One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 120


__ADS_3

"Maaf," kata sky lirih, setelah melepas kecupan hangatnya.


"Aku lelah Mas, sebaiknya langsung pulang saja," jawab Disya mengalihkan tatapan Sky.


"Iya, kita pulang sekarang. Mau pulang ke rumah bunda apa pulang ke apartemen?" tanyanya memberi pilihan.


"Ke rumah mama," jawab Disya datar. "Aku ingin pulang ke rumah mama, percuma juga tinggal di sana diacuhkan, dianggap tidak ada," sindirnya sinis.


Sky cukup tertegun mendengar jawaban Disya, ia sadar betul kemarin telah bersikap terlalu dingin padanya. Netranya menyorot lembut, penuh dengan penyesalan.


"Ini sudah terlalu malam, mungkin mama sama papa sudah istirahat, nanti kita bisa ganggu," kilahnya mencari alasan. "Kita pulang ke apartemen aja ya?" Pria itu memutuskan pulang ke apartemennya, ia harus membicarakan hati mereka berdua dengan leluasa.


Disya bergeming, tidak menanggapinya lagi, takut salah ditambah drama penjemputannya membuat Disya sedikit kesal. Disya juga diam saja, ketika menyadari kalau mobil yang ia tumpangi melaju ke arah lain. Bukan rumah mama seperti yang ia inginkan.


Gadis itu malah menyenderkan kepalanya di badan jok, memejamkan matanya yang mulai lelah dan mengantuk, hingga tanpa sadar Disya tertidur di sana.


Sky melirik sekilas, dilihatnya istrinya sudah terlelap damai. Sudut bibirnya melengkung, sedikit lega telah bersama istrinya kembali walau kelihatannya Disya masih kesal.


Sampai di basemen apartemen, pria itu memarkirkan mobilnya. Tak ingin mengusik ketenangan istrinya yang terlelap, Sky langsung menggendongnya saja, cukup repot, namun ia tidak mengeluh, dengan hati-hati membawa tubuh istrinya ke hunian mereka.


Sky membaringkan tubuh istrinya pelan, melepas sepatunya, dan menyelimutinya. Terakhir meninggalkan jejak sayang di bibir dan kening sekilas, baru pria itu beranjak. Menuju kamar mandi, bersih-bersih sebelum tidur dan menyusul istrinya ke atas ranjang. Ditatapnya wajah istrinya yang kadang membuat ia jengkel, tapi hatinya tidak pernah bisa berpaling sedikit pun. Disya adalah pusat dunianya. Entah akan menjadi seperti apa hidup tanpa dirinya. Ia pun begidik ngeri membayangkan hal itu.


Sky kembali mendaratkan kecupan manis di bibirnya yang ranum. Gadis itu sedikit terusik tapi tak membuat ia bangun, hanya berpindah posisi menjadi memunggunginya. Sky langsung memeluknya dari belakang, menghirup wangi rambutnya yang begitu ia rindukan, diciuminya beberapa kali kepala istrinya lalu menyusul gadis itu yang sudah menyambangi mimpi.


Pagi harinya, Disya terjaga lebih dulu. Merasakan sesuatu yang berat pada tubuhnya. Rupanya suaminya itu terlalu erat memeluk gadis itu dalam dekapan. Sapuan hangat pria itu begitu terasa mengendus pipi, jarak mereka yang begitu dekat, membuat gadis itu tak bisa berbuat banyak.


Disya melirik suaminya, masih anteng terlelap. Dengan hati-hati Disya mengendurkan tangan suaminya yang melingkar indah di pinggangnya. Perempuan itu memejamkan matanya hingga menahan napas agar pergerakannya tidak begitu kentara. Disya bernapas lega setelah memindahkan tangan itu dengan hati-hati. Ia pun segera bangkit dan berujar turun dari ranjang.


"Mau ke mana?" Suara bass pria itu menyeru, terdengar serak-serak berat mampir ke telinganya.


Pergerakannya terhenti, kaki yang hendak mengayun turun ke lantai pun urung demi mendengar seruan pria itu.


"Bangun, ini kan sudah pagi," jawab gadis itu tanpa menoleh.


Dengan gerakan cepat Sky langsung meraih pinggang istrinya, dan memeluk tubuhnya dari samping.


"Masih terlalu pagi Sya, bobok lagi aku masih ngantuk," kata pria itu sambil kembali memejamkan matanya. Menjadikan pundak Disya sebagai tumpuan dagunya, sementara kedua tangannya melingkar indah, mengurung posesif.


Disya bergeming, gadis itu sudah tidak mengantuk dan jelas ia sama sekali tidak nyaman dengan posisi sekarang. Suaminya mengikis jarak, sapuan hangat napasnya menyerbu pipi, mata pria itu terbuka dan mendapati istrinya yang tengah meliriknya.


Sky memberikan jarak, menatap mata indah istrinya begitu lekat. Punggung tangannya terulur mengelus pipi seputih pualam itu. "Maaf, untuk yang kemarin. Aku sangat egois, membuatmu takut dan marah," ucap pria itu lirih, namun begitu jelas dan teduh.


"Aku juga minta maaf, Mas, aku hanya tidak suka caramu yang terlalu pecemburu. Kamu bahkan tidak mau mendengar penjelasan apa pun langsung murka, itu membuat aku bingung mengambil sikap," jawab Disya sendu.

__ADS_1


"Jangan marah lagi, jangan ngambek lagi, dan jangan coba-coba untuk berencana tidak pulang, karena aku pasti akan menyusulmu. Satu lagi, aku bisa lebih murka kalau kamu bertemu dengan pria itu tanpa sepengetahuan aku."


"Aku tidak sengaja bertemu Mas, kamu selalu gitu berasumsi sendiri tanpa tahu faktanya."


