
"Sky!" Pria itu menatap bingung, cemburu dan marah. Sorot matanya memindai Disya dan tangan Sky yang menggenggam erat jemari gadis itu secara bergantian.
"Rayyan?"
Sky langsung berdiri dari duduknya, ia melangkah keluar yang secara otomatis diikuti Rayyan dengan tatapan tak ramah.
"Ikut gue, Ray, kita perlu bicara," ucap Sky tenang.
"Ya, lo harus jelasin. Lo tahu 'kan? Disya cewe gue. Paham 'kan?"
Hening
Sky berjalan ke arah taman rumah sakit, rencananya memang memberi tahu Rayyan bersama-sama, namun karena kondisi Disya sendiri drop, pria itu memutuskan menjelaskan sendiri, toh juga sudah kepalang tertangkap basah.
"Ada apa?" Rayyan terlihat tak sabar menanti penjelasan sahabatnya itu.
Sky menarik napas panjang dan mengeluarkan secara kasar.
"Sebelumnya gue mau minta maaf. Lo mungkin bakalan benci banget sama gue setelah tahu fakta yang sebenarnya.Tapi gue merasa harus ngejelasin ini semua."
"Nggak usah berbelit-belit, lo sebenarnya mau ngejelasin apa? Kenapa lo lancang, lo suka sama cewe gue?"
"Gue bisa ada di sana, dekat dengan Disya, karena Disya adalah ... istri gue," jelas Sky dalam satu tarikan napas.
"Nggak usah ngadi-ngadi!" Rayyan terkekeh hambar. "Disya itu cinta banget sama gue, jadi lo! Jangan ngarang cerita."
"Gue minta maaf, Ray, tapi itu fakta yang ada." Sky berkata cukup serius.
"Bang sat lo!"
Bugh bugh
Rayyan langsung meringsek maju dan melayangkan pukulan telak ke wajah Sky. Pria itu sampai terhuyung ke belakang, sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar, namun pria itu terdiam, cukup tenang tanpa melawan. Ia tahu dirinya memang salah, karena dengan terpaksa sudah mengkhianati sahabatnya.
"Maksud lo APA!? Lo nikung gue, makan sahabat sendiri!"
"Gue dan Disya dijodohin," jelasnya setenang mungkin.
"Lo bisa nolak, lo tahu Disya cewe gue. satu hal lagi, gue nggak percaya! Om Amar bahkan setuju dan baik-baik saja dengan hubungan gue dan Disya."
"Ray! Percaya atau tidak, kenyataannya gue sekarang suaminya Disya, sah secara hukum dan agama. Jadi, gue mohon lo bisa berlapang dada menerima semuanya dan gue tidak mengizinkan lo dekatin dia lagi."
"Baji ngan! Bang sat lo! PENGKHIANAT!!!"
Bugh bugh bugh
Rayyan memukuli Sky seperti orang kesetanan, pria itu benar-benar mendidih darahnya mendengarkan pernyataan tersebut.
Sementara Sky tersungkur di rerumputan dengan darah di wajahnya.
__ADS_1
"Gue nggak terima! Kalaupun lo ada ikatan, gue ngga peduli. Lo harus cerain Disya!" sarkas Rayyan marah dengan sorot mata menyala.
Sky berdiri, mencoba mengumpulkan tenaga yang tersisa. Perih, panas, dan pusing yang ia rasa akibat pukulan bertubi dari Rayyan, namun ia terima. Mungkin dengan melampiaskan ini semua berharap Rayyan bisa menerima kenyataan yang ada dan mau memaafkan dirinya.
"Maaf, Ray, pernikahan itu bukan sebuah lelucon ataupun permainan yang gampang dengan kata cerai, jadi itu tidak mungkin."
"Lo mau MATI!"
"Jangan! STOP, Ray, jangan main hakim sendiri."
Rayyan mencoba melayangkan pukulan telak sekali lagi, namun suara lengkingan Flora menghentikan pergerakannya.
"Lo mau mukulin sampai gue mati pun, tidak bisa mengembalikan keadaan, dan tidak akan pernah merubah keadaan, Disya dan gue sudah menikah, dia istri gue sekarang."
"Bang sat!"
Rayyan berusaha maju lagi namun Flora segera menahan tubuh pria itu. Sementara Sky sendiri sudah babak belur. Suami sah Disya Anggita itu sebenarnya bisa saja melawan, tapi ia juga merasa bersalah dan pastinya apabila keadaan di balik, ia juga akan melakukan hal yang sama.
"Gue yakin Disya nggak cinta sama lo, dan gue yakin seratus persen Disya cinta mati sama gue. Gue bakalan ambil lagi apa yang menjadi milik gue!!" teriak Rayyan lantang.
"Ada apa ini? Rayyan, kenapa kamu mukulin orang?" Pak Wira Ayah Rayyan syok seketika melihat Sky yang berantakan penuh luka.
"Sky? Kamu Sky kan? Kenapa kamu diam saja, kenapa anak saya mengamuk. Bukankah kalian bersahabat?" tegas Pak Wira.
"Maaf, Om, Sky hanya sedang menjelaskan fakta."
