One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 118


__ADS_3

Satu kata yang tersimpan dalam otaknya untuk hari ini adalah, malas. Malas berinteraksi dengan banyak orang, malas mengikuti kelas, malas untuk berdebat dan malas untuk berpikir. Kalau sudah begini Disya lebih tertarik ke perpus untuk menenangkan diri. Mulai duduk di bangku pojok, membuka lembaran buku. Namun, sama sekali tidak di baca hanya di tutup buka dengan gerakan pelan.


Telinganya sengaja ia sumpal dengan earphones, sambil mendengarkan lagu kesukaannya, berharap sedikit lebih memberikan ketenangan. Menjatuhkan kepalanya di meja dengan mata terpejam, dengan buku yang di pinjam sebagai penutup atau pembatas dari jangkauan orang yang kebetulan melihat.


Disya sengaja menyendiri, menepi untuk beberapa jam ke depan. Sengaja mengabaikan panggilan dan juga pesan dari Sky, namun tetap berbalas pesan dengan teman-teman akrabnya.


"Jadi di sini tempat kamu bersembunyi?" suara bass khas laki-laki itu tiba-tiba menyeruak masuk di antara iringan musik yang ia putar.


Merasa sedikit terusik, Disya pun mendongakkan kepalanya, menatap dingin pria yang tengah menatapnya juga dengan perasaan ingin tahu.


"Ngapain ke sini, keluar sana! Aku sedang tidak ingin di ganggu!" usir Disya ketus.


"Ck, yakin nggak butuh teman? Padahal aku ke sini sengaja nemenin kamu, sengaja bolos untuk yang pertama kalinya. Kalau ada masalah tuh jangan di pendem sendiri, lo punya teman, punya sahabat, apa nggak sebegitu bergunanya ya kita," sindir pria di depannya yang tengah duduk tepat segaris di meja baca.


"Sotoy lo, gue lagi pingin sendiri, please ..., kali ini aja, tolong lo pergi dari sini, sebelum ada orang yang berasumsi lain dan membuat salah paham."


"Oke, lo bisa datang padaku saat hati lo udah tenang, gue siap menjadi pendengar yang setia," ucapnya lalu pergi dengan lapang dada.


Tak ada hubungan yang spesial di hati ke duanya, murni hanya sebatas sahabat saja, walaupun tidak bisa di pungkiri siapapun tidak bisa menolak pesonanya, cantik dan juga cerdas. Ramah dan supel, ceria tetapi untuk hari ini tidak. Bahkan tak menemukan satu senyuman pun dari wajah ayunya.


Bisma berjalan gontai meninggalkan ruangan baca, menghargai keputusannya yang tidak ingin ditemani. Pria itu sedikit paham dengan karakter Disya, tetapi tentu saja ia tidak berhak ikut campur ke ranah privasinya, terlebih beredar kabar bahwa gadis itu sudah menikah.


Teman-teman mengabari bahwa sore nanti akan mengadakan pertemuan untuk membahas tugas kelompoknya. Disya pun mengiyakan untuk ikut pertemuan mereka.


Sky di buat kesal untuk sehari ini, istrinya benar-benar merajuk dan mengabaikan dirinya. Alih-alih mendapatkan rengekan minta maafnya, Disya malah balas dendam mendiamkannya, tentu saja pria itu bertambah marah, mau sampai kapan istrinya itu susah di beri tahu, dan bisa paham dengan keinginan hatinya.


Hari ini jadwal mengajar begitu padat, pria itu baru merampungkan pekerjaannya di sore hari. Dengan kekuasaannya barang tentu mudah mengobok seluruh sisi kampus untuk mengetahui di mana istrinya berada, ia mengunjungi control room, tentu saja dengan izin petugas. Tetapi pastinya sangat mudah baginya untuk masuk ke semua akses yang di inginkan.


Sky mulai mengecek satu persatu, ruangan yang mungkin istrinya kunjungi dengan layar monitor di depannya. Matanya awas, mengamati dengan detail kemana seharian istrinya tak berkabar dan mengabaikan panggilan untuk dirinya. Mungkin besok lagi ia harus memasang GPS di ponselnya.


Tangan pria itu mengepal kuat waktu melihat dengan detail istrinya tengah berdua dengan Bisma. Ia bahkan sama-sama bolos di jam kuliahnya. Namun, itu tidak berlangsung lama sebab Bisma seperti keluar dengan hati kecewa, terlihat istrinya masih berwajah jutek.


Hampir sesorean Disya ngehedon di perpustakaan, membuat gadis itu begitu nyaman. Setelah membuat janji dengan temannya, ia pun mengunjungi tempat di mana teman-teman berkumpul untuk membahas tugas dari Bu Mega.

__ADS_1


Berbagi tugas, ia dan kawan-kawan mulai merancang kira-kira akan membuat usaha apa untuk tugasnya tersebut. Semua anak sepakat dengan membuat usaha jajanan kecil dari kelompoknya.


