One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 93


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, gadis itu hanya diam, lebih kepada kesal. Ia merasa hidupnya terkekang dan menyebalkan. Sky melirik Disya yang mogok bicara, mrengut dan ngambek. Tetapi tentu saja pria itu tetap pada pendiriannya, sama sekali tidak terusik dan menatap Disya gemas.


Ia sengaja menyalakan audio di dalam mobilnya untuk mengisi keheningan yang melanda. Tetapi baru beberapa detik di nyalakan, Disya langsung mematikanya dengan gerakan cepat. Pria itu menaikan alisnya, melirik istrinya yang masih betah membuang muka, menatap jendela kaca mobilnya.


Sky bergeming, ada rasa kasihan dan juga khawatir, tetapi tentu saja laki-laki itu tetap pada mode awal, tidak mengizinkan. Apa-apaan menginap di rumah teman? Pria itu begidik ngeri membayangkan satu malamnya tanpa Disya, pasti akan sangat tidak mudah. Ia menggeleng, dan itu tidak pernah akan terjadi.


Di tengah-tengah perjalanan, mendadak Disya menginginkan sesuatu. Gadis itu ngambek, tapi mulutnya nyeletuk, menggumamkan maksud keinginannya


"Aku mau makan es krim, beliin yang rasa coklat," pintanya dengan nada lirih, masih manyun plus muka di tekuk.


Sky langsung menangkap gumaman Disya, dalam hatinya pria itu tersenyum, ternyata istrinya walaupun ngambek kalau ada maunya tetap di utarakan.


Sky langsung menghentikan laju mobilnya, menepikan di depan mini market. Pria itu diam, turun dari mobil dan langsung menuju toko. Ia langsung pada tujuannya, mengambil beberapa es krim rasa coklat kesukaan istrinya.


Setelah melakukan pembayaran, pria itu langsung ke luar dan masuk lagi ke dalam mobil.


"Ini Tuan putri, pesanan anda?" seloroh pria tersebut, menaruh kresek es krim di pangkuan Disya, tak lupa mencuri satu kecupan sayang di pipinya.


Disya bertambah mrengut, masih mode ngambek malah main nyosor aja, tentu saja Disya kesal. Namun, begitu melihat es krim di depannya cukup menggugah selera gadis itu tak lagi ambil pusing.


Disya langsung mengambil satu es krim cornetto dan perlahan memasukkan ke dalam mulutnya, menjilati dengan asyik tanpa peduli seseorang yang di sampingnya sedari tadi menyorot dengan gemas.


Bibir gadis itu yang blepotan, Sky lap dengan jari jempolnya dan ia masukkan ke dalam mulutnya sendiri. Bahkan pria itu sama sekali tidak risih, ia malah mengulum senyum.


Disya melongo, menatap Sky dengan rasa tak percaya. Sky benar-benar tidak merasa jijik, bahkan ia langsung mengecup bibir Disya yang blepotan es krim dan membersihkan dengan mulutnya sendiri.


Seketika membuat gadis itu tercekat, dan mematung di tempat.


"Manis," cletuk Sky setelah membersihkan sisa es krim di mulut Disya.


"Mesum!" jawab Disya masih mode mrengut.


"Halal!" kata pria itu santai


"Menyebalkan," jawab Disya tak mau kalah.


"Ngegemesin, bikin nagih!" ucapnya tanpa dosa.


Disya mendelik, melirik sengit. Merutuki pria tampan di sampingnya, yang malah bersikap santai dan begitu datar.


Sesampainya di halaman rumah Bunda, Sky tak kunjung membuka kunci mobilnya, ia menahan Disya supaya gadis itu merengek minta turun.


Terang saja berhasil, karena Disya tidak bisa langsung kabur menghindari pria itu, alhasil gadis itu bertambah menggerutu.


"Bukain pintunya Mas? Aku mau turun," pinta gadis itu menahan kesal. Sky sempat mendengar gadis itu berdecak.


"Muka kamu nggak enak dilihat keluarga, enaknya cuma di lihatin aku kalau lagi cemberut gitu, bikin aku gumush, dan pingin ngurung kamu seharian di kamar," kata Sky.

__ADS_1


Tentu saja Disya menjadi gugup, kata itu bernada lembut tapi terdengar seperti ancaman yang terselubung. Gadis itu tersenyum kepaksa.


"Ya ampun... manis banget sih, bikin aku nggak kuat nahan diri," seloroh pria itu, mengacak dengan lembut rambut Disya.


"Nggak jelas! Dasar planet!" celetuknya bertambah sebal.


"Kalau senyumnya belum ikhlas, aku nggak mau turun, mau nginep di mobil aja, biar tambah romantis," ucap pria itu seraya membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Eh, eh! Ngapain buka baju?" protes Disya menyorot waspada.


"Gerah, pingin cari gaya baru, di mobil kayaknya seru dan enak untuk di coba," pria itu tersenyum devil.


"Mas, nggak lucu ya, aku beneran marah!"


Sky bergeming, tetap mencondongkan wajahnya dan mulai mengendus pipi Disya. Sapuan hangat itu jelas terasa, membuat kulit Disya meremang seketika.


"Stop Mas, ini gila, kita bisa melakukannya di kamar kenapa harus di tempat tidak nyaman begini, aku tidak mau!" tolaknya kesal.


Sky tersenyum, jebakan telah masuk perangkap. "Jadi... nanti aku boleh minta?" tanya pria itu semangat.


"Boleh Mas, buka...?" ucapnya mendesah manja.


"Sekarang?" pria itu berbinar.


