One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 121


__ADS_3

"Cie ... yang udah nggak ngambek, cantik banget pagi ini?" goda Sky jail.


"Cie ... yang baru dapat jatah, tambah lebar senyumnya," balas Disya tak kalah gaje.


"Nanti lagi ya, aku nggak puas kalau cuma sekali."


"Mesum!" kilahnya memutar bola mata malas.


"Biarin lah, halal juga. Nggak usah protes."


"Aku pulang terlambat Mas, ada agenda tugas kelompok, mungkin bisa sampai sore."


"Hmm, jangan terlalu sore. Nanti aku jemput. Nggak usah terlalu dekat dengan lawan jenis Sya, aku cemburu."


"Keluhan di tampung, semoga aku nggak khilaf," tanggap Disya datar.


"Jangan mancing di air keruh, nggak bakalan dapat ikan, tapi dapat mentahan."


"Posesif, menyebalkan, egois."


"Sya ...!"


"Hmmm, apa sayang ..., nggak terima?"


"Aku gitu banget apa? Pengakuan kamu bikin aku sakit hati."


"Marah terus, ngambek aja terus."


"Nggak lagi, damai. I love you," ucap Sky cepat.


"Hmmm," gumam Disya begitu saja.


"Kok jawabnya gitu, dibalas dong Sya?"


"Cinta nggak perlu ungkapan, sudah cukup hati dan perbuatan aku menunjukan itu," jelasnya.


"Kurang afdhol," sanggah pria itu.


"Kamu maunya gimana Mas, wes lah aku ngikut aja," jawabnya pasrah.


"Cintai aku sepenuh hatimu Sya, aku bakalan rubah sikap posesif aku yang berlebihan," kata pria itu menatap serius.


"Aku udah berusaha Mas, kamu nggak percaya?"


"Buktikan kalau kamu menganggap aku penting bagimu."


Disya terdiam, sejauh ini ia sudah berusaha membuka hati, namun mungkin kadang alam yang menyambut lain, menjadikan moment tak terduga dengan mempertemukan mereka kembali. Gadis itu tidak banyak kata, langsung mendekat dan berjinjit, menyambar bibir suaminya dengan berani. Memberikan sentuhan hangat di sana, berharap suami posesifnya itu mau mengerti.


"I love you too Mas, tolong percaya, apa dengan aku masih bertahan di sampingmu masih kurang yakin bahwa aku memilihmu, benar-benar ingin membuka hati untuk hidup bersamamu."

__ADS_1


"Oke, aku pegang kata-kata mu. Apa hukumannya kalau kamu melanggar hal itu?" tanyanya serius.


"Kamu bisa melepaskan aku, dan mengembalikan aku pada orang tuaku."


"Bagaimana kalau aku tidak bisa melakukan itu?"


"Makanya kamu harus percaya, kalau aku mencintaimu. Tolong bantu jelasin ke Bintang tentang hubunganku dulu, supaya adek kamu tidak salah paham. Dia sekarang membenciku Mas."


"Aku sudah menasehatinya, sejauh ini dia tidak banyak merespon, aku takut bocah itu sudah kemakan rayuan gombalan pria itu."


"Kenapa tidak kamu restui saja mereka Mas, aku kira Rayyan orang yang baik dan cukup idaman."


"Sya! Jangan coba-coba memancing amarahku, jangan pernah menyebut nama dia di hadapan aku, apalagi memujinya," protes pria itu kesal.


Disya malah tersenyum, "Oke-oke ... aku ralat, Rayyan pria yang baik untuk di jadikan suami Bintang, dan kamu Dosen Ausky orang yang paling baik, dan paling idaman untuk Disya, PUAS!" Disya menangkup pipi pria itu. Mereka masih di dalam kamar dan belum beranjak.


"Belum, masih mau lagi," Sky mencondongkan wajahnya, hendak mencium istrinya kembali.


"Mesum terus, minggir sana!" protes Disya menghindar sedikit mendorong dada suaminya yang mengikis jarak.


"Lapar, btw pagi ini kita sarapan apa?" tanyanya sambil lalu.


"Sarapan kamu cukup Disky ...?"


"Serius dong Mas ..., eh tadi panggil apa?"


"Disky, panggilan sayang aku ke kamu. Disya Sky, gabungan nama kita berdua Sya, unyu kan?"


"Kok pluto lagi sih, aku manusia bumi Sya, ganti ah," protesnya menggerutu.


"Aku maunya Pluto, sesuai karakter kamu yang dingin dan cuek, kadang kaku tapi tetep maksa."


"Jangan terlalu jujur memuji ku sayang, aku bisa pindah haluan."


