
Suasana depan gerbang SMA nusantara mendadak heboh dengan kedatangan mobil rubicon. Dengan seorang pria bergaya stylish, lengkap dengan kaca mata hitamnya. Berdiri menyender di badan mobil, dengan kaki kanan menyilang dan ke dua tangan di masukkan ke dalam saku celananya.
Netranya menyorot tajam kearah gerbang, mengamati satu persatu siswa dan siswi yang meninggalkan sekolah.
"Omegot... arjuna mana yang nyasar kesini?" pekik para siswi yang bergerombol baru saja keluar dari gerbang.
"Omo... keren banget, jemput siapa sih!" jerit siswi yang lainya.
Bintang yang tengah berjalan keluar pun sampai susah berjalan karena depan gerbang mendadak di blockade sebagian siswa.
"Ada apaan sih, heboh bener," ucap gadis itu kesal. Merasa kesulitan berjalan.
"Itu loh Bin, ada jelmaan arjuna nyasar ke sekolah kita," tunjuk teman Bintang mengarah ke seseorang yang kini tengah menatapnya, tak lupa deretan giginya yang putih ikut menyapa dengan senyuman mematikan.
Bintang melongo seketika, mendapati Dokter Rayyan tengah berdiri di hadapannya dengan senyum yang masih setia, manis ngalahin gulali bu Retno kantin sekolah.
Pria itu mendekat, menuntun Bintang yang hanya berdiam, membawa gadis itu ke mobilnya. Seketika pekikan siswi yang melihat adegan live tersebut menyerukan namanya dengan tingkat kepo akut.
"Sorry kak, aku mau pulang sendiri," ujar Bintang ketus.
"Hari ini, aku udah nyempetin buat jemput kamu, sampai rela izin sama Papa, biar bisa jalan bareng kamu siang ini."
Rayyan sedikit mendorong tubuh Bintang yang enggan masuk ke mobil. Pria itu memasangkan seat belt pada gadis itu, baru kemudian memutari mobil depan dengan cepat, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa nggak balas chat aku?" tanya pria itu membuka suaranya setelah mobil berjalan cukup jauh.
"Lagi fokus sama sekolah, sebentar lagi ujian," jawab Bintang datar.
"Owh... fokus belajar, aku kira fokus mikirin aku, sampe segitunya nomor aku di blokir," ujar Rayyan melirik sengit.
"Aku pikir kita hanya berteman, jadi wajar dan tak masalah dong, kalau aku pilih seseorang mana yang pantas untuk aku jadikan teman," ujar gadis itu ketus.
"Sky ya, kakak kamu itu kan pasti yang ngelarang kamu, buat ngejauh dari aku, atas dasar apa?" tuduh Rayyan yakin, mengingat hubungannya dengan Sky belakangan ini sangat buruk.
"Maaf kak, aku tidak tahu ada masalah apa antara kamu dengan kakakku, tapi yang jelas, lebih baik kita tidak usah bertemu, nanti calon istrimu marah?" ujar gadis itu.
Rayyan terkekeh, kemudian menepikan mobilnya. "Sky yang ngomong gitu? Terus kamu percaya?"
"Percayalah, kan dia kakak aku, ngapain lihatin aku kaya gitu?"
Rayyan masih terkekeh, entahlah apa yang ada di dalam otak pria itu. Tangannya terulur mengacak rambut gadis itu, kemudian menatapnya dengan senyuman gemas. Sepolos itu ternyata adik dari rivalnya itu.
"Aku pernah mau menikah, sudah menjalin sebuah hubungan yang cukup serius dan hampir bertunangan, tapi semua itu tak pernah menjadi kenyataan sebab gadis itu di jodohkan dengan orang lain," curhat Rayyan sendu. Hatinya begitu sakit kalau mengingat masa itu.
"Untuk sekarang aku jomblo, jadi jangan khawatir tentang statusku," sambung pria itu menatap Bintang dengan raut kesedihan yang teramat nyata.
__ADS_1
Bintang mendadak iba mendengar pernyataan Rayyan, gadis itu berusaha menghiburnya dengan mengusap pundak lelaki itu.
"Sabar kak, mungkin belum jodoh. Turut sedih dan prihatin atas apa yang menimpamu," ucap gadis itu memberi semangat.
Rayyan mengangguk lalu tersenyum. Ada rasa yang entah, Tiba-tiba berdesir saat gadis itu menenangkan, muka polosnya memberi keteduhan, walaupun gadis remaja itu kadang sangat bar-bar namun ia terlihat begitu manis dan menenangkan.
"Mana ponselmu?" Pria itu menengadahkan tangan kirinya.
"Buat apa?"
"Buka blokiran nya, terus bintangin. Satu lagi, nih..." Rayyan menyodorkan dua lembaran merah.
"Buat apa? Aku nggak mau jajan."
"Buat beli paket data," ucap pria itu santai.
"Nggak perlu, rumah aku ada wifinya."
"Kalau ada wifi, berarti bisa dong untuk selanjutnya balas pesan aku." Pria itu melirik gadis itu gemas.
