One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 162


__ADS_3

"Kamu terlalu meremehkan aku, Sya, kamu pikir aku tertarik sama perempuan selain kamu?" Sky harus memupuk sabar yang besar. Resiko punya istri yang masih muda, masih labil, ditambah hormon kehamilan yang menaunginya, membuat calon Bapak itu harus pintar-pintar menguasai suana hatinya.


"Tapi kamu sering nggak fokus sama aku, lebih suka natap laptop atau ponsel berlama-lama."


"Sayang, itu cuma perasaanmu saja, tidak ada hal yang lebih menarik selain dari pada dekat denganmu, dan tidak ada yang membuatku menginginkan selain tubuhmu. Dari mulai ujung kaki, sampai rambutmu aku suka. Tak peduli sekarang kamu seperti apa, perasaan itu tetap sama. Aku mencintaimu Disya sayang." Sky meyakinkan istrinya, belakangan perempuan itu memang lebih manja.


"Jawaban selanjutnya, tentu saja aku sedang sibuk kerja, bukan maksud menepikan dirimu, tapi tugasku tetap membuatmu, dan anak-anak kita nantinya hidup nyaman dan bahagia. Paham 'kan?" Disya masih mrengut, tapi mengangguk juga.


Sky mengambil jari jemari Disya, membawa dalam genggaman. "Percaya dong Sya, lagian mana ada cewek yang berani chat aku duluan, kalaupun ada itu sudah pasti kamu pelakunya. Malah, aku yang penasaran, sejak kapan kamu mulai menyukaiku, kupikir dulu kamu sangat membenciku?"


"Eh, masih belum percaya?" Disya mengelus rahang kokoh suaminya. "Semenjak aku merasakan kasih sayang yang kamu berikan begitu nyata dan tulus, semenjak kamu terlalu sabar dan mampu membuatku merasa nyaman. Saat itu aku jatuh cinta padamu suamiku, maaf, mungkin sedikit terlambat tapi kamu harus tahu, aku bahagia hidup bersamamu."


"Terimakasih sudah mau mengerti, terimakasih sudah mau berjuang mencintaiku, terimakasih tetap mempertahankan rumah tangga kita, dan terimakasih sudah mau mengandung kembali anakku." Sky membawa tubuh perempuan itu ke dalam pelukan, menciumnya dengan sayang.


"Sayang ... apa kamu sudah ada ide nama untuk calon anak kita?" tanyanya seraya mengelus perut Disya yang sudah membuncit sempurna. Disya mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Aku sudah nggak sabar menanti di mana mereka hadir di tengah-tengah kita," ucapnya lembut.


"Sebentar lagi status kita berbeda, kamu akan menjadi Ayah, dan aku akan menjadi Ibu. Rasanya dunia ini berpacu begitu cepat, seperti baru kemarin aku bertemu denganmu, membenci bahkan berniat untuk pergi. Tapi skenario Tuhan ternyata lebih indah, aku yang tak pernah bermimpi menjadi istrimu, Tuhan mentakdirkan kita bertemu."


"Karena kita partner yang sesungguhnya, aku sudah berfirasat sejak awal, bahwa kamu jodoh yang dikirim Tuhan untukku." Mereka tersenyum bersama.


"Aku malah baru yakin setelah semua yang kau berikan untukku. Ah ... mengingat hari itu memang terasa sulit, kamu luar biasa Mas," pujinya tulus.


"Kamu masih ingin menyesali waktu?" Disya menggeleng. Nyatanya mengukir lembaran bersama Sky berujung manis. Laki-laki itu sungguh penyabar. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, mempunyai suami yang baik, pengertian, perhatian, dan yang paling penting penyabar dan selalu memprioritaskan wanitanya terlebih dahulu di atas kepentingan pribadinya, sungguh kau tidak akan menemukan selain pada diri suamimu.


"Iya, katakanlah aku beruntung bertemu denganmu."


"Aku yang lebih beruntung, karena kamu mengajarkan banyak hal yang mampu membawa hidupku ke arah yang lebih baik dan bermanfaat. Kamu istri yang luar biasa sayang."


