One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 125


__ADS_3

Sudah tiga hari Bintang di rawat di rumah sakit, Bunda Yuki yang setiap hari menemani putrinya. Mendengar perihal sakitnya Bintang juga cukup memberi perhatian Bu Wira dan Pak Wira. Ke dua orang tua Rayyan menjenguk secara khusus calon mantunya.


Bintang yang awalnya masih sedikit kesal tak banyak berkutik. Gadis itu cukup tak enak dengan perhatian ke dua orang tua Rayyan. Bu Wira bahkan sangat bersemangat menjadikan Bintang sebagai bagian dari keluarganya. Wanita seumuran Bunda Yuki itu sangat senang melihat anak semata wayangnya sudah bisa move on dari Disya.


Perempuan itu pikir Rayyan akan sulit untuk menemukan pengganti gadis itu, sebab dalamnya perasaan anaknya tersebut, ia pun sempat kesal dan benci dengan putri dari Pak Amar itu karena telah mengecewakan putranya, dan melepas jalinan mereka yang hampir serius. Kekesalan itu tentu tak luput dari putusnya mereka yang sempat menyebabkan keterpurukan dan luka mendalam untuk Rayyan. Walaupun kejadian Bintang dan Rayyan cukup unik dengan kegrebek, tetapi Bu Wira cukup bersyukur karena Bintang berasal dari keturunan keluarga baik-baik.


"Bintang, kapan ujiannya sayang?" tanya Bu Wira perhatian.


"2 minggu lagi tante," jawab gadis itu seadanya.


"Wah ... cepet pulih ya? Semoga diberikan kelancaran," ucapnya tulus.


"Terimakasih tante," jawab Bintang sopan.


Suasana di ruangan pun nampak begitu hangat, dua keluarga yang saling mengobrol penuh suka cita. Tentunya berbanding terbalik dengan keadaan Bintang dan Rayyan, walaupun mereka berdekatan, tetapi bahkan hatinya seakan menjauh. Respon Bintang yang terlampau dingin, dan Rayyan yang menatap bingung. Ke duanya terdiam cukup lama, hingga tanpa sadar waktu menggerus keterdiaman mereka.


"Kakak nggak kerja, kok dari tadi di sini terus," tanyanya menyerah. Tidak tahan mengunci mulutnya sedari tadi.


"Pingin jagain kamu, jadi praktis untuk hari ini aku meliburkan diri," ucap pria itu.


Bintang bingung cara menyikapi orang yang telah membuat hatinya galau. Ia benar-benar bingung dengan perasaanya sendiri. Tapi, tentu saja menerima kak Ray bukan sebuah solusi, ada kesenjangan di antara perasaan mereka nantinya saat berkumpul keluarga dan menemukan seseorang yang pernah dekat ada di lingkungan, bahkan rumah yang sama. Itu cukup membuat pertimbangan bagi Bintang. Tak ingin menjalin dengan orang lain yang masih ada bayang-bayang sang mantan.


"Kamu nggak suka aku di sini?" tanyanya sendu.


Bintang tidak menjawab, ia lebih memilih membuang muka dan menghindari tatapan Rayyan yang menghunus ke netranya.


"Bintang, apa yang membuatmu seragu ini, apa ... jalinan ikatan sebuah perkawinan itu tidak cukup kuat untuk membuktikan kalau aku benar-benar ingin melanjutkan pernikahan nanti."


"Aku meragu dengan semua sikapmu kak, bisakah kita bersikap seolah tidak mengenal saja, mengembalikan semua masa ceriaku seperti hidupku sebelum mengenalmu," ucapnya masih kesal.

__ADS_1


Tentu saja Bintang ragu, mengingat belakangan perilakunya begitu manis dan perhatian, tetapi dengan tujuan lain, ya itu menginginkan kakak iparnya kembali. Itu benar-benar pukulan yang berhasil membuat asa yang sudah melambung terjungkal ke belakang dengan perasaan yang memilukan.


Rasanya sakit itu masih tertinggal. Nyesek, sewaktu kemarin kak Sky mengatakan semua fakta yang ada. Merasa begitu dipermainkan, dan sekaligus dianggap rendahan, bayangkan saja dirinya bahkan di jadikan ajang balas dendam, itu kenapa gadis itu begitu merasa sakit hati.


***


Suasana rumah cukup repot, Bunda yang tengah banyak event, dan Bintang yang sakit, serta kesibukan Disya menjelang UAS. Jadi, praktis acara resepsi pernikahan mereka pun terpaksa di undur dan di undur lagi.


