
"Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang ada panggilan darurat, kamu langsung pulang ya!" titahnya lalu pergi meninggalkan Disya dengan senyuman.
"Bro, gue duluan ya? Masih belum datang juga yang ditunggu?" teriaknya. Mereka agak berjarak, namun masih terlihat sehingga Rayyan merasa harus menyapa dan sekaligus pamit dengan sahabatnya itu.
"Iya sepertinya tidak datang," jawab Sky bohong.
Disya langsung mengikuti Rayyan yang berjalan mendekati mobilnya. Mobil mereka parkir tidak terlalu jauh.
"Jangan ke mana-mana, pulang lalu istirahat." Pesan Rayyan lalu masuk ke dalam mobilnya dan mobil Rayyan pun melaju.
Disya mengangguk patuh, saat hendak menarik gagang pintu mobil tiba-tiba terhalang oleh tangan seseorang yang menahannya.
"Pak Sky? Maaf Pak, saya harus segera pulang!" ucap Disya gugup.
Ditatap Sky selalu membuat Disya bingung sendiri. Pria itu mempunyai mata hitam dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu tidak ingin menjelaskan apapun padaku?" tanya pria itu dingin.
"Menjelaskan apa?" Disya sebenarnya takut sekali bila Sky mendengar pembicaraan mereka di taman.
"Oke, fine. Lakukan sesukamu dan terima saja endingnya dengan baik." Pria itu berujar pergi dengan membawa rasa kecewa.
Sky sebenarnya sangat ingin marah, namun ia takut Disya malah semakin menjauh. Ia akan memulai dengan trik lainya. Cepat, aman dan lugas langsung ke KUA saja.
Sepertinya percumah saja kompromi dengan gadis itu, hatinya telah dipenuhi dengan Rayyan dan Rayyan. Apalagi setelah tahu Rayyan tetap mau menerimanya dengan menikahinya, tentu saja Sky marah. Pria itu tidak mau nantinya terpisah dengan anaknya.
"****!" Sky memukul kemudi stir mobilnya. Pria itu kesal, bahkan sangat kesal, baru kali ini dia mendapatkan penolakan oleh seorang wanita. Kebanyakan mereka yang selalu memuja dan mengejar Sky, tapi kali ini beda, walaupun Disya sudah mengandung anaknya tetap saja menolak pertanggung jawaban darinya.
Pikiran Sky agak kacau, ia pun pulang ke apartemennya. Di depan pintu ia berpapasan dengan Flora, gadis itu pun menyapa dengan ramah.
"Hai Ky, baru pulang? Kamu terlihat lelah?" sapa Flora berjalan mendekat.
"Iya," jawab Sky datar dan langsung masuk ke rumah tanpa bertanya apapun dengan Flora. Tentu saja tindakan Sky yang kelewat cuek membuat gadis itu sangat kesal.
Sombong banget sih!
Flora berdecak sebal. Gadis itu pun segera melanjutkan langkahnya. Ia akan menemui adiknya yang telah membuat janji. Flora menemui Disya di sebuah kafe yang sudah disetujui untuk bertemu. Disya datang lebih dulu.
"Sudah lama menunggu?" tanya Flora datar.
__ADS_1
"Baru, ada apa ya? Kakak memanggilku? Kenapa tidak datang ke rumah saja, aku lelah ingin segera istirahat." Disya merasa harus mengistirahatkan tubuhnya. Gadis itu terlihat capek.
"Oke, habiskan minumannya lalu pulang saja ke apartemen kakak, ada suatu hal yang ingin kakak sampein ke elo."
"Kenapa tidak ke rumah saja, lebih nyaman dan tenang."
"Tidak bisa, kakak yakin kamu tidak ingin mama dan papa tahu," jawabnya santai.
"Hal penting apa?" tanya Disya penasaran.
Sungguh Disya jenuh kalau hal penting itu tentang dirinya yang harus menjauh dari Sky. Bahkan Disya sama sekali tidak minat dengan laki-laki itu, jadi Flora tidak perlu repot-repot menyuruhnya menjauh.
"Makan saja pesanannya, nanti kita ngobrol di rumah kakak."