"Kapan ujiannya? Semangat ya belajarnya. Rencananya mau lanjut ke mana? Atau mau langsung nikah aja," goda Rayyan tersenyum.
"Pertanyaannya panjang amad Pak, aku jawab yang mana dulu nih?" selorohnya kikuk.
"Yang mana aja, tapi yang terakhir boleh juga di jawab dulu," ujar Rayyan tersenyum.
"Nggak usah di jawab, becanda kok, fokus sama belajar yang rajin, pokoknya nanti kalau nilai kamu bagus, dapat peringkat lima ke bawah, kamu boleh minta apa saja dari aku?" ujar pria itu menyemangati.
Rayyan itu tipikal cowok yang royal dan tidak pelit. Waktu bersama Disya juga begitu. Menurut pandangan Bintang, Rayyan adalah cowok able yang mendekati 99 persen sempurna. Tapi entah mengapa kakaknya Sky tidak mengizinkan dirinya dekat dengan Rayyan.
"Beneran? Bohong ya? Modus pasti ih... nggak mau."
"Beneran Sya..."
"Kok Sya, sih. Siapa Sya?"
"Eh, Sayang maksud aku, keberatan nggak kalau aku manggil gitu," ucap pria itu mengerling.
"Keberatan lah, kita kan cuma temen," ujar Bintang protes.
"Kalau begitu, harusnya kita lebih dari sekedar teman," seloroh Rayyan.
Bintang terdiam, tak menanggapi lagi perkataan Rayyan.
"Kita mau kemana? Aku tidak boleh pulang terlambat, masih dalam pantauan kak Sky," ujar gadis itu takut.
__ADS_1
"Kolot banget sih Sky, main nggak papa dong, asal tidak mengganggu sekolah, dan pastinya prestasi tetap oke."
"Sebenarnya kemarin-kemarin gitu, tapi berhubung aku buat salah gara-gara kecelakaan kemarin dan sampai membuat kak Disya keguguran, kak Sky sangat marah. Motor aku di sita, uang jajan dan jam main semua di pangkas," curhatnya sendu.
"Duh... kasihan banget sih." Tangan pria itu mengacak gemas rambut Bintang.
***
Dua minggu telah berlalu, Disya juga sudah beraktivitas seperti biasa. Kuliah, nugas dan belajar jadi istri yang solehah. Begitulah nasihat Mama waktu itu. Setiap pulang kampus, gadis itu hampir setiap hari menunggu suaminya di ruangannya, tentu saja berdasarkan kemauan Sky, selain posesif, pria itu bahkan sangat protektif dalam hal apapun.
"Mas, kamu ngajar sampai jam berapa? Aku cape nih nungguinnya?" keluh Disya setelah hampir dua jam hanya duduk di ruangan suaminya.
"Jam setengah lima, satu pertemuan lagi, kamu bobo aja dulu. Bentar doang," ujar pria itu berlalu meninggalkan ruangannya.
Hampir seratus menit menunggu dalam kebosanan, gadis itu pun tertidur dengan masih menggenggam posel yang menyala. Sky yang baru saja masuk ke ruangannya mendapati istrinya pules.
"Kasihan banget sih... sampai ketiduran gini," gumam pria itu lirih. Jongkok di depan gadis itu mengamati wajahnya yang menggemaskan.
Pria itu mengelus pipinya, baru kemudian mengecupi Disya dengan gemas. Mata indah itu terbuka, cukup kaget dengan aksi suaminya yang mencumbu dirinya saat keadaan terlelap.
"Mas, yang bener dong...!" protes gadis itu terlihat kesal.
"Bibir kamu manis, aku suka. Cape dan lelahku langsung ilang setelah menyentuhmu," jawab pria itu santai.
"Udah, ayo ah pulang. Badan aku pegel semua tidur di sofa," keluh gadis itu sambil melentangkan tangannya, mengendurkan otot-otot nya yang serasa kaku.
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat terlebih dahulu," ujar pria itu tersenyum.
"Ke mana?" tanyanya memastikan.
"Ada lah pokoknya, kamu cukup diam dan ikuti saja."
"Ish...jawaban sangat tidak memuasksn," ujar Disya mrengut.
Disya berjalan santai mengekori Sky menuju parkiran. Pria itu membukakan pintu untuk Disya terlebih dahulu baru dirinya masuk menyusul, melajukan mobilnya ke suatu tempat. Tidak terlampaui jauh, masih ada di sekitar kawasan Jakarta Selatan.
"Ayo turun, kita udah sampai?"
"Kita mau kemana sih Mas, ini kok tempatnya asing gini," protes Disya sebal.
"Sebelumnya tutup matanya dulu ya, kalau kata kamu ya biar feel- nya dapat."
"Ish nggak seru ah, mau ngapain? Kasih surprise?" tebaknya sok tahu.
"Iya, bisa di bilang begitu. Jadi... tutup mata ya?"
__ADS_1
Sky menuntun Disya yang sudah di tutupin matanya menggunakan kain, pria itu mulai berjalan melewati jalanan yang entah. Disya merasa di bawa ke suatu tempat yang ia tidak bisa menebaknya. Mau apa dan ngapain?