One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 59


__ADS_3

Disya spontan mendelik. "Bapak jangan ngadi-ngadi deh, ini di kampus!" Disya menghentikan pria itu yang semakin mendekat dengan jari telunjuknya, ia tempelkan di dada bidang laki-laki yang tingginya dua puluh centi meter lebih tinggi dari Disya.


"J-jangan terlalu dekat!" pekik Disya mrengut. Sky bukannya diam atau mundur malah mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya nyaris menempel ke pipi Disya.


Sky menangkap jari telunjuk Disya dan mengulumnya bagai permen. Spontan gadis itu membulatkan matanya.


"Ikh... Bap---" Omongan Disya kepotong di udara sebab pria itu langsung menyambar bibir gadis itu.


"Bapak, apa-apaan sih? Ini kampus?" protes Disya seraya berusaha melepas pagutannya. Namun, Sky kembali menarik tengkuk Disya dan ******* bibir istrinya dengan rakus.


Tok tok tok


"Permisi!" suara ketukan dan salam menghentikan aksi Sky yang menggebu. Disya segera menyingkir agar berjarak normal, sementara Sky duduk dengan elegan di kursi kerjanya.


"Masuk!" seru Sky dari dalam setelah semua di rasa aman.


"Maaf Pak, minta waktunya sebentar," ucap perempuan di ambang pintu.


"Iya, kenapa?" saut Sky dingin.


"Mau perbaikan nilai Pak?" ujar gadis itu.


"Nanti jam dua saja, saya sedang ada mahasiswa bermasalah," jawab Sky santai.


Sontak Disya mendelik menatap Sky. Sementara perempuan di ambang pintu itu menatap sinis ke arah Disya, kemudian undur diri.


"Bapak, apa-apaan sih. Saya nggak bermasalah," protes Disya.


"Banyak Sya, masalah hati kamu, terus masalah materi tadi kamu belum mengerjakan. Nih... kerjakan dulu sampai selesai baru boleh keluar dari ruangan saya." Sky menyodorkan lembaran soal yang tadi anak-anak mengerjakan di kelas.


"Ya ampun... banyak banget, mana jam dua ada rapat lagi," keluh Disya memelas.


"Jangan banyak protes Sya, di kerjakan saja biar cepet selesai." Sky mengintruksi.


"Kalau di kerjakan di rumah boleh nggak Pak, saya cape. Sumpah butuh istirahat," jawabnya manjah.


"Nggak boleh, ini bukan tugas rumah, tapi tugas jam pelajaran. Ini aja saya baik, bolehin kamu ngerjain di sini."


"Ish... pelit amad, tahu gini tadi saya nggak ke kantin," celetuk Disya sebal.


Disya mulai menatap lembaran soal-soal tersebut dan bersiap mengerjakan. Perempuan itu mengerjakan dengan serius. Sementara Sky menatap wajah Disya dengan lekat.


"Jangan lihatin saya terus dong Pak, mending bantuin?" nego Disya. Ia berbicara sambil menatap soal-soal di depannya.


"Boleh, tapi ada syaratnya."


"Apa?" Disya menjeda kegiatan menulisnya lalu menatap Sky dengan mata berbinar.


"Satu soal, satu kecupan. Berarti kalau ada tiga puluh soal tiga puluh kecupan+*******+desa han."

__ADS_1


Dasar mesum! Pria sinting!


"Tidak usah di bantu Pak, terima kasih, saya bisa kerjakan sendiri," jawab Disya tegas.


Pria itu terkekeh gemas melihat tingkah dan ekspresi istrinya.


"Yakin? Padahal tadi saya udah siap lho," ujar pria itu seraya mengendus rambut belakang Disya.


"Bapak minggir deh, kemana dulu sana. Ganggu tahu?" protes Disya kesal. Dosennya itu bukannya membantu malah membuat Disya susah berkonsentrasi.


Sky menumpu kedua tangannya pada pundak Disya, lalu meremas bahu Disya dengan gemas. Sontak Disya bertambah buyar konsentrasinya. Jangankan untuk menulis, menggerakan tangannya saja bergetar.


Ini orang ngeselin banget sih.


"Tolong Pak, kondisikan tangannya!" protes Disya jengkel.


Sky bukannya berhenti dan menarik tangannya, malah kini merangkul dari belakang seraya mengendus pipi Disya.


Plak


Satu tamparan menggunakan kertas soal mendarat sempurna di muka tampannya.


"Bapak bisa minggir nggak sih, jangan sentuh saya?!" bentak Disya kesal. "Bapak maunya apa sih?" sambung Disya jengkel.


"Kamu. Kalau nggak boleh sentuh kamu, terus aku harus sentuh siapa Sya? Cewe lain emang boleh?" Seringai licik nampak tergambar jelas di wajah Sky.


Hening


Peliharaan? Kucing kali ya? Hahaha!!


Glek


What the...! Astaghfirullah...! Disya menatap tajam pria di sampingnya. "Belum cinta udah berani berulah, siap-siap saja kena..."