"Kamu tahu aku tidak suka kamu berinteraksi dengannya, kenapa malah duduk berdekatan? Kamu bisa menghindar."


"Kamu selalu benar, paling benar dan tidak pernah salah," kesal Disya membodohi. Gadis itu menekuk wajahnya kembali.


"Aku tidak seegois itu, ayolah sayang ... aku lelah berantem terus."


"Kamu nyebelin Mas, bahkan semalam aku sangat terhibur karena ulah teman-temanku, tapi kamu malah menjemputnya begitu saja, kesel tauk," protes Disya memberengut.


"Bagaimana ceritanya seorang suami tidur sendiri Sya, sedang ia punya istri."


"Lebih baik sendiri, dari pada berdua tetapi tidak dianggap," celetuknya mengeluarkan uneg-uneg hatinya.


"Itu tidak lebih baik Sya, aku bahkan tidak bisa merem," jawabnya jujur.


"Tapi kemarin malam kamu bahkan tidur mengacuhkanku Mas, sakit banget digituin, kamu tidak berperasaan."


"Kamu-nya aja yang nggak peka, itu tandanya aku mau kamu memelukku dari belakang. Coba kalau kamu lakuin itu sambil menggumamkan kata keramat, pasti aku langsung leleh, kamu nakal, seneng membuat aku emosi," kata pria itu terus menatapnya.


"Kamu terlalu posesif," protes Disya manyun.


"Tapi kamu mengekang aku, Mas, membatasi semua aktivitasku tanpa terkecuali, kamu nggak percaya sama aku, Mas."


"Akan aku perbaiki semuanya, agar kamu bisa lebih nyaman bersanding denganku, maaf untuk semua keegoisanku yang kemarin."


"Dimaafin nggak ya? Aku pikir-pikir dulu deh, takut nanti kumat," ledeknya serius.


"Dimaafin, harus. Suami istri nggak boleh marahan terlalu lama, nanti kata bunda kapan punya cucunya?" ucap Sky sambil mengulum senyum.


Mendengar kata cucu membuat pipi gadis itu bersemu merah. "Bangun Mas, mandi," kilah Disya hendak bangkit menghindari tatapan Sky yang menguncinya.


"Aku kangen Sya," kata pria itu lirih, terdengar serak dan berat.


Disya bingung sendiri menjawab risalah hati pria itu, tatapannya yang dalam membuat gadis itu mengalihkan ke arah lain.


"Sayang .... " Sky bergelayut manja di pundak Disya.


"Sebaiknya kamu mandi Mas, nanti kita bisa telat."


"Enggak, aku masuk siang, kamu juga kan. Kan jam setengah sepuluh jamnya aku, jadi masih ada banyak waktu untuk kita berdua."

__ADS_1


Oh ya ampun ... kenapa aku bisa lupa kalau orang yang sedang di depanku adalah dosenku. Tamat riwayatku pagi ini.


"Sya ...," rengeknya manja, mengendus belakang telinga Disya.


"Geli Mas," protesnya tak kuasa menahan gelenyar berbeda yang direspon tubuhnya.


"Sya, boleh ya?" pintanya tanpa bisa dicegah. Belum juga mengiyakan tangan pria itu sudah bergerak nakal.


"Tapi ini pagi Mas, nanti bakalan ribet," tolaknya halus, sangat mengerti maksud suaminya yang menatapnya begitu dalam.


"Please ..., kasih ya? Janji cuma satu kali, nggak nambah apalagi minta double dan triple." Seperti pembaca yang minta upnya double-double. Ups ... sorry netijen, mohon jangan suka minta nambah kasihanilah author. Oke oke kembali ke topik.


"Aku mikir dulu deh." Disya menimang-nimang.


"Kelamaan sayang." Laki-laki itu langsung menyerbu bibir gadis itu dengan tamak, masuk menyeruak tanpa permisi. Sedikit menekan agar Disya membuka mulutnya dan membalas dahaganya selama dua hari ini.


Pagutan pun bersambut, gadis itu mulai mengalungkan tangannya ke leher pria itu, membuat Sky semakin semangat mengeksplorasi ke seluruh sisi, mencecapi dan menggulat sengit, hingga napas gadis itu tersengal. Puas bergulat dengan indera perasa, pria itu beralih ke sisi yang berbeda, mencumbu dengan rakus leher jenjang istrinya hingga tanda bintang itu berkilauan memenuhi daerah sana.


"Jangan di situ banyak-banyak, nanti membekas," protes Disya di tengah rasa geli dan nikmat.


"Udah terlanjur, nikmati saja, aku mau buat lagi di semua sisi, di seluruh tubuhmu," kata pria itu sambil melepaskan kausnya.


"Mas ...," suaranya yang manja membuat pria itu begitu semangat.


"Hmmm, apa sayang?" gumamnya dengan napas berat.


"Geli, akh ...," Disya memekik tertahan, meremas lembut rambut suaminya yang bergerak nakal.


"Jangan ditahan, aku ingin mendengar suara des@hanmu sayang."


Pagi itu, dan terjadilah sesuatu yang harusnya terjadi. Sky menciumi wajah istrinya setelah berhasil menanam bibit unggul miliknya. Pria itu tersenyum hangat.


"Makasih untuk pagi yang panas," kata pria itu semakin lebar membuat lengkungan di bibirnya.


Disya menatap suaminya yang tersenyum puas, sementara dia sendiri menarik selimutnya menyembunyikan wajahnya di sana.


"Ih ... ngegemesin banget sih." Sky kembali menciumi pipi Disya di balik selimut.


"Mandi sayang, nanti telat."


"Hmmm," gumam Disya malas.


"Bareng ya?"

__ADS_1


__ADS_2