"Kamu juga suami yang luar biasa. Aish ... kenapa perutku merasa melilit Mas, sepertinya sedikit nyeri." Obrolan hangat mereka terjeda karena Disya merasa tidak nyaman dengan kandungannya.


"Kamu kenapa? Jangan-jangan kamu kontraksi." Wajah Sky yang lembut tiba-tiba mendadak gusar melihat istrinya meringis menahan sesuatu di perutnya.


"Ayo sayang, kita segera ke rumah sakit, sepertinya baby twins sudah tidak sabar bertemu kita."


"Ini kenapa semakin nyeri ya Mas," keluhnya mengaduh. Sky langsung bergegas membawa Disya ke rumah sakit. Pria itu sangat khawatir tetapi tetap terlihat tenang, memberikan semangat untuk istrinya.


"Tambah sakit ya?" tanya Sky khawatir, satu tangannya sibuk mengelus perut istrinya, sementara tangan yang lainnya sibuk mengemudi. Sky mengemudi dengan kecepatan penuh tapi tetap memperhatikan keselamatan. Sesampai di rumah sakit, petugas medis langsung memeriksa Disya dan benar saja, perempuan itu sudah kontraksi mau melahirkan. Sejak dari awal, Disya sudah konsultasikan pada Dokter yang menanganinya untuk kelahiran dengan cara caesar.

__ADS_1


"Mas, aku takut," keluhnya menenangkan Disya sebelum masuk ke ruang operasi. Perempuan itu banyak beristighfar untuk menenangkan batinnya.


"Kamu bisa sayang, aku membantu lewat lantunan doa." Sky mencium Disya beberapa kali sebelum perempuan itu masuk ke ruang operasi. Pria itu menunggu dengan cemas, mulutnya sibuk melantunkan doa kebaikan untuk anak dan istrinya yang tengah berjuang. Setelah kurang lebih satu jam berlalu, tangisan dua bayi itu menghiasi ruangan. Ucapan syukur terus menggema diantara orang-orang yang menunggu Disya dengan cemas.


Setelah dua jam dari ruang observasi pascaoperasi, Disya sudah bisa ditemui dengan kondisi baik-baik saja. Sky nampak setia menemani istrinya di sampingnya. Perempuan itu tersenyum bahagia diantara dua bayi mereka.


"Makasih sayang, kamu hebat, I love you more, makasih udah melahirkan bayi-bayi yang lucu," ucap Sky berkaca-kaca. Pria itu menghujani istrinya dengan banyak ciuman.


"I love you too, bukankah semua ibu itu hebat, mereka menjadi perantara makhluk yang paling sempurna ciptaan Tuhan." Sky mengangguk, sorot matanya mengembun, tangis haru nan syukur melingkupi hati dan perasaannya.


"Selamat datang baby twinsnya Disky, kalian lucu dan menggemaskan sekali." Sky menatap takjub bayi mungil yang tengah dalam buaian istrinya. Perlahan Disya mulai belajar menyusui. Disya dan Sky sepakat memberi nama anaknya, Reagan dan Riley. Si kembar yang cantik dan tampan itu berwajah mendekati garis Ayahnya.


"Kenapa anak kita lebih dominan ke kamu yang, ah, ini sungguh tidak adil, aku yang mengandung tapi dua-duanya kamu banget," protes Disya mengamati garis wajah putra putri mereka.


"Kan aku Bapaknya, beruntungnya kamu mirip aku, nak." Sky tersenyum bangga. "Jangan khawatir sayang, ia akan tumbuh menjadi pintar seperti Mommynya." Sky memberi semangat.


"Ini terasa sakit, aku masih susah gerak Mas," keluhnya merasa gusar.


"Pelan-pelan saja sayang, di sini banyak yang membantu, kamu fokus pada dirimu saja supaya cepat pulih." Disya mengangguk patuh.


Semua keluarga datang menjenguk Disya. Ayah Asher dan Papa Amar bahkan sangat antusias menyambut cucu kembar mereka.


