
Kesibukan yang dirasakan Disya sama seperti pada mahasiswa akhir umumnya. Cukup memusingkan disibukkan dengan seabrek tugas. Mulai dari skripsi, revisi, bimbingan, semua cukup menyita waktu. Belum lagi hormon kehamilan kadang tidak bersahabat, jadilah kendala uring-uringan dan lelah melanda.
Seperti yang sekarang ini Disya lakukan, walaupun terkadang suka nggak semangat, namun ia harus tuntas dan kelar skripsi tahun ini. Mengingat dirinya yang tengah berbadan dua, akan sangat repot apabila Disya memilih menundanya. Setelah melahirkan ia pasti akan lebih repot dengan aktivitas status barunya.
"Sayang, ini dari sini, kamu harus revisi," ucap Sky seraya membuat coretan di beberapa kalimat di sana.
"Revisi lagi?" Disya mendesah tak percaya. Cukup memusingkan ditambah harus revisi ulang benar-benar membuat si calon ibu itu merasa frustasi.
"Iya, kamu yang teliti dong Sya, kalau ngerjain sesuatu." Sky menjabarkan kalimat dengan gamblang.
"Huhf ... susah, bantuin dong yank ... please ... " pintanya memohon.
"Ini kan lagi dibantuin sayang, didengerin kalau aku ngejelasin." Sky harus ekstra sabar menghadapi istri labilnya, salah strategi bisa ngambek sepanjang hari. Tapi, tentu masalah tugas kuliah tetap Disya mengerjakan sendiri, Sky hanya mengarahkan tanpa membantu menjawab.
"Iya tahu, kamu bantuin aku sebagai Dosen, aku pinginnya kamu bantuin aku sebagai suami aku!" jawabnya sedikit ngegas
"Hah, maksudnya?" Dahi pria itu berkerut indah.
"Ish ... nggak peka," jawabnya mrengut. Menyambar kertas dari tangan Sky.
"Sayang, sini-sini ... dengerin." Sky merangkum bahu istrinya, membelai dengan lembut. "Kalau ngerjain tugas tuh pelan-pelan aja, jangan sambil marah-marah, bukannya cepet selesai malah bubrah dan nggak jelas. Aku yakin kamu bisa, ayo semangat." Sky menghujani ciuman di pipi istrinya.
"Jangan gini ... geli ih ...," rengek perempuan itu seraya mengusap pipinya yang sedikit basah.
"Jangan dilap, tanda sayang ini." Sky menyorot serius.
"Kamu ngapain lihatin aku kek gitu? tanyanya salah tingkah.
"Pengen lihat aja istriku." Sky mencubit pipinya gemas.
"Sakit Mas ... udah sana, munduran jangan ganggu."
"Besok lagi, udah waktunya tidur ayo .... "
"Kamu duluan ntar aku nyusul."
"Bareng lah, mana enak tidur sendirian." Sky membimbing Disya ke tempat tidur.
"Bersih-bersih dulu," ujarnya melangkah ke kamar mandi.
Sky menghampiri ranjang saat istrinya tengah memainkan ponselnya. Pria itu merampas ponsel istrinya dan menaruhnya di atas nakas.
"Udah malam sayang, tidur."
"Mas ... bentar, nanggung lagi berbalas pesan dengan Bila."
"Besok lagi, sekarang waktunya istirahat."
__ADS_1
Sky berbaring di sebelah Disya, tangan kekarnya memeluk erat. Pria itu menempelkan kepalanya di cerukan leher istrinya, mencari kenyamanan di sana. Setelah beberapa detik bergerak mencari kedamaian, akhirnya pria itu anteng. Disya melirik, sedikit memberi jarak, suaminya sudah terlelap damai. Disya tersenyum lembut, tangannya terulur mengusap rambut suaminya pelan.
"Manja banget kamu Mas, nggak bisa tidur kalau nggak meluk aku, apa kabar kalau anak kita sudah lahir," gumamnya tersenyum.
Sky sudah terlelap damai, Disya pun mencoba mengikuti. Sial, mata perempuan itu bahkan masih segar bugar, padahal tadi sudah lumayan ngantuk. Ia beringsut mundur, melepas pelukan Sky yang melilit tubuh. Ia geser tangan suaminya pelan, benar-benar pelan.