"Kamu emang beda, Mas. Karena kamu bukan dia, yang selalu setia, bahkan di saat aku sudah tak sempurna," gumam Disya dalam hatinya. Kembali mengingat Rayyan, sosok orang yang begitu lembut dan sayang memperlakukan dirinya, sayangnya mereka tidak berjodoh.


"Kena apa Sya?" tanya Sky, dan seketika membuyarkan lamunan gadis itu.


"Nggak ada, saya kerjakan di kelas saja Pak, di sini tidak aman untuk jantung saya," jawab Disya jengkel.


"Sini aja sayang... iya deh, iya... saya nggak ganggu." Pria itu kembali duduk di kursinya. Terlihat sibuk dengan laptopnya, Disya juga mulai mengerjakan kembali.


Sesekali Disya bertanya jika ada yang tidak di mengerti, laki-laki itu menjelaskan dengan lugas. Tanpa sadar semuanya mengalir begitu saja. Disya masih fokus dengan soal-soalnya sementara Sky tengah merekap nilai siswa seraya sesekali mencuri pandang ke arah istrinya.


Satu jam berlalu, tak terasa Disya sudah melewati nya di bawah tatapan Sky yang membuat gadis itu jengah sejujurnya. Tapi, tidak ada pilihan baginya.


"Saya permisi Pak, soal sudah saya kerjakan berarti saya sudah boleh keluar dong?" Disya menyodorkan lembaran soal tersebut dan langsung di terima Sky. Sebenarnya Disya memang cukup pintar jadi Sky diam-diam sangat senang, anak-anaknya kelak bakalan mempunyai mommy yang cerdas. Jadi sudah nilai a plus untuk istrinya.


"Masih belum sah," kilah pria itu.

__ADS_1


"Maksudnya?" Disya mengeryit bingung.


Sky terdiam, pria itu langsung menarik tangan Disya yang hendak berbalik. Hingga gadis itu terjerembab ke dalam pelukannya dan spontan Sky langsung menyambar bibir Disya dengan sedikit menuntut. Sky mencium gadis itu dengan durasi yang cukup lama.


"Jangan protes, anggap saja itu bonus karena saya udah bantu kamu ngerjain tugas sampai selesai."


"Ish... mesum terus, nyebelin banget sih!" Disya membrengut.


"Nggak usah di tekuk gitu bibirnya, nanti aku cium lagi mau?"


Disya menatap Sky serius, lekat dan dalam. Mencoba menggali keberanian untuk menyeruakan isi hatinya. Sky membalas tatapan Disya lebih dalam, seolah mata mereka saling berbicara mewakili mulutnya.


"Kamu selalu perhitungan, memaksakan kehendak hatinya." Disya mengeluarkan uneg-unegnya.


"Maaf mas, tolong beri saya ruang dan waktu. Saya bahkan sedang belajar untuk bisa memahami dirimu di masa depan," ucap gadis itu sungguh-sungguh.


Sky hanya diam, mencoba memahami setiap kata yang di ucapkan gadis itu. Mungkinkah selama ini dirinya terlalu egois, atau Disya yang terlalu labil.


"Iya, maafkan aku yang terlalu memaksa. Maaf Sya." Sky langsung membawa tubuh Disya ke dalam rengkuhannya. Pria itu memeluk Disya begitu erat. Berharap pelukan itu bisa memberikan rasa nyaman untuk istrinya.


***


"Promise."


Disya menunjukkan jari kelingkingnya. Sementara Sky menatap dengan datar.


"Promise. Tapi kalau nggak khilaf," jawab pria itu tersenyum.


"Kenapa?" Dahi Disya berkerut indah.


"Terlalu lama, mungkin saya nggak kuat," jawab Sky jujur.


"Satu bulan bagaimana?" nego Disya.


"Satu minggu," ujar Sky. Perempuan itu mrengut. Kembali menekuk wajah ayunya.


"Sepuluh hari."


"Tiga minggu." Disya masih berusaha menawar.


"Dua minggu. Deal!"


Disya nampak berfikir, dua minggu juga masih terlalu cepat, tapi mengingat itu adalah kebutuhan biologis seorang pria yang sudah beristri, Disya mencoba memahami.


"Oke dua minggu, saya harap Bapak bertindak sesuai kesepakatan."


"Setidaknya, kita butuh saling mengenal dulu," sambung Disya.


"Ya, saya setuju. Tapi jangan membatasi apapun, selain satu itu. Saya berusaha untuk memahami hati kamu, setelahnya kamu berjanji harus bisa memahami hati saya."

__ADS_1


"Deal!"


Setelah mengobrol berdua dari hati ke hati, semua terasa enteng. Setidaknya untuk jeda dua minggu ke depan Disya meminta agar pria itu tidak meminta haknya lebih dulu, mungkin ini adalah rembuk atau kesepakatan paling konyol diantara banyaknya pasangan. Tapi kenyataannya hati butuh penyesuaian diri dan waktu.


__ADS_2