
"Bintang!!" seru seseorang setengah berlari di antara ramai orang.
Gadis itu menoleh, menangkap bayangan Rayyan yang tengah berlari ke arahnya. Bintang terdiam sesaat, sebelum akhirnya menatap sendu pria yang tengah berdiri dengan jarak tak begitu jauh.
"Kak Ray," gumamnya lirih. Mata mereka saling bertautan, sebelum akhirnya Ray melangkah semakin dekat.
"Apakah ini keputusan yang membuatmu lebih baik?" ucap pria itu sendu. Bintang mengangguk yakin, ia sudah memantapkan hatinya jauh sebelum akhirnya mereka bertemu di pesta resepsi kakaknya.
"Bisakah bumi memutar waktu, untuk tetap menahanmu di sini, rasanya kataku tak mampu mencegah kemauanmu," nada itu bergetar lirih, terdengar penuh luka dan penyesalan.
"Aku hanya singgah, tidak untuk pergi. Tergantung pada hatimu bertaut, kita tetap pada putaran bumi yang sama, menatap langit yang sama, melewati satu waktu yang sama, hanya mungkin waktu yang berbeda. Jika suatu hari nanti takdir menyeru untuk kita berdua, ku harap perasaan itu juga sama, agar tidak sakit dan menyebabkan luka."
Rayyan tahu, gadis kecilnya itu begitu kecewa terhadapnya. Ia yang terlambat menyadari hadirnya yang tulus, ia yang terlambat menyadari hatinya telah terpaut, dan ia yang hampir merampas masa depannya hanya untuk sebuah misi nestapa, yang pada akhirnya menyakiti hati begitu lembut nan baik.
Tiba-tiba matanya memanas, ia pernah terluka lebih dalam dari pada ini. Cuma bedanya sekarang ia adalah pelakunya, sedangkan Bintang adalah korbannya. Sakit sudah pasti, ditambah rasa bersalah yang terus menghantui, tak mampu rasanya membayar apapun yang bisa ditebus oleh hati.
"Berapa lama kamu pergi? Bisakah kamu berjanji untuk tetap berlabuh pada pria yang telah memberimu luka ini?"
Bintang tersenyum, dibungkus seperti apapun, perpisahan itu sakit, walaupun hanya singgah di tempat yang berbeda, rasanya meninggalkan bumi pertiwi dengan meninggalkan cinta itu ... terasa menyedihkan.
"Lama, sampai study aku selesai, mungkin aku bisa, tapi justru aku yang tidak yakin dengan kak Ray, dan aku tidak berharap kak Ray mau menungguku yang tak pasti."
"Kenapa kamu ragu, apakah aku terlihat masih ingin memainkan perasaanmu. Bintang, dari sekian banyak rasimu di langit, hanya ada satu yang berorbit di hatiku, engkau datang memberikan harapan dan semangat baruku, andai kamu bisa menunda sehari lagi, aku ingin kita menikah hari ini, membuktikan pada dunia bahwa aku serius ingin berlabuh bersamamu."
Bintang tersenyum mendengar penuturan Rayyan, hati kecilnya bergetar, menghangat, bibirnya tiba-tiba kelu untuk sekedar menyampaikan ucapan selamat tinggal. Langkahnya terasa berat, mereka saling menatap dalam diam. Sampai suara airport announcement mengembalikan kesadarannya, bahwa Bintang harus segera beranjak dari sana.
"Maaf kak, aku sudah harus pergi, jangan bersedih atas kepergianku, agar hati ini lapang untuk melangkah. Pastikan hatimu baik-baik saja, simpan cerita kita bila itu penting bagimu. Aku pamit, semoga kak Ray selalu dalam lindungan-Nya, jika suatu hari nanti kisah kita memang sudah tertulis di lauhul mahfudz, semua akan indah pada waktunya."
Satu kedipan saja, mungkin buliran bening itu menyambangi pipinya yang ayu. Gadis itu tetap tersenyum walau hatinya terasa sesak. Rayyan tak kuasa menahan gejolak yang teramat dalam, refleks tubuhnya bergerak menubruk gadis kecilnya. Matanya memanas, mendekapnya begitu erat seakan enggan untuk melepaskan.
__ADS_1
Bintang membalas pelukan itu dengan hangat, bendungan air mata yang sekuat tenaga dijaga tumpah seiring rasa hangat pelukan kak Ray yang terasa menghimpit menembus jantung.