Rayyan dan Sky sudah dipisahkan, dengan kondisi Sky yang babak belur dan Rayyan yang meraung-raung sangat kacau. Mungkin kalau tidak segera dipisahkan bisa terjadi pertumpahan darah sekawan.
"Lepasin! Lepasin bang sat! gue mau bunuh dia!" teriak Rayyan ketika digelandang petugas keamanan.
Petugas keamanan yang awalnya cuma bingung mau melerai atasannya kini benar-benar menjalankan wewenangnya atas perintah Pak Wira.
"Tenang Rayyan! Kamu membuat kegaduhan lingkungan rumah sakit?!"
Hampir semua petugas, dokter dan karyawan di buat melongo melihat Dokter Rayyan yang kalem dan periang itu bisa mengamuk kesetanan. Semua orang langsung bubar dan tak ada yang berani bergosip begitu Pak Wira turun tangan. Rayyan di bawa masuk ke ruangannya, dengan keadaan yang kacau.
"Ada apa nak? Tolong jangan begini, ini rumah sakit. Kamu membuat orang lain yang melihatmu takut," ucap lembut Pak Wira.
Pria itu terdiam, merenung dalam diam. Tiba-tiba teringat Disya dan harus klarifikasi.
"Disya Pah, aku harus minta penjelasan sama Disya." Rayyan bangkit dan langsung berlari menuju ruangan Disya.
Brakk
Pintu di buka sangat keras, Flora dan Disya sedang berkemas untuk pulang. Disya hanya butuh istirahat dan tidak butuh dirawat. Sementara Sky sendiri sedang tidak ada di ruangan, pria itu tengah mengurus administrasi kepulangan Disya setelah sempat mengobati lukanya sendiri.
"Rayyan!" pekik Disya dan Flora kompak.
"Sya!" Rayyan langsung berhambur ke arah Disya dan memeluk gadis itu.
__ADS_1
"Jangan tinggalin aku, Sya, kamu sudah berjanji nggak bakalan putusin aku."
"Kak Ray," lirih Disya dalam isakan. Mereka saling membalas pelukan. Pada kenyataannya rasa itu masih terlalu dalam, walaupun terhalang tembok pemisah.
"Sayang, kamu cinta kan sama aku. Kamu sayang kan sama aku?" tanya Rayyan sambil menghapus air mata Disya yang sudah berjatuhan.
"Kamu harus janji sama aku, kamu harus ceraiin Sky, Sya?" ucap pria itu kecewa.
Disya semakin pecah tangisnya. Ia tidak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa, baru saja Flora mengatakan Rayyan mengamuk dan memukuli Sky dan sekarang pria itu malah sudah di hadapannya memohon dengan tangis nelangsa.
"Kak Ray, maafin Disya, maafin Disya kak," ucap Disya sendu. Tangis pilu membawa mereka berdua.
"Kenapa Sya! Apa salah aku? Apa dosa aku? Kenapa kamu begitu tega khianati perasaan aku, khianatin cinta kita. Sakittt Sya... aku yang berjuang, tiga tahun sudah kita lewati bersama. Kenapa kamu buang aku, Sya?!" Rayyan tak tahan untuk tidak menangis. Tangis bercampur emosi yang menggebu.
Sakit sekali rasanya menerima kenyataan sepahit ini. Benar-benar definisi dari luka yang tidak berdarah, pengkhianatan yang teramat dalam, antara sahabat dan kekasihnya sendiri.
"Maaf, maaf." Hanya kata itu yang mampu Disya ucapkan. Hatinya begitu pilu dan sakit.
"Aku tetap akan menunggumu, sampai kamu halal bagiku," ucap pria itu yakin, dan kembali memeluk Disya begitu erat.
Sementara di luar ruangan ada sepasang mata elang yang menyorot tajam. Sama juga merasakan sakit yang menusuk, lebih kepada nyesek karena harus melihat istrinya dalam pelukan orang lain. Kalaupun harus memilih lebih baik ia di pukul sekali lagi dari pada harus melihat istrinya dipeluk erat kekasihnya.
"Aku sekarang istri orang kak," jelas Disya sendu.
Gadis itu menatap nanar pandangan di depannya. Sakit, sakit sekali rasanya. Harus melepas bahkan melupakan seseorang yang sudah lama singgah. Hatinya meneriakkan kesakitan yang menimpa. Buliran bening terus mengalir tanpa bisa dicegah, seiring langkahnya yang mulai beranjak menjauh. Laju kakinya semakin cepat melangkah seiring teriakan orang di belakang terdengar menyerukan namannya.
Tuhan... sesakit inikah, melepas, memilih berhenti mencintainya.
.
Bersambung
Nyesek gaess... Sama-sama terluka, baik Rayyan, Disya atau pun Sky... Mereka punya porsi sakit hati masing-masing...
Gimana-gimana? Apakah adegan berantemnya kurang greget? Atau sangat keterlaluan? Tegang gaess....
Oke, kita lanjut di part berikutnya yang semakin seru...
Eits... tunggu-tunggu! Mau ingetin readers semua setelah baca jangan lupa dukungannya.
LIKE
COMMENT
VOTE
Thanks all... semoga kalian pembaca setiaku selalu di berikan kesehatan.
St>ay tune...
__ADS_1