Disya menyambar ponsel di atas nakas, mencoba berselancar di dunia maya, siapa tahu bisa mempercepat waktu tidurnya. Gagal, netranya masih bening, karena belum mengantuk akhirnya ia bergelut di depan laptop. Perempuan itu berniat merevisi skripsi yang penuh coretan tadi sore. Cukup lama Disya fokus di depan layar, tanpa sadar ia telah berhasil merampungkan dengan lancar. Suasana sunyi nan damai cukup membuat calon Ibu itu berkonsentrasi penuh.
Tepat pukul 01.17 Disya berdiri dari duduk dan mengendurkan otot di tangannya. Punggungnya terasa pegal, tiba-tiba ada telapak tangan hangat yang mengusapnya. Perempuan itu hampir memekik, sudah pasti pelakunya Mas Sky.
"Mas, kok bangun sih?" tanyanya.
"Guling aku ilang, kamu ngapain masih di sini? Istirahat sayang, besok dibantuin."
"Nggak bisa bobok, ya udah aku gunain waktunya buat revisi."
"Jangan dipaksain, kamu lagi hamil nggak boleh terlalu capek, ayo tidur."
Disya merentangkan kedua tangannya, tanpa menjawab Sky langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa ke ranjang. Sky kembali terlelap setelah memeluk istrinya.
***
Pagi harinya mereka aktivitas seperti biasa. Bangun, ibadah, bersih-bersih, sarapan dan bersiap ke kampus. Mereka berangkat agak siang karena jadwal keduanya kebetulan siang.
"Mas, ini kemejanya yang ini aja," ujar Disya mengambil dari lemari.
"Itu kena noda liptint aku sedikit, nanti jadi aneh pagi-pagi udah serangan fajar, padahal tadi nempelinnya nggak sengaja."
"Kamunya rusuh," kata Sky tersenyum.
"Apa, nggak ada ya, kamu yang godain aku duluan. Udah diem, sini lepas."
"Aish ... ini udah nyaman, kenapa harus lepas." Pria itu mengeluh, namun terdiam saat Disya membantu menanggalkan kancing kemejanya.
"Sya, masih ada berapa menit lagi sampai kamu masuk jam pertama," tanya pria itu menatap lekat.
"Habis ini berangkat, emangnya kenapa?"
"Pingin," rengeknya mengerling.
"Ish ... nggak keburu lah, nanti aja," ujarnya seraya menghentikan pergerakan Disya yang tengah memakaikan kemeja yang baru.
"Ah ... semalam sibuk nggak sempet, pagi memburu, kapan ada waktu berdua buat aku."
"Setiap hari juga berdua, semua waktuku hampir full bersamamu, kamu aneh banget Mas."
"Beda Sya, aku sibuk kamu sibuk, gimana dong."
__ADS_1
"Bawel ih, nanti aku sumpel bibir kamu."
"Mau dong disumpel, dikit buat vitamin pagi."
"Yakin nggak lebih? Mencurigakan." Disya menatap horor.
"Dikit doang, ayo ah, masa' gagal lagi."
"Mas, nanti bimbingan ya?"
"Oke aja aku mah, siap."
"Yang kemarin udah di benerin?"
"Udah, tapi nggak tahu deh revisi lagi apa nggak." Sky terkekeh melihat istrinya menyindir.
"Ayo Sya?" Sky menahan tangan Disya.
"Hmm, ayo Mas."
"Ish ... bukan yang itu?" Sky mrengut.
"Apa sih, pagi-pagi nggak jelas."
"Buka, sayang."
"Hah! Buka?" Disya membeo.
"Iya tunggu apalagi?"
"Nggak keburu Mas, jangan aneh-aneh."
"Beneran nggak mau? Ya udah nggak pa-pa." Sky menekuk wajahnya dan mlipir ke luar kamar.
"Yah ... kok ngambek sih, kan dia juga mau ngajar, nggak takut terlambat apa?"
Disya akhirnya melihat jadwal, masih ada waktu lumayan longgar kurang dari dua jam. Namun, perempuan itu ada ketemu dengan Bila di perpustakaan. Mereka sudah janjian lebih awal, untuk sharing bersama.
Disya masih bergelut dengan pikirannya, ketika Sky kembali ke kamar. Ia melewati Disya begitu saja tanpa menoleh.
"Mas ...," Panggilnya lirih.
Tidak ada sautan.
"Mas Sky ...!" sedikit lebih keras. Pria itu hanya melirik dingin tanpa merespon.
Mampus, ngambek beneran?
__ADS_1