"Sepertinya rumahku akan terasa ramai, bagaimana kalau habis dari rumah sakit kamu pulang ke rumah Papa saja nak, Papa akan membantu menjaga si mungil kembar."


"Ayah, Papa, mereka akan tinggal bersama kami di rumah kami, kalau kalian kangen datang saja ke rumah, pintu kami selalu terbuka dua puluh empat jam untuk kalian," ucap Sky sopan.


"Begitu lebih baik, sebaiknya kalian sering akur, supaya cucu kalian tahu kakek-kakeknya sangat menyayanginya," timpal mama Amy. Mereka terkekeh bersama.


"Selamat sayang, kamu sudah menjadi wanita yang sempurna," puji Mama Amy dan Bunda Yuki. Dua orang tua itu tengah menggendong bayi mungil Disya satu-satu.


"Benar, kalian lucu sekali. Kita akan punya anak yang lucu seperti mereka ya sayang," ucap Bara mengelus pipi Reagan.


Selang beberapa jam, Rayyan dan juga Gerald datang, dua sahabat itu datang di saat masih ramai keluarga berkumpul. Mereka memberi selamat untuk orang tua baru tersebut.


"Ah, jadi kebelet nikah, otw nyusul Bara," celetuk Gerald seketika menggiring banyak orang di sana tertawa.


"Buruan gih nyusul, nanti keburu keriput," timpal Bara. Pengantin baru itu lagi anget-angetnya.


"Otw, gue mau bareng sama Rayyan," ucapnya spontan.

__ADS_1


"Yakin nungguin gue, hilal lo aja belum kelihatan?" cibirnya.


"Harap tenang, stok cewek belum punah, jodoh itu sudah di persiapkan tapi mungkin harus menunggu waktu yang tepat di saat yang tepat," ucapnya bijak.


Sementara di hari ke dua di rumah sakit, Disya kedatangan sahabat-sahabatnya menjenguk.


"Ya ampun ... beb, akhirnya lounching juga keponakan aunty," seru Bila berbinar. Hanum dan Sinta ikut mengerubungi mereka.


"Selamat ya sahabatku, semoga keberkahan selalu menaungi keluargamu di tengah-tengah kehadiran malaikat kecil kalian." Doa Bisma tulus.


"Selamat Disya--- Anggita maksudku, menjadi ibu yang hebat, semoga bahagia selalu menaungimu," ucap Alan tulus. "Kadonya transfer saja ya, gue yakin semua perlengkapan bayi sudah tersedia," selorohnya.


"Yang banyak Al, jangan ngomong doang," seru Bila. Perkumpulan seperti ini sangat jarang terjadi setelah lulus. Mereka sudah sibuk dengan urusannya masing-masing. Kendati demikian, pertemanan mereka tetap solid, masih aktif memberi kabar.


***


Setelah mendapat perawatan tiga hari di rumah sakit, keluarga besar Ausky sudah boleh pulang ke rumah mereka. Ibu muda itu tengah menikmati kesibukannya sebagai ibu baru, di bantu suaminya yang tak pernah sungkan ikut merawatnya.


"Rasanya seperti mimpi, mempunyai keluarga kecil yang begitu sempurna," ucap Sky penuh syukur.


"Kamu bahagia?" Jika di tanya seperti itu, tentu saja jawabannya adalah sangat bahagia.


"Aku bahagia hidup bersamamu. Semoga cinta kita langgeng selamanya, terukir indah hingga maut memisahkan kita."


Aamiin ....!


.


TAMAT


Ikuti novel Asri Faris lainnya.


1. Terjerat Pesona Dokter Tampan (Novelnya dr. Rayyan VS Rania di DDM)


2. Noktah Merah (Bisma dan Nabila)


3. Mendadak Nikah Dengan Ustadz (Novelnya anaknya Disky)


Hallo gaes ... gimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya ...

__ADS_1


Mau ngucapin banyak terimakasih buat kalian semua yang masih setia hingga cerita ini berakhir, terimakasih atas supportnya hingga novel ini tamat, kalian luar biasa, love you all.



__ADS_2