"Pindah saja, sekalian pindah rumah juga boleh."


"Disky sayang ..., jangan gitu."


***


Berhubung tidak ada menyiapkan sarapan untuk pagi ini, baik Disya dan juga Sky belum ada yang sarapan. Mereka memutuskan berangkat saja dan sarapan di kantin kampus. Mobil yang di kendarai Sky baru saja sampai di parkiran kampus. Ke dua pasangan halal itu melangkah gontai menuju kantin.


"Yank, ayok ... kok malah diem sih." Sky menghentikan langkahnya karena Disya mendadak berhenti.


"Tangan kamu Mas, tolong kondisikan ini di area kampus," sergahnya merasa was-was.


Sky melirik tangannya yang menggenggam erat tangan istrinya, tidak ada yang salah sih, mereka suami istri, tapi tentu pria itu harus menghargai keputusan istrinya yang merasa kurang nyaman. Pria itu pun melepas tautan pada jari tangannya.


"Kamu duluan, aku jalan belakang kamu," ujarnya.

__ADS_1


Disya berjalan lebih dulu dan masuk ke kantin, suasana masih lumayan sepi hanya ada segelintir orang yang sama halnya mau sarapan.


"Mau sarapan apa? Biar aku pesenin sekalian," tawarnya pengertian.


"Sate lontong aja Mas, aku pedes ya?"


Sky memesan dua porsi sate lontong, sambil menunggu ibu kantin meracik, mereka duduk menunggu. Hanya lima menit pesanan sudah siap di meja kantin.


"Pesanannya Pak. Eh, mbak Disya?" bu kantin cukup terkejut menilik Disya dan Dosennya duduk satu meja, di tambah pesanan tadi yang pesan Sky.


"Buk," Disya mengangguk kikuk seraya tersenyum.


Sementara Sky bersikap datar saja, cuek, dan lempeng, langsung menghabiskan sarapan paginya dengan lahap.


"Cepet dihabisin, nggak usah mikirin pandangan orang, emang kenapa kalau kita duduk berdua, bahkan kita juga tidur berdua."


Oh ya ampun ... ini orang.


"Disyayang ..., lo sarapan di sini?" Alan yang baru saja datang langsung ikut nimbrung.


"Pagi Pak, boleh gabung ya? Kebetulan saya juga mau sarapan," sapa Alan dengan percaya dirinya.


"Hmmm," Sky hanya menjawab dengan gumaman.


"Alan, ngapain lo pagi-pagi nyasar ke kantin?"


"Sarapan lah, gue kan emang sering sarapan di mari, gue yang seharusnya nanya, kok lo tumben sarapan di kantin? Nggak siapin sarapan buat suami?" sindirnya julid.


Uhuks uhuks


Disya sampai tersedak makanan yang sedang ia kunyah. Gadis itu sampai terbatuk-batuk.


"Sya, nggak pa-pa? Makanya kalau lagi makan tuh jangan sambil ngobrol. Minum dulu," Sky menyodorkan minuman dan mengusap-usap punggung Disya.


"Sorry ... nggak ada maksud," sesal Alan merasa tak enak.


"Udah enakan? Habisin sarapannya. Alan, kamu ngapain di sini, katanya mau pesen sarapan?"


"Iya Pak, sebentar, memastikan Disya dulu."


Sky menatap tajam, Alan merasa tak enak, ia pun berlalu memesan makanan untuk dirinya.


"Sayang ... aku duluan ya?" bisik Sky tepat di sampingnya. "Kamu baik-baik di sini, habisin dulu, belajar yang bener jangan bolos lagi."


"Iya, nanti aku masuk, udah sana makin rame tuh kantin."


"Biarin sih, takut banget status kita di ketahui banyak orang."


"Aku nggak mau jadi gosip Mas, jangan mikir yang aneh-aneh deh, aku cuma mau lulus dengan nyaman."

__ADS_1


Bukan maksud Disya terus menerus menyembunyikan status mereka, tetapi tidak harus secara terang-terangan mengumumkan. Karena respon orang berbeda-beda, dan sudah pasti menyangkut bahwa Sky Dosen muda yang banyak fansnya di tambah pemilik kampus, sudah barang tentu Disya khawatir kalau orang-orang menilai dirinya memanfaatkan keadaan saja, dan tentu saja ia sedikit takut, kalau tetiba di serang fans garis keras Dosen Ausky.


"Oke, oke aku ngerti," ucapnya seraya berdiri dari kursi. Tangannya terulur mengacak rambut istrinya lembut lalu pergi.


__ADS_2