Tahun depan, awas kamu Mas, nanti aku bales.


"Nanti dong... di kamar, bukain?" rengeknya manja.


Sky menyusul istrinya, turun dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Ia mendapati Disya yang masih berdiri di ambang pintu, belum masuk ke rumah.


"Kenapa nggak masuk?" tanya Sky heran.


"Rame, malu..." ucapnya lirih


"Ya kan hari ini Bunda ngadain acara, jadi semua keluarga ngumpul di rumah," jelas Sky santai.


Ini adalah salah satu alasan Sky mencairkan hati Disya dulu sebelum masuk, walaupun dengan cara yang kata Disya mesum, tetapi pria itu tidak ingin Disya menemui keluarganya dalam mode ngambek.


"Dalam rangka apa?" kepo Disya


"Syukuran ultah aku sayang, Bunda ngadain acara makan bersama di rumah, ayo masuk!" ucap pria itu seraya menuntun Disya.


"Assalamu'alaikum...!" salam ke dua couple menggema


"Waalaikum salam...!!" jawab serentak keluarga yang mendengar.


"Baru pulang kak, sampai sore gini?" sapa plus tanya Raya.

__ADS_1


"Iya, kamu sehat dek? Ih... ini perut kamu udah makin besar aja, bentar lagi keluar nih ponakan aku?" celetuk Sky seraya menyambut uluran tangan Raya.


"Mbak?" sapa Disya, mereka bersalaman.


Walaupun Raya adik iparnya, tapi tetep panggilan Disya ke Raya mbak, sebab umurnya Disya yang lebih muda merasa canggung kalau harus sebut nama, berasa tidak sopan.


Mereka menyalami satu persatu orang yang berada di ruangan keluarga itu, ada Oma dan Opa, Raya dan Rasya suaminya, Bintang, dan... Bunda sama... Mama Amy sedang sibuk di dapur memasak nasi kuning. Ke dua besan itu sangat kompak, selain syukuran ultah Sky acara kumpulan bersama dua keluarga ini bertujuan membahas resepsi pernikahan mereka.


Sedang di ruang lainya nampak Ayah dan Papa Amar tengah berbincang asyik. Mereka mengobrol berdua sambil membahas pekerjaan, dan perusahaan. Amar terang-terangan meminta Sky membantu meng-handle kantornya di tengah-tengah kesibukan kampusnya.


Namun Asher sendiri sebenarnya menginginkan anaknya meng-handle kantornya sendiri. Mengingat saat ini hanya di bantu Rasya, suami Raya. Sayangnya sang kakek, sudah lebih dulu menggaet Sky ke kampusnya. Asher masih menimbang keputusan Sky apakah dia mau terjun juga ke kantor, di tengah kesibukan mengajarnya.


"Pentingnya anak laki-laki itu bakalan jadi penerus pemimpin perusahaan keluarga?"


"Iya, benar. Kamu tahu lah aku menyayangi Sky sejak kecil," jelas Amar.


"Semoga cucu kita laki-laki ya? Ah rasanya sungguh tidak sabar jadi kakek," sambung Amar.


"Kamu jangan sabotase ya, dia bakalan tinggal di sini?" ucap Asher


"Alangkah baiknya tinggal di rumah saya, saya pasti akan sangat senang," ujar Amar


"Nggak bisa dong, kan Disya tinggalnya di sini jadi otomatis anaknya tinggalnya di sini."


"Kalau begitu bagaimana kalau kita bergilir saja, seminggu tinggal di sini, seminggu lagi tinggal di rumah saya. Adil kan?"


"Nggak adil, kapan aku main sama anaknya," Sky menyaut anak itu langsung menyalami mertuanya dan juga Ayahnya.


"Wah... belum juga lahir, masih kecil baru juga tiga bulan lebih dikit udah rebutan tempat tinggal, dasar calon kakek?" celetuk Yuki yang ikut nimbyung obrolan mereka seraya menenteng cemilan dan kopi.


"Ngehalu dulu, boleh lah? Kamu juga kan sebentar lagi punya cucu dari Raya?"


"Iya, tapi tinggalnya jauh jadi kan nggak mesti setiap hari ketemu."


Yuki menyimpan kopi di atas meja, kemudian kembali ke belakang lagi dengan keriwehan yang belum kelar.


Sementara Sky menuju kamarnya, ia akan membersihkan diri sejenak. Ia memasuki kamar di saat Disya tengah mandi, alhasil pria itu menunggu cukup lama sambil rebahan.


"Udah Sya?" tanya Sky begitu mendapati istrinya keluar dari kamar mandi.


"Hmm, gantian, cepet mandi!" titahnya seraya mengambil pakaian di lemari.


Sky turun dari ranjang, menyambar handuk bersih. Bukannya langsung masuk kamar mandi, pria itu malah melingkarkan tangannya di perut Disya, memeluk gadis itu dari balik punggungnya.


"Wangi banget, bikin pengen?" ucap pria itu mengendus leher Disya. "Nanti malam boleh ya?" pintanya manja.


"Nunggu ujian kelar, nanti aku capek jadi susah konsentrasi?" jawab Disya jujur.

__ADS_1


Kemarin unboxing season dua Disya di gempur habis cukup membuat gadis itu capek seharian, Disya khawatir itu terjadi lagi, ia tentu tidak mau mengambil resiko di tengah padatnya aktifitas kampus.


"Oke, baiklah... aku pria yang penyabar, tapi... kalau tidak kuat boleh ya?" negonya. Pria itu menyesap leher Disya dan melukis bintang di sana. Sebelum akhirnya melesat ke kamar mandi.


__ADS_2