"Aku mencintaimu Bintang, aku melepasmu di sini, tetapi aku juga yang akan menjemputmu di sini, berjanjilah padaku untuk tetap menjaga hatimu hanya untukku."
Rayyan mengurai pelukan hangat yang sejatinya enggan ia lepaskan, menangkup ke dua pipi Bintang, terdiam sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri memberikan kenangan terindah di bibirnya yang ranum. Tak peduli di belahan bumi mana mereka saat ini berpijak, pria itu melanggar batasan untuk mereka berdua, hingga ke duanya pun hanyut dalam buaian sesaat dengan air mata yang sama-sama basah.
Kenangan paling indah sepanjang masa dalam hidupnya, mengucapkan selamat tinggal paling menyisakan batin dan raga. Sebelum akhirnya ke duanya saling melepas, Rayyan telah menyematkan cincin cantik di jari manis Bintang, sebagai tanda, ia telah mengikatnya versi mereka.
"Jangan pernah melepas cincin ini sampai aku menggantinya dengan cincin pernikahan kita. Jaga dirimu baik-baik adik Bintang sayang, aku mencintaimu," kata Rayyan sekali lagi, kembali mengecup bibir itu sekilas lalu Bintang sedikit berlari meninggalkan pria itu yang masih melambai di tempatnya berdiri.
***
"Oh ya ampun ... sweet sekali mereka berdua, aku seperti melihat adegan live sebuah film yang membuat aku terharu biru," celetuk Disya yang belum beranjak jauh dari sana.
"Kamu tidak boleh melihat adegan itu," kata Sky menutup mata Disya yang menyorot takjub.
"Apaan sih Mas, mereka sangat manis." Disya menepis tangan Sky yang menghalangi penglihatannya.
"Eh!" Disya menarik lengan Sky yang hampir beranjak, ia melotot sengit.
"Gangguin momen orang aja, ayo pulang! Merusak suasana!" keluhnya menggerutu.
"Tapi sayang, mereka bermesraan di tempat terbuka, biar aku tegur nanti Bintang."
"Ish ... kamu juga bakalan ngelakuin hal yang sama Mas, jika itu terjadi padaku, malah mungkin bisa lebih." Disya menerawang.
"Kamu berniat mau pergi?"
"Ya, setelah lulus nanti aku ingin melanjutkan S2 aku di London, biar sama kaya kamu."
__ADS_1
"Coba aja kalau bisa, sejengkal pun tidak akan aku biarkan melangkah meninggalkan rumah."
"Nah, kan ... belum apa-apa udah parnoan. Tapi aku serius lho Mas."
"Mimpi aja, Sya. Kalau pingin banget jalan ke sana, besok aku antar sekalian jenguk Bintang, tapi tunggu skripsi kamu kelar dulu, baru jalan-jalan."
"Beneran?"
"Hmm, asyik ... London I am coming!" Disya berjingkrak senang seraya mencium pipi kanan suaminya.
"Sya, kamu sedang hamil, jangan rusuh, kondisikan gerakanmu," tegurnya demi melihat istrinya hampir melompat girang.
"Ya ampun ... saking senangnya aku sampai lupa, untung kamu ingetin ya mas, oh baby sayang ... maafin mommy yang kadang khilaf nak, baik-baik di sana." Disya langsung mengelus perutnya yang sedikit membuncit dengan lembut.
"Ayo pulang!" Sky merangkum bahu Disya dan menuntunnya. Sesampai di mobil, ia lantas masuk dan duduk di kursi bagiannya.
"Mas, aku masih terngiang kejadian Bintang dan kak Ray, bisakah kita melakukan di sini?" ucapnya lembut, mengelus lengan suaminya yang sudah bersiap mengemudikan mobilnya.
"Kejadian apa? Jangan bilang kamu sedang mikir adegan 21 + di sini." Sky menyorot istrinya yang tengah tersenyum manis padanya.
"Ish ... cium doang juga, bawel!" Disya langsung mendekat dan merangkul leher Sky, menarik agar lebih dekat dan menyambar bibir suaminya tanpa dosa.
Sky terkesiap sesaat, istrinya kenapa berubah lebih agresif, apakah Disya cemburu???
.
TBC
Teman-teman silahkan kunjungi novel terbaruku "Diam-Diam Married" mohon dukungannya like, vote dan komentarnya. Novel "Diam-Diam Married" sedang mengikuti lomba mohon dukungannya gaess .... silahkan klik profil dan baca! Terima kasih.
__ADS_1