Gaun yang mau di pakai pun sudah ready, tapi karena kendala waktu yang kurang memungkinan membuat sejoli itu sepakat menundanya kembali. Kali ini Sky bahkan nurut saja ketika Disya mengumumkan pendapatnya, namun ada satu hal yang membuat pria itu menjadi cemberut sepanjang pembicaraan.


Disya ingin resepsi itu berjalan ketika jadwal kuliahnya libur, tentu setelah UAS pikirnya. Namun, sayangnya di penghujung semester 6 ke semester tujuh nanti, gadis itu bahkan akan mengikuti KKN. Jadi, praktis waktu liburnya akan dipangkas habis untuk kegiatan itu.


"Mas, jangan cemberut gitu, nggak enak banget di lihat."


"Diundur nggak masalah, tapi kalau harus di pisah dengan jarak berkilo-kilo, apa iya aku sanggup," ujarnya lemas.


Disya malah tersenyum mendengar pengakuan suaminya. "Cuma satu bulan lebih Mas, itu pun masih agak lama, kenapa udah di pikir dari sekarang."


"Ich ... lebay banget sih Mas, jangan parnoan."


"Nggak gitu Sya, tapi kamu bikin aku gelisah sepanjang hidup aku, kamu benar-benar suka banget nyiksa aku," keluh Sky gusar.


Memang agak repot meninggalkan pasangan yang statusnya lagi sayang-sayangnya, sudah pasti rindu itu akan menjadi topik utama.


"Ini baru sosialisasi loh, Mas. Apa kabar nanti, ya ampun ... kamu tuh bener-bener kaya bocah." Disya mencubit pipi kiri dan kanan suaminya. Gadis itu geli sendiri menghadapi suaminya yang bersikap seperti anak kecil.


"Udah, jangan di pikirin dari sekarang, aku nggak kemana-mana Mas," jelas gadis itu menenangkan.


"Janji deh, habis KKN, kita resepsi terus liburan," sambungnya mencoba memberi pengertian.

__ADS_1


"Hmm," Sky hanya menjawab dengan gumaman. Jujur ia teramat berat kalau hari itu tiba, dirinya bahkan susah untuk terlelap tanpa Disya, lantas apa kabar kalau di tinggal dalam waktu yang lama, sungguh itu sangat meresahkan.


"Sya, kalau boleh jujur aku keberatan kamu ikut?" jujur pria itu.


"Ini sebagian dari tugas, untuk memenuhi syarat perkuliahan Pak Sky yang budiman?" ujar Disya gemas.


"Iya tahu, ah ... bikin aku galau."


Padahal hari itu masih jauh, baru sosialisasi saja Sky sudah uring-uringan, bagaimana kalau nanti saat KKN tiba, Disya tersenyum sendiri membayangkan suaminya yang meneror lewat ponselnya. Hahaha


"Aku berdoa semoga kamu cepat hamil, dan bisa izin untuk tidak ikut," celetuk pria itu.


Disya melirik suaminya, yang dilirik cukup tenang membawa obrolan.


"Aamiin ...," jawab Disya mengiyakan. Sebenarnya Disya belum kepikiran untuk hamil lagi, dengan jadwalnya kuliah yang seabrek dan kegiatan kampus tentu akan menambah riweh kalau harus di repotkan dengan morning sickness. Gadis itu masih terngiang hal itu, setiap pagi bahkan mengalaminya. Namun, ia tak sampai hati membunuh semangat suaminya yang begitu menginginkan anak. Rencana untuk KB pun ia urungkan, sebab Sky melarangnya.


"Mas, hari ini jadi jemput Bintang dari rumah sakit?"


"Iya, Bunda menyuruhku untuk menjemputnya."


"Oke aku ikut ya?" pintanya semangat.


"Semangat banget kalau berhubungan sama rumah sakit," celetuk Sky memicingkan matanya, wajahnya tersirat curiga.


"Jangan mulai deh, aku hanya senang Bintang sudah pulih. Ya udah deh, aku tunggu di rumah Bunda saja," ujar Disya mencari aman.


"Nggak pa-pa kalau mau ikut, ayo sayang," ajak pria itu santai, mengulurkan tangannya.


Disya menyambut uluran tangan suaminya dengan senyum terkembang. Mereka berjalan sambil Disya menggamit tangan suaminya.

__ADS_1


"Boleh ya Mas," tanyanya memastikan.


"Boleh, tapi nanti malam double ya kalau sampai hari ini buat aku kesal."


__ADS_2