur menjadi satu, tanpa ada pembatas apapun, Sky menuntaskan malam ini dengan apik, puas, nikmat dan... mantap.
"Sini, aku bantuin bersihin," kata pria itu santai, tersenyum begitu tenang dan puas.
"Aku bisa sendiri Mas," lirih Disya dengan pipi memanas, gadis itu merasa malu.
Pria itu bergeming, tidak peduli dengan penolakan, ia membantu membersihkan Disya. Setelahnya tersenyum dan langsung mengecup pipi Disya yang merona malu. Istrinya sangat menggemaskan, sudah buka-bukaan juga masih terlihat malu.
Disya setengah terjaga dengan membaringkan tubuhnya membelakangi Sky. Gadis itu merasa tubuhnya begitu lelah. Sementara Sky terus menggumamkan kata-kata cinta di balik telinganya Disya.
"Capek ya sayang...." Sky tengah mengecupi bahu istrinya yang masih polos.
"Jangan bobok dulu dong, aku masih pingin lagi," kata pria itu, masih mengendus- endus belakang kepala istrinya.
Disya benar-benar capek, Sky melakukannya dengan durasi yang cukup lama dan beberapa tahap. Ia membiarkan begitu saja sampai suaminya puas.
"Tidur yang nyenyak sayang..." Merengkuh istrinya, menciumi puncak kepalanya dan membiarkan tangan kirinya sebagai bantalan. Mereka tidur semalam dengan saling memeluk.
__ADS_1