"Eh, suarakan pendapatnya dong, yang kira-kira bisa ngumpulin dari modal kita yang masih terjangkau, kan cocok juga buat bisnis siapa tahu berkembang setelah lulus kuliah nanti," usul Bisma.


"Makanan kecil, makanan ringan mungkin seperti kripik?" usul Bila


"Susah nggak sih pemasarannya, buat yang lebih simple. Gue nggak ada jiwa produktif, entah mengapa otakku buntu," keluh Sinta.


"Pikirin modalnya dulu, baru jalan." Alan ikut bersuara


"Gampang lah, nanti gue pikirin sambil jalan."


"Sya, kok lo diem aja, urun rembuk dong?"


"Gue sebenarnya pingin ngikut aja, lagi malas ngomong, tapi berhubung ini tugas musti kelar sebelum kita UAS ayolah kita gercep. Bagaimana kalau sejenis minuman kekinian, kaya boba gitu, mungkin modalnya bisa kita jangkau."


"Eh, iya tuh bener. Pemasarannya juga nggak terlalu ribet lewat online aja, atau di buat stand biar kita mulai jalan bisnisnya."


"Nitip di Anomali aja Sya, udah jelas jalan selama kita nugas."


"Oke, Oke kita tampung dulu, mulai eksekusi minggu depan. Nggak harus modal besar yang penting jalan, kan bisa kita tawarin ke sesama teman-teman kampus, iya nggak sih, ibaratnya barter gitu gue beli di kelompok elo, elo beli di kelompok gue, yang penting jalan bisa bikin laporan."


"Bener-bener, bagi tugas ya, Disya, Bila dan Alan produksi, terserah mau di rumah, atau numpang di kafe atau apa, sedang yang lainya marketing. Deal ya?"


"Oke siap, nanti sambil berjalan di rembuk lagi di grub, pastikan semua aktif, gercep respon."


"Lo tuh yang nggak pernah nongol di grub, sibuk terus," cibir Faro.


Pertemuan kali ini di tutup karena hari sudah sore, senja sudah menyapa itu tandanya sudah terlalu lama mereka berdiskusi.


Giliran saat pulang, Disya menjadi sangat galau, pulang ke rumah mertua, sedang tidak mood dengan suami, pulang ke rumah Mama nanti banyak di tanya-tanya, apalagi jelas pulangnya tidak diantar suaminya. Ke rumah Flora, terlalu dekat dengan apartemen Sky, jadi kemana Disya akan pulang?


"Lo pulang bareng siapa Sya? Tadi ke sini kayaknya pakai taksi? Mau bareng?" tawar Bisma.

__ADS_1


Alan juga bersedia mengantar, tapi tentu saja Disya tolak secara halus. Suaminya akan bertambah murka kalau tahu dirinya pulang di antar teman cowoknya.


"Ada kok, nanti di jemput," bohong Disya.


"Oke deh, kita duluan ya?"


Satu persatu mereka mulai meninggalkan kafe, tinggal tersisa Bila dan Disya.


"Woi ... ngelamun, pulang beb?" Bila menjentikkan jarinya di hadapan Disya.


"Iya kamu duluan aja?"


"Lo nggak pulang? Dari tadi banyak ngelamun? Ada masalah? Tadi juga bolos di jam suami lo, mana bareng sama Bisma lagi, kencan buta?" ledeknya.


"Sialan lo, cari mati itu namanya," sanggahnya kesal.


"La terus?"


"Gue lagi malas pulang, boleh nginep di rumah lo nggak?"


"Boleh sih, boleh banget malah, tapi suami lo gimana? Izin dulu gih? Berabe nanti urusannya?"


Disya pun mengiyakan, walaupun hatinya masih kesal tapi gadis itu tetap mengirim pesan, bahwasanya dirinya tidak pulang dan menginap di salah satu rumah temannya, tanpa memperjelas di rumah Bila.


Sky yang tengah kesal, bertambah kesal menerima pesan singkat dari istrinya. Lelah hayati menghadapi istri labilnya, sudah badan capek habis kerja di tambah istrinya tidak pulang ke rumah, membuat suasana hatinya semakin dongkol dan memanas.


[Pulang sekarang! Atau aku akan bertambah marah]~my husband


Disya hanya menatap datar layar ponselnya, tak berniat untuk membalas, apalagi pulang ke rumah. Hari ini ia butuh waktu untuk sekedar merilekskan otaknya.


"Gimana Sya, dapat izin? Atau aku antar pulang aja?"


"Nginep aja, boleh kan? Gue lagi sumpek banget di rumah, gue lelah Bil," keluhnya pada sahabatnya.

__ADS_1


"Oke, kita pulang ke rumah gue ya? Santai aja, gimana kalau kita sekalian hubungi Hanum dan Sinta, kita ngumpul bareng, piyama party gitu, seru tuh pasti, di jamin bete lo ilang," usul Bila yang langsung diangguki Disya.


__ADS_2