Disya menghabiskan pesanannya dengan cepat, gadis itu memang lapar karena sedari tadi belum makan siang, ditambah cukup banyak menangis karena emosi hati, membuat ia lelah dan sekarang begitu lapar.
Setelah dari kafe mereka langsung menuju apartemen Flora. Sesungguhnya Disya tidak suka mengunjungi apartemen kak Flora untuk saat ini, selain apartemen kakaknya dekat dengan apartemen Sky tentunya karena kebanyakan mereka akan berdebat hal yang membuat hubungannya tidak kunjung membaik.
Disya dan Flora keluar dari lift dan tanpa sengaja bersilang jalan dengan Sky. Mata mereka bertemu, sesaat kemudian Disya menjadi sangat gugup, takut dan cemas. Iya, Disya takut Sky benar-benar mengetahui kehamilannya.
Deg
Deg
Deg
"Sya, kalau jalan lihat depan nanti nabrak," seloroh Flora lalu menggapit tangan adiknya.
"Hai Ky, mau pergi?" sapa Flora tersenyum manis.
"Iya," jawab Sky datar.
"Yah ... padahal aku pingin undang kamu buat makan malam di apartemen aku malam ini, sayang banget. Nggak bisa ya?" ujarnya dengan nada kecewa.
"Sorry lain kali saja Ra, saya ada urusan penting."
Entah mengapa Disya merasa lega mendengar Sky menolak permintaan Flora untuk makan malam di rumahnya, gadis itu tidak ingin banyak berinteraksi dengan Sky atau berhubungan apapun dengan pria itu selain urusan kampus.
Flora dan Disya masuk ke apartemennya mereka. Hari ini sudah sore dan Disya berencana menginap di kediaman kakaknya, sebelumnya gadis itu sudah menghubungi orang rumah agar tidak mencemaskannya kalau gadis itu tidak pulang untuk malam ini.
__ADS_1
Disya tengah duduk, setelah sedari lima belas menit yang lalu sampai apartemen Flora. Tiba-tiba Flora datang dan melempar benda kecil pipih panjang ke tubuh Disya.
"Ini punya siapa, Sya?!" tanya Flora tak ramah.
Disya langsung terkesiap dengan apa yang dilontarkan kakaknya. Gadis itu nampak gugup. Disya mengambil benda yang dilempar kak Flora dan ternyata itu testpack.
"Kakak dapat dari mana?"
"Dari dalam tas kamu, sudah pasti itu punya kamu kan?"
Hening
"Jawab! Sebelum kakak aduin lo sama mama dan papa!" sarkas Flora marah.
"JANGAN!" seru Disya lantang.
"Jadi bener itu punyalo? Siapa ayahnya?" tanya Flora dengan penuh penekanan.
Disya nampak berpikir, gadis itu benar-benar bingung. Terlihat gusar dan cemas.
"Tinggal jawab aja kok lama banget sih!" Flora mulai kesal dengan melihat adiknya tetap bungkam.
"JAWAB!!" bentak Flora penuh emosi.
Disya mulai menangis, ia tidak akan memberi tahukan siapa pun tentang ayah dari si calon bayi.
"Anak Rayyan atau anak Sky?"
"Oke kalau kamu tidak mau jawab, gue bakalan telfon papa sekarang, biar papa tahu kalau anaknya hamil di luar nikah!"
"Jangan hubungi papa." Disya berusaha merebut ponsel di tangan Flora tapi Flora menghindar.
"Kakak nggak peduli ternyata anak kesayangan papa sama mama mencoreng nama baik keluarga."
"Kalau Papa tahu, terus seluruh kolega rekan bisnis Papa tahu punya anak hamil di luar nikah, gue nggak bisa bayangin, habis lo!"
Disya mulai menangis. "Aku nggak sengaja nglakuin itu," jawab Disya sesenggukan.
"kakak nggak mau tahu, lo sengaja atau tidak. Perjelas sekarang! Anak siapa?!"
__ADS_1
"A-anak ... Sky," jawab Disya jujur plus gugup. Pada kenyataannya seperti itu, Disya tidak bisa berbohong walaupun Rayyan berkata ingin menikahinya.
"PLAK!!!!"